Spread the love
  1. Wayang Topeng Jatiduwur

Wayang topeng Jatiduwur merupakan kesenian wayang topeng yang berada di desa Jatiduwur, kecamatan Kesamben, Jombang. Wayang topeng Jatiduwur merupakan satu-satunya kesenian pertunjukan wayang topeng yang ada di Kabupaten Jombang. Wayang topeng Jatiduwur merupakan seni pertunjukan tradisional rakyat berbentuk teater total (perpaduan antara unsur tari, drama, sastra, musik, dan rupa) yang telah lama hidup di Desa Jatiduwur. Seni pertunjukan wayang topeng Jatiduwur merupakan sebuah bentuk dan gaya pertunjukan wayang topeng dengan cerita Panji berbentuk drama tari tradisional berdialog verbal dan dituturkan oleh seorang dalang, semua penari memakai topeng beserta perlengkapannya sesuai dengan karakter tokoh yang dibawakan.

Ditinjau dari ciri khas gaya pertunjukannya wayang topeng Jatiduwur terbentuk karena adanya struktur pertunjukan yang khas pula. Terdapat cerita yang diungkapkan melalui dialog, tarian dan nyanyian, serta ada unsur lawakan yang dibawakan oleh para tokoh punakawan. Diiringi dengan alunan musik gamelan Jawa berlaras Slendro dan tempat pertunjukannya berbentuk arena yang biasanya berada di halaman rumah atau panggung.

Menurut Bapak Dian Sukarno (budayawan Jombang) menjelaskan bahwa wayang topeng pada mulanya digunakan masyarakat setempat sebagai upacara ritual, ruwatan, atau ketika seseorang mempunyai nadzar yang harus dipenuhi. Wayang topeng sendiri dulunya dikeramatkan oleh warga Desa Jatiduwur sehingga hanya kalangan tertentu yang boleh nanggap.

Menurut Bapak Supriyo, seorang pelestari dan penggiat kembali kesenian Wayang Topeng Jatiduwur (wawancara dilakukan pada 25 Januari 2015). Beliau mengatakan bahwa wayang topeng Desa Jatiduwur merupakan kesenian daerah Jombang yang masih mempertahanan keaslian bentuk pertunjukkannya sampai sekarang. Tahun 1993, Ibu Sumarni yaitu keturunan keenam pewaris topeng Jatiduwur sekaligus pemilik wayang topeng Jatiduwur pernah sengaja akan mengubur wayang topeng. Hal ini dilatar belakangi karena tidak adanya penerus dan peminat untuk melanjutkan kesenian wayang topeng Jatiduwur sehingga pada tahun 1995, Supriyo kembali mengangkat kesenian ini menjadi hiburan rakyat atau tanggapan. Wayang topeng Jatiduwur kini sudah mulai dilupakan eksistensinya oleh beberapa kalangan masyarakat Jombang. Wayang topeng Jatiduwur dapat dikatakan sudah tidak berdaya lagi eksistensinya. Arus modernisasi jaman menjadi faktor utama kesenian pertunjukan ini menjadi turun. Saat ini juga diperparah dengan ketidaktahuan masyarakat Jombang akan eksistensi dan keberadaan seni lokalnya. Menurut data kuesioner yang tersebar pada beberapa tingkat lapisan umur sekolah sampai dewasa ( usia 10 tahun sampai 45 tahun) menyatakan bahwa hampir 87,6 % masyarakat Jombang tidak mengetahui eksistensi dan keberadaan wayang topeng Jatiduwur sebagai kesenian lokal mereka. Mengutip dari Kompasiana

dua cerita yang sering dimainkan wayang topeng Jatiduwur yaitu Patah Kuda Narawangsa dan Wiruncana Murca. Kedua cerita tersebut, terdapat tujuh gerak tari yang mempresentasikan alur cerita, pelakonan, karakter wayang topeng sekaligus menjadi kekhasan wayang topeng Jatiduwur. Ketujuh gerakan tari wayang topeng Jatiduwur terdiri dari: Alen- alen, Gantungan Bodolan, Lumaksono Miring, Lumaksono Putri, Lumaksono Buto Terong, Lumaksono Mincik, dan Perang.

2. Wayang Kulit Cek Dong

Selain memiliki pertunjukan wayang kulit Gaya Surakarta, di Jombang masih lestari pakeliran wayang kulit purwa Gaya Jawa Timuran dengan spesifikasi menunjuk gaya daerah Trowulan. Bukan merupakan hal aneh jika pakeliran Jawa Timuran ala Trowulan (Majapahitan) tetap bertahan dan eksis sampai sekarang, karena dahulu kala Jombang adalah pintu gerbang Kerajaan Majapahit yang notabene dikatakan berbudaya “arek”, serta ada beberapa peninggalan dan nama tempat yang mengekor pada Majapahit.

 

Secara umum perbedaan pakeliran wayang kulit wayang kulit Gaya Jawa Timuran (Trowulanan) dapat diketahui dari bentuk wayang cenderung lebih kecil daripada wayang Gaya Surakarta. Sedangkan untuk pewarnaan (sunggingan/pulasan) wayang Jawa Timuran menggunakan warna cerah/muda, warna hijau sangat dominan seperti yang terdapat pada busana wayang, yaitu dodot, probo, makutha/jamang/tutup kepala. Urutan sajian pertunjukan semalam suntuk, yaitu Jejer, bodholan. Penggunaan batasan nada atau pathet, adalah pathet sepuluh, pathet wolu, pathet sanga dan pathet serang. Dalam menyajikan iringan pergelaran wayang kulit Gaya Jawa Timuran lebih dominan menggunakan nada-nada tinggi/suara melengking. Sedangkan instrumen yang paling menonjol adalah gambang, gender penerus, peking, saron dan bonang penerus, struktur gending yang digunakan, yaitu krucilan, gadhingan, ayak, gemblak dan Gendhing, Ganda Kusuma sebagai iringan adegan pertama, gamelan yang dipakai adalah gamelan selendro terkadang dalam sajian semalam suntuk didukung dengan pengrawit hanya delapan (8) orang. Secara keseluruhan bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa walaupun ada sedikit perbedaan dengan bahasa Jawa Tengahan, seperti gak (ora), koen (kowe), se/tah (ta), dan perbedaan itu dapat dilihat dari logat bicara menggunakan dialek khas yang disebut dialek Jawa Timuran (Heru Cahyono, 2004:3). Gaya pakeliran semacam ini masih bertahan sampai sekarang, walaupun gaya pribadi/individu nampak dan ditentukan oleh masyarakat pendukungnya serta kreativitas dalang itu sendiri. Seperti; contoh:, Ki Guno Rejo (almarhum), Ki Suwadi, Ki Sareh, Ki Prawito, Ki Mataji dan lain sebagairiya.

 

Perlu kiranya diketahui bahwa cita-cita Ki Heru sangat manusiawi, wajar atau bahkan sesuatu hal yang muluk-muluk/berlebihan sebagai seniman dalang dari desa memunculkan gaya pribadi dengan destinasi diakui atau dinyatakan publik sebagai Gaya Jombangan. Namun terlepas dari sebutan pakeliran Gaya Jombangan, gagasan ini muncul karena rasa iri tersebut di atas dan pengamatannya terhadap dua gaya pakeliran serta kebudayaan beraneka ragam/etnis termasuk ;enis kesenian Besutan  yang ada dan menjadi salah satu ikon di Jombang. Seperti yang terdapat pada tarian Remo Bolet.n ada beberapa gerakan dasar penggabungan dari kesenian Jaranan, Reog, pencak dan Ngremo itu sendiri, maka Ki Heru mencetuskan ide pakeliran Gaya Surakarta dan pakeliran Gaya Jawa Cek-Dong digabung menjadi satu pertunjukan utuh. Ki Heru Menuturkan “kula niki wong desa, napa sing saged kula banggakaken?pinter ya gak goblok mpun mesthi, perkara iki engko diakoni matumuwun dene mboten, sing penting kula berkarya”.

 

Berkembangnya model sajian pakeliran wayang Gaya Cek-Dong disebabkan karena pedalangan adalah termasuk jenis sastra lisan, seperti halnya karya-karya sastra lain, yang selalu menghembuskan semangat jaman dan nafas lingkungan tempat pedalangan itu tumbuh dan berkembang. Siratan semangat jaman dan nafas lingkungan berarti tanggapan terhadap apa yang berlaku secara umum dalam jaman dan lingkungan tertentu (Andre Hardjana, 1981:11). Sajian pakeliran massa Gaya Cek-Dong tidak hanya terjadi di Jombang saja, melainkan juga di daerah lain yang disajikan dalang muda maupun tua, baik yang sudah laku maupun belum laku. Hal ini menandakan adanya pengaruh timbal balik antara dalang sebagai penyaji atau pencipta karya seni dengan masyarakat sebagai penikmat maupun penanggap. Oleh karena manusia bertindak, berinteraksai dan menciptakan realitas sosial, yang pada waktu bersamaan sampai pada derajat tertentu berpengaruh terhadap masyarakat. Sebaliknya individu sesungguhnya bertindak atas nama atau dipengaruhi masyarakat (George Ritzer, 1985:171). Jadi jelas kiranya bahwa berkembangnya model sajian pakeliran seperti tersebut di atas disebabkan adanya penerimaan masyarakat pendukungnya terhadap karya seni itu sendiri, di mana sebuah karya seni sebuah sarana menyampaikan misi dan visi dalam hidup setiap insan, supaya menjadi manusia yang dapat menghargai orang lain serta memiliki kepribadian budaya dan berbangsa.