Spread the love

 

  1. Ludruk

Ludruk adalah salah satu jenis kebudayaan asli dari daerah yang ada di Jawa Timur. Ludruk merupakan pementasan seni drama yang bersifat tradisional yang dimainkan oleh kelompok kesenian diatas panggung. yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki Cerita dari sebuah pementasan ludruk berasal dari kehidupan masyarakat sehari-hari, cerita perjuangan, dan lain sebagainya yang disertai dengan lawakan para pemainnya. Pementasan drama ludruk juga diiringi dengan iringan musik gamelan. Ludruk pada awalnya muncul dari kesenian rakyat ‘besutan’, yang biasa dipentaskan di lapangan dan ditonton banyak orang.

 

Dialog yang digunakan dalam pementasan ludruk sangat menghibur sehingga membuat para penontonnya tertawa. Dialog yang digunakan dalam pementasan ludruk menggunakan bahasa khas arek-arek. Bahasa yang sederhana para pemain ludruk membuat mudah dimengerti para penontonnya.

Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ludruk sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita kehidupan sehari-hari (biasanya) masyarakat bawah.

 

Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.

 

Kesenian drama tradisional ludruk asli Jombang mulai terbentuk dari sebuah kesenian ngamen di jalanan. Kesenian ngamen ini berisi syair-syair dan pikulan music sederhana. Seseorang yang memulai terbentuknya kesenian ludruk ini bernama pak Santik. Pak Santik berteman dengan pak Pono dan pak Amir. Mereka mengamen berkeliling dari desa satu ke desa yang lainnya.

Pak Pono menggunakan pakaian wanita dan wajahnya dihiasi dengan coret coretan sehingga terlihat lucu. Pada saat itulah penunton mengucapkan kata “Wong Lorek”, karena variasi dalam menggunakan bahasa jawa akhirnya kata “Lorek” lambat laun berubah menjadi kata “Lerok”.

 

2. Besut

Besutan berasal dari kata besut, merupakan salah satu tokoh dalam pertunjukan Besutan. Sebelumnya disebut Lerok dan kemudian Ludruk. Besut juga berasal dari bahasa jawa yaitu mbesut yang berarti membersihkan yang kotor atau menghaluskan atau mengulas. Adapun yang dibersihkan, dihaluskan, dan diulas adalah isi pertunjukan. Mulai dari bentuk yang sangat sederhana, ditingkatkan agar lebih baik, sehingga maknanya yang tersirat dapat diulas oleh penonton.

 

Besut juga merupakan akronim dari mbeto maksud (membawa maksud). Maksud yang dibawa adalah isi pertunjukan, yaitu yang terkandung dalam kidungan, busana, dialog, maupun cerita. Tokoh Besutan di jombang tidak mengenal adanya Ludruk Bandan, Ludruk Besep, Ludruk Besutan (Suripan Sadi Hutomo, 1999: 12; dalam Kasemin). Mereka lebih mengenal istilah Lerok, Besutan, Ludruk. Walaupun secara rinci periode Ludruk di atas bentuk pengembanganya sama, yaitu mulai Lerok sampai Besutan hingga menjadi Ludruk.

 

Masyarakat Jawa Timur pada umumnya adalah masyarakat agraris, hampir seluruh wilayah pelosok Jawa Timur penduduknya berpenghasilan dengan bercocok tanam atau bertani. Daerah Jombang rata-rata masyarakat yang ada di pelosok desa berpenghasilan dari bertani, hasil dari bertani terkadang kurang untuk mencukupi hidup sehari-hari. Dari latar belakang inilah, sekitar tahun 1907 seorang penduduk  yang setiap harinya bekerja sebagai petani dari desa Ceweng, kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang yang bernama Pak Santik  yang mempunyai wajah lucu (penuh humor), berinisiatif untuk menambah penghasilan dengan mengamen.

 

Dan sebenarnya besutan ini pada awalnya diperankan dimainkan oleh satu orang saja atau dalam bahasa seninya bernama monolog. Dan besut sendiri mencerminkan tokoh laki-laki yang cerdas, terbuka, perhatian, kritis, transformatif, dan nyeni, dan seiring perkembangan jaman pada waktu itu berubahlah besutan ini bukan lagi menampilkan satu pemain atau melainkan di tambah dengan beberapa pemain. seperti Besut sendiri sebagai tokoh utamanya, Rusmini yang cantik gemulai, Man Gondo yang selalu memperankan tokoh jahat sebagai musuhnya lakon atau biasa disebut antagonis dan sekaligus pamanya rusmini, Sumo Gambar yang selalu mederita karena cintanya bertepuk sebalah tangan karena cintanya selalu bertepuk sebelah tangan sehingga menjadikanya antagonis. Dengan tema apa pun lakon atau ceritanya, bumbu cinta segitiga antara Rusmini, Besut, dan Sumo Gambar selalu menjadi penyedapnya.

 

3. Kentrung

Kentrung merupakan kesenian tradisional sastra lisan yang mewujudkan sarana komunikasi rakyat melalui simbol-simbol. Komunikasi yang disampaikan merupakan ungkapan melalui kritik dan pesan moral yang dikemas halus dengan bahasa kentrung. Simbol digambarkan lewat penokohan dan kehidupan masyarakat. Selain itu, juga tentang politik, ekonomi, idiologi, sosial, budaya dan keamanan.

 

Pertunjukan Kentrung dimainkan oleh dalang dan panjak yang mendongeng tanpa menggunakan wayang. Musik yang mengiringi kendang dan tamburin serta instrumen lain seperti jidor, terbang, templeng dan gong. Seni tutur yang sering tampil “lesehan” tersebut digunakan sebagai media penyambung lingkar sejarah rakyat khususnya sejarah Islam yang berkembang di Jawa. Kesederhanaan tampilan dengan menggunakan baha-sa Indonesia dan dialek daerah yang mudah dimengerti sehingga ceritanya mudah diterima masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Sepanjang pementasannya Kentrung hanya diisi oleh seorang dalang yang merangkap sebagai penabuh gendang dan ditemani oleh penyenggak. Personel memegang instrumen jidor, ketipung/kempling/timplung, dan kendang.

 

Pada jama dahulu, pemain kentrung hanya duduk mendengarkan ki dalang bercerita dan terkadang pemain lainnya “nembang”, “parikan”, dan berpantun. Dalam perkembangannya pemain kentrung sudah bisa berekspresi memerankan tokoh seperti pemain ludruk dan kesenian ketoprak.

Kentrung saat ini banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya di daerah pesisir timur selatan.  Selain itu, juga terdapat di sentra daerah karesidenan, misalnya Surabaya, Jember, Pasuruan, Bojonegoro, Lamongan, Nganjuk, dan Jombang.

`

Pada jaman sekarang, kentrung sering dimanfaatkan masyarakat dalam hajatan dan pesta. Misalnya khitanan, perkawinan, tingkepan, boyongan rumah, ataupun ulang tahun istansi. Tetapi dalam perkembangannya kentrung bisa untuk dialog interaktif dalam seminar di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah tertentu. Kentrung juga sering digunakan pada acara yang bernuansa religius dengan cerita tentang Nabi Muhammad, Nabi Musa, dan Nabi Yusuf,  Sayidina Ali, zaman Walisongo dan Mataram Islam (Babad Tanah Jawa). Kisah lainnya tentang Syeh Subakir, Ahmad Muhamad, Kiai Dullah, Amir Magang,  Jaka Tarub, Sabar-subur, Marmaya Marmadi Ngentrung, Ajisoko dan cerita panji. Selain cerita-cerita di atas, kentrung juga bisa berisi mengenai nilai-nilai tasawuf dengan mengupas berbagai topik seperti purwaning dumadi, keutaman, kasampurnan urip, dan sangkan paraning dumadi. Beberapa lakon yang tak ketinggalan juga biasa dimainkan dalam pementasan kentrung adalah Amat Muhammad, Anglingdharma, Joharmanik, Juharsah, Mursodo Maling, dan Jalak Mas.

 

 

4. Gambus Misri

Gambus Misri merupakan salah satu kesenian rakyat yang pernah hidup dan berkembang di Kabupaten Jombang. Belum ada kajian khusus yang mengupas secara serius perihal Gambus Misri ini. Bagaimanakah keberadaan dan perkembangan Gambus Misri, mengapa Gambus Misri kemudian seakan-akan telah punah? Pertanyaan ini tampaknya masih amat sulit untuk dijawab, dan karenanya, tulisan ini diniatkan sebagai penelusuran awal untuk kemudian dapat dikembangkan secara lebih luas dan menyeluruh.

 

Berikut ini merupakan catatan lepas-lepas yang mencoba untuk mengurai benang merahnya. Catatan ini hanya merupakan pintu masuk darurat yang mencoba menguak tabir yang menyelimuti Gambus Misri. Pertemuan dengan beberapa pelaku dan penikmatnya coba dihadirkan untuk memberikan gambaran awal atas upaya penelusuran, penggalian, rekonstruksi, revitalisasi, pelestarian, dan pengembangan Gambus Misri ke depan. Hal ini disebabkan Gambus Misri merupakan salah satu kekayaan budaya Jombang yang besar nilainya.

 

Menurut Almarhum Badar Alamudy, mantan aktor utama Gambus Misri “Mawar Bersemi”, bahwa kata “Misri” berasal dari kata “Mesir”. Gambus Misri merupakan orkes gambus yang banyak mengandalkan lagu-lagu Mesir, karena pada waktu itu lagu-lagu padang pasir yang berasal dari Mesir sangatlah populer. Komidi Stambul (Istambul) yang populer pada awal abad ke-20 terbilang banyak mengangkat lagu-lagu Mesir. Gambus Misri merupakan representasi kesenian kaum santri di Jombang. Oleh karena itu, mulanya cerita yang dibawakan Gambus Misri merupakan cerita yang bernafaskan keislaman.

Kelahiran Gambus Misri didorong oleh beberapa hal, antara lain: kebutuhan penyaluran ekspresi dan kreasi, maupun kebutuhan hiburan dan penyegaran; kebutuhan mengimbangi kesenian rakyat lain yang waktu itu tidak mungkin diikuti dan dinikmati kalangan santri, seperti ludruk, jaran kepang, dan lainnya; dan kebutuhan menyampaikan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.

 

Kesenian Gambus Misri maupun ludruk memiliki struktur penyajian yang tidak jauh berbeda. Unsur utama kedua kesenian ini adalah lakon atau pementasan cerita yang diselingi oleh tari-tarian, nyanyian-nyanyian, lawakan, serta yang bersifat atraktif. Yang membedakan adalah visi dan misinya. Hal ini menyebabkan pilihan suguhannya juga berbeda. Sesuai dengan visinya yang ingin mentransformasi nilai-nilai Islami, Gambus Misri semula menampilkan nyanyian, tarian, dan lakon yang bernafaskan keislaman. Nyanyian yang dibawakan pada awal Gambus Misri merupakan lagu-lagu padang pasir, terutama yang dari Mesir. Dalam perkembangan selanjutnya, banyak dibawakan lagu-lagu Melayu klasik, kemudian disusul lagu-lagu kreatif seperti lagu-lagu A. Kadir, A. Rafiq, Ida Laila, dan lain-lainnya.

Gambus Misri mengalami terus pasang surut lalu menjadi suram ketika mulai muncul lagu-lagu dangdut-rock yang dirintis Rhoma Irama. Unsur lawakan, tarian, dan ceritanya pelan-pelan tergusur. Gambus Misri tergantikan oleh konser musik dangdut-rock, laiknya konser musik Deep Purple, Led Zeppelin, dan musik ala India maupun lainnya yang nuansa musiknya banyak mempengaruhi Raja dangdut tersebut. Lagu-lagu Mansyur S dan lainnya yang masih bernuansa Indonesia tidak mampu mengangkat Gambus Misri dari keterpinggirannya.

Tari-tarian yang muncul di Gambus Misri kebanyakan menjadi bagian dari pembawaan lagu. Hal ini dibawakan oleh penyanyi tunggal, atau sekelompok penyanyi (duet, trio, kuartet, koor), maupun oleh penari latar. Di samping itu ada tarian lepas yang semula mengangkat tarian perut dari padang pasir, kemudian tetarian dari daerah Melayu, dan yang terakhir adalah tari-tarian dari berbagai daerah ataupun dari belahan dunia lainnya.

 

Lakon-lakon yang diangkat dalam Gambus Misri semula adalah cerita seputar sahabat Nabi, semisal: “Masuk Islamnya Umar bin Khattab”, “Keteguhan Iman Sahabat Bilal”, “Kepahlawan Amir Hamzah”, Thariq bin Ziyad”, “Shalahuddin Al-Ayubi”, “Umar-Amir atau Umarmaya dan Umarmadi”, juga cerita-cerita dari kisah monunemntal Seribu Satu Malam, dan lain sebagainya. Kemudian muncul cerita keislaman dari dalam negeri, semisal: “Sunan Kalijaga”, “Pangeran Diponegoro”, “Tuanku Imam Bonjol”, dan lain-lain. Pada masa akhir kejayaan Gambus Misri, banyak cerita dari berbagai belahan dunia yang populer melalui film layar lebar (bioskop) pada waktu itu, semisal: “Samson Tenggara”, “Herkules”, “Gladiator”, dan banyak lagi lainnya. Tidak ketinggalan cerita-cerita Panji juga dimunculkan, semisal: “Timun Emas”, “Ande-Ande Lumut”, “Panji Laras”, dan lainnya.

 

Lawakan dalam Gambus Misri juga menggunakan “pur-puran” seperti halnya di ludruk, hanya saja tidak menembangkan jula-juli. Gambus selalu dimulai dengan lagu “Selamat Datang” yang sangat khas. Lawakan Srimulat yang sekarang ini mungkin bisa dianggap berasal dari lawakan Gambus Misri. Perlu diketahui, Pak Asmuni (almarhum) lebih kental hubungannya dengan Gambus Misri ketimbang dengan ludruk. Kita kenal nama Abdul Kadir, pelawak yang selalu menggunakan aksen Madura, merupakan seniman yang merambah dunia kesenian dari pertunjukan Gambus Misri. Semula ia adalah penjual makanan keranjang jinjing dalam pementasan “nggedong” Gambus Misri, yang kemudian dipercaya sebagai pengerek layar. Ketika ada salah seorang pelaku (aktor) yang berhalangan, Kadir disuruh menggantikannya, dan ternyata tampilannya cukup bagus. Sejak saat itu ia menjadi pemain dan pelawak tetap Gambus Misri sebelum hijrah ke Srimulat.