• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Category ArchiveBerita Njombangan

Mewujudkan Jombang sebagai Kota Toleransi melalui Pemanfaatan Teknologi, Kolaborasi, dan Partisipasi Berbagai Pihak

Miftakhus Surur

 

Latar Belakang & Permasalahan

Jombang banyak melahirkan tokoh nasional yang sering mempromosikan nilai-nilai toleransi  antar umat beragama. Figur tersebut di antaranya adalah Abdurahman Wahid, Nur Cholis Majid, dan Ainun Najib. Bahkan, salah satu di antaranya, Gur Dur, mendapatkan gelar kehormatan sebagai bapak toleransi di Indonesia. Sampai sekarang pun pemikirannya masih hidup dan dihidupkan oleh publik terutama pengagumnya yang tergabung dalam komunitas bernama Gusduriyan

 

Tujuan Penulisan

Meskipun adanya banyak tokoh inspiratif di atas, sayangnya Jombang masih harus berurusan dengan ancaman intoleransi. Hal ini diduga disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang berusaha menyebarkan radikalisme dan provokasi dan teroris sampai juga pada guru agama tidak toleran.

Di sisi lain, terdapat ancaman intoleransi yang disebarkan melalui berita yang tidak dapat dipertanggungjawabakan dan tidak diketahui kebenarannya (hoax). Sehingga, jika hal ini tidak diperhatikan dengan seksama maka benih-benih kebencian, prasangka, dan ketidakpercayaan dapat disebarkan dengan mudah di era digital ini.

 

Kesimpulan & Saran

Dengan demikian nilai-nilai toleransi dan menghargai sesama perlu ditumbuhkan dan dipupuk melalui tindakan konkret seperti tidak berisik/ mengganggu waktu ibadah umat agama lain. Kemudian, kita dapat memanfaatkan media sosial secara bijak agar berita hoaks tidak merajalela. Jika dimungkinkan, kita juga dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan komunitas lintas agama melalui diskusi atau kegiatan sosial. Acara semacam ini dapat disebarkan melalui fb, twiter, atau instragram. Publikasi semacam ini sangat potensial dapat menggugah masyarakat untuk menjaga keharmonisan hubungan bermasyarakat. Selain itu, acara seperti ini juga memungkinkan terjadinya pertukaran informasi untuk membuka pikiran dan saling menghormati satu sama lain.

Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat Membangun Jombang Bertoleransi

Mamluatun Ni’mah

 

Jombang dan Perbedaan

Jombang adalah kota Santri, disebut kota Santri bukan berarti penduduknya hanya beragama Islam tetapi didalamnya terdapat agama lain yakni Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu. Perbedaan agama tidak menyurutkan arti semangat menghormati agama satu dengan agama lainnya yang sangat membutuhkan interaksi demi terwujudnya kota toleransi. Kota yang maju adalah kota yang menjadikan penduduknya tentram, harmonis, guyub dalam perbedaan dengan mewujudkan saling toleransi secara intensif. UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan kepercayaannya”[1]. Setelah kita ketahui, meskipun banyaknya perbedaan agama menyelimuti Jombang, sudah sewajarnya dalam kehidupan ini kita bisa menjaga persatuan Kota Jombang dengan cara menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama.

 

Meskipun dihuni masyarakat yang heterogen, Jombang adalah barometer kota di Indonesia yang bisa menjaga kerukunan antar umat beragama yang mayoritas masyarakatnya didominasi kaum Muslim. Tepatnya di kawasan simpang tiga Ringin Contong, Jumat (2/6/17) pagi. Tampak berkibar beberapa bendera negara-negara ASEAN yang juga pada kesempatan itu sebagai pembukaan acara ASEAN Youth Interfaith Camp yang dilaksanakan di kabupaten Jombang pada 28-30 Oktober 2017. Bupati Jombang pada waktu itu, Nyono Suharli Wihandoko sangat mengapresiasi dipilihnya kota Jombang sebagai wujud persatuan antar umat beragama yang ada di Indonesia. Ia mengungkapkan, dipilihnya kota Santri sebagai tempat penyelenggara kegiatan ASEAN Youth Interfaith Camp ini bukan tanpa alasan. Selain pembangunan toleransi antar umat beragama yang terus terjaga, juga didorong banyaknya pondok pesantren di Jombang yang mengajarkan toleransi kepada para santri dan warganya. Menurutnya, negara-negara lain nantinya dapat belajar dengan baik bagaimana membangun toleransi di Jombang. Sehingga kemudian bisa diterapkan di negara lain.[2]

 

Gambaran Umum Toleransi Jombang          

Perbedaan adalah sebuah karunia Tuhan luar biasa yang diberikan kepada Jombang. Hal ini dapat menjadikan Jombang menjadi pernak pernik dimata dunia, secara umum agama yang telah ditetapkan oleh UUD 1945 ada enam yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Jombang merupakan kota yang terletak di bagian tengah provinsi Jawa Timur. Kota ini berbatasan dengan Mojokerto disebelah timur, Nganjuk  disebelah barat, Kediri disebelah selatan. Agama yang dianut oleh penduduk kota Jombang dalah Islam 98%, penduduk Jombang juga diikuti dengan agama Kristen Protestan 1,2%, Katolik 0,3%, Budha 0,09%, Hindu 0,07% dan lainnya 0,02%.[3] Kota yang terkenal dengan kota Santri yang memiliki pondok pesantren besar misalnya Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, Darul Ulum (Rejoso), namun di kota ini juga ada gereja besar dan tertua juga yang terletak di Mojowarno bernama Gereja Kristen Jawi Wetan atau sering disebut GKJW, gereja kuno di Bongsorejo. Tidak dapat dipungkiri Jombang juga memiliki klenteng yang terkenal misalnya Boo Hway Bio di Mojoagung, Hok Liong Kiong di kecamatan Jombang dan Hong San Kiong di Gudo. Bahkan di Wonosalam, ada pemukiman yang menganut agama Hindu selalu rutin melaksanakan pawai ogoh-ogohnya yang sangat menarik. Adanya sebuah perbedaan agama tidak menyurutkan untuk toleransi. Banyak yang mengatakan bahwa Jombang adalah kota beriman dan santri yang lebih menonjol dalam agama Islam tetapi, dengan ini bukan berarti Jombang harus pecah belah menjadi kota agama Islam, menurut keyakinan sendiri-sendiri, melainkan harus bersatu dengan cara toleransi. Toleransi adalah suatu sikap yang saling menghormati antara perbedaan yang ada.

Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat Membangun Jombang Bertoleransi

Salah satu contoh bentuk toleransi di Jombang adalah di Desa Mojowarno antara agama Islam dan Kristen, di sini terdapat rumah penduduk Islam dan Kristen yang berdampingan sangat dekat, hal ini tidak menjadikan sebuah konflik yang dapat memunculkan disintegrasi. Meskipun adanya perbedaan agama, tetapi menjunjung nilai bhineka tunggal ika sungguh luar biasa, dilihat dari aktivitas kesehariannya. Setiap hari minggu selalu melaksanakan kerja bakti dengan membawa peralatan dari rumah masing-masing untuk gotong rotong membersihkan kampungnya, ada yang menyapu, membersihkan rumput, membuang sampah. Sehingga menjadi kampung yang terbersih dan semangat tenggang rasa yang bisa menjadikan Kota Jombang lebih terkenal dari pada kota lain.

 

Pada saat di kampung ada orang Kristen membangun rumah, tidak lupa juga orang Islam menyumbangkan tenaganya secara suka rela tanpa disuruh, hal ini semakin erat ikatan kekeluargaannya antara agama Islam dan Kristen. Ketika ada tetangga di kampung sedang mengalami kesusahan, reaksi warga yang ada di kampung menggalang dana dengan mengadakan bakti sosial seperti berkunjung ke setiap rumah untuk meminta sedekah setelah terkumpul semua dana tersebut di berikan kepada tetangga yang sedang mengalami kesusahan. Dalam peristiwa tersebut rasa peduli sesama umat Tuhan dan solidaritas yang tinggi pun menancap pada dada seorang penduduk di kampung tersebut.

 

Di sisi lain ketika ada orang Islam meninggal, orang Kristen juga ikut serta dalam menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan jenazah, begitu sebaliknya apabila orang Kristen meninggal, orang Islam ikut serta dalam menyiapkan kebutuhan yang diperlukan. Sehingga dalam situasi yang sulit ini menjadi lancar dan terkendali.[4] Tradisi yang tidak ketinggalan dalam orang Muslim adalah ketika bulan suci tiba, satu hari sebelum puasa mengadakan megengan [5]di setiap masjid untuk kenduri, tidak lupa juga umat Kristen ikut serta merayakan, sehingga setiap umat bisa merasakan perbedaan dalam keserasian. Dalam umat Kristen ketika merayakan malam Natal, selalu membagikan parsel kepada tetangganya termasuk umat Islam, sehingga semua bisa merasakan walaupun perbedaan itu ada tetapi keharmonisanlah yang menyatukan. Pada saat hari raya muslim umat Kristen juga ikut serta datang ke rumah penduduk Islam dengan bersilaturahmi begitu pun sebaliknya.

 

[1] UUD 1945

[2]www.muslimmoderat.net/2017/06/jombang-didapuk-kota-paling-toleran

[3]Afifah.com/KAB.JOMBANG+JAWA+TIMUR/SEJARAH+KOTA+JOMBANG

[4]Menurut Bapak Budi selaku pengurus kebutuhan dan kekurangan GKJW Mojowarno

[5]Megengan adalah sebuah tradisi kenduri dalam islam di Masjid dalam menyambut bulan ramadan

Foto Penyerahan Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Hi Rek!

Terima kasih telah membantu lancarnya program Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Berikut ini adalah beberapa foto dokumentasi penyerahan bantuan.

“Penerima berjumlah sekitar 80 orang”


“Penerima berasal dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda. Banyak di antara mereka yang sudah manula.”

“Penerima bantuan berasal dari 5 kecamatan berbeda: Jombang, Megaluh, Peterongan, Mojowarno, dan Diwek”

“Tidak semua orang yang diusulkan pengusul kami loloskan karena memang mereka belum sesuai dengan kriteria yang kami punya.”

“Kami berharap bantuan yang kami berikan dapat membantu meringankan beban hidup mereka walau hanya untuk beberapa hari saja ehehe :)”

Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona Gelombang 2

Terima kasih kepada semua teman dan keluarga besar Njombangan yang telah ikut serta dalam menyukseskan program Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Terdapat sekitar 80 orang yang berhak menerima bantuan dari Njombangan. Mereka tersebar di beberapa kecamatan seperti Megaluh, Jombang, Mojowarno, Peterongan, dan Diwek.

Beberapa foto penyerahan bantuan dapat dilihat di sini.

GELOMBANG 2

Karena masih besarnya animo yang kami terima dan masih banyaknya orang yang perlu dibantu, maka kami mengadakan Njombangan Berbagi gelombang kedua. Adapun detailnya dapat dilihat di sini.

Kami tunggu usulan teman-teman atas pihak yang berhak kiranya mendapatkan bantuan tersebut.

Kami berterima kasih atas segala dukungan teman-teman semuanya.Semoga kita selalu sehat dan bahagia.

Salam,

Njombangan

Mewujudkan Wisata Toleransi di Jombang

Hasri Maghfirotin Nisa

 

Latar Belakang & Permasalahan

Jombang mendapatkan gelar sebagai Kota Toleransi. Apakah hal itu benar adanya? Sedangkan masih banyak dari kita dan masyarakat sekitar yang kurang peka terhadap isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan). Contohnya semacam ini, “agamanya apa?”, “dari golongan mana?” “kok budayanya nggak sesuai sama orang Jombang?”, dan hal-hal yang terdengar ‘sepele’ lainnya. Apakah orang yang menanyakan hal tersebut sudah mengamalkan nilai-nilai toleransi? Hal semacam itulah yang dinamakan intoleransi hati.

Padahal, Jombang sudah membuktikan julukan kota toleransi dengan adanya acara AYIC, yang dihadiri 150 pemuda dari 22 negara mengikuti ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jawa Timur. Selama tiga hari, peserta tinggal di pesantren. Acara ini dihadiri oleh ratusan pemuda lintas agama dan bangsa itu belajar toleransi di Jombang. (Detiknews.com, 2017)

 

Pembahasan

Pertanyaan yang muncul setelah acara tersebut di antaranya:

  1. ‘Apakah jika setelah adanya acara tersebut, masyarakat Jombang akan merasakan dampak positifnya secara langsung?’
  2. ‘Atau bahkan segilintir orang yang dapat merasakan acara tersebut sebagai bagian pembuktian dan kentalnya toleransi di Jombang?’
  3. ‘Bagaimana masyarakat Jombang yang tidak mengetahui acara tersebut atau bahkan orang-orang yang berada di pinggiran Kota Jombang?’

Keraguan ini dapat dipatahkan dengan cerita tentang perayaan Unduh-Unduh di GKJW Mojowarno yang diadakan setiap tahun. Seperti yang disebutkan FaktualNews.co (2019) dalam liputannya bahwa acara unduh-unduh ini adalah acara umat bersama, mengumpulkan hasil panen bersama yang kemudian diberikan pada masyarakat yang kurang mampu, acara ini sebagai bentuk toleransi warga Jombang di Mojowarno apalagi selalu diadakan sebelum bulan Ramadhan yang semua orang dapat menikmati acara ini. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat Jombang yang berada di pedesaan pun memiliki toleransi tinggi, di Mojowarno memang terkenal dengan toleransinya karena beberapa agama saling hidup berdampingan tanpa masalah serius.

 

Solusi dan Implementasi

Selain itu, acara bertaraf internasional tadi mengajak peserta mengunjungi Patung Buddha Tidur di Mojokerto, Gereja Kristen Jawa Timur, Klenteng Hong San Kiong, dan makam Gus Dur. Pada akhir kegiatan, para pemuda diharapkan mengukir komitmen perdamaian melalui Deklarasi Jombang. Selain mondok selama tiga hari di Pesantren Unipdu, para peserta juga diundang untuk melihat langsung keberagaman kehidupan beragama di Indonesia yang berdampingan dalam damai. (MediaIndonesia.com, 2017)

Bahkan atas kunjungan para peserta tersebut, peserta merasa benar-benar merasakan toleransi di Kota Jombang. Tidak membedakan agama, dibuktikan dengan penerimaan yang sangat ramah di setiap tempat kunjungan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa masyarakat Jombang juga perlu dikenalkan toleransi yang lebih bermakna walaupun dasar, karena jika memegang dasarnya dengan lubuk hati maka kemungkinan besar akan baik pula implementasinya. Jika pada acara AYIC hanya dihadari oleh pemuda di 22 negara, maka kita dapat mengadopsi ide serupa untuk mengajak mahasiswa dari berbagai universitas dan masyarakat umum untuk belajar nilai-nilai toleransi secara langsung. Warga Jombang yang heterogen ini akan difasilitasi sebuah program yang direncanakan bernama “Wisata Toleransi”. Hal ini bertujuan agar masyarakat di Jombang mengetahui makna dan pengamalan Jombang sebagai kota toleransi itu sendiri. Program ini sebaiknya tidak hanya didukung oleh organisasi sosial saja namun harus didukung oleh pemerintah.

Melalui kegiatan semacam ini maka kita mulai menerapkan tiga prinsip organisasi dan tatanan sosial yang dinamis sebagaimana dirumuskan oleh Max Weber. Prinsip tersebut yaitu tatanan budaya (status), tatanan politik (kekuasaan), dan tatanan ekonomi (kelas) (Rossi, 1993). Budaya yang mencakup agama yang dipegang oleh masyarakat Jombang dapat disatukan dengan kebudayaan, pemerintah kota, dan ekonomi sebagai pelebur kesenjangan masyarakat Jombang. Ketiganya sangat berarti dalam menjalankan suatu misi, sehingga aspek tersebut sangat penting untuk diperhatikan.

Pemerintah Jombang juga diupayakan untuk mendukung “Wisata Toleransi” ini dengan memfasilitasi program ini. Memfasilitasi dalam artian seperti menyediakan transportasi, minimal satu mini bus dengan jadwal keberangkatan tersistematis, agar masyarakat tidak perlu bingung bagaimana cara berangkat atau bergabung pada program ini. Namun, saya menyadari bahwa hal ini tidak semudah yang dibayangkan karena kembali lagi bahwa program ini harus diperjuangkan dengan secara sungguh-sungguh, butuh pembuktian serta value agar kita berhasil menggandeng pemerintah. Jika program ini terlaksana, maka hasilnya dapat menjadi suatu keuntungan bagi kota Jombang untuk mendukung tumbuhnya toleransi. Di lain sisi, program ini tentu akan menjadi “Wisata Toleransi” pertama di Indonesia yang terstruktur.

“Wisata Toleransi” ini tidak hanya sekedar wisata toleransi yang mengunjungi situs-situs berbagai agama di Jombang. Tetapi, terdapat pembelajaran mengenai toleransi yang diselipkan dalam program tersebut sehingga program tersebut membutuhkan tour guide atau ambassador yang kompeten dalam menyebarkan toleransi sampai ke dalam. Maksudnya ke dalam adalah tidak hanya toleransi sekadar di bibir namun juga secara aksi nyata serta tidak hanya beberapa orang namun untuk seluruh lapisan masyarakat Jombang, baik di kota, di desa, di pinggiran, di daerah pegunungan Jombang dan lainnya. Bahkan jika perlu, perlu adanya dua jenis program yaitu satu hari penuh atau menginap, karena dengan menginap seperti menginap di pondok pesantren akan mendapatkan nilai lebih dalam melaksanakan nilai-nilai toleransi. Hal itu tidak akan terjadi jika tidak adanya kerja sama.

 

Kesimpulan dan Saran

Sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya wisata toleransi akan membuat masyarakat Jombang mengetahui makna toleransi serta tidak dengan mudah bersikap intoleran di kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan semacam ini dapat membuat masyarakat Jombang merasakan apa hal baru dan menjawab pertanyaan apa yang mereka pikirkan seputar toleransi. Lebih lanjut lagi, dengan adanya program ini maka intoleransi dapat dikendalikan dan diminimalisir dengan adanya “Wisata Toleransi”.

 

Referensi

Abdurrahman, Muslim. nu.or.id. June 02, 2017. http://www.nu.or.id/post/read/78490/junjung-toleransi-antar-umat-beragama-jombang-tuan-rumah-ayic-2017 (accessed May 20, 2019).

Budiarto, Enggran Eko. news.detik.com. October 28, 2017. https://news.detik.com/berita/d-3704142/pemuda-dari-22-negara-mondok-belajar-toleransi-di-pesantren-jombang (accessed May 19, 2019).

Lestari, Muji. Faktualnews.co. May 19, 2019. https://faktualnews.co/2019/05/19/mahasiswa-miami-amerika-kagumi-toleransi-warga-kota-santri/141128/ (accessed May 20, 2019).

Muslimoderat.net. June 03, 2017. http://www.muslimoderat.net/2017/06/jombang-didapuk-kota-paling-toleran.html (accessed May 19, 2019).

Rossi. 1993. Community Reconstruction after an Earthquake: Dialectical Sociology in Action. 1993. Westport, CT: Praeger

Suhartono, Rony. faktualnews.co. May 12, 2019. https://faktualnews.co/2019/05/12/perayaan-unduh-unduh-toleransi-dalam-masyarakat-di-jombang/140044/ (accessed May 20, 2019).

Syukur, Abdus. mediaindonesia.com. October 31, 2017. https://mediaindonesia.com/read/detail/129778-memotret-toleransi-di-jombang (accessed May 19, 2019).

Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Semoga kita semua dimanapun berada selalu dalam keadaan baik, sehat, sejahtera, dan bahagia. Amien.

Njombangan mengajak seluruh masyarakat untuk Bersama melawan Covid-19 melalui berbagai cara yang sederhana. Salah satunya adalah mendukung program Njombangan Berbagi.

Dengan semakin merebaknya wabah Corona, maka keluarga dari ekonomi lemah serta mereka yang berpenghasilan harian menjadi kelompok yang semakin rentan terkena dampaknya. Oleh karena itu, Njombangan kembali mengadakan program sosial Njombangan Berbagi untuk mengajak #BersamaLawanCorona

Kamu bisa mengusulkan tetangga, teman, keluarga atau siapapun di Jombang yang kiranya berhak menerima bantuan ini (one time assistance). Kriteria tersebut adalah:

  1. tergolong fakir miskin
  2. diutamakan bagi janda sepuh dan atau tergolong ekonomi lemah
  3. Jika memungkinkan, tidak sedang menerima bantuan serupa dari pihak lain

Silahkan untuk menginformasi data calon penerima paling lambat tanggal 6 April 2020 sbb:

Nama:

Alamat:

Pekerjaan:

Hubungan: keluarga/ tetangga/ teman lainnya

Nomor Hp mu yang bisa dihubungi

.

Kamu bisa mengirimkan data tersebut ke:

1. DM kami melalui Instagram @njombanganofficial

2. E-mail kami di njombangan@gmail.com CC: info@njombangan.com

3. Whatsapp CP ke 085890626260

*Mengingat jumlah paket program ini yang terbatas, maka kami akan menyeleksi usulan calon penerima. Usulan bukan first come first served.

Yuk kita saling jaga dan berbagi dengan cara #DirumahAja dan #BersamaLawanCorona

Info lengkap klik di sini.

Orientasi “Catur Gatra Tunggal” Alun-Alun sebagai Wadah Toleransi Masyarakat Jombang Pada Masa Awal Pembentukan Kabupaten

Fariz Ilham Rosyidi

 

Latar Belakang & Permasalahan

Perkembangan suatu wilayah yang disebut sebagai kota biasanya dimulai dari sebuah desa yang mengalami perubahan terus-menerus. Dalam perjalanannya, desa akan mulai berubah menjadi kota kecil, kota kecil akan menjadi kota sedang, kota sedang akan menjadi kota besar, kota besar akan menjadi metropolis, dan metropolis akan berubah menjadi megapolis. Di dalamnya terdapat banyak pertemuan yang kompleks dengan berbagai macam entitas yang membentuk berbagai macam ciri yang nampak, seperti yang diutarakan Kevin LynchDalam penelitiaannya, ia menyebutkan bahwa kota terdiri atas beberapa elemen, salah satunya adalah landmark  (Basundoro, 2012:1). 

Landmark atau tetenger diartikan sebagai penanda sebuah kota. Keberadaan sebuah landmark dapat membentuk simbol identitas dan status dari suatu wilayah administratif. Di Jawa, salah satu ciri dari simbol tersebut dapat ditengarai dengan adanya hamparan lapangan rumput luas yang dipisahkan oleh jalan akses masuk ke kantor pendopo dan masjid. Tempat ini yang biasanya dinamakan dengan “alun-alun”.

Sejak masa Kerajaan Majapahit, alun-alun telah dikenal dan namanya telah diabadikan dalam sebuah riwayat, yakni Alun-Alun Bubat. Dalam sejarahnya kemudian, pada masa kerajaan Mataram alun-alun terbagi menjadi dua jenis, yaitu alun-alun keraton kerajaan (kediaman raja) dengan alun-alun kabupaten (kediaman bupati). Alun-alun kerajaan, seperti Surakarta dan Yogyakarta, mempunyai dua buah alun-alun yang mana satu terletak di utara keraton dan satu lagi terletak di selatan keraton. Permukaan alun-alun keraton tersebut berupa hamparan pasir halus, sedangkan alun-alun kabupaten mempunyai satu alun-alun di depan kediaman bupati dan hamparannya biasanya berumput  (Warpani, 2009:1). Pada periode tersebut ditemukan adanya makna orientasi kota. Orientasi yang dimaksud adalah hubungan antara alun-alun pada objek dan kawasan sekitarnya. Pada konsep alun-alun Jawa terdapat konsep mancapat yang berarti alun-alun menjadi konsep spasial penentu mata angin di kotanya. Sedangkan pada alun-alun masa  kolonial fungsinya untuk penghimpunan massa dan kegunaannya untuk simbolisme dari kekuasaan terhadap bumiputera  (Handinoto, 1992:13).

Tujuan Penulisan

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkapkan sejarah perjalanan Jombang sebagai kota toleransi yang mana warganya dapat menghormati dan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan. Penulis berharap, tulisan ini dapat menjadi pengingat khususnya bagi warga Jombang untuk terus merawat keharmonisan ini. Selain itu, artikel ini juga dapat dijadikan inspirasi bagi daerah lain untuk belajar menjaga hubungan baik di masyarakat.

 

Pembahasan

Salah satu contoh dari akulturasi konsep orientasi alun-alun Jawa dan Kolonial adalah kompleks alun-alun Djombang. Alun-alun dianggap mempunyai orientasi karena menjadi bukti sejarah dimulainya pemerintahan di Kabupaten Jombang. Selain itu, alun-alun mempunyai aspek struktur konsep tata kota tradisional di Jawa yang disebut catur tunggal. Hal ini dapat diamati dari adanya bangunan di sekitar alun-alun. Catur tunggal atau orang Yogyakarta menyebutnya catur gatra tunggal adalah empat komponen utama yang meliputi pendopo, masjid, pengadilan (penjara), dan pasar  (Fitria, 2017:1).

Alun-alun merupakan ruang persegi bersejarah di Jawa yang menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah dan menjadi pusat kegiatan hingga saat ini. Alun-alun Kota Jombang dianggap sebagai melting-pot (titik pertemuan) masyarakat Jombang seperti pertemuan, kegiatan keagamaan serta kegiatan kenegaraan.

“…Jika ingin rakyatnya beragama maka Bupati harus menyediakan ‘tempat ibadah’ masjid, jika ingin rakyatnya sejahtera maka Bupati perlu menyediakan pasar, lalu jika ingin rakyatnya adil, maka hakim perlu membuat pengadilan dan penjara, dan yang terrakhir, jika rakyat menginginkan Bupatinya bijak maka perlu membuat pendopo sebagai bentuk keluh kesah rakyat kepada penguasanya…” (Basundoro, 2009:12).

Hal itu dapat ditinjau dari adanya aktivitas dan pranata yang berlaku di kawasan sekitar alun-alun yang saling memiliki keterkaitan. Adapun tempat-tempat yang dimaksud akan dipaparkan sebagai berikut:

  1. Tempat Ibadah

Konon disebutkan dalam cerita rakyat tentang hubungan Bupati Jombang yang pertama yakni Soeroadiningrat (Kyai Sepuh) dengan Bupati Sedayu (Gresik) dalam soal ilmu yang berkaitan dengan pembuatan masjid di Kota Jombang  (Fahrudin Nasrulloh dkk, 2010:2). Hal itu merupakan petunjuk yang mendasari eksistensi awal tata kota di Kabupaten Jombang, tepatnya di kampung Muslim yang dikenal dengan “Kauman”. Masjid yang diberi nama Baitul Mukminin ini terletak di sebelah barat alun-alun. Masjid Agung ini merupakan salah satu masjid tua di Jombang, Berdirinya masjid bersamaan dengan berdirinya gereja Mojowarno pada tahun 1879. Akan tetapi, kedua pembangunan tempat ibadah ini menempati wilayah yang berbeda dan berjauhan  (Humas Bappeda Jombang, 2014:26).  Meski begitu, sekitar dua ratus meter dari timur alun-alun, dibangun Gereja Pantekosa untuk peribadatan masyarakat Kristen di pusat kota Jombang agar mereka tidak perlu pergi ke Mojowarno untuk melaksanakan ibadah.

Bagi warga Tionghoa, terdapat Kelenteng Hok Liong Kiong Kepatihan yang berada sekitar satu kilometer ke utara alun-alun Jombang. Kelenteng ini menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi penganut Tri Dharma. Selain itu, warga Tionghoa menyulap tempat di sekitarnya sebagai Kampung Pecinan, yang berdekatan dengan kegiatan pasar.

 

  1. Pendopo Kabupaten

Pada tahun 1893 Afdeeling Jombang mulai membangun pemerintahannya. Hal tersebut dikuatkan dengan penempatan Asisten Resident dari Pemerintahan Belanda di wilayah Kabupaten Jombang. Sebagai simbol kekuasann, pada saat itu dibangun pendopo dan kantor keresidenan (yang saat ini menjadi kantor Bupati Jombang). Posisi  Masjid Agung dan Pendopo Bupati berseberangan dan menghadap terbuka ke lapangan alun-alun. Perpanjangan sumbu tersebut dalam pandangan Jawa merepresentasikan adanya konsep relasi antara manusia dengan Tuhan, relasi antara manusia (penguasa) dengan masyarakat, dan relasi antara manusia dengan alam. Harmonisasi tersebut telah tergambar dan dapat dilihat hingga sekarang.

  1. Pujasera Kebon Rojo

Sekitar tahun 1917, Kebon Rojo sudah menjadi ruang terbuka dengan pasar dan taman yang saling berdampingan. Selain sebagai ruang terbuka, Kebon Rojo juga berperan sebagai simbol kesejahteraan masyarakat di Jombang yang dibangun dekat dengan alun-alun. Pada tahun 1948, terjadi perang kebon rojo. Perang atau bisa disebut sebagai serangan tersebut dinilai berhasil karena Kebon Rojo yang menjadi jantung kota masyarakat Jombang, tidak jadi dibumihanguskan oleh Belanda.

  1. Pengadilan dan Penjara

Pengadilan dan penjara di Jombang sudah ada sejak jaman Hindia-Belanda. Pada waktu itu bernama Landraad. Sebelumnya, wilayah hukum di Jombang masih mengikuti Mojokerto, namun pada tahun 1954, Kabupaten Jombang memisahkan diri dan mendirikan pengadilan negeri yang terletak tidak jauh dari alun-alun. Sebagaimana kota tradisional di Jawa, pengadilan serta penjara tidak terpisahkan untuk menjaga pranata sosial dan pranata hukum dalam menjaga kerukunan serta ketertiban di wilayah Jombang, khususnya wilayah kota  (Sri Margana, 2010:22).

 

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan tentang konsep catur gatra tunggal di atas, tulisan ini dapat menjadi sumber referensi bagi generasi muda agar mereka lebih memahami sejarah Kota Jombang. Sejak dulu kompleks Alun-Alun Djombang telah menjadi irisan perkembangan sekaligus saksi berdirinya Kabupaten Jombang. Di dalamnya memuat unsur toleransi yang begitu kental dengan ciri masyarakat Jombang, yakni kultur ijo (santri) dan abangan (kejawen).   


 

Lampiran Foto

 

Foto 1 Boong Ge bersama keluarganya di Kebon Rojo Jombang tahun 1917(Dok. Ge Simao)

Foto 2 keadaan Terminal Penumpang Umum  dekat alun-alun di Kauman Utara Kecamatan Jombang pada tahun 1938 (dok. Pribadi)


 

 

Foto 3  Pendopo Kabupaten Jombang pada tahun 1930 (dok. Istimewa)

 

Foto 4 Arsip Pembentukan Kabupaten Jombang pada Tahun 1910 hasil pemekaran dari Mojokerto (dok. pribadi).


 

 

Daftar Pustaka

Buku

Basundoro, Purnawan. 2012. Pengantar Sejarah Kota, Yogyakarta: Penerbit Ombak.

________. 2009, Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang Sejak Zaman Kolonial Sampai Kemerdekaan, Yogyakarta: Ombak.

Nasrulloh, F., Sukarno, D., dan Wibisono, Y. 2010. Biografi Para Bupati Jombang Jombang: Pemerintah Kabupaten Jombang.

Margana, Sri, 2010. Kota-Kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial, Yogyakarta: Ombak.

Tim Bappeda dan Humas Jombang, 2014. Profil Kabupaten Jombang: Visit Jombang friendly and religious Jombang: Bappeda Kabupaten Jombang.

Skripsi

Fitria, Lum’atul. 2017. Analisis Fungsi dan Struktur Alun-Alun Kota Jombang Serta Kawasan Sekitar Sebagai Kawasan Bersejarah. Bogor: Skripsi Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Jurnal

Handinoto. 1992. ”Alun-Alun Sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang”. Jurnal Dimensi Vol.18

Warpani, Suwardjoko. 2009. “Alun-Alun Lor dan Kidul”, SAPPK Perencanaan Wilayah dan Kota p.1

 

Meneladani Jombang Sebagai Miniatur Toleransi Nusantara melalui Permainan Game Edukasi Njombangan.Apk

Erwin Joko Susanto

 

 

Latar Belakang & Permasalahan

Isu globalisasi di segala bidang kehidupan manusia sudah pasti menjadi hulu mengalirnya latar belakang ditulisnya pengalaman ini. Seakan isu abadi itu ikut mewahanakan arus suksesi kemajuan IPTEK. Akses tanpa batas untuk berbagai kepentingan, baik download maupun upload. Isu robotisasi dalam berbagai bidang semakin mempertajam keberangsungan Era Industri 4.0. Tantangan inilah yang harus menjadi momentum bagi kita sebagai generasi milenial untuk ikut berperan dalam memperbaiki dan menentukan nasib zaman pada suatu wilayah atau negara (NOTONEGORO).

 

Tujuan Penulisan

Tidak ada kata yang lebih mulia kecuali bahwa tidak ada ciptaan-Nya yang tidak mampu memberi manfaat. Oleh karena itu tulisan pendek ini diharapkan mampu memberi manfaat baik untuk pribadi penulis sendiri dan secara umum untuk semua pembaca dari semua kalangan dari segala jenis umur, profesi, gender, dan segala kebermaknaan tiap individu di dalam kehidupan di dunia.

 

 

Solusi & Implementasi

Dengan kata lain perkembangan isu dan paradigma di atas jangan hanya menjadi masalah dan lagu sedih kehidupan tetapi malah justru mampu menjadi modal untuk mengefisiensikan tugas pokok setiap profesi kita untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur bangsa agar tujuan positif kehidupan dapat dirasakan secara nyata. Nilai-nilai luhur seperti mensyukuri, semangat, santun, peduli, jujur, disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, kerjasama, cinta damai dan toleransi  adalah nilai yang harus ditanamkan sejak dini kepada generasi milenial baik secara langsung maupun tidak langsung dan secara sadar atau tidak sadar. Dari sekian nilai luhur dan karakter tersebut ada satu nilai yang dianggap sangat krusial dan perlu dititikberatkan akses pembelajarannya dalam segala bidang kehidupan seiring dengan merebaknya kasus-kasus TERORISME, RADIKALISME dan INTOLERANSI, yaitu nilai “TOLERANSI”. Oleh karena itu dengan cara mengintegrasikan pemanfaatan aplikasi teknologi terkait seperti HP, Laptop untuk mengimplementasikan pembelajaran hidup bertoleransi maka pada kesempatan ini, penulis ingin berbagi pengalaman yang dituangkan dalam karya tulis yang berjudul MENELADANI JOMBANG SEBAGAI MINIATUR TOLERANSI NUSANTARA MELALUI PERMAINAN GAME EDUKASI NJOMBANGAN.APK

 

Dipilihnya Kota Jombang sebagai kota pilihan adalah karena Jombang adalah salah satu kota di Indonesia yang paling banyak mencetak tokoh-tokoh Nasional yang super toleran dan tidak diragukan tentang kiprahnya dalam mensyiarkan dan mendakwahkan TOLERANSI seperti K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid, Ainun Nadjib dan lain-lain. NJOMBANGAN.APK adalah sebuah file aplikasi berbasis android yang dapat diinstall pada HP android apapun mereknya dan didalamnya mengandung serangkaian test-test pengetahuan dan game edukasi seputar Jombang sebagai kota toleransi dan miniatur toleransi nusantara serta mampu diakses oleh berbagai pihak dengan profesi apapun yang melekat pada kita orang Indonesia.

 

Obyektifitas penilaian yang didapat akan mencerminkan dan mengilustrasikan seberapa toleran kita sebagai warga sipil terutama dalam meneladani Jombang sebagai kota toleransi dan memaknai Jombang sebagai miniatur toleransi nusantara di era kekinian dan era industri 4.0.

 

Hasil Penilaian Pembelajaran Hidup Bertoleransi

Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan, dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif. Maka wajarlah jika ada skor/nilai yang didapat ketika telah mengakses dan menyelesaikan serangkaian test di dalam aplikasi NJOMBANGAN.APK.

 

Para pengakses NJOMBANGAN.APK akan di hadapkan dengan berbagai pertanyaan dan tantangan pada game-game toleransi dengan bobot soal yang berbeda-beda dan mampu ditingkatkan ke level yang lebih tinggi.

 

Terlebih dahulu para toleran harus mendownload atau mengunduh aplikasi di url atau klik di sini: https://doc-08-9g-docs.googleusercontent.com/docs/securesc/8638d44t8d06rage556mo1c152d0boq3/sjnr7gts3429c2c18osl1n582t9r5ur5/1556078400000/04784793403094760674/04784793403094760674/1rhe6OiGgWS7-MaW-eCj8ca3tZPHg0J03?e=download&nonce=2a8s815l5t1m6&user=04784793403094760674&hash=m3qtk3c2kevlptc1ppro984t205g13tn

 

Kesimpulan & Saran

Belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila tidak terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil. Termasuk adanya perubahan sikap dalam menjalani kehidupan. Karena dalam kehidupan ada pembelajaran termasuk bagaimana belajar hidup toleran atau bertoleransi di dalam kemajemukan hidup.

 

Hasil belajar yang dicapai mampu dilihat oleh individu itu dengan memanfaatkan skor atau nilai yang didapat. Agar tidak hanya mengakses moral knowing maka hasil belajar mampu ditingkatkan menjadi moral assesment untuk dikembangkan sesuai profesi yang kita emban.

Yuk Ikut Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) Tahun 2020!

Akhirnya lomba yang kalian tunggu-tunggu hadir kembali. Melalui LEPEN 2020, Njombangan ingin menginisiasi sebuah kampanye yang didedikasikan untuk wanita dan anak-anak. Tema yang kami usung adalah “Mewujudkan masyarakat yang memiliki pemahaman, kesadaran, dan komitmen akan pemenuhan hak serta potensi wanita dan anak-anak”. Hal ini dilandasi oleh adanya data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah wanita yang sama besarnya dengan populasi pria, termasuk di wilayah Kabupaten Jombang. Sehingga, hal ini mengindikasikan pentingnya peran wanita, layaknya kaum laki-laki, untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan baik. Kontribusi ini tidak sebatas di ranah domestic atau keluarga, tapi juga domain yang lebih luas seperti lingkungan masyarakat, maupun di kancah internasional.

Selain itu, pemenuhan lingkungan yang layak dan nyaman untuk anak juga penting untuk diperhatikan. Mengingat, peradaban saat ini masih belum mampu menyediakan ruang yang ramah terhadap wanita dan anak-anak. Oleh karena itu, Njombangan berharap banyak anak muda, khususnya yang memiliki keterikatan dengan Jombang, untuk memberikan sumbangsihnya melalui lomba esai ini.

Teman-teman bisa memilih sub-tema berikut sebagai topik tulisan:

  1. Masyarakat anti kekerasan fisik maupun non fisik terhadap perempuan;
  2. Pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) untuk akses wanita dalam dunia politik dan pembuatan kebijakan;
  3. Pendidikan keluarga dan peran wanita dalam mewujudkan keluarga yang ideal;
  4. Wanita, pelestarian budaya, dan nilai-nilai luhurnya di era globalisasi;
  5. Mendorong pemikiran kritis dan partisipasi wanita dalam pembangunan;
  6. Pemenuhan dan perlindungan terhadap hak-hak wanita dan anak di berbagai bidang.

Silakan mengirimkan karya orisinil kalian melalui link berikut atau kalian juga bisa mengirimkan e-mail ke njombangan@gmail.com dengan judul LEPEN 2020_Nama. Ditunggu karya terbaiknya!

Salam,

Njombangan

Bhinneka Jombang Comunity sebagai Wujud Jombang Kota Toleransi pada Era Revolusi Industri 4.0 Sekaligus Wadah Kolaborasi dan Partisipasi Berbagai Pihak

Ananda Gilang Ismoyo

 

 

Latar Belakang & Permasalahan

Sebelumnya kita sudah tahu bahwa Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki pulau sebanyak 17.508. Pulau-pulau ini terdiri atas 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil. Dengan adanya bentuk kepulauan tersebut, populasi penduduk di Indonesia diperkirakan sebanyak 250 juta jiwa.

 

Semboyan dari Bangsa Indonesia sendiri yakni, “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Perbedaan di sini meliputi ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama, dan kepercayaan. Setidaknya Bangsa Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa, 6 agama yang diakui oleh negara, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu (Konfusius). Banyak etnis juga ada di Indonesia, seperti Melayu, China, Arab dan lain sebagainya. Perbedaan inilah yang disebut dengan keragaman, yaitu kekayaan bangsa yang penuh dengan nuansa dan variasi. Perbedaan akan semakin banyak apabila dilihat dari sisi yang lebih luas, misalnya saja dalam hal golongan, partai politik, dan organisasi. Sekarang kita sudah bisa membayangkan bagaimana keberagaman yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu,  sesungguhnya keragaman bangsa ini bagaikan mozaik sebuah lukisan yang harus diterima oleh semua orang.

 

Tujuan Penulisan

Di Jombang sendiri terdapat 21 kecamatan yang mencakup 306 desa-desa di dalamnya. Diperkirakan jumlah penduduk Jombang pada tahun 2015 sebanyak 1.240.985 jiwa dari jumlah itu, sangat mungkin terjadi perubahan jumlah penduduk mengingat selama 4 tahun berlalu pasti banyak kasus kelahiran yang diimbangi dengan kematian. Dengan banyaknya jumlah penduduk di Jombang tersebut, tidak menutup kemungkinan terdapat perbedaan atau keragaman mulai dari keragaman suku, agama, ras, dan masih banyak lagi. Dalam keragaman inilah diperlukan toleransi bagi seluruh penduduk Jombang sendiri. Toleransi adalah sikap atau kesediaan hati untuk menerima perbedaan dalam bentuk tidak menjadikan alasan untuk bersikap bermusuhan terhadap orang atau kelompok orang yang berbeda.

 

Solusi & Implementasi

Selama ini Jombang dikenal sebagai kota santri atau kota seribu pesantren. Mengapa demikian ? Ya tentu sangat jelas karena di Jombang terdapat banyak pondok pesantren yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Jombang mayoritas penduduk yang tinggal beragama Islam. Dengan adanya latar belakang ini tidak menutup kemungkinan ada pihak pihak yang ingin memecah belah persatuan warga Jombang dengan menyebarkan isu hoax.

 

Mungkin hal ini saya perhatikan belum terjadi di Jombang tapi kita harus waspada mengingat sudah banyak kasus kasus hoax yang marak dialami di luar sana.

 

Untuk mengantisipasi ancaman-ancaman seperti itu warga Jombang harus bersatu dengan cara membuat satu komunitas yang di dalamnya terdapat semua kalangan warga Jombang tanpa memandang usia, gender, agama, ras guna mewujudkan kota Jombang sebagai kota toleransi.

 

 Sebenarnya tujuan dari komunitas itu sendiri adalah menampung semua aspirasi atau saran dari semua anggota yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah program. Dengan adanya komunitas seperti ini diharapkan warga Jombang semakin memahami apa itu perbedaan dan menghargai satu sama lain. Harapannya, hal-hal yang berpotensi mengganggu kesatuan warga Jombang akan lenyap dengan sendirinya.

 

Saya mengusulkan konsep komunitas dengan nama Bhineka Jombang Comunity (Komunitas Bhinneka Jombang). Nama ini diambil dari semboyan Bangsa Indonesia yang merupakan patokan atau kiblat toleransi. Konsep ini melambangkan keberagaman masyarakat Jombang dari agama ras suku dan perbedaan lainnya yang dikumpulkan menjadi satu ikatan kuat ke dalam sebuah komunitas.

 

Untuk membentuk komunitas ini setidaknya ada 3 komponen utama yang sangat penting yaitu kesadaran, partisipasi, dan dukungan.

 

  1. Aspek ini merupakan pilar yang paling penting. Kesadaran lahir dari dalam hati nurani manusia itu sendiri. Hal ini bisa diibaratkan sebagai pondasi awal karena tanpa pondasi maka bangunan akan roboh diterpa angin.

 

  1. Aspek kedua ini adalah buah dari kesadaran. Jika kesadaran sudah tumbuh, maka selanjutnya akan ada tindakan yang disebut partisipasi.

 

  1. Terakhir, dukungan di sini berarti adanya peran dari pemerintah Kabupaten Jombang agar dapat memfasilitasi dan memberi kesempatan kepada komunitas ini dan memberikan sambutan positif.

 

Dengan ketiga komponen di atas maka komunitas akan terbentuk dan berjalan dengan baik untuk menanggulangi kemungkinan adanya konflik horizontal di masyarakat Jombang. Setelah komunitas terbentuk, kemudian mulailah penyususunan visi dan misi. Visi komunitas ini sudah sangat jelas yaitu mewujudkan Jombang sebagai kota toleransi. Setelah terbentuk visi, mulailah disusun program program yang dilaksanakan supaya visi tersebut tercapai. Hal ini bisa disebut dengan misi. Misi pertama yaitu mengenalkan komunitas ini kepada masyarakat dan menjelaskan pentingnya komunitas ini untuk mewujudkan visi komunitas.

 

Pengenalan komunitas bisa memanfaatkan teknologi-teknologi yang sedang berkembang saat ini seperti smartphone. Kita bisa memanfaatkannya untuk membuat website tentang komunitas yang berisi profil komunitas, visi-misi, serta agenda-agenda yang menarik bagi milenial untuk berpartisipasi. Tidak hanya itu, kita juga perlu memanfaatkan media sosial untuk sharing (berbagi) melalui grup whatsapp ataupun yang lainnya.

 

Tetapi, promosi melalui dunia maya perlu diimbangi dengan promosi secara langsung sebab komunitas juga perlu perkumpulan rutin untuk membahas hal hal yang tidak bisa disampaikan melalui social media.

 

Misi yang kedua adalah mengumpulkan anggota. Setelah masyarakat, pemerintah Kabupaten Jombang mengenal Bhineka Jombang Community, selanjutnya adalah menjaring seluruh warga Jombang dari berbagai kalangan untuk bergabung menjadi anggota komunitas. Berikut adalah beberapa metode yang dapat dilakukan:

 

  1. metode langsung dilakukan dengan cara membagikan formulir untuk kemudian diisi oleh warga jombang.

 

  1. metode social media bisa menggunakan formulir online yang bisa didapat di website komunitas tadi.

 

 

Kesimpulan & Saran

Dengan adanya komunitas diharapkan warga jombang semakin sadar akan adanya perbedaan dan semakin tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati sesama dan memicu terwujudnya Jombang sebagai kota toleransi. Semua ini juga harus diimbangi dengan majunya teknologi di era revolusi industri 4.0 ini, misalnya dengan adanya website dan lain- lain supaya komunitas tidak ketinggalan  zaman.