• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Category ArchiveBerita Njombangan

Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Semoga kita semua dimanapun berada selalu dalam keadaan baik, sehat, sejahtera, dan bahagia. Amien.

Njombangan mengajak seluruh masyarakat untuk Bersama melawan Covid-19 melalui berbagai cara yang sederhana. Salah satunya adalah mendukung program Njombangan Berbagi.

Dengan semakin merebaknya wabah Corona, maka keluarga dari ekonomi lemah serta mereka yang berpenghasilan harian menjadi kelompok yang semakin rentan terkena dampaknya. Oleh karena itu, Njombangan kembali mengadakan program sosial Njombangan Berbagi untuk mengajak #BersamaLawanCorona

Kamu bisa mengusulkan tetangga, teman, keluarga atau siapapun di Jombang yang kiranya berhak menerima bantuan ini (one time assistance). Kriteria tersebut adalah:

  1. tergolong fakir miskin
  2. diutamakan bagi janda sepuh dan atau tergolong ekonomi lemah
  3. Jika memungkinkan, tidak sedang menerima bantuan serupa dari pihak lain

Silahkan untuk menginformasi data calon penerima paling lambat tanggal 6 April 2020 sbb:

Nama:

Alamat:

Pekerjaan:

Hubungan: keluarga/ tetangga/ teman lainnya

Nomor Hp mu yang bisa dihubungi

.

Kamu bisa mengirimkan data tersebut ke:

1. DM kami melalui Instagram @njombanganofficial

2. E-mail kami di njombangan@gmail.com CC: info@njombangan.com

3. Whatsapp CP ke 085890626260

*Mengingat jumlah paket program ini yang terbatas, maka kami akan menyeleksi usulan calon penerima. Usulan bukan first come first served.

Yuk kita saling jaga dan berbagi dengan cara #DirumahAja dan #BersamaLawanCorona

Info lengkap klik di sini.

Orientasi “Catur Gatra Tunggal” Alun-Alun sebagai Wadah Toleransi Masyarakat Jombang Pada Masa Awal Pembentukan Kabupaten

Fariz Ilham Rosyidi

 

Latar Belakang & Permasalahan

Perkembangan suatu wilayah yang disebut sebagai kota biasanya dimulai dari sebuah desa yang mengalami perubahan terus-menerus. Dalam perjalanannya, desa akan mulai berubah menjadi kota kecil, kota kecil akan menjadi kota sedang, kota sedang akan menjadi kota besar, kota besar akan menjadi metropolis, dan metropolis akan berubah menjadi megapolis. Di dalamnya terdapat banyak pertemuan yang kompleks dengan berbagai macam entitas yang membentuk berbagai macam ciri yang nampak, seperti yang diutarakan Kevin LynchDalam penelitiaannya, ia menyebutkan bahwa kota terdiri atas beberapa elemen, salah satunya adalah landmark  (Basundoro, 2012:1). 

Landmark atau tetenger diartikan sebagai penanda sebuah kota. Keberadaan sebuah landmark dapat membentuk simbol identitas dan status dari suatu wilayah administratif. Di Jawa, salah satu ciri dari simbol tersebut dapat ditengarai dengan adanya hamparan lapangan rumput luas yang dipisahkan oleh jalan akses masuk ke kantor pendopo dan masjid. Tempat ini yang biasanya dinamakan dengan “alun-alun”.

Sejak masa Kerajaan Majapahit, alun-alun telah dikenal dan namanya telah diabadikan dalam sebuah riwayat, yakni Alun-Alun Bubat. Dalam sejarahnya kemudian, pada masa kerajaan Mataram alun-alun terbagi menjadi dua jenis, yaitu alun-alun keraton kerajaan (kediaman raja) dengan alun-alun kabupaten (kediaman bupati). Alun-alun kerajaan, seperti Surakarta dan Yogyakarta, mempunyai dua buah alun-alun yang mana satu terletak di utara keraton dan satu lagi terletak di selatan keraton. Permukaan alun-alun keraton tersebut berupa hamparan pasir halus, sedangkan alun-alun kabupaten mempunyai satu alun-alun di depan kediaman bupati dan hamparannya biasanya berumput  (Warpani, 2009:1). Pada periode tersebut ditemukan adanya makna orientasi kota. Orientasi yang dimaksud adalah hubungan antara alun-alun pada objek dan kawasan sekitarnya. Pada konsep alun-alun Jawa terdapat konsep mancapat yang berarti alun-alun menjadi konsep spasial penentu mata angin di kotanya. Sedangkan pada alun-alun masa  kolonial fungsinya untuk penghimpunan massa dan kegunaannya untuk simbolisme dari kekuasaan terhadap bumiputera  (Handinoto, 1992:13).

Tujuan Penulisan

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkapkan sejarah perjalanan Jombang sebagai kota toleransi yang mana warganya dapat menghormati dan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan. Penulis berharap, tulisan ini dapat menjadi pengingat khususnya bagi warga Jombang untuk terus merawat keharmonisan ini. Selain itu, artikel ini juga dapat dijadikan inspirasi bagi daerah lain untuk belajar menjaga hubungan baik di masyarakat.

 

Pembahasan

Salah satu contoh dari akulturasi konsep orientasi alun-alun Jawa dan Kolonial adalah kompleks alun-alun Djombang. Alun-alun dianggap mempunyai orientasi karena menjadi bukti sejarah dimulainya pemerintahan di Kabupaten Jombang. Selain itu, alun-alun mempunyai aspek struktur konsep tata kota tradisional di Jawa yang disebut catur tunggal. Hal ini dapat diamati dari adanya bangunan di sekitar alun-alun. Catur tunggal atau orang Yogyakarta menyebutnya catur gatra tunggal adalah empat komponen utama yang meliputi pendopo, masjid, pengadilan (penjara), dan pasar  (Fitria, 2017:1).

Alun-alun merupakan ruang persegi bersejarah di Jawa yang menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah dan menjadi pusat kegiatan hingga saat ini. Alun-alun Kota Jombang dianggap sebagai melting-pot (titik pertemuan) masyarakat Jombang seperti pertemuan, kegiatan keagamaan serta kegiatan kenegaraan.

“…Jika ingin rakyatnya beragama maka Bupati harus menyediakan ‘tempat ibadah’ masjid, jika ingin rakyatnya sejahtera maka Bupati perlu menyediakan pasar, lalu jika ingin rakyatnya adil, maka hakim perlu membuat pengadilan dan penjara, dan yang terrakhir, jika rakyat menginginkan Bupatinya bijak maka perlu membuat pendopo sebagai bentuk keluh kesah rakyat kepada penguasanya…” (Basundoro, 2009:12).

Hal itu dapat ditinjau dari adanya aktivitas dan pranata yang berlaku di kawasan sekitar alun-alun yang saling memiliki keterkaitan. Adapun tempat-tempat yang dimaksud akan dipaparkan sebagai berikut:

  1. Tempat Ibadah

Konon disebutkan dalam cerita rakyat tentang hubungan Bupati Jombang yang pertama yakni Soeroadiningrat (Kyai Sepuh) dengan Bupati Sedayu (Gresik) dalam soal ilmu yang berkaitan dengan pembuatan masjid di Kota Jombang  (Fahrudin Nasrulloh dkk, 2010:2). Hal itu merupakan petunjuk yang mendasari eksistensi awal tata kota di Kabupaten Jombang, tepatnya di kampung Muslim yang dikenal dengan “Kauman”. Masjid yang diberi nama Baitul Mukminin ini terletak di sebelah barat alun-alun. Masjid Agung ini merupakan salah satu masjid tua di Jombang, Berdirinya masjid bersamaan dengan berdirinya gereja Mojowarno pada tahun 1879. Akan tetapi, kedua pembangunan tempat ibadah ini menempati wilayah yang berbeda dan berjauhan  (Humas Bappeda Jombang, 2014:26).  Meski begitu, sekitar dua ratus meter dari timur alun-alun, dibangun Gereja Pantekosa untuk peribadatan masyarakat Kristen di pusat kota Jombang agar mereka tidak perlu pergi ke Mojowarno untuk melaksanakan ibadah.

Bagi warga Tionghoa, terdapat Kelenteng Hok Liong Kiong Kepatihan yang berada sekitar satu kilometer ke utara alun-alun Jombang. Kelenteng ini menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi penganut Tri Dharma. Selain itu, warga Tionghoa menyulap tempat di sekitarnya sebagai Kampung Pecinan, yang berdekatan dengan kegiatan pasar.

 

  1. Pendopo Kabupaten

Pada tahun 1893 Afdeeling Jombang mulai membangun pemerintahannya. Hal tersebut dikuatkan dengan penempatan Asisten Resident dari Pemerintahan Belanda di wilayah Kabupaten Jombang. Sebagai simbol kekuasann, pada saat itu dibangun pendopo dan kantor keresidenan (yang saat ini menjadi kantor Bupati Jombang). Posisi  Masjid Agung dan Pendopo Bupati berseberangan dan menghadap terbuka ke lapangan alun-alun. Perpanjangan sumbu tersebut dalam pandangan Jawa merepresentasikan adanya konsep relasi antara manusia dengan Tuhan, relasi antara manusia (penguasa) dengan masyarakat, dan relasi antara manusia dengan alam. Harmonisasi tersebut telah tergambar dan dapat dilihat hingga sekarang.

  1. Pujasera Kebon Rojo

Sekitar tahun 1917, Kebon Rojo sudah menjadi ruang terbuka dengan pasar dan taman yang saling berdampingan. Selain sebagai ruang terbuka, Kebon Rojo juga berperan sebagai simbol kesejahteraan masyarakat di Jombang yang dibangun dekat dengan alun-alun. Pada tahun 1948, terjadi perang kebon rojo. Perang atau bisa disebut sebagai serangan tersebut dinilai berhasil karena Kebon Rojo yang menjadi jantung kota masyarakat Jombang, tidak jadi dibumihanguskan oleh Belanda.

  1. Pengadilan dan Penjara

Pengadilan dan penjara di Jombang sudah ada sejak jaman Hindia-Belanda. Pada waktu itu bernama Landraad. Sebelumnya, wilayah hukum di Jombang masih mengikuti Mojokerto, namun pada tahun 1954, Kabupaten Jombang memisahkan diri dan mendirikan pengadilan negeri yang terletak tidak jauh dari alun-alun. Sebagaimana kota tradisional di Jawa, pengadilan serta penjara tidak terpisahkan untuk menjaga pranata sosial dan pranata hukum dalam menjaga kerukunan serta ketertiban di wilayah Jombang, khususnya wilayah kota  (Sri Margana, 2010:22).

 

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan tentang konsep catur gatra tunggal di atas, tulisan ini dapat menjadi sumber referensi bagi generasi muda agar mereka lebih memahami sejarah Kota Jombang. Sejak dulu kompleks Alun-Alun Djombang telah menjadi irisan perkembangan sekaligus saksi berdirinya Kabupaten Jombang. Di dalamnya memuat unsur toleransi yang begitu kental dengan ciri masyarakat Jombang, yakni kultur ijo (santri) dan abangan (kejawen).   


 

Lampiran Foto

 

Foto 1 Boong Ge bersama keluarganya di Kebon Rojo Jombang tahun 1917(Dok. Ge Simao)

Foto 2 keadaan Terminal Penumpang Umum  dekat alun-alun di Kauman Utara Kecamatan Jombang pada tahun 1938 (dok. Pribadi)


 

 

Foto 3  Pendopo Kabupaten Jombang pada tahun 1930 (dok. Istimewa)

 

Foto 4 Arsip Pembentukan Kabupaten Jombang pada Tahun 1910 hasil pemekaran dari Mojokerto (dok. pribadi).


 

 

Daftar Pustaka

Buku

Basundoro, Purnawan. 2012. Pengantar Sejarah Kota, Yogyakarta: Penerbit Ombak.

________. 2009, Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang Sejak Zaman Kolonial Sampai Kemerdekaan, Yogyakarta: Ombak.

Nasrulloh, F., Sukarno, D., dan Wibisono, Y. 2010. Biografi Para Bupati Jombang Jombang: Pemerintah Kabupaten Jombang.

Margana, Sri, 2010. Kota-Kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial, Yogyakarta: Ombak.

Tim Bappeda dan Humas Jombang, 2014. Profil Kabupaten Jombang: Visit Jombang friendly and religious Jombang: Bappeda Kabupaten Jombang.

Skripsi

Fitria, Lum’atul. 2017. Analisis Fungsi dan Struktur Alun-Alun Kota Jombang Serta Kawasan Sekitar Sebagai Kawasan Bersejarah. Bogor: Skripsi Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Jurnal

Handinoto. 1992. ”Alun-Alun Sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang”. Jurnal Dimensi Vol.18

Warpani, Suwardjoko. 2009. “Alun-Alun Lor dan Kidul”, SAPPK Perencanaan Wilayah dan Kota p.1

 

Meneladani Jombang Sebagai Miniatur Toleransi Nusantara melalui Permainan Game Edukasi Njombangan.Apk

Erwin Joko Susanto

 

 

Latar Belakang & Permasalahan

Isu globalisasi di segala bidang kehidupan manusia sudah pasti menjadi hulu mengalirnya latar belakang ditulisnya pengalaman ini. Seakan isu abadi itu ikut mewahanakan arus suksesi kemajuan IPTEK. Akses tanpa batas untuk berbagai kepentingan, baik download maupun upload. Isu robotisasi dalam berbagai bidang semakin mempertajam keberangsungan Era Industri 4.0. Tantangan inilah yang harus menjadi momentum bagi kita sebagai generasi milenial untuk ikut berperan dalam memperbaiki dan menentukan nasib zaman pada suatu wilayah atau negara (NOTONEGORO).

 

Tujuan Penulisan

Tidak ada kata yang lebih mulia kecuali bahwa tidak ada ciptaan-Nya yang tidak mampu memberi manfaat. Oleh karena itu tulisan pendek ini diharapkan mampu memberi manfaat baik untuk pribadi penulis sendiri dan secara umum untuk semua pembaca dari semua kalangan dari segala jenis umur, profesi, gender, dan segala kebermaknaan tiap individu di dalam kehidupan di dunia.

 

 

Solusi & Implementasi

Dengan kata lain perkembangan isu dan paradigma di atas jangan hanya menjadi masalah dan lagu sedih kehidupan tetapi malah justru mampu menjadi modal untuk mengefisiensikan tugas pokok setiap profesi kita untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur bangsa agar tujuan positif kehidupan dapat dirasakan secara nyata. Nilai-nilai luhur seperti mensyukuri, semangat, santun, peduli, jujur, disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, kerjasama, cinta damai dan toleransi  adalah nilai yang harus ditanamkan sejak dini kepada generasi milenial baik secara langsung maupun tidak langsung dan secara sadar atau tidak sadar. Dari sekian nilai luhur dan karakter tersebut ada satu nilai yang dianggap sangat krusial dan perlu dititikberatkan akses pembelajarannya dalam segala bidang kehidupan seiring dengan merebaknya kasus-kasus TERORISME, RADIKALISME dan INTOLERANSI, yaitu nilai “TOLERANSI”. Oleh karena itu dengan cara mengintegrasikan pemanfaatan aplikasi teknologi terkait seperti HP, Laptop untuk mengimplementasikan pembelajaran hidup bertoleransi maka pada kesempatan ini, penulis ingin berbagi pengalaman yang dituangkan dalam karya tulis yang berjudul MENELADANI JOMBANG SEBAGAI MINIATUR TOLERANSI NUSANTARA MELALUI PERMAINAN GAME EDUKASI NJOMBANGAN.APK

 

Dipilihnya Kota Jombang sebagai kota pilihan adalah karena Jombang adalah salah satu kota di Indonesia yang paling banyak mencetak tokoh-tokoh Nasional yang super toleran dan tidak diragukan tentang kiprahnya dalam mensyiarkan dan mendakwahkan TOLERANSI seperti K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid, Ainun Nadjib dan lain-lain. NJOMBANGAN.APK adalah sebuah file aplikasi berbasis android yang dapat diinstall pada HP android apapun mereknya dan didalamnya mengandung serangkaian test-test pengetahuan dan game edukasi seputar Jombang sebagai kota toleransi dan miniatur toleransi nusantara serta mampu diakses oleh berbagai pihak dengan profesi apapun yang melekat pada kita orang Indonesia.

 

Obyektifitas penilaian yang didapat akan mencerminkan dan mengilustrasikan seberapa toleran kita sebagai warga sipil terutama dalam meneladani Jombang sebagai kota toleransi dan memaknai Jombang sebagai miniatur toleransi nusantara di era kekinian dan era industri 4.0.

 

Hasil Penilaian Pembelajaran Hidup Bertoleransi

Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan, dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif. Maka wajarlah jika ada skor/nilai yang didapat ketika telah mengakses dan menyelesaikan serangkaian test di dalam aplikasi NJOMBANGAN.APK.

 

Para pengakses NJOMBANGAN.APK akan di hadapkan dengan berbagai pertanyaan dan tantangan pada game-game toleransi dengan bobot soal yang berbeda-beda dan mampu ditingkatkan ke level yang lebih tinggi.

 

Terlebih dahulu para toleran harus mendownload atau mengunduh aplikasi di url atau klik di sini: https://doc-08-9g-docs.googleusercontent.com/docs/securesc/8638d44t8d06rage556mo1c152d0boq3/sjnr7gts3429c2c18osl1n582t9r5ur5/1556078400000/04784793403094760674/04784793403094760674/1rhe6OiGgWS7-MaW-eCj8ca3tZPHg0J03?e=download&nonce=2a8s815l5t1m6&user=04784793403094760674&hash=m3qtk3c2kevlptc1ppro984t205g13tn

 

Kesimpulan & Saran

Belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila tidak terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil. Termasuk adanya perubahan sikap dalam menjalani kehidupan. Karena dalam kehidupan ada pembelajaran termasuk bagaimana belajar hidup toleran atau bertoleransi di dalam kemajemukan hidup.

 

Hasil belajar yang dicapai mampu dilihat oleh individu itu dengan memanfaatkan skor atau nilai yang didapat. Agar tidak hanya mengakses moral knowing maka hasil belajar mampu ditingkatkan menjadi moral assesment untuk dikembangkan sesuai profesi yang kita emban.

Yuk Ikut Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) Tahun 2020!

Akhirnya lomba yang kalian tunggu-tunggu hadir kembali. Melalui LEPEN 2020, Njombangan ingin menginisiasi sebuah kampanye yang didedikasikan untuk wanita dan anak-anak. Tema yang kami usung adalah “Mewujudkan masyarakat yang memiliki pemahaman, kesadaran, dan komitmen akan pemenuhan hak serta potensi wanita dan anak-anak”. Hal ini dilandasi oleh adanya data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah wanita yang sama besarnya dengan populasi pria, termasuk di wilayah Kabupaten Jombang. Sehingga, hal ini mengindikasikan pentingnya peran wanita, layaknya kaum laki-laki, untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan baik. Kontribusi ini tidak sebatas di ranah domestic atau keluarga, tapi juga domain yang lebih luas seperti lingkungan masyarakat, maupun di kancah internasional.

Selain itu, pemenuhan lingkungan yang layak dan nyaman untuk anak juga penting untuk diperhatikan. Mengingat, peradaban saat ini masih belum mampu menyediakan ruang yang ramah terhadap wanita dan anak-anak. Oleh karena itu, Njombangan berharap banyak anak muda, khususnya yang memiliki keterikatan dengan Jombang, untuk memberikan sumbangsihnya melalui lomba esai ini.

Teman-teman bisa memilih sub-tema berikut sebagai topik tulisan:

  1. Masyarakat anti kekerasan fisik maupun non fisik terhadap perempuan;
  2. Pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) untuk akses wanita dalam dunia politik dan pembuatan kebijakan;
  3. Pendidikan keluarga dan peran wanita dalam mewujudkan keluarga yang ideal;
  4. Wanita, pelestarian budaya, dan nilai-nilai luhurnya di era globalisasi;
  5. Mendorong pemikiran kritis dan partisipasi wanita dalam pembangunan;
  6. Pemenuhan dan perlindungan terhadap hak-hak wanita dan anak di berbagai bidang.

Silakan mengirimkan karya orisinil kalian melalui link berikut atau kalian juga bisa mengirimkan e-mail ke njombangan@gmail.com dengan judul LEPEN 2020_Nama. Ditunggu karya terbaiknya!

Salam,

Njombangan

Bhinneka Jombang Comunity sebagai Wujud Jombang Kota Toleransi pada Era Revolusi Industri 4.0 Sekaligus Wadah Kolaborasi dan Partisipasi Berbagai Pihak

Ananda Gilang Ismoyo

 

 

Latar Belakang & Permasalahan

Sebelumnya kita sudah tahu bahwa Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki pulau sebanyak 17.508. Pulau-pulau ini terdiri atas 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil. Dengan adanya bentuk kepulauan tersebut, populasi penduduk di Indonesia diperkirakan sebanyak 250 juta jiwa.

 

Semboyan dari Bangsa Indonesia sendiri yakni, “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Perbedaan di sini meliputi ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama, dan kepercayaan. Setidaknya Bangsa Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa, 6 agama yang diakui oleh negara, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu (Konfusius). Banyak etnis juga ada di Indonesia, seperti Melayu, China, Arab dan lain sebagainya. Perbedaan inilah yang disebut dengan keragaman, yaitu kekayaan bangsa yang penuh dengan nuansa dan variasi. Perbedaan akan semakin banyak apabila dilihat dari sisi yang lebih luas, misalnya saja dalam hal golongan, partai politik, dan organisasi. Sekarang kita sudah bisa membayangkan bagaimana keberagaman yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu,  sesungguhnya keragaman bangsa ini bagaikan mozaik sebuah lukisan yang harus diterima oleh semua orang.

 

Tujuan Penulisan

Di Jombang sendiri terdapat 21 kecamatan yang mencakup 306 desa-desa di dalamnya. Diperkirakan jumlah penduduk Jombang pada tahun 2015 sebanyak 1.240.985 jiwa dari jumlah itu, sangat mungkin terjadi perubahan jumlah penduduk mengingat selama 4 tahun berlalu pasti banyak kasus kelahiran yang diimbangi dengan kematian. Dengan banyaknya jumlah penduduk di Jombang tersebut, tidak menutup kemungkinan terdapat perbedaan atau keragaman mulai dari keragaman suku, agama, ras, dan masih banyak lagi. Dalam keragaman inilah diperlukan toleransi bagi seluruh penduduk Jombang sendiri. Toleransi adalah sikap atau kesediaan hati untuk menerima perbedaan dalam bentuk tidak menjadikan alasan untuk bersikap bermusuhan terhadap orang atau kelompok orang yang berbeda.

 

Solusi & Implementasi

Selama ini Jombang dikenal sebagai kota santri atau kota seribu pesantren. Mengapa demikian ? Ya tentu sangat jelas karena di Jombang terdapat banyak pondok pesantren yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Jombang mayoritas penduduk yang tinggal beragama Islam. Dengan adanya latar belakang ini tidak menutup kemungkinan ada pihak pihak yang ingin memecah belah persatuan warga Jombang dengan menyebarkan isu hoax.

 

Mungkin hal ini saya perhatikan belum terjadi di Jombang tapi kita harus waspada mengingat sudah banyak kasus kasus hoax yang marak dialami di luar sana.

 

Untuk mengantisipasi ancaman-ancaman seperti itu warga Jombang harus bersatu dengan cara membuat satu komunitas yang di dalamnya terdapat semua kalangan warga Jombang tanpa memandang usia, gender, agama, ras guna mewujudkan kota Jombang sebagai kota toleransi.

 

 Sebenarnya tujuan dari komunitas itu sendiri adalah menampung semua aspirasi atau saran dari semua anggota yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah program. Dengan adanya komunitas seperti ini diharapkan warga Jombang semakin memahami apa itu perbedaan dan menghargai satu sama lain. Harapannya, hal-hal yang berpotensi mengganggu kesatuan warga Jombang akan lenyap dengan sendirinya.

 

Saya mengusulkan konsep komunitas dengan nama Bhineka Jombang Comunity (Komunitas Bhinneka Jombang). Nama ini diambil dari semboyan Bangsa Indonesia yang merupakan patokan atau kiblat toleransi. Konsep ini melambangkan keberagaman masyarakat Jombang dari agama ras suku dan perbedaan lainnya yang dikumpulkan menjadi satu ikatan kuat ke dalam sebuah komunitas.

 

Untuk membentuk komunitas ini setidaknya ada 3 komponen utama yang sangat penting yaitu kesadaran, partisipasi, dan dukungan.

 

  1. Aspek ini merupakan pilar yang paling penting. Kesadaran lahir dari dalam hati nurani manusia itu sendiri. Hal ini bisa diibaratkan sebagai pondasi awal karena tanpa pondasi maka bangunan akan roboh diterpa angin.

 

  1. Aspek kedua ini adalah buah dari kesadaran. Jika kesadaran sudah tumbuh, maka selanjutnya akan ada tindakan yang disebut partisipasi.

 

  1. Terakhir, dukungan di sini berarti adanya peran dari pemerintah Kabupaten Jombang agar dapat memfasilitasi dan memberi kesempatan kepada komunitas ini dan memberikan sambutan positif.

 

Dengan ketiga komponen di atas maka komunitas akan terbentuk dan berjalan dengan baik untuk menanggulangi kemungkinan adanya konflik horizontal di masyarakat Jombang. Setelah komunitas terbentuk, kemudian mulailah penyususunan visi dan misi. Visi komunitas ini sudah sangat jelas yaitu mewujudkan Jombang sebagai kota toleransi. Setelah terbentuk visi, mulailah disusun program program yang dilaksanakan supaya visi tersebut tercapai. Hal ini bisa disebut dengan misi. Misi pertama yaitu mengenalkan komunitas ini kepada masyarakat dan menjelaskan pentingnya komunitas ini untuk mewujudkan visi komunitas.

 

Pengenalan komunitas bisa memanfaatkan teknologi-teknologi yang sedang berkembang saat ini seperti smartphone. Kita bisa memanfaatkannya untuk membuat website tentang komunitas yang berisi profil komunitas, visi-misi, serta agenda-agenda yang menarik bagi milenial untuk berpartisipasi. Tidak hanya itu, kita juga perlu memanfaatkan media sosial untuk sharing (berbagi) melalui grup whatsapp ataupun yang lainnya.

 

Tetapi, promosi melalui dunia maya perlu diimbangi dengan promosi secara langsung sebab komunitas juga perlu perkumpulan rutin untuk membahas hal hal yang tidak bisa disampaikan melalui social media.

 

Misi yang kedua adalah mengumpulkan anggota. Setelah masyarakat, pemerintah Kabupaten Jombang mengenal Bhineka Jombang Community, selanjutnya adalah menjaring seluruh warga Jombang dari berbagai kalangan untuk bergabung menjadi anggota komunitas. Berikut adalah beberapa metode yang dapat dilakukan:

 

  1. metode langsung dilakukan dengan cara membagikan formulir untuk kemudian diisi oleh warga jombang.

 

  1. metode social media bisa menggunakan formulir online yang bisa didapat di website komunitas tadi.

 

 

Kesimpulan & Saran

Dengan adanya komunitas diharapkan warga jombang semakin sadar akan adanya perbedaan dan semakin tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati sesama dan memicu terwujudnya Jombang sebagai kota toleransi. Semua ini juga harus diimbangi dengan majunya teknologi di era revolusi industri 4.0 ini, misalnya dengan adanya website dan lain- lain supaya komunitas tidak ketinggalan  zaman.

 

 

Serunya Acara Penyerahan Hadiah Pemenang LEPEN 2019

Pada hari Sabtu, 28 Desember 2019 yang lalu, Njombangan berkesempatan untuk mengundang para pemenang Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) edisi tahun 2019 di Rumah Makan Zam-zam, Diwek. Acara diawali dengan makan bersama dan perkenalan diri. Setelah itu kegiatan dibuka langsung oleh ketua sekaligus founder Njombangan. Ia memberikan sambutan singkat dan berbagi informasi seputar program-program Njombangan seperti Lomba parikan, Njombangan Menari, Njombangan Berbagi Sembako pada bulan Ramadhan, Njombangan Giveaway, Njombangan Challenge, dll. Kemudian, acara dilanjutkan dengan ice breaking untuk lebih mengenal satu sama lain.

Selain para sukarelawan Njombangan, acara ini juga dihadiri oleh seluruh pemenang lomba yang terdiri dari juara 1,2,3 dan harapan 1,2, dan 3. Mereka secara bergantian menyampaikan pendangan dan pendapatnya dalam bentuk tulisan singkat tersebut. Pada siang hari itu, Mas Johar sebagai pendiri Njombangan menyerahkan piala dan hadiah uang tunai secara langsung kepada seluruh pemenang. Pada kesempatan itu, kami juga menyerahkan hadiah kepada pemenang parikan edisi bulan November 2019.

Namun, sebelum dilakukan penyerahan hadiah, seluruh pemenang diminta untuk menceritakan isi esai yang telah dibuat dan dikirimkan pada perlombaan ini. Tema yang kami angkat pada LEPEN 2019 adalah yaitu “Mewujudkan Jombang sebagai Kota Toleransi melalui Pemanfaatan Teknologi, Kolaborasi, dan Partisipasi Berbagai Pihak”. Toleransi dipilih mengingat Jombang memiliki banyak tokoh yang memperjuangkan hal ini seperti Gus Dur, Cak Nun, dan Cak Nur.

Selain melalui LEPEN, Njombangan juga memberikan sumbangsih lain terhadap penetapan Jombang sebagai The Most Harmonious City di ASEAN dengan cara membuat lagu. Lagu ini diberi judul ‘Jombang Kota Toleransi’.

 

Pada akhir acara, Njombangan melakukan sosialisasi LEPEN tahun 2020. Lalu, sebagai penutup, kami melakukan sesi foto secara bersama seluruh crew Njombangan dan pemenang. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh peserta yang telah berpatisipasi dan selamat kepada seluruh pemenang!

Inilah Pemenang Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) 2019

Keluarga Besar Njombangan mengucapkan selamat dan apresiasi kepada para pemenang LEPEN 2019 sebagai berikut:

 

Juara 1

Hasri Maghfirotinns: Mewujudkan Wisata Toleransi di Jombang

Juara 2

Ananda Gilang Ismoyo: Bhinneka Jombang Comunity sebagai Wujud Jombang Kota Toleransi pada Era Revolusi Industri 4.0 Sekaligus Wadah Kolaborasi dan Partisipasi Berbagai Pihak

Juara 3

Putri Maydi: Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Jombang sebagai Kota Pluralisme

Juara Harapan 1

Fariz Ilham Rosyidis: Masyarakat Ijo – Abang dalam Kepungan Toleransi

Juara Harapan 2

Stella Rosita: Membangun Toleransi dalam Kerangka Disabilitas

Juara Harapan 3

Syamsul Maarif: Penerapan Nilai-Nilai Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari sebagai Kunci Keharmonisan Kehidupan Warga Jombang

 

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah ikut serta dalam lomba ini. Kami senang bisa mendengar aspirasi dari teman-teman semuanya. Semoga ide dan pemikiran ini bisa sampai, didengar dan diimplementasikan oleh pihak-pihak terkait.

 

Penyerahan Hadiah

Seluruh pemenang berhak atas hadiah berupa uang tunai, piala, sertifikat, dan merchandise menarik.

Acara akan dilakukan pada Sabtu, 28 Desember 2019 di Restoran Zam Zam Jombang mulai pukul 14.00 WIB – selesai.

Acara mencakup makan siang bersama, sharing session, chit-chat, foto bersama, penyerahan hadiah

Semua peserta – non pemenang juga berhak untuk mendapatkan sertifikat peserta – e-certificate yang dikirimkan ke e-mail masing-masing.

 

Buku Kompilasi Esai Pembangunan Njombangan 2019

Njombangan juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dalam bentuk Buku Kompilasi Esai Pembangunan Njombangan 2019. Buku ini berupa e-book yang berisi kumpulan esai peserta lomba. Perlu diketahui bahwa Njombangan telah melakukan review dan revisi esai tanpa mengurangi inti dari isi esai tersebut.

Buku ini bisa di-download oleh siapa saja secara gratis dan menjadi bacaan atau referensi bagi semua orang.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta mendukung terselenggaranya lomba ini. Sampai jumpa di LEPEN 2020!

 

Kontak Informasi

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi Intan – +62 857-8574-4023

http://njombangan.com

njombangan@gmail.com

Selamat Datang di Jombang: Kota Santri, Kota Toleransi!

Latar Belakang & Tujuan

Latar Belakang

Jombang dikenal sebagai salah satu daerah yang banyak melahirkan tokoh nasional baik itu yang berkiprah di bidang pemerintahan, sosial, budaya, ekonomi bisnis, milter dan banyak bidang lainnya. Keberadaan mereka membarikan banyak kontribusi tidak hanya untuk untuk Jombang namun juga Indonesia bahkan dunia. Salah satu tokoh yang fenonemal adalah Abdurrahman Wahid atau kerab disapa Gus Dur. Presiden ke-4 Indonesia ini terkenal karena pemikirannya yang melintas batas waktu dan dimensi, progresif tentang berbagai hal terutama bidang sosial, budaya, dan kerukunan beragama. Selama menjabat sebagai presiden dan selama hidupnya, Gus Dur secara aktif mendorong adanya masyarakat yang saling memiliki pemahaman yang sama akan kehidupan, bahwa terlepas dari banyaknya perbedaan yang ada namun semuanya adalah setara atau sama. Filosofi yang sama dengan yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda namun tetap satu juga. Pemikiran ini yang kemudian mendorong dan menjadi basis atau dasar masyakarat yang toleran satu sama lain. Tidak salah jika Gus Dur selama ini mendapatkan sebutan atau gelar Bapak Toleransi Indonesia. Indonesia adalah negara besar dan beragam, tanpa adanya toleransi tentu negara ini tidak akan berdiri berdaulat sampai saat ini.

Jombang dikenal sebagai kota santri karena banyaknya pondok pesantren di hampir seluruh penjuru mata angin. Lebih dari itu, Jombang merupakan tempat lahir dan berkembangnya salah satu Organisasi Islam terbesar yakni Nahdlatul Ulama. Jombang selama ini menjadi daerah yang sangat kondusif dan bebas dari konflik-konflik horizontal berbasis suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Hal ini menjadi suatu kebanggaan dan juga modal untuk menjadikan Jombang sebagai salah satu inspirasi dan fondasi untuk memperkenalkan Jombang sebagai kota aatau daerah toleransi. Jombang memiliki posisi yang strategis baik secara letak geografis maupun dalam percaturan sosial budaya dan politik, dengan demikian mengusung semangat toleransi adalah opsi yang layak untuk dilakukan. Kota Toleransi ini akan melengkapi sebutan Jombang selain sebagai Kota Santri.

Dengan mengusung Jombang Kota Toleransi, maka diharapkan selain menyuburkan pemahaman akan toleransi ke seluruh penjuru Indonesia juga diharapkan mampu mendorong kemajuan pariwisata di Jombang. Inisiatif ini digagas oleh Njombangan dan Event Jombang serta diharapkan didukung oleh segenap pihak seperti pemerintah, media massa, masyarakat, duta wisata dan lainnya.

Tujuan

  1. Memberikan branding Jombang sebagai Kota Toleransi.
  2. Mengenalkan Jombang sebagai tempat untuk belajar toleransi.
  3. Memajukan pariwisata Jombang.
  4. Mengajak masyarakat secara umum, khususnya warga Jombang untuk mengetahui dan memahami semangat toleransi dan sejarah Jombang.
  5. Mengajak masyarakat secara umum, khususnya warga Jombang untuk ikut serta dalam melakukan inisiatif dalam menerapkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Mengajak masyarakat secara umum, khususnya warga Jombang untuk ikut serta membangun Jombang dengan caranya sendiri sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing.
  7. Mengajak warga Jombang untuk lebih kenal dan mencintai Jombang.

Frekuensi

Walking tour direncanakan akan dilakukan dua kali seminggu yakni pada minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya.

Media Social Campaign

Kampanye dan sosialisasi melalui media sosial atau media komunikasi lainnya baik yang tertulis maupun elektronik terkait dengan latar belakang, inisiatif dan nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh Jombang Kota Toleransi.

Walking Tour

Yakni Walking Tour atau wisata sambil jalan-jalan menyusuri beberapa tempat-tempat di Jombang yang kiranya memiliki sejarah dan nilai yang relevan dengan inisiatif ini, yang meliputi:

  • Rumah ibadah
  • Gedung bersejarah
  • Gedung pemerintahan
  • Ruang terbuka publik
  • Lainnya yang relevan

Bantuan Anda

1. Membantu menginformasikan adanya program ini kepada masyarakat luas.

2. Ikut menjadi penyandang dana atau donatur. Silahkan untuk secara ikhlas memberikan dukungan dana untuk pengadaan logistik, pengembangan guide dan kebutuhan lainnya. Penggunaan dana akan secara transparan digunakan dan dilaporkan.

Kontak

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk kontak kami di

njombangan@gmail.com atau

Johar di 087878724050.

Mari Bergabung di Jombang Diaspora Network!

Latar Belakang & Tujuan

Warga Jombang, tidak bisa dipungkiri, juga hidup dan tersebar di berbagai daerah di luar Jombang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Mereka ini hidup merantau dengan berbagai tujuan misalnya untuk bekerja, berkarya, berkeluarga, menempuh pendidikan atau lainnya. Para perantau, yang kemudian menjadi diaspora ini bisa menjadi kekuatan dan roda penggerak perubahan ke arah yang lebih baik dari Jombang. Pengalaman dan kemampuan mereka baik finansial maupun non finansial serta network yang mereka miliki dapat menjadi modalitas untuk memecahkan berbagai permasalahan di Jombang. Adapun beberapa tantangan yang dihadapi adalah:

1. Tidak semua diaspora memiliki kesadaran untuk berkontribusi untuk Jombang

2. Bagi mereka yang terpanggil untuk berkontribusi, maka masih ada missing links berupa:

– tidak adanya informasi yang jelas dan komprehensif tentang bagaimana mereka bisa berkontribusi

– kurangnya informasi kanal-kanal yang bisa mengakomodasi semangat berkontribusi mereka

Atas hal di atas, maka Njombangan berinisiatif untuk membentuk Jombang Diaspora Center atau JDC. JDC bertujuan sebagai wadah bagi para diaspora untuk bersilaturahmi dan berkolaborasi dalam kebaikan untuk Jombang tercinta. JDC ini terbuka bagi semua warga Jombang baik yang di Indonesia maupun di luar negeri. Njombangan percaya bahwa kontribusi tidak harus selalu datang dengan kehadiran fisik namun bisa dilakukan walaupun kita tidak berada di Jombang. Kontribusi bisa lewat hasil pemikiran, dukungan finansial, dukungan non finansial, dukungan moral dan doa, memfasilitasi jejaring dan lain sebagainya.

Bentuk Kegiatan

Kegiatan JDC adalah sebagai berikut:

1. Pendataan diaspora termasuk keahlian dan komitmen mereka untuk berkontribusi ke Jombang. Pendataan dilakukan secara online.

2. Channeling komitmen kontribusi ke berbagai tantangan di Jombang serta program yang ada.

3. Tulisan diaspora yakni untuk memfasilitasi pemikiran diaspora melalui tulisan yang kemudian dipublikasikan di media sosial Njombangan atau dibukukan (jika memungkinkan).

4. Temu JDC dengan berbagai pihak di Jombang terutama pemerintah daerah, masyarakat dan komunitas.

5. Pembentukan JDC Endowment Fund yakni dana abadi diaspora yang digunakan untuk sebesar-besar kemajuan Jombang. Dana ini akan dikelola secara independen oleh lembaga keuangan resmi atau legal misalnya bank.

Frekuensi

Program ini berjalan terus menerus dan dapat diikuti oleh siapa saja diaspora Jombang.

Bantuan Anda

1. Menginformasikan jika ada diaspora atau keberadaan diaspora termasuk kontak mereka.

2. Ikut mendaftar melalui pengisian database online JDC.

3. Menginformasikan keberadaan JDC kepada diaspora yang lain,

4. Menghubungkan JDC dengan berbagai pemangku kepentingan.

5. Menulis tentang apapun yang kiranya bisa memberikan pemikiran untuk sumbangsih kemajuan Jombang.

Kontak

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk kontak kami di

njombangan@gmail.com atau

Johar di 087878724050.

Nantikan Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) 2020!

Pelaksanaan Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) 2019 telah selesai dan pemenang telah diumumkan. Kami juga akan menyelenggarakan lomba serupa pada 2020 nanti. Tunggu pengumumannya lebih lanjut ya 🙂