• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Author Archive

Mewujudkan Jombang sebagai Kota Toleransi melalui Pemanfaatan Teknologi, Kolaborasi, dan Partisipasi Berbagai Pihak

Miftakhus Surur

 

Latar Belakang & Permasalahan

Jombang banyak melahirkan tokoh nasional yang sering mempromosikan nilai-nilai toleransi  antar umat beragama. Figur tersebut di antaranya adalah Abdurahman Wahid, Nur Cholis Majid, dan Ainun Najib. Bahkan, salah satu di antaranya, Gur Dur, mendapatkan gelar kehormatan sebagai bapak toleransi di Indonesia. Sampai sekarang pun pemikirannya masih hidup dan dihidupkan oleh publik terutama pengagumnya yang tergabung dalam komunitas bernama Gusduriyan

 

Tujuan Penulisan

Meskipun adanya banyak tokoh inspiratif di atas, sayangnya Jombang masih harus berurusan dengan ancaman intoleransi. Hal ini diduga disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang berusaha menyebarkan radikalisme dan provokasi dan teroris sampai juga pada guru agama tidak toleran.

Di sisi lain, terdapat ancaman intoleransi yang disebarkan melalui berita yang tidak dapat dipertanggungjawabakan dan tidak diketahui kebenarannya (hoax). Sehingga, jika hal ini tidak diperhatikan dengan seksama maka benih-benih kebencian, prasangka, dan ketidakpercayaan dapat disebarkan dengan mudah di era digital ini.

 

Kesimpulan & Saran

Dengan demikian nilai-nilai toleransi dan menghargai sesama perlu ditumbuhkan dan dipupuk melalui tindakan konkret seperti tidak berisik/ mengganggu waktu ibadah umat agama lain. Kemudian, kita dapat memanfaatkan media sosial secara bijak agar berita hoaks tidak merajalela. Jika dimungkinkan, kita juga dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan komunitas lintas agama melalui diskusi atau kegiatan sosial. Acara semacam ini dapat disebarkan melalui fb, twiter, atau instragram. Publikasi semacam ini sangat potensial dapat menggugah masyarakat untuk menjaga keharmonisan hubungan bermasyarakat. Selain itu, acara seperti ini juga memungkinkan terjadinya pertukaran informasi untuk membuka pikiran dan saling menghormati satu sama lain.

admin

Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat Membangun Jombang Bertoleransi

Mamluatun Ni’mah

 

Jombang dan Perbedaan

Jombang adalah kota Santri, disebut kota Santri bukan berarti penduduknya hanya beragama Islam tetapi didalamnya terdapat agama lain yakni Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu. Perbedaan agama tidak menyurutkan arti semangat menghormati agama satu dengan agama lainnya yang sangat membutuhkan interaksi demi terwujudnya kota toleransi. Kota yang maju adalah kota yang menjadikan penduduknya tentram, harmonis, guyub dalam perbedaan dengan mewujudkan saling toleransi secara intensif. UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan kepercayaannya”[1]. Setelah kita ketahui, meskipun banyaknya perbedaan agama menyelimuti Jombang, sudah sewajarnya dalam kehidupan ini kita bisa menjaga persatuan Kota Jombang dengan cara menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama.

 

Meskipun dihuni masyarakat yang heterogen, Jombang adalah barometer kota di Indonesia yang bisa menjaga kerukunan antar umat beragama yang mayoritas masyarakatnya didominasi kaum Muslim. Tepatnya di kawasan simpang tiga Ringin Contong, Jumat (2/6/17) pagi. Tampak berkibar beberapa bendera negara-negara ASEAN yang juga pada kesempatan itu sebagai pembukaan acara ASEAN Youth Interfaith Camp yang dilaksanakan di kabupaten Jombang pada 28-30 Oktober 2017. Bupati Jombang pada waktu itu, Nyono Suharli Wihandoko sangat mengapresiasi dipilihnya kota Jombang sebagai wujud persatuan antar umat beragama yang ada di Indonesia. Ia mengungkapkan, dipilihnya kota Santri sebagai tempat penyelenggara kegiatan ASEAN Youth Interfaith Camp ini bukan tanpa alasan. Selain pembangunan toleransi antar umat beragama yang terus terjaga, juga didorong banyaknya pondok pesantren di Jombang yang mengajarkan toleransi kepada para santri dan warganya. Menurutnya, negara-negara lain nantinya dapat belajar dengan baik bagaimana membangun toleransi di Jombang. Sehingga kemudian bisa diterapkan di negara lain.[2]

 

Gambaran Umum Toleransi Jombang          

Perbedaan adalah sebuah karunia Tuhan luar biasa yang diberikan kepada Jombang. Hal ini dapat menjadikan Jombang menjadi pernak pernik dimata dunia, secara umum agama yang telah ditetapkan oleh UUD 1945 ada enam yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Jombang merupakan kota yang terletak di bagian tengah provinsi Jawa Timur. Kota ini berbatasan dengan Mojokerto disebelah timur, Nganjuk  disebelah barat, Kediri disebelah selatan. Agama yang dianut oleh penduduk kota Jombang dalah Islam 98%, penduduk Jombang juga diikuti dengan agama Kristen Protestan 1,2%, Katolik 0,3%, Budha 0,09%, Hindu 0,07% dan lainnya 0,02%.[3] Kota yang terkenal dengan kota Santri yang memiliki pondok pesantren besar misalnya Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, Darul Ulum (Rejoso), namun di kota ini juga ada gereja besar dan tertua juga yang terletak di Mojowarno bernama Gereja Kristen Jawi Wetan atau sering disebut GKJW, gereja kuno di Bongsorejo. Tidak dapat dipungkiri Jombang juga memiliki klenteng yang terkenal misalnya Boo Hway Bio di Mojoagung, Hok Liong Kiong di kecamatan Jombang dan Hong San Kiong di Gudo. Bahkan di Wonosalam, ada pemukiman yang menganut agama Hindu selalu rutin melaksanakan pawai ogoh-ogohnya yang sangat menarik. Adanya sebuah perbedaan agama tidak menyurutkan untuk toleransi. Banyak yang mengatakan bahwa Jombang adalah kota beriman dan santri yang lebih menonjol dalam agama Islam tetapi, dengan ini bukan berarti Jombang harus pecah belah menjadi kota agama Islam, menurut keyakinan sendiri-sendiri, melainkan harus bersatu dengan cara toleransi. Toleransi adalah suatu sikap yang saling menghormati antara perbedaan yang ada.

Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat Membangun Jombang Bertoleransi

Salah satu contoh bentuk toleransi di Jombang adalah di Desa Mojowarno antara agama Islam dan Kristen, di sini terdapat rumah penduduk Islam dan Kristen yang berdampingan sangat dekat, hal ini tidak menjadikan sebuah konflik yang dapat memunculkan disintegrasi. Meskipun adanya perbedaan agama, tetapi menjunjung nilai bhineka tunggal ika sungguh luar biasa, dilihat dari aktivitas kesehariannya. Setiap hari minggu selalu melaksanakan kerja bakti dengan membawa peralatan dari rumah masing-masing untuk gotong rotong membersihkan kampungnya, ada yang menyapu, membersihkan rumput, membuang sampah. Sehingga menjadi kampung yang terbersih dan semangat tenggang rasa yang bisa menjadikan Kota Jombang lebih terkenal dari pada kota lain.

 

Pada saat di kampung ada orang Kristen membangun rumah, tidak lupa juga orang Islam menyumbangkan tenaganya secara suka rela tanpa disuruh, hal ini semakin erat ikatan kekeluargaannya antara agama Islam dan Kristen. Ketika ada tetangga di kampung sedang mengalami kesusahan, reaksi warga yang ada di kampung menggalang dana dengan mengadakan bakti sosial seperti berkunjung ke setiap rumah untuk meminta sedekah setelah terkumpul semua dana tersebut di berikan kepada tetangga yang sedang mengalami kesusahan. Dalam peristiwa tersebut rasa peduli sesama umat Tuhan dan solidaritas yang tinggi pun menancap pada dada seorang penduduk di kampung tersebut.

 

Di sisi lain ketika ada orang Islam meninggal, orang Kristen juga ikut serta dalam menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan jenazah, begitu sebaliknya apabila orang Kristen meninggal, orang Islam ikut serta dalam menyiapkan kebutuhan yang diperlukan. Sehingga dalam situasi yang sulit ini menjadi lancar dan terkendali.[4] Tradisi yang tidak ketinggalan dalam orang Muslim adalah ketika bulan suci tiba, satu hari sebelum puasa mengadakan megengan [5]di setiap masjid untuk kenduri, tidak lupa juga umat Kristen ikut serta merayakan, sehingga setiap umat bisa merasakan perbedaan dalam keserasian. Dalam umat Kristen ketika merayakan malam Natal, selalu membagikan parsel kepada tetangganya termasuk umat Islam, sehingga semua bisa merasakan walaupun perbedaan itu ada tetapi keharmonisanlah yang menyatukan. Pada saat hari raya muslim umat Kristen juga ikut serta datang ke rumah penduduk Islam dengan bersilaturahmi begitu pun sebaliknya.

 

[1] UUD 1945

[2]www.muslimmoderat.net/2017/06/jombang-didapuk-kota-paling-toleran

[3]Afifah.com/KAB.JOMBANG+JAWA+TIMUR/SEJARAH+KOTA+JOMBANG

[4]Menurut Bapak Budi selaku pengurus kebutuhan dan kekurangan GKJW Mojowarno

[5]Megengan adalah sebuah tradisi kenduri dalam islam di Masjid dalam menyambut bulan ramadan

admin

Yuk Ikut Program Njombangan Promosi!


Njombangan punya program baru nih namanya Njombangan Promosi. Jadi, selama beberapa minggu ke depan, kami akan menerima free endorsement (bukan paid promote ya) bagi kalian yang mau promosi jualan makanan, barang, atau jasa yang berlokasi di Jombang. 

Kami menyadari bahwa di saat pandemi corona saat ini, kita perlu saling mendukung agar bisa kuat dan melewati semuanya. Kami sangat senang jika bisa ikut mempromosikan keberadaan UMKM di Jombang baik produk maupun jasa.

Kalian tidak perlu mengirimkan sampel barang atau tester, tapi cukup siapkan hal-hal berikut:

  1. Beberapa data produk (barang atau jasa)
  2. Foto pendukung produk (barang atau jasa)

.

Informasi detail:

Pengusul mengisi data secara lengkap sebagai berikut:

  • Nama pemilik usaha
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Jenis produk (makanan/ minuman/ fashion/ produk kerajinan/ jasa)
  • Nama toko – jika ada
  • Nama brand/ merek produk – jika ada
  • Penjelasan produk
  • Kisaran harga
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual – jika ada
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet)

Contoh:

  • Nama pemilik usaha: Murniati
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon: 082727280000
  • Jenis produk: makanan (keripik singkong)
  • Nama toko: tidak ada
  • Nama brand/ merek produk: Keripik Enak Nget!
  • Penjelasan produk: keripik berkualitas yang terbuat dari singkong, ubi, dan talas yang dibumbui aneka rasa mulai dari balado, ayam panggang, sea weed dan rasa asam manis.
  • Kisaran harga: 10.000 per bungkus
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual: Jalan Sindoro Nomor 40 Desa Sidomulyo Kecamatan Megaluh Jombang
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada: Instagram @keripikenaknget
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory: Iki lo Rek! Keripik masa kini asli Jombang, terbuat dari bahan-bahan lokal berkualitas. Sangat cocok untuk menemani berbagai aktivitas harianmu. Keripik Enak Nget: keripik e Arek Jombang, Keripik e Wong Jawa Timur!
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet): akan dikirimkan terpisah

Ketentuan umum:

  1. Produk barang/ jasa adalah legal atau tidak menyalahi peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.
  2. Produk barang/ jasa tidak berbau seks, alcohol, atau item lainnya yang kurang sesuai dengan kaidah norma masyarakat dimana informasi tersebut tidak layak diberitakan ke khalayak ramai (hanya untuk konsumen umur tertentu atau golongan tertentu).
  3. Produk yang asli bukan berdasarkan penipuan. Kami tidak bertanggungjawab atas status transaksi antara penjual dan pembeli. Pembeli diharap melakukan kroscek lebih lanjut atas produk tersebut.

Silahkan untuk cek FAQ di bawah ini untuk pemahaman lebih lanjut

Pengiriman data:

Whatsapp: 0822-3345-4518 (Stella) – hanya pesan whatsapp

Jam operasional 09.00-14.00 WIB

E-mail: njombangan@gmail.com

.

Yuk bagikan info ini ke teman, orangtua, saudara, atau tetangga yang usahanya perlu dibantu promosi dan kiranya terdampak corona.

Suwun Rek!

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Frequently Asked Question (FAQ)

Apakah program ini gratis?

Ya, program ini gratis sepenuhnya dan bisa diikuti siapa saja orang yang berdomisili di Kabupaten Jombang.

Saya orang Jombang tapi domisili dan lokasi usaha di luar Jombang, apakah bisa ikut serta dalam program ini?

Tidak, program ini sekarang masih terbatas untuk mereka yang berdomisili di Kabupaten Jombang saja.

Kenapa ada program ini?

Kami menyadari bahwa keberadaan corona membuat perputaran uang di Jombang menjadi lebih lambat karena banyak kegiatan ekonomi menjadi tersendat atau berhenti sama sekali

Banyak pihak yang terdampak langsung terutama pekerja harian, pedagang atau mereka yang bekerja sifatnya hand-to-mouth (upah hari ini untuk membiayai kehidupan hari ini pula).

Njombangan berinisiatif untuk mempromosikan UMKM di Jombang supaya diketahui oleh khalayak. Kiranya diharapkan akan ada ketertarikan dan terjadi transaksi jual beli antara pembeli potensial dan penjual atau pemilik UMKM itu.

Bagaimana Njombangan membantu?

Dengan cara sederhana yaitu melalui promosi di media sosial milik Njombangan.

Berapa lama program ini berlangsung?

Program akan berlangsung sampai 31 Juli 2020. Program mungkin ada lagi di masa mendatang melihat perkembangan kondisi yang terjadi.

Siapa yang bisa diusulkan?

Siapa saja orang yang memiliki usaha:

  • Warung/ toko/ lapak/ cafe
  • Produk berupa barang baik yang memiliki merek atau tidak bermerek
  • Produk berupa jasa baik yang memiliki merek atau tidak bermerek

Kamu bisa mengusulkan produk mu sendiri atau produk milik teman, keluarga, tetangga atau lainnya – dengan atas persetujuan mereka.

Apakah ini berlaku untuk produk dari Lembaga atau perkumpulan non profit?

Ya, berlaku.

Jika saya mengusulkan produk orang lain, apakah saya butuh persetujuan mereka?

Ya, kamu wajib mendapat persetujuan mereka. Usulan yang diterima Njombangan adalah usulan yang sudah ada persetujuan (consent) dari seluruh pihak terkait. Kami tidak bertanggungjawab jika ada potensi konflik ke depannya atas promosi yang kami lakukan terkait dengan ada tidaknya persetujuan ini.

Jika saya terpilih, berapa kali produk saya akan dipromosikan?

  • Instagram post sekali selama periode program
  • Insta story sekali seminggu selama 4 minggu berturut-turut
  • Jadwal post akan ditentukan oleh jombangan

Produk barang atau jasa apa saja yang bisa diusulkan?

Apa saja kecuali produk yang melanggar hukum, ketentuan norma dan etika yang berlaku di masyarakat Jombang, Jawa Timur dan Indonesia.

Contoh produk akan kami tolak seperti produk minuman beralkohol, produk sex, produk perjudian, produk obat-obatan tidak berizin, produk narkotika atau produk atau jasa yang melanggar HAM.

Dimana produk kami akan dipromosikan?

  • Instagram @njombanganofficial
  • Kami akan secara tentatif mempromosikan di website kami www.njombangan.com

Bagaimana proses seleksinya?

  • Pengusul mengisi data secara lengkap sebagai berikut:
  • Nama pemilik usaha
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Jenis produk (makanan/ minuman/ fashion/ produk kerajinan/ jasa)
  • Nama toko – jika ada
  • Nama brand/ merek produk – jika ada
  • Penjelasan produk
  • Kisaran harga
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual – jika ada
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet)

Contoh:

  • Nama pemilik usaha: Murniati
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon: 082727280000
  • Jenis produk: makanan (keripik singkong)
  • Nama toko: tidak ada
  • Nama brand/ merek produk: Keripik Enak Nget!
  • Penjelasan produk: keripik berkualitas yang terbuat dari singkong, ubi, dan talas yang dibumbui aneka rasa mulai dari balado, ayam panggang, sea weed dan rasa asam manis.
  • Kisaran harga: 10.000 per bungkus
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual: Jalan Sindoro Nomor 40 Desa Sidomulyo Kecamatan Megaluh Jombang
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada: Instagram @keripikenaknget
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory: Iki lo Rek! Keripik masa kini asli Jombang, terbuat dari bahan-bahan lokal berkualitas. Sangat cocok untuk menemani berbagai aktivitas harianmu. Keripik Enak Nget: keripik e Arek Jombang, Keripik e Wong Jawa Timur!
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet): akan dikirimkan terpisah
  • Pengusul mengirimkan data detail di atas dan foto produk ke narahubung: Stella di nomor 0822-3345-4518

Apa yang dimaksud foto produk?

Foto bisa berupa foto:

  • barang saja
  • aktivitas jasa saja
  • barang dan orang (pemilik atau model)
  • bangunan toko
  • bangunan toko dan orang (pemilik atau model)

Foto adalah punya pemilik usaha sendiri bukan foto orang lain atau asal ambil di internet.

Kamu boleh mengirimkan beberapa foto pendukung untuk bisa kami pilih lebih lanjut.

Apakah boleh mengirim desain poster sendiri?

Tidak karena ada template desain poster dari Njombangan. Kami hanya membutuhkan foto seperti tersebut di atas.

Berapa lama proses seleksi?

Njombangan membutuhkan waktu maksimal 2 hari untuk menyeleksi. Kami akan infokan apakah usulan kami disetujui atau tidak.

Berapa besar kemungkinan saya terpilih?

Sepanjang produkmu adalah produk yang tidak melanggar hukum, norma, dan etika serta data yang kami terima lengkap dan jelas, maka usulanmu besar kemungkinan akan kami setujui.

Siapa narahubung yang bisa dihubungi?

Silahkan kontak:

Stella: 0822-3345-4518 – hanya melayani pesan whatsapp

Silahkan untuk kontak yang bersangkutan dalam jam berikut:

Dimana informasi lebih lanjut terkait program ini bisa saya akses?

Di link website berikut:

admin

Foto Penyerahan Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Hi Rek!

Terima kasih telah membantu lancarnya program Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Berikut ini adalah beberapa foto dokumentasi penyerahan bantuan.

“Penerima berjumlah sekitar 80 orang”


“Penerima berasal dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda. Banyak di antara mereka yang sudah manula.”

“Penerima bantuan berasal dari 5 kecamatan berbeda: Jombang, Megaluh, Peterongan, Mojowarno, dan Diwek”

“Tidak semua orang yang diusulkan pengusul kami loloskan karena memang mereka belum sesuai dengan kriteria yang kami punya.”

“Kami berharap bantuan yang kami berikan dapat membantu meringankan beban hidup mereka walau hanya untuk beberapa hari saja ehehe :)”
admin

Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona Gelombang 2

Terima kasih kepada semua teman dan keluarga besar Njombangan yang telah ikut serta dalam menyukseskan program Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Terdapat sekitar 80 orang yang berhak menerima bantuan dari Njombangan. Mereka tersebar di beberapa kecamatan seperti Megaluh, Jombang, Mojowarno, Peterongan, dan Diwek.

Beberapa foto penyerahan bantuan dapat dilihat di sini.

GELOMBANG 2

Karena masih besarnya animo yang kami terima dan masih banyaknya orang yang perlu dibantu, maka kami mengadakan Njombangan Berbagi gelombang kedua. Adapun detailnya dapat dilihat di sini.

Kami tunggu usulan teman-teman atas pihak yang berhak kiranya mendapatkan bantuan tersebut.

Kami berterima kasih atas segala dukungan teman-teman semuanya.Semoga kita selalu sehat dan bahagia.

Salam,

Njombangan

admin

Mewujudkan Wisata Toleransi di Jombang

Hasri Maghfirotin Nisa

 

Latar Belakang & Permasalahan

Jombang mendapatkan gelar sebagai Kota Toleransi. Apakah hal itu benar adanya? Sedangkan masih banyak dari kita dan masyarakat sekitar yang kurang peka terhadap isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan). Contohnya semacam ini, “agamanya apa?”, “dari golongan mana?” “kok budayanya nggak sesuai sama orang Jombang?”, dan hal-hal yang terdengar ‘sepele’ lainnya. Apakah orang yang menanyakan hal tersebut sudah mengamalkan nilai-nilai toleransi? Hal semacam itulah yang dinamakan intoleransi hati.

Padahal, Jombang sudah membuktikan julukan kota toleransi dengan adanya acara AYIC, yang dihadiri 150 pemuda dari 22 negara mengikuti ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jawa Timur. Selama tiga hari, peserta tinggal di pesantren. Acara ini dihadiri oleh ratusan pemuda lintas agama dan bangsa itu belajar toleransi di Jombang. (Detiknews.com, 2017)

 

Pembahasan

Pertanyaan yang muncul setelah acara tersebut di antaranya:

  1. ‘Apakah jika setelah adanya acara tersebut, masyarakat Jombang akan merasakan dampak positifnya secara langsung?’
  2. ‘Atau bahkan segilintir orang yang dapat merasakan acara tersebut sebagai bagian pembuktian dan kentalnya toleransi di Jombang?’
  3. ‘Bagaimana masyarakat Jombang yang tidak mengetahui acara tersebut atau bahkan orang-orang yang berada di pinggiran Kota Jombang?’

Keraguan ini dapat dipatahkan dengan cerita tentang perayaan Unduh-Unduh di GKJW Mojowarno yang diadakan setiap tahun. Seperti yang disebutkan FaktualNews.co (2019) dalam liputannya bahwa acara unduh-unduh ini adalah acara umat bersama, mengumpulkan hasil panen bersama yang kemudian diberikan pada masyarakat yang kurang mampu, acara ini sebagai bentuk toleransi warga Jombang di Mojowarno apalagi selalu diadakan sebelum bulan Ramadhan yang semua orang dapat menikmati acara ini. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat Jombang yang berada di pedesaan pun memiliki toleransi tinggi, di Mojowarno memang terkenal dengan toleransinya karena beberapa agama saling hidup berdampingan tanpa masalah serius.

 

Solusi dan Implementasi

Selain itu, acara bertaraf internasional tadi mengajak peserta mengunjungi Patung Buddha Tidur di Mojokerto, Gereja Kristen Jawa Timur, Klenteng Hong San Kiong, dan makam Gus Dur. Pada akhir kegiatan, para pemuda diharapkan mengukir komitmen perdamaian melalui Deklarasi Jombang. Selain mondok selama tiga hari di Pesantren Unipdu, para peserta juga diundang untuk melihat langsung keberagaman kehidupan beragama di Indonesia yang berdampingan dalam damai. (MediaIndonesia.com, 2017)

Bahkan atas kunjungan para peserta tersebut, peserta merasa benar-benar merasakan toleransi di Kota Jombang. Tidak membedakan agama, dibuktikan dengan penerimaan yang sangat ramah di setiap tempat kunjungan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa masyarakat Jombang juga perlu dikenalkan toleransi yang lebih bermakna walaupun dasar, karena jika memegang dasarnya dengan lubuk hati maka kemungkinan besar akan baik pula implementasinya. Jika pada acara AYIC hanya dihadari oleh pemuda di 22 negara, maka kita dapat mengadopsi ide serupa untuk mengajak mahasiswa dari berbagai universitas dan masyarakat umum untuk belajar nilai-nilai toleransi secara langsung. Warga Jombang yang heterogen ini akan difasilitasi sebuah program yang direncanakan bernama “Wisata Toleransi”. Hal ini bertujuan agar masyarakat di Jombang mengetahui makna dan pengamalan Jombang sebagai kota toleransi itu sendiri. Program ini sebaiknya tidak hanya didukung oleh organisasi sosial saja namun harus didukung oleh pemerintah.

Melalui kegiatan semacam ini maka kita mulai menerapkan tiga prinsip organisasi dan tatanan sosial yang dinamis sebagaimana dirumuskan oleh Max Weber. Prinsip tersebut yaitu tatanan budaya (status), tatanan politik (kekuasaan), dan tatanan ekonomi (kelas) (Rossi, 1993). Budaya yang mencakup agama yang dipegang oleh masyarakat Jombang dapat disatukan dengan kebudayaan, pemerintah kota, dan ekonomi sebagai pelebur kesenjangan masyarakat Jombang. Ketiganya sangat berarti dalam menjalankan suatu misi, sehingga aspek tersebut sangat penting untuk diperhatikan.

Pemerintah Jombang juga diupayakan untuk mendukung “Wisata Toleransi” ini dengan memfasilitasi program ini. Memfasilitasi dalam artian seperti menyediakan transportasi, minimal satu mini bus dengan jadwal keberangkatan tersistematis, agar masyarakat tidak perlu bingung bagaimana cara berangkat atau bergabung pada program ini. Namun, saya menyadari bahwa hal ini tidak semudah yang dibayangkan karena kembali lagi bahwa program ini harus diperjuangkan dengan secara sungguh-sungguh, butuh pembuktian serta value agar kita berhasil menggandeng pemerintah. Jika program ini terlaksana, maka hasilnya dapat menjadi suatu keuntungan bagi kota Jombang untuk mendukung tumbuhnya toleransi. Di lain sisi, program ini tentu akan menjadi “Wisata Toleransi” pertama di Indonesia yang terstruktur.

“Wisata Toleransi” ini tidak hanya sekedar wisata toleransi yang mengunjungi situs-situs berbagai agama di Jombang. Tetapi, terdapat pembelajaran mengenai toleransi yang diselipkan dalam program tersebut sehingga program tersebut membutuhkan tour guide atau ambassador yang kompeten dalam menyebarkan toleransi sampai ke dalam. Maksudnya ke dalam adalah tidak hanya toleransi sekadar di bibir namun juga secara aksi nyata serta tidak hanya beberapa orang namun untuk seluruh lapisan masyarakat Jombang, baik di kota, di desa, di pinggiran, di daerah pegunungan Jombang dan lainnya. Bahkan jika perlu, perlu adanya dua jenis program yaitu satu hari penuh atau menginap, karena dengan menginap seperti menginap di pondok pesantren akan mendapatkan nilai lebih dalam melaksanakan nilai-nilai toleransi. Hal itu tidak akan terjadi jika tidak adanya kerja sama.

 

Kesimpulan dan Saran

Sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya wisata toleransi akan membuat masyarakat Jombang mengetahui makna toleransi serta tidak dengan mudah bersikap intoleran di kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan semacam ini dapat membuat masyarakat Jombang merasakan apa hal baru dan menjawab pertanyaan apa yang mereka pikirkan seputar toleransi. Lebih lanjut lagi, dengan adanya program ini maka intoleransi dapat dikendalikan dan diminimalisir dengan adanya “Wisata Toleransi”.

 

Referensi

Abdurrahman, Muslim. nu.or.id. June 02, 2017. http://www.nu.or.id/post/read/78490/junjung-toleransi-antar-umat-beragama-jombang-tuan-rumah-ayic-2017 (accessed May 20, 2019).

Budiarto, Enggran Eko. news.detik.com. October 28, 2017. https://news.detik.com/berita/d-3704142/pemuda-dari-22-negara-mondok-belajar-toleransi-di-pesantren-jombang (accessed May 19, 2019).

Lestari, Muji. Faktualnews.co. May 19, 2019. https://faktualnews.co/2019/05/19/mahasiswa-miami-amerika-kagumi-toleransi-warga-kota-santri/141128/ (accessed May 20, 2019).

Muslimoderat.net. June 03, 2017. http://www.muslimoderat.net/2017/06/jombang-didapuk-kota-paling-toleran.html (accessed May 19, 2019).

Rossi. 1993. Community Reconstruction after an Earthquake: Dialectical Sociology in Action. 1993. Westport, CT: Praeger

Suhartono, Rony. faktualnews.co. May 12, 2019. https://faktualnews.co/2019/05/12/perayaan-unduh-unduh-toleransi-dalam-masyarakat-di-jombang/140044/ (accessed May 20, 2019).

Syukur, Abdus. mediaindonesia.com. October 31, 2017. https://mediaindonesia.com/read/detail/129778-memotret-toleransi-di-jombang (accessed May 19, 2019).

admin

Njombangan Berbagi #BersamaLawanCorona

Semoga kita semua dimanapun berada selalu dalam keadaan baik, sehat, sejahtera, dan bahagia. Amien.

Njombangan mengajak seluruh masyarakat untuk Bersama melawan Covid-19 melalui berbagai cara yang sederhana. Salah satunya adalah mendukung program Njombangan Berbagi.

Dengan semakin merebaknya wabah Corona, maka keluarga dari ekonomi lemah serta mereka yang berpenghasilan harian menjadi kelompok yang semakin rentan terkena dampaknya. Oleh karena itu, Njombangan kembali mengadakan program sosial Njombangan Berbagi untuk mengajak #BersamaLawanCorona

Kamu bisa mengusulkan tetangga, teman, keluarga atau siapapun di Jombang yang kiranya berhak menerima bantuan ini (one time assistance). Kriteria tersebut adalah:

  1. tergolong fakir miskin
  2. diutamakan bagi janda sepuh dan atau tergolong ekonomi lemah
  3. Jika memungkinkan, tidak sedang menerima bantuan serupa dari pihak lain

Silahkan untuk menginformasi data calon penerima paling lambat tanggal 6 April 2020 sbb:

Nama:

Alamat:

Pekerjaan:

Hubungan: keluarga/ tetangga/ teman lainnya

Nomor Hp mu yang bisa dihubungi

.

Kamu bisa mengirimkan data tersebut ke:

1. DM kami melalui Instagram @njombanganofficial

2. E-mail kami di njombangan@gmail.com CC: info@njombangan.com

3. Whatsapp CP ke 085890626260

*Mengingat jumlah paket program ini yang terbatas, maka kami akan menyeleksi usulan calon penerima. Usulan bukan first come first served.

Yuk kita saling jaga dan berbagi dengan cara #DirumahAja dan #BersamaLawanCorona

Info lengkap klik di sini.

admin

Ukir Sketsa Wajah di Kayu Jati yang Mulai Digandrungi Masyarakat Kabuh

Jombang – Cukup banyak industri mebel di wilayah utara Brantas. Seiring berjalannya waktu, para perajin mulai tak hanya memproduksi furniture. Melihat pasar, mereka berinovasi membuat ukiran sketsa wajah yang berbahan kayu jati.

Dari sebuah bangunan kecil yang lokasinya di belakang rumah, Adi Hariono, 25, pemuda Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, memulai bisnisnya. Bermodalkan mesin ukir dan pengalamannya sebagai perajin mebel, Adi mengubah papan kayu jati bekas menjadi kerajinan yang bernilai jual yaitu sketsa siluet.

Bisnis ini sudah ia jalani sejak tiga bulan lalu. Awalnya, dia hanya memproduksi sketsa ukir untuk koleksi pribadi. ”Namun setelah itu, banyak yang minta dibuatkan. Sementara ini permintaan dari warga desa sendiri, dan desa tetangga. Biasanya untuk dipajang di dinding rumah,” kata Adi kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (15/3).

Ide tersebut bermula ketika ia jengah dengan banyaknya limbah kayu jati hasil dari perusahaan mebel milik saudaranya. Sebagian besar limbah kayu jati itu hanya digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. ”Saya mencoba memaksimalkan limbah tersebut sebagai kerajinan. Pertama kali saya coba buat sendiri, ternyata banyak peminat,” lanjutnya.

Alasan lain, selama ini Adi kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak. ”Sekarang susah mencari pekerjaan. Dalam setiap tahun ada begitu banyak lulusan SMA dan perguruan tinggi. Sedangkan lapangan kerja semakin sempit, mencari pekerjaan saja seperti kompetisi,” imbuh Adi. 

Atas dasar itu, Adi mencoba berwirausaha dengan mengolah limbah kayu jati untuk produk kerajinan ukiran. ”Awalnya untuk pekerjaan saya sendiri. Tapi mimpi saya, ke depan bisa menyerap dan memberikan peluang pekerjaan untuk teman-teman di desa,” tambahnya.

Untuk membuat ukir sketsa wajah ini, Adi menggunakan limbah kayu jati yang sudah berbentuk papan. Selain jenis kayu jati, untuk jenis sketsa tertentu Adi juga menggunakan kombinasi kayu triplek. ”Proses awal yaitu menyiapkan sketsa wajah yang akan digambar di kayu. Pola sketsa dicetak di kertas,” ujarnya. Setelah itu papan yang akan diukir dipotong sesuai ukuran pemesan.

”Papan biasanya tebal satu sentimeter, tapi bisa juga dua meter. Tergantung permintaan,” tambahnya. Begitu sudah terpotong sesuai ukuran, papan kemudian disambung menggunakan lem kayu. ”Rata-rata permintaan ukuran 50×70 sentimeter. Kadang ada juga yang minta ukuran lebih kecil. Untuk satu sketsa yang ukuran 50×70 biasanya butuh waktu 2 sampai 3 hari,” lanjutnya.

Selain menggunakan mesin, dalam mengukir Adi juga menggunakan alat pahat manual. Mengenai harga, Adi menyebut tergantung ukuran serta permintaan bahan. ”Misalnya sketsa Bung Karno ukuran 50×70 dengan bahan kayu jati sama triplek, saya bandrol dengan harga 300 ribu,” katanya. Sedangkan jika permintaan full kayu jati, Adi menyebut harga bisa lebih mahal lagi. ”Paling mahal 400 ribu,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

admin

Sate Kuda Sumbawa; Legendaris Sejak 1997, Pakai Daging Kuda Sumbawa

Jombang – Salah satu rumah makan di Jombang ternyata punya menu khusus dan khas yang telah ada sejak puluhan tahun lalu. Sate kuda dan daging kuda asli Sumbawa.

Rumah makan Mayar, yang menyediakan menu ini terletak di pinggir jalan nasional masuk Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak. Tak sulit menemukan rumah makan ini. Lokasinya hanya berjarak 300 meter dari embong miring perak, terletak di sisi timur jalan raya. Tulisan sate kuda dan beberapa makanan lain pun bisa dilihat jelas pada papan nama rumah makan.

“Di sini, sate kuda tersedia setiap hari. Setiap saat bisa dipesan. Dagingnya juga selalu ada dan disiapkan,” ucap Bayu Wijayanto, pemilik rumah makan.

Bayu cerita, sudah buka sejak 1997. “Saya generasi ke dua,” ungkapnya. Ia menyebut, daging yang dipakai sate di warungnya menggunakan daging kuda asli Sumbawa. Pemotongannya dilakukan di Kediri.

Bayu menjelaskan, tekstur sate daging kuda nyaris tak berbeda dengan sate sapi, ataupun kambing. Perbedaan yang paling menonjol adalah tak adanya lemak pada sate kuda. “Bedanya hanya kelihatan waktu masih mentah, warna dagingnya lebih merah. Tapi rasanya ya kayak daging sapi. Daging kuda tidak ada lemaknya, jadi satenya daging semua,” lanjutnya.

Proses pembuatan sate kuda juga tak berbeda dengan sate lain. Diawali dengan memotong daging kuda menjadi bentuk dadu lalu ditusuk menggunakan lidi. Dalam satu tusuk, Bayu biasa memasang tiga hingga empat daging, tergantung ukurannya. “Setelah itu baru direndam dengan sari nanas, supaya empuk. Setelahnya, dibakar diatas bara api sampai lima menit, hingga daging matang,” urainya.

Setelah matang, sate pun siap dihidangkan. Diberi bumbu kacang dan kecap lengkap dengan irisan bawang merah. “Cuma yang berbeda, bumbu kacang untuk sate kuda ditambah kacang mente, jadi lebih enak dan gurih rasanya,” rinci Bayu.

Satu porsi sate kuda berisi 10 tusuk, plus nasi, Rp 30 ribu. Dalam seminggu, Bayu mengaku bisa menjual hingga 30 kilogram daging kuda. “Pembelinya rata-rata dari luar kota, biasanya langganan khusus. Tapi dari Jombang juga ada. Pengguna jalan yang kebetulan lewat juga ada,” ungkapnya.

Dipercaya untuk Vitalitas hingga Obat Penyakit

TAK saja diburu karena rasanya yang khas, sate kuda juga memiliki pelanggan khusus. Para pelanggan ini mencari sate kuda tidak hanya untuk makan agar kenyang. “Daging kuda dikenal bisa untuk  vitalitas pria dewasa, selain itu biasanya juga untuk pegal-pegal,” ucap Bayu.

Selain dua manfaat itu, Bayu sering mendapat beragam testimoni dari pelanggan yang membeli sate kuda. Diantaranya untuk pengobatan keluarga. “Testimoni dari pembeli, ada yang buat obat sesak nafas. Dulu ada pelanggan dari Wonosalam, dia khusus membeli untuk obat eksim anaknya,” lontarnya. Sampai sekarang testimoni itu dia tulis sebagai manfaat sate kuda.

Hal inipun diakui salah satu penikmat sate kuda yang ditemui Jawa Pos Radar Jombang. Reviwati, 45, mengaku merasa lebih bugar setelah menyantap sate kuda di rumah makan milik Bayu. “Ya bisa buat menghilangkan capek-capek, jadi lebih enteng badannya,” terangnya.

Warga Lamongan ini sering mampir setiap kali melintas di Jombang. “Sudah langganan. Rasanya juga enak,  dagingnya empuk,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

admin

Ramai Isu Korona, Permintaan Temulawak dan Kunyit di Mancar Melonjak

Jombang – Mewabahnya virus korona di penjuru dunia termasuk Indonesia, membuat permintaan temulawak dan kunyit naik. Baik di tingkat pedagang maupun produsen. Temulawak dan kunyit ramai dipesan karena dipercaya dapat meningkatkan imun tubuh.

Satu persatu karung berisi temulawak dan kunyit diangkut ke mesin penggiling. Usai digiling lembut, karung besar yang berisi temulawak dan kunyit ditimbang lalu dipacking untuk dikirim. 

Ya, salah satu produsen pengolahan kunyit dan temulawak di Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang ini kebanjiran order seiring mewabahnya virus korona. Temulawak dan kunyit yang masuk dalam kategori rempah-rempah, dipercaya bisa meningkatkan imunitas untuk menangkal virus seperti korona. 

”Kalau diakui meningkat ya. Sebelum ada korona kami rutin mengirim sekitar 500 ton per bulan, namun sejak dua minggu terakhir meningkat jadi 700 ton,” ujar M Syaifuddin pemilik usaha, kemarin (13/3). 

Dia menambahkan, seiring meningkatnya permintaan, harga bahan temulawak dan kunyit di tingkat petani juga naik. Misalnya kunyit yang kualitas bagus kini dihargai Rp 15 ribu/kg, dari harga beli sebelumnya hanya Rp 10 ribu. Sedangkan temulawak dari harga sebelumnya Rp 6 ribu, kini menjadi Rp 8 ribu. ”Memang dampak permintaan ini harga di petani dinaikkan,” jelas dia. 

Begitu harga di tingkat petani naik, lanjut dia, harga olahan kunyit dan temulawak yang dia jual juga mengalami kenaikan. Serbuk jamu temulawak dari sebelumnya Rp 9 ribu menjadi Rp 20 ribu per kilo. Sedangkan kunyit dari harga awal Rp 20 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilo. ”Permintaan dari luar Indonesia juga ada, termasuk beberapa negara di Asia,” jelasnya. 

Kunyit dan temulawak tersebut didapatkan dari berbagai daerah di Jawa Timur termasuk Wonosalam. ”Dari Jombang ada namun tidak banyak, paling banyak dari daerah selatan,” papar dia. 

Temulawak dan kunyit tersebut sebelumnya dijual belikan untuk campuran makanan ternak. Khususnya kunyit yang dikenal dengan nama latin curcuma domestica ini. Namun seiring perkembangan isu nasional, banyak yang membeli kunyit untuk jamu. ”Kami kan jual olahan serbuk, jadi tinggal mengonsumsi untuk jamu. Namun harus sesuai takaran,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

admin