• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Daily ArchiveJanuary 9, 2020

Hanger Produksi Warga Plosokendal Tembus Pasar Luar Jombang

Jombang – Usaha pembuatan hanger dari bahan kawat dapat dijumpai di Dusun Plosokendal, Desa Plosogeneng, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Dari industri rumahan ini ratusan lusin hanger kawat bisa dibuat setiap hari.

Beberapa hari lalu Jawa Pos Radar Jombang berkunjung ke salah satu tempat produksi hanger. Dari depan, satu orang terpantau sibuk memegang mesin dan memasukkan besi panjang ke dalam mesin. Di samping rumah, terdapat empat orang sibuk menekuk-nekuk kawat. 

Sementara di dalam rumah, terlihat dua orang yang juga asyik bekerja di depan kompor. Keduanya membakar bagian ujung kawat yang telah berbentuk segitiga dan memasangi dengan plastik kecil berwarna merah. Sementara di bagian belakang, tumpukan hanger siap jual terlihat ditumpuk rapi. 

Ya, inilah kegiatan sehari-hari di rumah Mohammad Rokhim, 31, pembuat hanger di Jombang. “Ini dari limbah kawat,” ucapnya. Hanger-hanger ini dibuat dari material kawat semi baja. Kawat tersebut didapatkan dari sejumlah pabrik di Mojokerto dan Surabaya. “Biasanya dari pabrik kertas, bekas talinya kertas,” lanjutnya.

Proses pembuatannya terbilang sederhana meski juga rumit. Kawat yang didatangkan masih berupa gelondongan. Harus terlebih dahulu diluruskan menggunakan mesin. Ini adalah tugas pekerja di depan rumah. “Kawat datang kan masih bengkok, biasanya panjang enam meter,” sambung Rokhim.

Kawat yang sudah lurus itu kemudian dipotong kecil-kecil hingga seukuran 104 sentimeter. Potongan kawat kemudian dibengkokkan dan dibentuk sesuai yang diinginkan. Pekerjaan inilah yang dilakukan beberapa orang di samping rumahnya. “Disini modelnya cuma satu, cuma ada 4 kali proses tekukan,” imbuhnya.

Setelah selesai, hanger setengah jadi dibawa masuk ke dalam rumah. Ujung atas hanger harus dibakar diatas kompor hingga suhu tertentu. Jika sudah siap, dipasangi plastik pengaman di ujung. “Setelah itu selesai, kecuali kalau memang kawatnya agak kusam atau berkarat, harus di krom dulu, kalau tidak ya langsung bisa dijual,” lanjut dia.

Meski enggunakan sistem kerja manual, dibantu sembilan pekerja, Rokhim bisa menghasilkan hingga 350 lusin hanger kawat setiap hari. “Pokoknya seminggu sekali kawat satu ton habis, untuk satu ton bisa sampai 1.000 lusin hanger,” rincinya bangga.

Hanger produksinya itu biasa diambil beberapa sales kebutuhan rumah tangga. Termasuk beberapa pengepul lain untuk dipasarken ke luar kota. Untuk harga, ia biasa menjual hanger kawat antara Rp 10 ribu sampai Rp 13 ribu per lusin. “Kalau beli banyak atau tengkulak yang mengambil bisa lebih murah, beda harganya untuk eceran,” pungkas bapak dua anak ini. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang