• info@njombangan.com

Daily ArchiveDecember 29, 2018

Ditangan Warga Sumberjo, Kayu Limbah di Hutan Disulap Jadi Handmade

JOMBANG – Kebanyakan kayu limbah yang sudah kering di hutan hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Namun di tangan Eko Cahyono, warga Dusun/Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam kayu  hutan mampu disulap jadi handmade atau produk kerajinan tangan yang memiliki nilai jual tinggi.  

Kemarin (28/12), Eko Cahyono bersama beberapa warga tengah sibuk mengelupas bagian kulit yang kering. Beberapa kayu tampak biasa, tak ada bedanya dengan kayu garing yang ada di hutan. Ada kayu Jati, Sono mapun bonggol bambu yang sudah tua. Setelah dikelupas dan dibersihkan kulitnya, akhirnya mulai tampak keunikan masing masing kayu.

Eko biasanya membuat pajangan rumah, replika bunga bungaan dan lampu tidur. Eko menggunakan bahan utama dari kayu kering. ”Makin unik dan tua kayu bonggolnya, maka nilai seninya makin tinggi,’’ ujar Eko kemarin (28/12). 

Awal mula Eko terinspirasi membikin kerajinan tangan dari kayu saat dirinya membeli replika bunga-bungaan di toko bunga. Eko melihat, kebanyakan yang dipakai adalah kayu kering biasa seperti kayu mangga yang tidak memiliki nilai seni.

Dari situ, Eko berpikir untuk membuat kerajinan tangan sendiri. ”Daripada beli, mending saya manfaatkan limbah kayu kering yang ada di hutan. Kebetulan di Desa Sumberjo ini adalah wilayah hutan sehingga mencari kayu seperti ini tidaklah sulit,’’ beber dia. 

Beberapa kayu yang dipilih adalah kayu jati, sono dan bambu. Selain banyak dijumpai di hutan, ketiga jenis kayu  cocok sebagai bahan dasar membuat kerajinan tangan. ”Kami ingin menonjolkan kesan alami hutan. Makanya kami gunakan kayu asli dari hutan Desa Sumberjo,’’ papar dia. 

Lambat laun, akhirnya usaha Eko mulai dilirik warga lain. Bukannya, takut tersaingi justru Eko mengajak warga lain bergabung untuk menggeluti usaha kerajinan tangan dari olahan limbah kayu. Kini, ada beberapa warga yang mengerjakan pesanan seperti usaha Eko. ”Alhamdulillah sekarang mulai berjalan, dan orang-orang juga saling terbantu,’’ beber dia.

Bahkan, Eko sempat mengaku jika kerajinan tangannya diminati warga luar Jombang. Beberapa kali, Eko mengirim ke Mojokerto dan Surabaya. ”Paling banyak ya tingkat lokal saja,sementara untuk harga jual mulai yang paling kecil Rp 70 ribu hingga setinggi dua meter kurang lebih Rp 2,5 juta,’’ pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Usai Galungan, Umat Hindu di Wates Wonosalam Bersiap Sambut Kuningan

JOMBANG – Usai merayakan Hari Raya Galungan yang diperingati setiap 210 hari sekali, kini umat Hindu di Dusun Wates, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang bersiap  menyambut Hari Raya Kuningan yang akan diperingati awal Januari pekan depan. 

Seperti terlihat di Pure Tribuana, Dusun Wates kemarin (28/12). Tampak Pinto, pemangku pure membersihkan beberapa sisa perayaan hari raya galungan yang diperingati Rabu (28/12) lalu. ”Jadi Hari Raya Galungan itu hari raya sebelum kuningan. Ini merupakan rangkian hari raya sebelum Nyepi nanti,’’ ujar dia. 

Hari Raya Galungan diperingati umat Hindu secara sederhana. Umat Hindu hanya melakukan sembahyang di malam hari dan membuat beberapa sajian di Padmasana alias tempat sembahyang. ”Galungan artinya merayakan kemenangan dari dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan),’’ jelasnya.

Selain sajian, ada yang khas dari Hari Raya Galungan. Yakni umat Hindu membuat beberapa penjor semacam hiasan yang terbuat dari rangkaian janur. Penjor itu diletakkan di dalam pure dan rumah warga. ”Selain itu juga membuat canang sebagai tempat sajian,’’ beber dia.

Kini umat Hindu tengah bersiap menyambut Hari Raya Kuningan, yang  diperingati setiap 210 hari dalam setahun. Di kalender umum, Hari Raya Kuningan diperingati 5 Januari tahun depan. ”Hari Raya Kuningan diperingati sebagai wujud menghormati orang tua. Biasanya, diwujudkan dalam bentuk membuat sesajian nasi kuning,’’ pungkas lelaki yang menjadi pemangku 28 tahun ini. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com