• info@njombangan.com

Category ArchiveBerita Jombang

Saat Perajin Lampion Rasakan Panen Cuan Jelang Lebaran

JOMBANG – Lebaran kali ini membawa berkah tersendiri bagi keluarga Neneng, 40, warga Desa Plosogeneng, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Sejak turun temurun, ia produksi lampion dengan model bentuk bintang yang dihiasi aneka macam karakter.

Ditemui di rumahnya, Neneng dan keluarganya terlihat antusias mengerjakan pesanan lampion. Ia mengaku, menjelang lebaran, pesanan lampion terus meningkat. Sehingga harus membuat stok lampion untuk mencukupi permintaan pelanggan.

”Alhamdulillah, permintaan jelang lebaran ini naik cukup banyak, kira-kira 50 persen dari hari-hari biasanya,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Sebelum lebaran, pesanan yang datang per hari rata-rata lima hingga 10 buah. Namun menjelang lebaran bisa tembus 20 buah. Dalam sehari, Neneng mampu menyelesaikan pembuatan lampion sebanyak 20 biji. Namun karena banyak proses yang dilalui, ia dibantu tiga orang. “Ya kalau sendiri tentu kewalahan,’’ jelas dia.

Khusus lebaran tahun ini, pesanan tak hanya datang dari panitia TPQ di sejumlah masjid tempat tinggalnya. Beberapa pelanggan dari Jombang, Tulungagung, Kediri dan Blitar juga pesan padanya. ”Alhamdulillah bahan baku pembuatan lampion tidak ada kesulitan. Untuk harga lampion Rp 10 ribu per buah,’’ tegasnya.

Dijelaskan, keunggulan lampion buatan Neneng adalah awet dan tidak mudah rusak. Selain terbuat dari bahan mika yang berbentuk bulan dan bintang, ia sengaja menambahkan gambar karakter baik kartun, superhero dan tokoh idola anak-anak. ”Sehingga anak anak lebih suka,’’ jelas dia.

Dia menceritakan, usaha turun temurun keluarganya itu sudah ditekuni selama 15 tahun terakhir. Dulunya, ayahnya tidak membuat dengan bahan mika, melainkan berbahan kertas manila. Namun, kertas manila dinilai kurang efektif sebab ketika terkena hujan mudah kertas sobek dan rusak.

”Saya dapat keluhan kalau pakai lilin berbahaya bagi anak-anak. Akhirnya sekarang berinovasi dengan bahan mika warna warni dan memakai lampu LED pakai baterai,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.

Keren! Rumput Alun-Alun Jombang Dibentuk Motif Sarung Lebaran

JOMBANG – Jelang hari raya Idul Fitri, pemandangan berbeda terlihat di Alun-Alun Jombang, Jumat (14/4) siang. Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang mempersolek rumput alun-alun dengan pola kotak-kotak ala sarung. Selain elok dipandang, alun-alun menjadi kental akan suasana bulan Ramadan.

”Itu sengaja kita persolek dengan berpola kotak-kotak terinspirasi sarung,” terang Kepala  DLH Jombang Miftahul Ulum kepada Jawa Pos Radar Jombang (14/4).

Ia menambahkan, sarung sebagai salah satu kelengkapan alat beribadah umat Islam di nusantara lambat laun menjadikannya, sarung sebagai identitas umat muslim. ”Selain itu konon pada masa kolonial, sarung menjadi identitas bangsa kita sebagai simbol penolakan atas budaya barat yang dibawa penjajah,” imbuhnya.

Sarung di Indonesia, lanjut Ulum, identik dengan motif kotak-kota yang konon memiliki filosofi kehidupan yang dalam. ”Bahwa dalam menjalankan hidup manusia dan ke mana pun arah langkah hidupnya, entah ke kiri ataupun ke kanan, ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang selalu harus lurus sesuai ajaran agama dan nilai-nilai luhur,” singkat Ulum. (fid/naz/riz)

Sarung di Indonesia, lanjut Ulum, identik dengan motif kotak-kota yang konon memiliki filosofi kehidupan yang dalam. ”Bahwa dalam menjalankan hidup manusia dan ke mana pun arah langkah hidupnya, entah ke kiri ataupun ke kanan, ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang selalu harus lurus sesuai ajaran agama dan nilai-nilai luhur,” singkat Ulum. (fid/naz/riz)

Olahan Rempah dari Lereng Anjasmoro ini Bikin Anget dan Sehat

JOMBANG – Wonosalam memiliki kekayaan hasil bumi melimpah. Di antaranya tanaman rempah-rempah seperti jahe merah, jahe emprit, kunyit, temulawak, kencur, temu ireng dan banyak lagi lainnya. Tak hanya dijual mentah, beberapa warga Wonosalam kini menangkap peluang dan menjadikannya sebagai salah satu olahan sebuk minuman.

Salah satu yang berhasil mengembangkan produk serbuk rempah-rempah, yakni Suyanto, 43, warga Dusun Segunung, Desa Carangwulung. Berkat usahanya ini, kini mampu meraup untung yang lumayan menjanjikan.

Suyanto merintis usaha serbuk rempah sekitar 2016. Saat itu petani rempah di Wonosalam banyak yang resah lantaran harga jual rempah-rempah di pasaran anjlok. ”Saat itu, harga rempah-rempah sangat murah,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang (17/8).

Berangkat dari kondisi itu, dia pun memutar otak bagaimana mendapatkan penghasilan maksimal dari hasil panen rempah di Wonosalam yang melimpah. Hingga muncul ide memproduksi serbuk rempah. ”Akhirnya saya coba olah menjadi serbuk rempah instan dengan teknologi sederhana dan pengemasan yang menarik,” tambahnya.

Hingga sekarang, Suyanto berhasil mengembangkan beraneka macam serbuk rempah. Di ataranya, serbuk jahe merah, jahe emprit, kunyit, temulawak, kencur, temuireng, daun katu dan lain-lain. ”Kita jadikan serbuk, selain lebih awet juga bisa diterima semua kalangan karena tinggal seduh saja,” terangnya.

Dijelaskan, cara mengolah tanaman rempah menjadi serbuk cukup mudah. Misalnya membuat serbuk kunyit. Langkah pertama rempah-rempah terlebih dulu dibersihkan, selanjutnya digiling sampai halus. penggilingan bisa menggunakan cara manual atau menggunakan mesin.

Setelah itu, hasil gilingan diperas dan diendapkan. Hasil endapan kemudian dibuang. Air perasan kunyit dicampur dengan gula dengan perbandingan 1:1. ”Setelah itu kita aduk selama 45 menit sampai mengkristal,” jelas dia.

Setelah jadi serbuk kunyit, selanjutnya proses pengemasan. Diusahakan kemasan semenarik mungkin sehingga menjadi daya tarik pembeli. Untuk produk-produknya, dia kemas dalam dua jenis ukuran, yakni 100 gram dan 150 gram. ”Saya menyediakan kemasan kecil dan sedang,” tandasnya.

Sejak dulu, rempah-rempah dipercaya memiliki khasiat yang bagus untuk tubuh. Dalam proses pembuatan itu, Suyanto sengaja membuang endapan rempah karena dianggap berbahaya untuk kesehatan. ”Kan ada yang bilang tidak baik untuk hati dan ginjal, jadi saya buang,” jelas dia.

Ia menguraikan, banyak manfaat dari mengonsumsi rempah-rempah. Misalnya, kunyit baik untuk pencernaan, temulawak baik untuk kesehatan hati dan kekebalan tubuh, jahe baik untuk daya tahan tubuh dan daun kelor untuk antioksidan.

Harga untuk serbuk rempah instan buatan Suyanto cukup terjangkau. Misalnya, jahe emprit kemasan 100 gram dijual dengan harga Rp 9 ribu, temulawak kemasan 100 gram dijual Rp 7 ribu, kencur kemasan 100 gram dijual Rp 12 ribu. ”Kalau untuk kemasan 150 gram, saya jual mulai Rp 29 ribu,” pungkasnya.

Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.

Gus Sholah dalam Kenangan Gus Ipul, Sosok Teladan yang Menjunjung Tinggi Perbedaan

Liputan6.com, Surabaya – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menilai sosok K.H. Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah yang memiliki sikap menghargai perbedaan patut diteladani.

“Beliau dikenal sangat menghargai dan menghormati perbedaan, sama seperti kakak kandungnya, Gus Dur,” ujarnya ketika dikonfirmasi di Surabaya, Senin (3/2/2020) dini hari.

Menurut dia, Gus Sholah menjunjung tinggi perbedaan karena setiap orang memiliki pandangan yang belum tentu sama, namun tetap sesuai koridor sehingga menjadikan seseorang lebih bijak.

“Beliau juga tidak memaksakan pendapat yang sama. Cara menyelesaikan perbedaan juga tidak saling menghujat. Ini yang harus diteladani,” ucap dia dilansir Antara.

Mantan Wagub Jatim itu, mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya dan mendoakan almarhum Gus Sholah diterima di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

“Saya sangat sering komunikasi dengan putra Gus Sholah, Ipang Wahid, termasuk menanyakan kabar ayahnya saat tadi sempat kritis dan masuk rumah sakit. Sekarang, kita semua berduka karena ditinggalkan ulama hebat di negeri ini,” katanya.

Atas nama PBNU, ia juga mengimbau kepada pengurus wilayah, cabang, lembaga, badan otonom, serta pondok pesantren mendoakan almarhum Gus Sholah melalui doa bersama, tahlil, dan menunaikan Shalat Gaib.

Tokoh penting Nahdlatul Ulama, Gus Sholah itu, tutup usia setelah kondisinya kritis dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, Minggu (2/2), pukul 20.55 WIB.

Dari laman media sosial putra Gus Sholah, Irfan Wahid (Ipang Wahid) meminta permohonan maaf dari almarhum ayahnya jika ada kesalahan.

Gus Sholah adalah adik kandung dari Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Gus Sholah lahir di Jombang, 11 September 1942 dan mengembuskan napas terakhir pada usia 77 Tahun.

Photo courtesy: CNN Indonesia

Article courtesy: Liputan 6

Gunakan Organik, Hasil Panen Kelengkeng Pingpong Wonosalam Melimpah

Jombang – Ingin tanaman kelengkeng berbuah lebat? Bisa belajar dari petani kelengkeng di Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Cukup dengan menggunakan pupuk organik, buah kelengkeng bakal tumbuh subur dan berbuah lebat.

”Ini kami membudidayakan baru beberapa tahun lalu, dan Alhamdulillah berbuah cukup lebat,” ujar Sumiarsih, 37, salah satu petani kelengkeng kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (31/1).

Dijelaskan, jenis kelengkeng pingpong yang ditanamnya memang berbeda dengan kelengkeng lain. Tekstur daging lebih tebal dan rasanya cenderung lebih manis. ”Harganya juga lebih mahal, dibanding kelengkeng impor yang dijual di pasaran,” tambahnya.

Harga jual kelengkeng perkilonya dari petani Rp 40 ribu. Harga itu akan bertambah dua kali lipat bisa dijual ke pedagang atau tengkulak. ”Kalau dari kami petani Wonosalam, lebih murah,” tandas dia.

Ditanya cara penanamannya? Sumiarsih menjelaskan jika perawatan yang dilakukan selama ini cukup mudah. Ia hanya menggunakan pupuk organik yang diperoleh dari peternak sapi perah setempat. Selain lebih ramah lingkungan, hasil dari pupuk organik juga membuat tanaman lebih subur. ”Kalau pohon sudah berbunga, langsung kita tutup pakai jaring plastik, supaya tidak rontok atau dimasukin hama,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Dari Limbah Kayu Palet, Fatkurohman Ciptakan Miniatur Alat Musik

Jombang – Memasuki rumah sederhana milik Fatkurohman, warga Dusun/Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, langsung terlihat berjejer miniatur alat musik. Miniatur alat musik itu tertata rapi di etalase berukuran kurang lebih 1×2 meter.

Rata-rata, alat musik yang terpajang itu semua jenis gitar mulai akustik, gitar bas sampai gitar elektrik. Ukurannya juga beragam mulai dari ukuran 10 centimeter hingga 25 centimeter. Yang paling menarik, ada satu set miniatur drum. Bermacam miniatur alat musik itu hasil kreasi Fatkur, sapaan akrabnya.

Tak mudah untuk membuat miniatur alat musik yang terbuat dari kayu palet. Selain butuh kejelian agar bisa mirip dengan alat musik yang asli. Waktu pengerjaan juga cukup lama, rata-rata tiga hari baru selesai. Setiap hari, dia berkutat dengan kayu palet, gergaji dan penggaris untuk membuat miniatur alat musik itu.

”Pertama kali membuat dulu hanya iseng, karena saya suka musik. Jadi terbesit niat untuk membuat miniatur alat musik,” ungkapnya. Untuk membuat miniatur alat musik itu dibutuhkan kejelian ekstra. Sebab, dia ingin hasilnya sempurna, sedetail mungkin bahkan mirip dengan alat musik aslinya.

”Ukuran semakin kecil semakin rumit, karena pengecatannya makin, termasuk menambah detail-detailnya,” kata bapak satu anak ini. Dia memaparkan, untuk membuat miniatur gitar, pertama yang dipersiapkan limbah kayu palet yang sudah dibeli kiloan. Kayu itu kemudian digambar sesuai model gitar, lantas digergaji sesuai pola.

”Yang paling sulit pengecatan dan pemasangan senar karena terlalu kecil,” terangnya. Karena itulah proses pengerjaan yang dilakukannya untuk membuat satu gitar, minimal perlu waktu tiga hari. Berbeda dengan gitar, khusus pembuatan drum, dibuat dari pipa yang dipotong sesuai ukuran.

”Setelah itu dilakukan pengecatan dan perakitan,” ungkapnya. Tidak jauh berbeda dengan gitar, pembuatan juga membutuhkan waktu paling sedikit tiga hari. Semua dikerjakannya sendiri di rumah. Termasuk pemasaran dilakukannya sendiri melalui media sosial.

”Ya masih gunakan media sosial untuk promosi, karena tidak ada modal untuk membuat toko,” tambah dia. Kendati begitu, sebenarnya ia berkeinginan membuka lapak dalam acara car free day di Jombang. Biar, hasil kreasinya lebih diketahui warga Jombang sendiri.

Apalagi harga yang dipatok Fatkur cukup terjangkau antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu untuk satu miniatur gitar. Sedangkan miniatur satu drum ia hargai Rp 150 ribu. ”Tapi untuk satu set gitar sama drum harganya Rp 350 ribu, berisi tiga gitar dan kelengkapan yang lain,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Kerajinan Wayang Kulit di Jombang Masih Bertahan Di Tengah Modernisasi

Jombang – Dipungkiri atau tidak, wayang kulit semakin ditinggalkan masyarakat. Pertunjukan kesenian tradisional ini hanya muncul di waktu-waktu tertentu. Meski begitu, masih ada tangan trampil yang konsisten melestarikan warisan nenek moyang ini.

Salah satu perajin yang masih bertahan adalah Teguh Basuki. Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung di rumahnya, ia nampak sibuk mewarnai wayang yang hendak diselesaikan. Wayang kulit berbentuk gunung itu berukuran lebih 60 centimeter. Sebagian sudah dalam keadaan berwarna. Teguh, panggilan akrabnya, sesekali turut memelototi wayang buatannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil akhir yang tidak ingin mengecewakan pelanggan.

”Tidak ada yang sulit membuat wayang, dulu memang ada kesulitan saat memahat. Hanya saja memang harus bersabar dan telaten,” ujarnya sembari meneruskan pengecatan. Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan kulit dan menghilangkan bulu-bulunya.

Bahkan itu juga membutuhkan waktu cukup lama agar bahan  kulit yang diproses, siap dijadikan wayang. ”Butuh waktu selama dua hari agar kulit siap dijadikan wayang,” bebernya. Kulit yang dipilih Teguh untuk dijadikan wayang juga tidak kulit sembarangan. Berbeda dengan produk lain, kulit kerbau maupun kambing itu segera dicuci dan disimpan kembali untuk anak-cucunya.

”Paling bagus memang kulit dari kerbau, pahatannya juga sangat mudah,” paparnya. Untuk mengerjakan satu wayang kulit, dia membutuhkan waktu paling sedikit lima hari untuk menyelesaikan. Karena dirinya juga menginginkan hasil yang sempurna. Apalagi membuat wayang juga harus teliti tebal dan tipis.

Setelah wayang selesai dipahat, wayang-wayang tersebut dicat agar seperti hidup. ”Mengecatnya juga seperti itu harus membutuhkan ketelitian agar lebih menarik lagi,” bebernya. Meski begitu, pria berusia 57 tahun ini sempat mengalami  jatuh bangun dan malang melintang di dunia kerajinan selama hampir berpuluh tahun. Bahkan usahanya melanjutkan warisan orang tua.”Belajar saya dulu pakai kertas, setelah SMP saya sudah disuruh mengerjakan pesanan orang,” sahut Asmi, orangtua mahasiswa.

Bahkan, karena cintanya terhadap seni budaya, dia ingin terus membuat wayang kulit, agar tidak tergerus dengan zaman. Kendati demikian, dirinya tetap bersyukur masih banyak orang yang memasang. Bahkan Teguh sendiri memasarkan wayang buatannya melalui media sosial.

Lantaran sudah dikenal banyak orang itulah hasil kreasi positifnya juga pernah dikirim hingga ke Taiwan. ”Dulu ada orang pekerja dari Taiwan membeli banyak untuk dibawa ke Taiwan,” katanya.

Ia menyebut, butuh waktu yang lama dan cukup rumit selama proses pengerjaan wayang. Tak heran satu wayang buatan Teguh dibanderol Rp 1 juta, tergantung ukuran dan kerumitan. Biasanya jenis wayang yang paling mahal yakni Buto dan Gunung karena memang ukurannya lebih besar dibanding wayang-wayang lain. ”Ukurannya memang harus besar jadi paling mahal,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Pedagang Kewalahan, Permintaan Durian Bakar Khas Wonosalam Meningkat

Jombang – Sensasi makan durian bakar bisa dicoba di Wonosalam. Terletak di salah satu rumah durian di Dusun Sumber, Desa/Kecamatan Wonosalam. Cara makan durian dengan dibakar itu cukup ramai dan diminati banyak kalangan. Bahkan, durian bakar paling diburu pada musim kali ini.

Untuk menikmati durian bakar ini tidak perlu merogoh kantong dalam. Harga mulai Rp 25 ribu bisa merasakan durian yang dibakar dengan arang. Ada dua varian durian bakar ini. Pertama, durian dibakar beserta kulitny, serta kedua durian yang sudah dikupas. Bedanya, durian yang dikupas ada campuran atau toping seperti ketan dan buah naga.

Siswanto, salah satu penikmat durian bakar warga asal Pohjejer, Gondang, Mojokerto mengaku baru kali pertama ia merasakan durian bakar. Menurut dia, ada keunikan sendiri saat memakan duiran bakar, karena daging dirasa lebih pulen dibandingkan tidak dibakar. ”Ada bau bekas bakaran yang menempel,” ungkapnya. 

Tak hanya itu, durian juga menjadi hangat. Sehingga, menurutnya lebih pas dimakan pada waktu musim hujan seperti sekarang. Karena cuaca di Wonosalam dingin sehingga sangat cocok apabila makan yang hangat-hangat. ”Saya rasa paling pas kalau dimakan waktu hujan,” tambah dia.

Sementara itu, Sulami salah satu pedagang durian di Wonosalam mengaku durian bakar sangat diburu saat sekarang ini. Saking banyaknya permintaan, ia sampai kewalahan melayani durian bakar. ”Durian bakar ini yang diburu, jadi kalau Sabtu, Minggu atau hari libur tidak ada menu durian bakar, karena kami kewalahan,” ungkapnya.

Disinggung terkait harga jual, lanjut Ghani, satu buah durian bakar dihargai Rp 25 ribu hingga ratusan rupiah per biji, tergantung jenis dan ukuran durian. ”Sedangkan untuk paketan atau durian kupas harganya Rp 25 ribu per porsi,” pungkas dia. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Tangan Kreatif Sri Restuasih, dari Tisu Hasilkan Lukisan Tiga Dimensi

Jombang – Berawal dari hobi, kini Sri Restuasih warga Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang bisa mendulang  rupiah. Yakni dengan membuat kerajinan decoupage yang menggunakan bahan dasar kertas tisu.

Pagi kemarin, Sri Restuasih tampak sibuk menggunting lembaran tisu bergambar dirumahnya Desa Ceweng Gang 1. Satu per satu tisu bermotif bunga, kupu-kupu hingga pepohonan itu digunting sesuai kresasi. Lalu ditempelkan di sebuah kain kanvas yang sudah dilukisi latar belakang pemandangan. Ya, Sri Restuasih tengah sibuk membuat lukisan decoupage atau dekupase. 

Tisu yang dipakai Sri bukan tisu sembarangan. Namun tisu khusus  yang dibeli secara online, sebab di Jombang sendiri belum ada yang menyediakan tisu seperti itu. ”Tisu ini ada tiga lapis, yang kita gunakan ada lapisan luar,” ujar dia sembari membuat lukisan, kemarin. Sebelum tisu ditempel menggunakan lem bakar, terlebih dahulu tisu dipanaskan menggunakan korek api. Tujuannya agar tisu bisa melengkung dan bisa menghasilkan bentuk tiga dimensi. ”Sehingga saat ditempel di lukisan bentuknya bisa terlihat nyata,” jelas perempuan kelahiran Sidoarjo ini. 

Dijelaskan, dekupase adalah seni menghias sebuah benda dengan cara menempelkan potongan-potongan kertas berwarna. Sebelum menempelkan potongan tisu tersebut, Sri terlebih dahulu melukis pemandangan di sebuah kain kanvas menggunakan cat air. ”Setelah ketemu konsepnya baru kita padukan dengan tisu dekupase tadi,” jelas dia. 

Dia menguraikan, kerajinan yang digelutinya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Dia belajar secara otodidak dari tayangan video di youtube. Lalu mempraktikannya sendiri. ”Ini untuk menyalurkan bakat saja, karena sejak awal saya memang suka dengan hand craft atau kerajinan tangan,” tambah ibu dua anak ini.  

Tak hanya dalam bentuk lukisan, kerajinannya itu juga bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk benda. Misalnya, hiasan dinding maupun dekorasi rumah tangga lainnya, mulai dari gantungan baju hingga pajangan dinding. ”Pada dasarnya kerajinan ini kan menempelkan, jadi bisa dikreasikan di mana saja asalkan permukaan bendanya datar,” tegas dia. 

Untuk harga satu lukisan, ia jual mulai Rp 375 ribu hingga Rp 500 ribu. Harga tersebut tergantung besar kecil dan tingkat kerumitan. Selain itu, bagi pembeli yang tak ingin merogoh koceng dalam, ada kerajinan decoupage yang dijual mulai harga Rp 25 ribu sampai Rp 100 ribu. ”Ya misalnya seperti gantungan baju dan pajangan dinding ini mulai Rp 25 ribu,” tandasnya. 

Di rumahnya, Sri juga sering melatih ibu-ibu dusun setempat untuk membuat kerajinan. Hal itu dilakukan agar bisa membantu menambah penghasilan ibu-ibu untuk kebutuhan rumah tangga. ”Saya melakukan ini bukan semata-mata bisnis, tapi juga ada misi sosial, yakni ingin menyalurkan hobi saya ke orang lain,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Salak Doyong Pulogedang Tembelang Dua Musim Panen dalam Setahun

Jombang – Untuk bisa menikmati salak doyong Pulogedang, ada dua kali musim  yang bisa ditunggu. Yakni pada akhir dan awal tahun dan dua bulan di pertengahan setiap tahunnya.

Menurutnya, masa panen buah pertama biasanya akan datang pada Desember hingga bulan Januari. Sementara musim panen kedua biasanya akan berlangsung pada bulan Juni atau Juli. “Ya, cuma dua kali musim panen biasanya dalam setahun, itupun jumlahnya tergantung dari cara perawatan sama kondisi tumbuhannya,” ungkap Sofwan.

Yang dimaksud cara perawatan adalah kewajiban petani salak untuk membersihkan kebun salaknya juga mengawinkan buah. Meski perawatan salak terhitung cukup mudah, namun Sofwan menyebut, petani salak harus rajin mengawinkan bunga salak agar buah salak bisa melimpah. 

“Jadi bunga jantan dan betinanya harus dikawinkan dulu, baru buahnya bisa banyak. Kalau dibiarkan ondolan¬ atau tidak dikawinkan, buahnya sedikit, cuma satu, dua butir saja,” lanjutnya.

Selain itu, kondisi cuaca dan hama disebutnya juga sangat berpengaruh. Dengan cuaca yang baik dan serangan hama yang terkendali, panen raya salak di desanya bisa maksimal. “Sayangnya dua musim belakangan ini kita hampir tidak panen gara-gara tikus, ya semoga panen depan ini bisa lebih lumayan lagi,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang