• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Mengenal Klenteng Boo Hway Bio, Tempat Ibadah Warga Tionghoa Mojoagung

Mengenal Klenteng Boo Hway Bio, Tempat Ibadah Warga Tionghoa Mojoagung

Spread the love

Jombang – Ada tiga tempat peribatan khusus umat Tri Dharma yang jadi jujugan warga Tionghoa di Jombang merayakan Imlek. Salah satunya Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung. Uniknya, di pintu masuk klenteng ini terdapat dua pohon tebu besar yang dipasang khusus.  

Pagi kemarin, suasana di Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung begitu tenang. Sejumlah umat tri dharma dari berbagai wilayah mampir ke klenteng ini untuk memanjatkan doa khusus. Warga yang datang berkunjung pun lebih banyak dibanding hari biasa. 

Uniknya, di Klenteng Boo Hway Bio ini dipasang dua pohon tebu berukuran besar di depan pintu masuk. Tradisi pemasangan tebu ini turun temurun dengan panjang lebih dari dua meter, berwarna hijau dan lengkap berisi daun. Pemasangan tebu sebelum Tahun Baru Imlek diyakini dapat mendatangkan rezeki, sehingga harapannya kehidupan di tahun baru menjadi lebih baik.  

Selain itu, ada sumur langit tepat di depan altar sebagai simbol pembuka rezeki. Menurut Heri Atmaja, 65, sang penjaga klenteng menjelaskan, jumlah umat tri dharma yang beribadah di Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung silih berganti sejak pagi kemarin. ”Ya ada umat dari warga sini, Mojokerto, Sidoarjo hingga warga dari kabupaten yang melintas mampir,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin. 

Kepada umat yang ingin bersembahyang, pihaknya menyediakan banyak dupa. Namun, rata-rata umat yang ingin bersembahyang membawa dupa sendiri. ”Ada yang bawa sendiri dan ada yang mengambil disini, bahkan ada juga yang memberi dupa,” tambahnya. Untuk Imlek tahun ini, pengurus klenteng sebelumnya melakukan sejumlah ritual sebagaimana di klenteng lain. 

Seperti memandikan patung dewa, membersihkan klenteng hingga memberi hidangan berupa buah-buahan di sekitar patung. Tak hanya itu, ada dua pohon tebu yang didirikan di depan pintu masuk. ”Itu simbol dari tebu kan manis, tujuannya agar klenteng ini banyak yang berkunjung,” jelas dia.

Sementara, sumur langit diletakkan setelah pintu masuk di depan altar. Pada bagian atap klenteng, sengaja dibuka agar cahaya matahari dan hujan bisa masuk ke dalam. Dibawahnya inilah sumur langit berbentuk kolam ukuran 2 x 3 meter yang digunakan untuk menampung air hujan. Kolam tersebut, kata Heri, pada pukul 08.00 air harus dibuang dan akan diisi lagi saat sore hari. ”Ini sebagai simbol pembuka rezeki agar rezeki umat tri dharma lancar selalu,” tandasnya. 

Sementara itu, pantauan di Klenteng Hok Liong Kiong Jombang juga tak berbeda jauh. Menjelang perayaan Imlek pihak klenteng membersihkan patung dewa. ”Pemandian patung dewa ini rutin kita lakukan setiap tahun menjelang tahun baru Imlek,” ujar Indra Wiryanto ketua Klenteng Jombang. 

Saat perayaan tahun baru imlek seperti sekarang, biasanya warga Tionghoa merayakan dengan kumpul sanak famili di rumah. Seperti halnya Idul Fitri, mereka hanya melaksanakan ibadah di masjid saat pagi hari lalu kembali ke rumah masing-masing. ”Kalau kami sembahyang bareng-bareng itu malam hari, jadi jelang tengah malam sembahyang bersama, namun kalau pagi justru sepi,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

admin

Leave your message