Kamu pernah punya sahabat orang Jombang? Mereka pasti punya karakter yang sangat unik dan berbeda dengan yang lain. Apalagi kalau mereka sudah merantau.
Sifat aslinya yang lugu dan polos serta baik hati membuatnya dicintai banyak orang. Hal itu membikin para pendatang dari Jombang dicintai teman-temannya. Apa saja yang membikin mereka kerap dinobatkan sebagai sahabat karib?
Jombang terkenal dengan kota santri. Namun bukan berarti tak ada umat beragama lain selain Islam yang bermukim di sana. Dekat dengan Pondok Pesantren Tebu Ireng, berdiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, gereja tertua di Jawa Timur. Meski berdekatan dan hidup dalam perbedaan, tak pernah ada konflik yang memecah-belah umat beragama di daerah itu. Justru kotanya aman tenteram.
Siapa yang tak kenal Gusdur. Mantan Presiden RI itu punya pemikiran yang amat terbuka dan mengajarkan semua orang untuk bersahabat satu sama lain. Ia juga tak gemar melihat orang berseteru karena perbedaan prinsipil. Gambaran tokoh ini lantas memberikan pemahaman kepada para pengikutnya di Jombang. Mereka menjadi orang yang terbuka dan mau bersahabat dengan siapa pun.
Orang Jombang ini terkenal dengan kejujurannya. Karakter itu terbentuk lantaran ia memiliki iman yang kuat. Orang yang betul-betul beriman umumnya punya pribadi yang baik, juga jujur.
Orang Jombang biasanya punya logat medok Jawa Timur yang melekat. Tak heran kalau tuturan sehari-harinya menggunakan bahasa Jawa Timuran yang lucu. Pun, mereka tak gemar basa-basi. Jadi, bayangkan, bila berbicara, mereka akan cablak dengan logat Jawa Timurnya.
Jangankan terlibat pergaulan bebas, untuk dugem saja orang Jombang ini mikir-mikir, loh. Pasalnya, mereka tidak biasa dengan dunia yang glamor. Mereka biasa hidup di kota kecil dan tidak aneh-aneh.
Bukannya suka dimanfaatkan, tapi orang Jombang ini memang lekat dengan karakter yang ingin semuanya berjalan baik, damai, tanpa kerusuhan. Kalau ada yang minta tolong sesuatu, ia bakal menolong, asal itu sesuai dengan kapasitasnya.
Orang Jombang ini terbiasa dengan dunia merantau. Sejak SMA, bahkan, orang Jombang sudah terbiasa merantau untuk bersekolah di luar kota, seperti di Madiun atau Surabaya. Di sana mereka bertemu dengan banyak teman dengan latar berbeda-beda. Hal ini membuat mereka terbiasa menghadapi orang dari berbagai daerah.
Apakah kamu punya sahabat dari Jombang? Seperti itukah mereka?
SURYA.co.id | JOMBANG – Kepiawaian Mr Masudin sebagai terapis saraf telinga kian mendunia. Setelah menerima anugerah dari Centurion World Records, warga Dusun Ketanen, Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Jombang, ini mendapat undangan dari Kerajaan Serbia.
Tujuannnya, selain mendapat apresiasi secara khusus dari Kerajaan Serbia, Mr Masudin juga akan dimintai tolong menyembuhkan salah satu keluarga Kerajaan Serbia yang menyandang gangguan pendengaran sejak lahir.
Pihak Kerjaan Serbia sendiri mendengar kepiawaian Mr Masudin menyembuhkan gangguan pendengaran dari Carl E Bolch III, Managing Director Stern Resources yang juga salah satu miliarder asal Amerika Serikat.
Pendengaran Carl E Bolch III berangsur-angsur menuju normal setelah mulai diterapi pengobatan alternatif oleh Mr Masudin di kediaman Masudin pada Jumat 9 Maret lalu.
“Kebetulan ada keluarga kerajaan Serbia bersahabat baik dengan Carl E Bolch. Keduanya lantas berkomunikasi. Selanjutnya kerajaan Serbia berminat mengundang saya berkunjung ke sana,” jelas Mr Masudin, kepada Surya, Sabtu (24/3/2018).
Masudin sendiri setuju menghadiri undangan Kerajaan Serbia.
“Saat ini masih mengurus paspor salah satu rombongan yang akan ikut berangkat ke Serbia,” kata Mr Masudin.
Rencananya, Masudin akan membawa rombongan berjumlah 5 hingga 7 orang. Rombongan inilah yang biasa membantu Masudin menjalankan terapi saraf telinga di rumahnya, Dusun Ketanen, Banyuarang, Ngoro, Jombang.
“Begitu urusan paspor tuntas, kami segera berangkat (ke Serbia). Mungkin awal April kami segera bertolak ke serbia,” kata Mr Masudin.
Masudin mengaku, timnya tak hanya akan berkunjung ke Serbia saja, melainkan juga ke lain tempat.
“Agendanya kami juga akan New York (Amerika Serikat),” jelas Masudin.
Di New York ini, Masudin juga akan melakukan terapi saraf telinga untuk memulihkan atau membuat orang mendengar. Bagi Masudin sendiri bukan hal baru memberi terapi telinga untuk orang luar negeri.
“Tercatat sudah ada puluhan pasien dari beberapa negara yang datang ke sini. Dan alhamdulillah semuanya bisa mendengar setelah saya terapi,” jelas Masudin.
Mereka antara lain berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, India, Tiongkok, dan terakhir miliarder Carl E Bolch III dari Amerika Serikat.
Kunjungan ke AS sekaligus menjajagi kemungkinan ‘ilmu’ terapi saraf telinganya mendapat hak paten. Sebab Masudin juga ditawari untuk diuruskan hak patennya di AS (Kalau di Indonesia semacam lembaga Hak Atas Kekayaan Intelektual/HAKI).
Masudin mengaku ditawari akan diuruskan untuk mendapatkan hak paten bagi terapi saraf telinga yang dikembangkannya.
“Sementara saya masih pertimbangkan. Saya juga pengen tahu lebih banyak soal ini ke yang bersangkutan,” tutur Masudin.
Mr Masudin memang memiliki metode khas dalam menyembuhkan gangguan pendengaran.
“Saya membuka saraf pendengaran yang tadinya tertutup dengan pijatan. Saraf pendengaran inilah kunci terapi saya,” imbuhnya.
Karena kepiawaian Masudin dalam terapi saraf telinga inilah, sejumlah penghargaan diperoleh. Misalnya pada 2013 Museum Republik Indonesia (Muri), menganugerahkan piagam sebagai penyembuh pasien tuna rungu tercepat, yakni dalam 31 detik.
Dan terakhir dari Centurion Wordl Records 9 Maret lalu, sekaligus menerima dua anugerah. Pertama, sebagai orang pertama yang mampu menyembuhkan pasien tuna rungu melalui pengobatan alternatif.
Dan kedua, mampu menyembuhkan pasien tuna rungu dengan metode alternatif tercepat. Yakni menyembuhkan 100 orang tuna rungu dalam waktu kurang dari 20 detik.
Atas anugerah-anugerah tersebut, Mr Masudin mengaku bangga. Namun baginya, yang paling membahagiakan dan membanggakan adalah bisa menyaksikan orang-orang yang dibantunya bisa mendengar secara normal.
Salah satu pasien asal AS, Carl E Bolch III, Managing Director Stern Resources yang datang ditemani CEO Stern Resources, Hartadinata Harianto menjelaskan Carl sudah berobat di klinik di AS tapi hasilnya kurang memuaskan.
“Partner saya sudah berobat di sejumlah klinik di Amerika, tapi pendengarannya masih nggak bener. Tapi di sini, baru di obati sebentar saja sudah lebih baik,” urai Hartadinata saat berkunjung ke rumah praktik Masudin beberapa waktu lalu.