• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Category ArchiveSeni Budaya Pariwisata

Yuk Ikut Program Njombangan Promosi!


Njombangan punya program baru nih namanya Njombangan Promosi. Jadi, selama beberapa minggu ke depan, kami akan menerima free endorsement (bukan paid promote ya) bagi kalian yang mau promosi jualan makanan, barang, atau jasa yang berlokasi di Jombang. 

Kami menyadari bahwa di saat pandemi corona saat ini, kita perlu saling mendukung agar bisa kuat dan melewati semuanya. Kami sangat senang jika bisa ikut mempromosikan keberadaan UMKM di Jombang baik produk maupun jasa.

Kalian tidak perlu mengirimkan sampel barang atau tester, tapi cukup siapkan hal-hal berikut:

  1. Beberapa data produk (barang atau jasa)
  2. Foto pendukung produk (barang atau jasa)

.

Informasi detail:

Pengusul mengisi data secara lengkap sebagai berikut:

  • Nama pemilik usaha
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Jenis produk (makanan/ minuman/ fashion/ produk kerajinan/ jasa)
  • Nama toko – jika ada
  • Nama brand/ merek produk – jika ada
  • Penjelasan produk
  • Kisaran harga
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual – jika ada
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet)

Contoh:

  • Nama pemilik usaha: Murniati
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon: 082727280000
  • Jenis produk: makanan (keripik singkong)
  • Nama toko: tidak ada
  • Nama brand/ merek produk: Keripik Enak Nget!
  • Penjelasan produk: keripik berkualitas yang terbuat dari singkong, ubi, dan talas yang dibumbui aneka rasa mulai dari balado, ayam panggang, sea weed dan rasa asam manis.
  • Kisaran harga: 10.000 per bungkus
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual: Jalan Sindoro Nomor 40 Desa Sidomulyo Kecamatan Megaluh Jombang
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada: Instagram @keripikenaknget
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory: Iki lo Rek! Keripik masa kini asli Jombang, terbuat dari bahan-bahan lokal berkualitas. Sangat cocok untuk menemani berbagai aktivitas harianmu. Keripik Enak Nget: keripik e Arek Jombang, Keripik e Wong Jawa Timur!
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet): akan dikirimkan terpisah

Ketentuan umum:

  1. Produk barang/ jasa adalah legal atau tidak menyalahi peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.
  2. Produk barang/ jasa tidak berbau seks, alcohol, atau item lainnya yang kurang sesuai dengan kaidah norma masyarakat dimana informasi tersebut tidak layak diberitakan ke khalayak ramai (hanya untuk konsumen umur tertentu atau golongan tertentu).
  3. Produk yang asli bukan berdasarkan penipuan. Kami tidak bertanggungjawab atas status transaksi antara penjual dan pembeli. Pembeli diharap melakukan kroscek lebih lanjut atas produk tersebut.

Silahkan untuk cek FAQ di bawah ini untuk pemahaman lebih lanjut

Pengiriman data:

Whatsapp: 0822-3345-4518 (Stella) – hanya pesan whatsapp

Jam operasional 09.00-14.00 WIB

E-mail: njombangan@gmail.com

.

Yuk bagikan info ini ke teman, orangtua, saudara, atau tetangga yang usahanya perlu dibantu promosi dan kiranya terdampak corona.

Suwun Rek!

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Frequently Asked Question (FAQ)

Apakah program ini gratis?

Ya, program ini gratis sepenuhnya dan bisa diikuti siapa saja orang yang berdomisili di Kabupaten Jombang.

Saya orang Jombang tapi domisili dan lokasi usaha di luar Jombang, apakah bisa ikut serta dalam program ini?

Tidak, program ini sekarang masih terbatas untuk mereka yang berdomisili di Kabupaten Jombang saja.

Kenapa ada program ini?

Kami menyadari bahwa keberadaan corona membuat perputaran uang di Jombang menjadi lebih lambat karena banyak kegiatan ekonomi menjadi tersendat atau berhenti sama sekali

Banyak pihak yang terdampak langsung terutama pekerja harian, pedagang atau mereka yang bekerja sifatnya hand-to-mouth (upah hari ini untuk membiayai kehidupan hari ini pula).

Njombangan berinisiatif untuk mempromosikan UMKM di Jombang supaya diketahui oleh khalayak. Kiranya diharapkan akan ada ketertarikan dan terjadi transaksi jual beli antara pembeli potensial dan penjual atau pemilik UMKM itu.

Bagaimana Njombangan membantu?

Dengan cara sederhana yaitu melalui promosi di media sosial milik Njombangan.

Berapa lama program ini berlangsung?

Program akan berlangsung sampai 31 Juli 2020. Program mungkin ada lagi di masa mendatang melihat perkembangan kondisi yang terjadi.

Siapa yang bisa diusulkan?

Siapa saja orang yang memiliki usaha:

  • Warung/ toko/ lapak/ cafe
  • Produk berupa barang baik yang memiliki merek atau tidak bermerek
  • Produk berupa jasa baik yang memiliki merek atau tidak bermerek

Kamu bisa mengusulkan produk mu sendiri atau produk milik teman, keluarga, tetangga atau lainnya – dengan atas persetujuan mereka.

Apakah ini berlaku untuk produk dari Lembaga atau perkumpulan non profit?

Ya, berlaku.

Jika saya mengusulkan produk orang lain, apakah saya butuh persetujuan mereka?

Ya, kamu wajib mendapat persetujuan mereka. Usulan yang diterima Njombangan adalah usulan yang sudah ada persetujuan (consent) dari seluruh pihak terkait. Kami tidak bertanggungjawab jika ada potensi konflik ke depannya atas promosi yang kami lakukan terkait dengan ada tidaknya persetujuan ini.

Jika saya terpilih, berapa kali produk saya akan dipromosikan?

  • Instagram post sekali selama periode program
  • Insta story sekali seminggu selama 4 minggu berturut-turut
  • Jadwal post akan ditentukan oleh jombangan

Produk barang atau jasa apa saja yang bisa diusulkan?

Apa saja kecuali produk yang melanggar hukum, ketentuan norma dan etika yang berlaku di masyarakat Jombang, Jawa Timur dan Indonesia.

Contoh produk akan kami tolak seperti produk minuman beralkohol, produk sex, produk perjudian, produk obat-obatan tidak berizin, produk narkotika atau produk atau jasa yang melanggar HAM.

Dimana produk kami akan dipromosikan?

  • Instagram @njombanganofficial
  • Kami akan secara tentatif mempromosikan di website kami www.njombangan.com

Bagaimana proses seleksinya?

  • Pengusul mengisi data secara lengkap sebagai berikut:
  • Nama pemilik usaha
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Jenis produk (makanan/ minuman/ fashion/ produk kerajinan/ jasa)
  • Nama toko – jika ada
  • Nama brand/ merek produk – jika ada
  • Penjelasan produk
  • Kisaran harga
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual – jika ada
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet)

Contoh:

  • Nama pemilik usaha: Murniati
  • Nomor kontak whatsapp/ telpon: 082727280000
  • Jenis produk: makanan (keripik singkong)
  • Nama toko: tidak ada
  • Nama brand/ merek produk: Keripik Enak Nget!
  • Penjelasan produk: keripik berkualitas yang terbuat dari singkong, ubi, dan talas yang dibumbui aneka rasa mulai dari balado, ayam panggang, sea weed dan rasa asam manis.
  • Kisaran harga: 10.000 per bungkus
  • Alamat fisik toko/ alamat penjual: Jalan Sindoro Nomor 40 Desa Sidomulyo Kecamatan Megaluh Jombang
  • Akun sosmed (IG, FB, website, dll) jika ada: Instagram @keripikenaknget
  • Keterangan produk/caption menarik untuk kami posting di post instagram dan instastory: Iki lo Rek! Keripik masa kini asli Jombang, terbuat dari bahan-bahan lokal berkualitas. Sangat cocok untuk menemani berbagai aktivitas harianmu. Keripik Enak Nget: keripik e Arek Jombang, Keripik e Wong Jawa Timur!
  • Foto produk milik pribadi dengan kualitas yang baik (tidak asal comot dari internet): akan dikirimkan terpisah
  • Pengusul mengirimkan data detail di atas dan foto produk ke narahubung: Stella di nomor 0822-3345-4518

Apa yang dimaksud foto produk?

Foto bisa berupa foto:

  • barang saja
  • aktivitas jasa saja
  • barang dan orang (pemilik atau model)
  • bangunan toko
  • bangunan toko dan orang (pemilik atau model)

Foto adalah punya pemilik usaha sendiri bukan foto orang lain atau asal ambil di internet.

Kamu boleh mengirimkan beberapa foto pendukung untuk bisa kami pilih lebih lanjut.

Apakah boleh mengirim desain poster sendiri?

Tidak karena ada template desain poster dari Njombangan. Kami hanya membutuhkan foto seperti tersebut di atas.

Berapa lama proses seleksi?

Njombangan membutuhkan waktu maksimal 2 hari untuk menyeleksi. Kami akan infokan apakah usulan kami disetujui atau tidak.

Berapa besar kemungkinan saya terpilih?

Sepanjang produkmu adalah produk yang tidak melanggar hukum, norma, dan etika serta data yang kami terima lengkap dan jelas, maka usulanmu besar kemungkinan akan kami setujui.

Siapa narahubung yang bisa dihubungi?

Silahkan kontak:

Stella: 0822-3345-4518 – hanya melayani pesan whatsapp

Silahkan untuk kontak yang bersangkutan dalam jam berikut:

Dimana informasi lebih lanjut terkait program ini bisa saya akses?

Di link website berikut:

Ukir Sketsa Wajah di Kayu Jati yang Mulai Digandrungi Masyarakat Kabuh

Jombang – Cukup banyak industri mebel di wilayah utara Brantas. Seiring berjalannya waktu, para perajin mulai tak hanya memproduksi furniture. Melihat pasar, mereka berinovasi membuat ukiran sketsa wajah yang berbahan kayu jati.

Dari sebuah bangunan kecil yang lokasinya di belakang rumah, Adi Hariono, 25, pemuda Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, memulai bisnisnya. Bermodalkan mesin ukir dan pengalamannya sebagai perajin mebel, Adi mengubah papan kayu jati bekas menjadi kerajinan yang bernilai jual yaitu sketsa siluet.

Bisnis ini sudah ia jalani sejak tiga bulan lalu. Awalnya, dia hanya memproduksi sketsa ukir untuk koleksi pribadi. ”Namun setelah itu, banyak yang minta dibuatkan. Sementara ini permintaan dari warga desa sendiri, dan desa tetangga. Biasanya untuk dipajang di dinding rumah,” kata Adi kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (15/3).

Ide tersebut bermula ketika ia jengah dengan banyaknya limbah kayu jati hasil dari perusahaan mebel milik saudaranya. Sebagian besar limbah kayu jati itu hanya digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. ”Saya mencoba memaksimalkan limbah tersebut sebagai kerajinan. Pertama kali saya coba buat sendiri, ternyata banyak peminat,” lanjutnya.

Alasan lain, selama ini Adi kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak. ”Sekarang susah mencari pekerjaan. Dalam setiap tahun ada begitu banyak lulusan SMA dan perguruan tinggi. Sedangkan lapangan kerja semakin sempit, mencari pekerjaan saja seperti kompetisi,” imbuh Adi. 

Atas dasar itu, Adi mencoba berwirausaha dengan mengolah limbah kayu jati untuk produk kerajinan ukiran. ”Awalnya untuk pekerjaan saya sendiri. Tapi mimpi saya, ke depan bisa menyerap dan memberikan peluang pekerjaan untuk teman-teman di desa,” tambahnya.

Untuk membuat ukir sketsa wajah ini, Adi menggunakan limbah kayu jati yang sudah berbentuk papan. Selain jenis kayu jati, untuk jenis sketsa tertentu Adi juga menggunakan kombinasi kayu triplek. ”Proses awal yaitu menyiapkan sketsa wajah yang akan digambar di kayu. Pola sketsa dicetak di kertas,” ujarnya. Setelah itu papan yang akan diukir dipotong sesuai ukuran pemesan.

”Papan biasanya tebal satu sentimeter, tapi bisa juga dua meter. Tergantung permintaan,” tambahnya. Begitu sudah terpotong sesuai ukuran, papan kemudian disambung menggunakan lem kayu. ”Rata-rata permintaan ukuran 50×70 sentimeter. Kadang ada juga yang minta ukuran lebih kecil. Untuk satu sketsa yang ukuran 50×70 biasanya butuh waktu 2 sampai 3 hari,” lanjutnya.

Selain menggunakan mesin, dalam mengukir Adi juga menggunakan alat pahat manual. Mengenai harga, Adi menyebut tergantung ukuran serta permintaan bahan. ”Misalnya sketsa Bung Karno ukuran 50×70 dengan bahan kayu jati sama triplek, saya bandrol dengan harga 300 ribu,” katanya. Sedangkan jika permintaan full kayu jati, Adi menyebut harga bisa lebih mahal lagi. ”Paling mahal 400 ribu,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Sate Kuda Sumbawa; Legendaris Sejak 1997, Pakai Daging Kuda Sumbawa

Jombang – Salah satu rumah makan di Jombang ternyata punya menu khusus dan khas yang telah ada sejak puluhan tahun lalu. Sate kuda dan daging kuda asli Sumbawa.

Rumah makan Mayar, yang menyediakan menu ini terletak di pinggir jalan nasional masuk Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak. Tak sulit menemukan rumah makan ini. Lokasinya hanya berjarak 300 meter dari embong miring perak, terletak di sisi timur jalan raya. Tulisan sate kuda dan beberapa makanan lain pun bisa dilihat jelas pada papan nama rumah makan.

“Di sini, sate kuda tersedia setiap hari. Setiap saat bisa dipesan. Dagingnya juga selalu ada dan disiapkan,” ucap Bayu Wijayanto, pemilik rumah makan.

Bayu cerita, sudah buka sejak 1997. “Saya generasi ke dua,” ungkapnya. Ia menyebut, daging yang dipakai sate di warungnya menggunakan daging kuda asli Sumbawa. Pemotongannya dilakukan di Kediri.

Bayu menjelaskan, tekstur sate daging kuda nyaris tak berbeda dengan sate sapi, ataupun kambing. Perbedaan yang paling menonjol adalah tak adanya lemak pada sate kuda. “Bedanya hanya kelihatan waktu masih mentah, warna dagingnya lebih merah. Tapi rasanya ya kayak daging sapi. Daging kuda tidak ada lemaknya, jadi satenya daging semua,” lanjutnya.

Proses pembuatan sate kuda juga tak berbeda dengan sate lain. Diawali dengan memotong daging kuda menjadi bentuk dadu lalu ditusuk menggunakan lidi. Dalam satu tusuk, Bayu biasa memasang tiga hingga empat daging, tergantung ukurannya. “Setelah itu baru direndam dengan sari nanas, supaya empuk. Setelahnya, dibakar diatas bara api sampai lima menit, hingga daging matang,” urainya.

Setelah matang, sate pun siap dihidangkan. Diberi bumbu kacang dan kecap lengkap dengan irisan bawang merah. “Cuma yang berbeda, bumbu kacang untuk sate kuda ditambah kacang mente, jadi lebih enak dan gurih rasanya,” rinci Bayu.

Satu porsi sate kuda berisi 10 tusuk, plus nasi, Rp 30 ribu. Dalam seminggu, Bayu mengaku bisa menjual hingga 30 kilogram daging kuda. “Pembelinya rata-rata dari luar kota, biasanya langganan khusus. Tapi dari Jombang juga ada. Pengguna jalan yang kebetulan lewat juga ada,” ungkapnya.

Dipercaya untuk Vitalitas hingga Obat Penyakit

TAK saja diburu karena rasanya yang khas, sate kuda juga memiliki pelanggan khusus. Para pelanggan ini mencari sate kuda tidak hanya untuk makan agar kenyang. “Daging kuda dikenal bisa untuk  vitalitas pria dewasa, selain itu biasanya juga untuk pegal-pegal,” ucap Bayu.

Selain dua manfaat itu, Bayu sering mendapat beragam testimoni dari pelanggan yang membeli sate kuda. Diantaranya untuk pengobatan keluarga. “Testimoni dari pembeli, ada yang buat obat sesak nafas. Dulu ada pelanggan dari Wonosalam, dia khusus membeli untuk obat eksim anaknya,” lontarnya. Sampai sekarang testimoni itu dia tulis sebagai manfaat sate kuda.

Hal inipun diakui salah satu penikmat sate kuda yang ditemui Jawa Pos Radar Jombang. Reviwati, 45, mengaku merasa lebih bugar setelah menyantap sate kuda di rumah makan milik Bayu. “Ya bisa buat menghilangkan capek-capek, jadi lebih enteng badannya,” terangnya.

Warga Lamongan ini sering mampir setiap kali melintas di Jombang. “Sudah langganan. Rasanya juga enak,  dagingnya empuk,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Ramai Isu Korona, Permintaan Temulawak dan Kunyit di Mancar Melonjak

Jombang – Mewabahnya virus korona di penjuru dunia termasuk Indonesia, membuat permintaan temulawak dan kunyit naik. Baik di tingkat pedagang maupun produsen. Temulawak dan kunyit ramai dipesan karena dipercaya dapat meningkatkan imun tubuh.

Satu persatu karung berisi temulawak dan kunyit diangkut ke mesin penggiling. Usai digiling lembut, karung besar yang berisi temulawak dan kunyit ditimbang lalu dipacking untuk dikirim. 

Ya, salah satu produsen pengolahan kunyit dan temulawak di Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang ini kebanjiran order seiring mewabahnya virus korona. Temulawak dan kunyit yang masuk dalam kategori rempah-rempah, dipercaya bisa meningkatkan imunitas untuk menangkal virus seperti korona. 

”Kalau diakui meningkat ya. Sebelum ada korona kami rutin mengirim sekitar 500 ton per bulan, namun sejak dua minggu terakhir meningkat jadi 700 ton,” ujar M Syaifuddin pemilik usaha, kemarin (13/3). 

Dia menambahkan, seiring meningkatnya permintaan, harga bahan temulawak dan kunyit di tingkat petani juga naik. Misalnya kunyit yang kualitas bagus kini dihargai Rp 15 ribu/kg, dari harga beli sebelumnya hanya Rp 10 ribu. Sedangkan temulawak dari harga sebelumnya Rp 6 ribu, kini menjadi Rp 8 ribu. ”Memang dampak permintaan ini harga di petani dinaikkan,” jelas dia. 

Begitu harga di tingkat petani naik, lanjut dia, harga olahan kunyit dan temulawak yang dia jual juga mengalami kenaikan. Serbuk jamu temulawak dari sebelumnya Rp 9 ribu menjadi Rp 20 ribu per kilo. Sedangkan kunyit dari harga awal Rp 20 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilo. ”Permintaan dari luar Indonesia juga ada, termasuk beberapa negara di Asia,” jelasnya. 

Kunyit dan temulawak tersebut didapatkan dari berbagai daerah di Jawa Timur termasuk Wonosalam. ”Dari Jombang ada namun tidak banyak, paling banyak dari daerah selatan,” papar dia. 

Temulawak dan kunyit tersebut sebelumnya dijual belikan untuk campuran makanan ternak. Khususnya kunyit yang dikenal dengan nama latin curcuma domestica ini. Namun seiring perkembangan isu nasional, banyak yang membeli kunyit untuk jamu. ”Kami kan jual olahan serbuk, jadi tinggal mengonsumsi untuk jamu. Namun harus sesuai takaran,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Produksi Gelas Plastik Sablon di Kepanjen, Sehari Hasilkan 15 Ribu Cup

Jombang – Banyak minuman yang dikemas dalam gelas plastik dimanfaatkan Ari Rahmawati, warga Kepanjen Jombang untuk menekuni usaha sablon gelap cup.

Waktu masih pagi, aktivitas sablon milik Ari Rahmawati sama persis dengan sablon pada umumnya. Sejumlah pekerja sibuk menyelesaikan pekerjaan. Ada yang tengah mengelas baja untuk cetakan sablon, sebagian sibuk menempel bahan sablon ke plastik.

Ya, aktivitas itu berlangsung hampir setiap hari. Bengkelnya yang berada di gang atau dekat RSUD Jombang, terlihat  ramai. Selain proses produksi, beberapa pelanggan datang pergi untuk mengambil pesanan.

Ari Rahmawati pemilik usaha mengaku, kerajinan mecetak sablon di gelas plastik beserta tutupnya itu belum berlangsung lama. “Baru tiga tahunan ini berjalan,” katanya membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jombang kemarin (14/3).

Sembari memperlihatkan produk miliknya yang sudah jadi, dia menceritakan, sablon di gelas plastik atau cup ini bermula saat tren penjualan es dan kopi yang semakin berkembang pesat. Sehingga perlu gelas yang terdapat brand yang dipasang pemilik usaha. “Dari situ kemudian muncul ide membuat sablon. Setelah saya tanya ke teman-teman, ternyata di Jombang masih jarang,” imbuh dia.

Berbekal tekat itu dia kemudian menjajaki informasi di setiap media sosial. Melalui akun youtube dia terus berupaya mencari bagaiamana proses pembuatan gelas cup itu. “Ternyata paling banyak di luar kota, jadi ya ada peluang buka sendiri,” sambungnya.

Singkat cerita, dia akhirnya membuka produksi gelap cup. Seiring perkembangan waktu, dari mulut ke mulut akhirnya usaha dia mulai berkembang. Kini, pemesanan sablon miliknya merambah konsumen hingga luar Jombang. “Jombang saja sedikit, paling 20 outlet. Paling banyak yang mesan dari luar semua, mulai Surabaya, Malang, Probolinggo hingga Kediri,” sebut wanita usia 30 tahun ini.

Proses produksi disebutnya hampir sama dengan sablon pada umumnya. Yang membedakan hanya gelas ukurannya lebih mini. Dan medianya pun di plastik. “Baik tutup atau gelas plastik yang kita sablon,” terang dia. Sehingga sudah ada design yang disiapkan. 

“Biasanya design sudah dari pemesan, kalau pun belum ada, kami bisa membantu buatkan. Artinya pesan kemudian tinggal ambil atau kirim,” sambungnya. Banyaknya pesanan dari luar Jombang, dalam sehari ia bisa menghasilkan hingga 15.000 gelap cup. 

Dengan dibantu enam pekerja. Setiap pekerja masing-masing bisa membuat 1.000 gelas. “Tugasnya beda-beda, ada yang sablon tutup ata cup plastik. Sebagian nyablon gelas,” sebut Ari.

Harga yang ditawarkan masih terjangkau. Paling murah dibanderol Rp 350 per cup. “Paling mahal untuk gelar dari karton atau untuk panas Rp 650 per cup. Sudah komplet paper dan tutupnya,” pungkasnya. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

40 Hari Meninggalnya KH Salahuddin Wahid, Tebuireng Gelar Doa Bersama

Jombang – Doa bersama mengenang 40 hari meninggalnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Kamis malam (12/3). Ribuan orang memenuhi kompleks pemakaman keluarga sejak sore. Selain warga sekitar pondok, sebagian dari mereka juga peziarah dari luar Jombang.

Usai doa bersama, keluarga almarhum Gus Sholah yang diwakili Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang akrab disapa Gus Ipang memberikan sambutan. “Atas nama keluarga kami mengucapkan terima kasih atas kehadirannya dalam doa bersama 40 hari meninggalnya ayah,” ungkap Gus Ipang.

Sambil berlinang air mata, Gus Ipang mengenang perjalanan hidup ayahnya selama memimpin pondok pesantren Tebuireng. “Sekitar tahun 2006, Mbah Ud (KH Yusuf Hasyim) memanggil ayah. Beliau menanyakan kepada ayah, apakah siap melanjutkan tampuk kepemimpinan sebagai pengasuh di Tebuireng,” lanjutnya. Atas pertanyaan itu Gus Sholah tidak langsung menjawab, tapi meminta waktu untuk berpikir.

“Karena pada waktu itu, ayah juga mendapat tawaran untuk menjadi duta besar di Aljazair. Kemudian Mbah Ud memberikan kesempatan ayah untuk berpikir,”  imbuhnya. Namun di akhir pembicaraan, KH Yusuf Hasyim bertanya apakah Gus Sholah tega membiarkan Tebuireng tetap seperti ini. 

“Ayah ditanyai, menjadi duta besar atau Tebuireng tetap begini saja kondisinya. Ucapan Mbah Ud itu mengena di hati dan perasaan ayah, akhirnya dipilihlah Tebuireng,” tambahnya.

Ipang berkata, Gus Sholah menyebut itu adalah dawuh dari Mbah Hasyim yang harus dijalankan. “Setelah itu, ayah magang tiga bulan di Tebuireng. Ayah belajar apapun tentang Tebuireng. Khas ayah adalah mencermati sesuatu, memetakan, dan membuat strategi apa yang harus disempurnakan,” ujarnya.

Bagi mereka yang kenal dekat dengan Gus Sholah, Ipang menyebut pasti tahu cirikhas tersebut. “Ini khas orang ITB, pemikirannya memang seperti itu. Namun saat itu banyak yang meragukan bapak sebagai pengasuh pondok. Karena ayah kan bukan kiai, kok mengurus Tebuireng. Dia hanya lulusan ITB, bukan pondok. Hobinya gitaran menyanyi. Waktu jadi OSIS SMAN 1 Jakarta, ayah ketua bidang kesenian,” imbuhnya.

Gus Sholah semasa hidup juga sering bergaul dengan bukan kiai. “Mereka yang bersuara karena tidak mengenal bapak. Padahal bapak tipe orang yang punya komitmen, pasti akan dikerjakan sampai tuntas. Ciri khas bapak adalah menyukai perbaikan. Secara sistematis bapak pasti memetakan masalah dan mencari jalan keluarnya,” ucap Ipang.

Hal itu bisa dilihat dari kondisi Pondok Pesantren Tebuireng  dibanding 14 tahun lalu. “Banyak perubahan di pondok selama bapak memimpin sebagai pengasuh,” tegasnya.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz mengatakan, banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok Gus Sholah. “Sejak 2013, beliau membuka cabang pondok pesantren. Mulai dari SMA Sains, hingga Tebuireng pondok pesantren cabang ke-15 di Samarinda. Hanya dilakukan dalam waktu enam tahun, jadi banyak yang sudah dilakukan beliau,” bebernya.

Doa bersama mengenang 40 hari meninggalnya Gus Sholah  juga dihadiri para dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, Bupati Jombang Mundjdiah Wahab, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nazaruddin Umar, Pengasuh pondok pesantren Al Mahbubiyyah Jakarta KH Manarul Hidayat, serta beberapa kiai lainnya. (*)

Bupati: Dakwah dan Berjuang

BUPATI Mundjidah Wahab mengenang pesan khusus Gus Sholah. Saat menghadiri peringatan 40 hari wafatnya KH Salahuddin Wahid di Tebuireng kemarin malam (12/3), disampaikan kenangan itu saat maju pilkada 2018. Tujuan yang lurus penting untuk keberhasilan memimpin Jombang, yaitu dakwah dan berjuang. 

“Dua pesan ini masih terus saya ingat, saat saya meminta restu kepada Gus Sholah,” tambahnya. Gus Sholah juga salah satu tokoh yang perjuangannya luar biasa. Perjuangan di jalan Allah dan kecintaannya pada NU harus dicontoh generasi muda. Gus Sholah menjunjung tinggi toleransi, baik antar umat beragama serta menghargai perbedaan antar organisasi.

“Gus Sholah juga salah satu pemersatu antara dua organisasi Islam besar di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan NU,” tambahnya. Atas perjuangan semua tokoh, termasuk Gus Sholah, Alhamdulillah  Pondok Pesantren Tebuireng sudah berdiri 16 cabang pondok di seluruh Indonesia. “Ini sangat luar biasa,” puji bupati.  

Lebih dari itu, Mundjidah juga mengungkapkan keberhasilan pembangunan dan ketenteraman Jombang tidak lepas dari peran empat pesantren Jombang dari segala penjuru di Jombang. Kondisi dan situasi Jombang yang aman menurutnya karena empat pesantren besar menjadi penyangga. 

Dari arah selatan ada Pesantren Tebuireng, dari arah barat ada Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, di utara ada Bahrul Ulum Tambakberas, dan di sisi timur ada Darul Ulum Rejoso Peterongan. “Empat pondok pesantren dengan ribuan santri ini yang menyangga Kabupaten Jombang,” tambahnya. 

Peringatan 40 hari wafatnya Gus Sholah diselenggarakan di samping makam. Puluhan ribu jamaah dan santri hadir. Saking banyaknya, kehadiran jamaah memakan separuh badan Jl KH Hasyim Asyari. (*)

(jo/wen/mar/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Roti Jadul Plemben Khas Banyuarang Ngoro Tembus Pasar Luar Jawa

Jombang – Roti jadul bolu plemben yang diproduksi di Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang masih eksis hingga sekarang. Roti berbentuk seperti tempurung kura-kura berwarna cokelat ini rasanya khas, manis empuk.

Rumah produksi bolu plemben ini cukup luas. Terbagi beberapa bagian, mulai buat adonan, oven sampai packing. Dibantu puluhan pegawai, setiap hari, pemilik usaha bolu plemben, Bustomi Azid, bisa memproduksi hingga ribuan biji. Masing-masing pegawai punya peran sendiri, mulai proses pembuatan adonan, pencetakan kue, proses oven sampai pengemasan.  

Kini, bolu plemben ini mempunyai dua variasi, yaitu basah dan satu lagi variasi kering. Rasa roti plemben begitu khas dengan cita rasa yang empuk dan gurih manis. Tak heran, para pecinta roti merasa ketagihan dan kangen dengan rasanya yang khas. ”Dulu resep dari orang tua saya di Magetan,” ujarnya. 

Resep itu diteruskan sejak 2003 silam sampai sekarang. Cara pembuatannya cukup sederhana hanya mengolah bahan telur, tepung, gula dan mentega. ”Pembuatannya juga sangat mudah, tidak ribet. Setelah adonan dibentuk langsung dioven hingga matang,” akunya santai. 

Untuk menikmati bolu plemben, para penikmat roti tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Karena bolu jadul ini dibanderol dengan harga terjangkau, hanya Rp 3.200 per pak untuk variasi basah dan Rp 4 ribu per pak untuk variasi kering. ”Per pak bolu isinya sembilan biji,” imbuhnya. 

Setiap hari, dirinya bisa membuat 31.000 biji plemben. Ribuan plemben ini dibuat seiring dengan banyaknya permintaan konsumen. Tidak hanya dikirim ke berbagai daerah di Jawa, pengiriman juga menyeluruh hingga Kalimantan dan Sumatera. ”Sudah ada yang mengambil sendiri, pernah kirim Kalimantan dan Sumatera, tapi kebanyakan pulau Jawa,” tegas Tomi.

Selain dikirim, banyak warga sekitar yang langsung membeli ke rumah produksinya di Desa Banyuarang. Sebab, plemben ini memang lebih enak dinikmati dalam keadaan masih hangat. Sehingga tak sedikit, masyarakat yang membeli langsung saat plemben baru keluar dari mesin oven. “Banyak yang beli langsung ke rumah karena dapat yang hangat,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Melihat Produksi Kerupuk Berbahan Kulit Patin dan Kakap di Sumobito

Jombang – Wilayah Sumobito sejak dulu dikenal sebagai sentra produksi kerupuk. Seiring perkembangan waktu, sejumlah produsen mulai mencari cara agar tidak selalu bergantung tepung sebagai bahan baku utama. Salah satunya memanfaatkan kulit ikan.

Seperti dilakukan Muhammad Dhofar,  warga Desa Badas, Kecamatan Sumobito,  yang mulai menekuni produksi kerupuk dengan bahan baku kulit ikan. Kemarin (8/3) Jawa Pos Radar Jombang melihat langsung proses produksi kerupuk kulit ikan  di rumahnya.

“Baru dua bulanan ini mencoba buat kerupuk dari bahan baku kulit ikan. Kalau dari tepung kan sudah biasa,” katanya. Kulit yang dijadikan Dhofar bahan baku krupuk berasal dari ikan patin dan ikan kakap.  “Beli di Tembelang setiap tiga hari sekali 10 kilo,” lanjutnya.

Kerupuk kulit ika patin dan kakap yang sudah dikemas dan siap dijual.

Kerupuk kulit ika patin dan kakap yang sudah dikemas dan siap dijual. (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

Per kilogram kulit ikan patin mentah, ia beli  Rp 15 ribu. Sedangkan kulit ikan kakap per kilo  Rp 17 ribu. “Setelah tiba di rumah, kulit ikan direndam dengan air panas untuk menghilangkan lemak dan kotoran,” tambahnya. Dalam proses pembersihan, ia dibantu tetangga yang seluruhnya ibu rumah tangga.

“Kulit ikan dibersihkan sisiknya, terutama kulit ikan kakap. Kalau kulit ikan patin, biasanya yang dibersihkan adalah sisa daging dan lemaknya,” ujar Dhofar.

Selesai dicuci, kulit ikan dicampuri bumbu yang terbuat dari bawang putih, ketumbar, kunyit, dan garam. Khusus untuk garam, ia mengaku tak sembarangan menggunakan garam.

“Hanya satu merk garam yang dipakai, dan itu dipilih berdasarkan pengalaman selama ini. Kalau gonta-ganti merek garam, rasa kerupuknya sudah berbeda,” ucapnya. Setelah kulit ikan bercampur dengan bumbu, lantas dijemur. Proses ini butuh waktu dua hari.

“Jika cuaca panas ya butuh dua hari saja, tapi kalau mendung bisa lebih lama,” tambahnya.

Jika sudah kering, kulit ikan yang sudah berbentuk seperti krecek itu digoreng. Berbeda dengan kerupuk tepung yang menggunakan plastik panjang dan ditali, dalam pengemasan kerupuk kulit ikan ini menggunakan plastik persegi dan dipress menggunakan mesin pemanas.

Itu karena kerupuk kulit tidak dipasarkan secara keliling ke rumah-rumah penduduk. Melainkan untuk dipajang di toko modern. “Kalau untuk tetangga sendiri, biasanya tidak perlu dikemas seperti ini. Pakai kresek saja cukup,” ujarnya. Per 100 gram, kerupuk kulit ikan patin ia jual  Rp 18 ribu. Sedangkan untuk kerupuk kulit ikan kakap seharga Rp 20 ribu per 100 gram.

Melalui Uji Coba Berkali-kali

BUTUH proses lama untuk Muhammad Dhofar bisa memproduksi kerupuk  kulit ikan. Karena belum punya pengalaman, Dhofar memberanikan diri untuk bereksperimen. Awalnya,  membeli kulit ikan patin dan kakap  untuk  uji coba dibuat kerupuk.

“Awalnya beli sedikit untuk belajar. Pertama dua kilo yang dicoba, tapi ternyata gagal,” katanya. Kulit ikan patin dan ikan kakap itu membusuk, Dhofar pun terpaksa membuangnya. Kejadian ini ia alami berkali-kali. “Kalau dihitung, ada 10 kilogram kulit ikan yang terbuang karena eksperimen gagal itu,” lanjutnya.

Namun ia belum menyerah. Dhofar kembali membeli kulit ikan patin dan  kakap. Hingga akhirnya ia pun berhasil membuat kerupuk tanpa  bahan pengawet. “Ternyata kuncinya ada di penjemuran. Kulit harus benar-benar kering sebelum digoreng. Supaya awet hingga satu bulan,” imbuhnya.

Selama eksperimen itu, Dhofar menemukan fakta ternyata kulit ikan ketika dikeringkan mengalami penyusutan berat yang cukup banyak. Per 10 kg kulit ikan patin basah, ketika sudah kering susut menjadi 4,5 kg. “Kulit ikan kakap malah lebih banyak susutnya, per 10 kilo susut menjadi 4 kilo kurang,” tambahnya.

Ini yang menurut Dhofar jadi penyebab harga jual kerupuk kulit ikan kakap lebih mahal dari kerupuk kulit ikan patin. “Harga beli bahan bakunya mahal, susutnya juga lebih banyak. Jadi ya terpaksa jual dengan harga mahal,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Melihat Usaha Peternakan Kelinci ala Eko Krismianto Asal Wonosalam

Jombang – Cara berternak kelinci yang dilakukan Eko Krismianto, 25, warga Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang cukup menarik. Meski punya belasan indukan, ia ternyata tak punya kelinci pejantan untuk membuahi.

Di rumah yang berada di samping jalan utama dusun itu, terlihat ada sebuah kandang bambu. Kandang ini terletak di samping, beratap terpal dan lokasinya menempel dengan dinding rumah. Ada dua kandang berukuran besar di samping rumah tersebut. Andang berdinding bambu dan bertutup besi ram di bagian depan, berbentuk susun dua dengan masing-masing empat bagian.

Di dalamnya, terdapat sejumlah hewan kelinci yang terlihat berlarian. Di beberapa kandang, terlihat satu kelinci besar dan beberapa kelinci anakan. Namun di beberapa kandang lain, hanya terlihat kelinci besar tanpa anakan yang terlihat asyik mengunyah pakan yang telah disediakan. 

Begitulah kondisi peternakan milik Eko. Sejak tiga tahun terakhir ia mengaku fokus mengembangkan usaha sampingan peternakan kelinci. “Ya awalnya coba-coba saja karena hobi, tapi cukup menghasilkan ya diteruskan saja sampai sekarang, dan tambah banyak,” terangnya.

Di peternakan kelinci, ia menyebut punya 15 indukan dari berbagai jenis. Mulai kelinci rex, lokal, Australia, Holland Lop dan beberapa jenis lainnya. Kendati demikian, seluruh indukan kelinci ini adalah betina. “Seluruh indukan betina, saya tidak punya jantan,” lanjutnya.

Karena hanya punya indukan betina itulah Eko mengaku harus menumpang ketika akan mengawinkan kelincinya. “Ya, biasanya ke teman yang punya pejantan setiap kali kawin, kan setiap bulan harus kawin, dua minggu sekali biasanya,” lanjutnya lagi.

Kendati harus kawin dengan cara menumpang, produksi kelinci anakan di peternakannya ini cukup menggembirakan. Eko bisa menghasilkan 7 hingga 15 anakan kelinci setiap bulan. Hal ini bergantung dari siklus birahi masing-masing indukan.

Kelinci-kelinci anakan biasanya mulai bisa dipanen untuk dijual setelah berumur satu bulan. Eko, biasa menjualnya ke beberapa pengepul di sejumlah pasar sekitar Jombang. “Kalau menjual biasanya ke Pare, Mojokerto, Jombang, masih sekitar sini saja,” imbuh dia.

Anakan kelinci berumur sebulan itu punya harga jual lumayan, tergantung jenisnya. Untuk jeniz kelinci rex atua lokal, harganya memang sangat terjangkau, hanya Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per ekor. “Yang mahal itu jenis impor seperti Holland Lop juga Australia, harganya bisa sampai 10 kali lipat, umur sebulan sudah bisa sampai Rp 250 ribu,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Geliat Produksi Tusuk Sate di Dusun Sedamar, Omzetnya Jutaan Rupiah

Jombang – Bagi sebagian orang, melihat tusuk sate mungkin bukanlah suatu yang istimewa. Namun, tidak bagi Heru Sibandi, 51. Warga Dusun Sedamar, Desa Talunkidul, Kecamatan Sumobito  sukses dengan usaha produksi tusuk sate. Kini omzetnya pun mencapai jutaan rupiah.

Di tanah kosong di belakang rumahnya ini, bandi dibantu sejumlah pekerja setiap harinya memproduksi tusuk sate. Di dalam pabrik, beberapa orang nampak sibuk bekerja dengan mesin produksi tusuk sate. Terlihat dua pekerja duduk berjajar mengoperasikan mesin pencacah, sementara beberapa orang lain mondar-mandir menjemur dan mengambil tusuk yang setengah jadi.

Sesekali, mereka mengecek sebuah mesin di depan pintu barat, di sini, potongan kayu bambu itu digosok serta dicampur dengan lilin. ”Prosesnya memang cukup panjang, tidak bisa sehari selesai. Biasanya dua hari itu baru benar-benar siap jual,” terang Heru kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Proses produksi tusuk sate di Dusun Sedamar, Desa Talunkidul, Kecamatan Sumobito.

Proses produksi tusuk sate di Dusun Sedamar, Desa Talunkidul, Kecamatan Sumobito. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Kendati terlihat sederhana, proses pembuatan tusuk sate membutuhkan keuletan. Dimulai dari mendatangkan bambu ori sebagai bahan utama tusuk sate. Menurut bandi, untuk bisa menghasilkan produk tusuk sate yang baik, tentunya bahannya juga harus berkualitas. ”Biasanya saya mendatangkan dari luar kota, sebab kualitasnya baik,” bebernya.

Setelah bahan baku siap, proses selanjutnya pemotongan. Ukurannya disesuaikan dengan produk. ”Untuk ukuran tusuk sate panjangnya 20 centimeter, dan untuk tusuk pentol Cuma 15 centimeter,” bebernya.

Setelah proses pemotongan selesai, selanjutnya dicacah. Untuk proses ini, Bandi sudah dibantu dengan keberadaan alat pencacah. ”Dicacah sampai berbentuk lidi. Setelah selesai baru dijemur seharian sampai benar-benar kering,” tambahnya. 

Tak cukup dengan penjemuran, lidi-lidi ini juga harus terlebih dahulu dioven dengan belerang, untuk menghilangkan jamur. ”Kalau sudah baru masuk mesin poles itu. Di sana diberi lilin supaya halus dan debunya hilang. Terahir sebelum dibungkus diruncingkan dulu, pakai mesin juga,” lontarnya. Proses selanjutnya tinggal pengemasan dan barang siap dijual.

Seiring banyaknya konsumen, dalam sehari Bandi menghabiskan sekitar 90 buah batang bambu. ”Itu jadi sekitar 2 kuintal tusuk sate dan pentol,” bebernya.

Untuk harga, per bungkus tusuk sate, Bandi mematok Rp 12.000, sementera per bungkus tusuk pentol Rp 10.500. ”Per bungkus isi 100 biji,” singkatnya. (*)

Promosi dari Mulut ke Mulut, Kewalahan Layani Pesanan

MESKI sudah mempunyai lima karyawan, Heru Sibandi mengaku kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Terlebih mendekati momentum hari-hari besar. Saat ini, produk tusuk satenya sudah merambah pasar di sejumlah kabupaten kota, termasuk luar Provinsi Jawa Timur.

Meski sudah memproduksi dalam skala yang cukup besar tiap harinya, Heru Subandi mengaku kuwalahan menghadapi pesanan yang datang. Padahal, ia mengaku selama ini tak pernah mempromosikan tusuk sate buatannya. ”Kalau pesanan yang datang itu jejaring saja, dari pedagang nyambung ke pedagang lainnya. Jadi dari mulut ke mulut,” lanjutnya.

Menurutnya, tingginya permintaan  tusuk sate, salah satunya masih minimnya perajin. ”Terus terang saya sampai kewalahan melayani pesanan. Satu toko saja bisa 20 karung mintanya, belum yang lain,” bebernya.

Tak jarang, dia pun sampai ikut membantu membuat tusuk sate. ”Kalau pas permintaan tinggi-tingginya, saya juga kadang bantu juga,” bebernya. Tidak hanya di Jombang, konsumennya bahkan datang dari wilayah Papua. ”Biasa kirim ke beberapa kabupaten/kota di Jatim, termasuk Sulawesi dan Papua,” singkatnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang