.Untuk kedua kalinya secara berturut-turut, Njombangan menyelenggarakan Lomba Jaranan Njombangan pada Sabtu, 14 Oktober 2023. Bertempat di Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, lomba ini bertujuan untuk menjaring bibit unggul penerus dan pelestari seni budaya, memberikan apresiasi bagi peserta dan pemenang, serta mendukung ekosistem seni budaya yang selama ini Njombangan kembangkan.
Lomba ini dibagi menjadi 2 kategori yakni Kategori Anak-Anak dengan batasan usia maksimal kelas 3 SD/ sederajat dan Kategori Remaja dengan batasan usia kelas 4 SD/ sederajat sampai kelas 3 SMP/ sederajat. Peserta terbuka untuk umum dan gratis. Pembuatan 2 kategori ini merupakan tindak lanjut dari lomba serupa tahun lalu dimana hanya ada satu kategori saja saat itu tanpa memperhatikan umur peserta.

“Lomba Jaranan Njombangan merupakan salah satu flagship event Njombangan yang diselenggarakan setahun sekali. Tentu saya pribadi dan mewakili Njombangan merasa senang karena antusiasme anak-anak yang luar biasa dan tentunya karena dukungan orang tua mereka yang memberikan kebebasan dan dorongan untuk anak-anak mereka agar ikut lomba ini.” Ujar Muchdlir Zauhariy atau akrab disapa Johar, pendiri dan inisiator Njombangan.

Lomba berlangsung dari jam 19.00 sampai 23.00 malam. Peserta diberi kebebasan untuk memilih apakah akan menampilkan tari jaranan, tari bantengan, tari jepaplok, atau tari ganongan. Waktu yang diberikan adalah sekitar maksimal 5 orang untuk tiap peserta. Dewan juri terdiri dari perwakilan Njombangan dan New Kuda Purnama, grup seni budaya jaranan yang dibuat dan dimiliki oleh Njombangan.

Adapun kriteria penilaian meliputi kostum, gerakan, dan ekspresi. Juri menilai dengan obyektif dan seadil mungkin. Setelah melalui penilaian yang seksama akhirnya ditentukan juara untuk masing-masing kategori.
Kategori Anak-Anak
Juara 1: Sandy Tirta Hidayat
Juara 2: Panca Sadewa
Juara 3: Marcellino Ramadhani
Kategori Remaja
Juara 1: Ilmiatus Sa’diah
Juara 2: M.Reyhan Ibrahimovic
Juara 3: Muhammad Tasbihun Naja

I“Lomba Jaranan Njombangan ini adalah lomba yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak di sini. Semoga pelaksanaannya bisa terus ditingkatkan dan skalanya bisa diperluas sehingga bisa mendapatkan apresiasi dan partisipasi dari makin banyak pihak.” kata Yoyok Budi Utomo, penggerak New Kuda Purnama.
Selain pemberian hadiah bagi para pemenang. Ada juga hadiah untuk 10 besar peserta serta doorprize untuk para penonton. Acara bisa dilaksanakan secara meriah dan sukses.
Wetengkok lesu wayah e mangan
Aku kamu kabeh lestarikno jaranan
Sampai jumpa di Lomba Jaranan Njombangan tahun 2024!
.Setelah melewati berbagai proses yang panjang dalam ajang lomba Kreativitas dan Inovasi Kabupaten Jombang Tahun 2023, akhirnya Njombangan mendapatkan peringkat atau juara 2. Lomba yang diadakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jombang ini bertujuan untuk menggalang munculnya ide-ide segar lintas bidang dan sektor sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Jombang. Lomba ini dibagi menjadi 2 kategori yakni Kategori Perangkat Daerah dan Kategori Masyarakat.

Njombangan mengangkat tema Njombangan Messem (Njombangan Mewujudkan Ekosistem Seniman dan Seniwati yang Madani). Tujuan dari ide ini adalah untuk mewujudkan ekosistem yang memungkinkan tersalurkannya kreativitas seniman dan seniwati sehingga mereka memiliki tata kelola yang lebih baik, sumber penghidupan yang lebih baik, dan kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan seni dan budayanya.
Njombangan sendiri telah secara konsisten sejak 2017 melakukan berbagai kegiatan baik yang sifatnya online maupun offline. Kegiatan tersebut antara lain Parikan Njombangan, Jombang Sambang Sedulur, Jombang Heritage Walk, Njombangan Giveway, dan lainnya. Selain itu, Njombangan juga punya 3 grup seni budaya yakni Jaranan New Kuda Purnama, Karawitan New Kuda Purnama, dan Gejok Lesung Guyub Rukun. Grup ini selain bisa membuka wadah bagi anggotanya untuk berkreasi juga membuka peluang rejeki bagi mereka.
Njombangan Messem bisa dibilang inisiatif berbasis seni budaya pertama yang meraih juara dalam penyelenggaraan ajang serupa selama beberapa tahun ini. Penyerahan hadiah dilakukan di Gedung Bappeda, Jombang Kota. Penghargaan berupa piala, sertifikat, dan plakat diserahkan langsung oleh Bupati Jombang, Bu Mundjidah Wahab. Tim Njombangan diwakili oleh Mbak Ayla Rohma – Program Manager Njombangan, Bu Agus Lishartitik – Kepala Desa Ngogri, dan Mas Yoyok Budi Utomo – Penggerak New Kuda Purnama.
Adapun daftar lengkap juara adalah sebagai berikut:

“Kami bersyukur bahwa Njombangan bisa meraih juara dua dalam ajang Krenova Kabupaten Jombang Tahun 2023. Secara skor memang bedanya sedikit sekali dengan juara pertama namun ini tidak mengurangi rasa syukur, semangat, dan apresiasi kami bagi seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya partisipasi Njombangan dalam ajang ini.” Kata Mbak Ayla Rohma.

Selain penyerahan penghargaan, juga ada acara ramah tamah dan makan siang bersama. Selain itu ada juga hiburan musik gamelan kontemporer yang disajikan oleh Mojoagung Gamelan Heritage.
ISemoga atas raihan juara Njombangan ini bisa menjadi berkah serta membuka peluang-peluang lainnya bagi keluarga besar Njombangan, seniman-seniwati Jombang, dan masyarakat Jombang umumnya.
Sabtu dan Minggu, 23-24 September 2023, di Dusun Ngogri Desa Ngogri Kecamatan Megaluh, diselenggarakan acara Pasar Brantas sekaligus penutupan KKN Kelompok-19 Unwaha Jombang
Pasar tematik yang mengusung nuansa pasar tradisional ini menyuguhkan dagangan berupa kuliner tradisional mulai dari klanting, dawet beras, bothok iwak kali, rujak manis, dan sebagainya. Untuk stand kerajinan tangan, ada penjual berbagai macam pernak pernik yang terbuat dari kayu seperti, caping, topi, dan tas berbahan pandan, home decoration dari bahan kayu, dan beberapa merchandise dari Komunitas Njombangan.
Tak hanya itu, untuk memanjakan pengunjung yang datang pada Pasar Brantas edisi perdana ini penampilan berbagai seni budaya Gejog Lesung Guyub Rukun, Tari Remo, Jaran Dor New Kuda Purnama dan penampilan tari tradisional oleh para siswa-siswi SD yang ada di Desa Ngogri turut meramaikan acara yang dimulai pukul 08.00 hingga di 17.00 WIB ini.

Inisiatif ini merupakan kolaborasi apik antara Brantas Lestari, Pemerintah Desa Ngogri, dan KKN Kelompok-19 Unwaha Jombang dan bertujuan untuk menumbuhkan semangat masyarakat untuk peduli dengan potensi yang dimiliki Desa Ngogri yakni pegiat UMKM dan pegiat seni budaya. Selain itu juga sebagai ajang untuk mengajak masyarakat untuk saling memiliki, mencintai, dan melestarikan Sungai Brantas.
“Pasar Brantas ini diharapkan bisa menjadi kegiatan bulanan. Acaranya beragam begitu juga aneka jualannya. Nantinya ada penambahan mainan tradisional untuk anak-anak.”, ucap Agus Lis Hartitik, Kepala Desa Ngogri dalam sambutannya saat pembukaan Pasar Brantas pada Sabtu kemarin.
Pasar Brantas ini memang diharapkan jadi signature event di pesisir Sungai Brantas.

“Harapannya Pasar Brantas bisa berjalan di bulan-bulan berikutnya tetap konsisten selalu ada. Untuk teman-teman KKN Kelompok-19 Unwaha yang dua hari ini menjadi panitia semoga kedepannya sukses, tetap bisa mengabdi kepada masyarakat dimanapun berada.”, ungkap M. Cahya Panca Wijaya, ketua pelaksana Pasar Brantas Desa Ngogri.
Pelaksanaan Pasar Brantas ini ternyata mendapat sambutan yang sangat luar biasa baik dari warga Desa Ngogri sendiri maupun luar Ngogri. Ratusan pengunjung memadati area selama dua hari perhelatan pasar ini. Uang yang berputar dari transaksi di pasar ini juga mencapai lebih dari 5 juta rupiah. Para pengisi acara mendapatkan panggung untuk mengekspresikan bakat mereka. Dan tentunya ada edukasi kepada para pengunjung terkait Sungai Brantas.
Njombangan juga senang bisa menjadi bagian dari pelaksanaan pasar ini. “Pasar Brantas adalah salah satu cita-cita dari Brantas Lestari, sister initiative Njombangan. Kami senang akhirnya ide ini bisa menjadi kenyataan karena kerja bersama bareng Pemerintah Desa Ngogri dan teman-teman KKN Kelompok-19 Unwaha. Apresiasi dan penghargaan yang sebesar-besarnya untuk mereka semua.” ujar Johar Zauhariy, founder dan inisiator Njombangan juga Brantas Lestari.
Tuku temu diombe bareng kanca-kancane
Nganti ketemu nang Pasar Brantas selanjut e!
Nang kandang la kok akeh meri
Ingonane Dinda ket minggu wingi
Selamat datang ten Desa Ngogri
Semoga Bappeda terus jaya lestari
Njombangan terpilih menjadi salah satu lima besar finalis dari ajang Krenova Tahun 2023 yang diadakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jombang. Dengan mengusung tema proposal Njombangan Messem (Mewujudkan Ekosistem Seniman-Seniwati yang End-to-End dan Madani), Njombangan menjadi satu-satunya finalis yang mengusung ide berbasis seni dan budaya. Melalui Njombangan Messem ini, Njombangan ingin mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk ikut serta dalam memainkan perannnya masing-masing dalam mempromosikan dan melestarikan seni dan budaya Jombang. Selain itu, Njombangan juga menawarkan berbagai inisiatif yang memberikan jawaban atas tantangan dalam pelestarian dan promosi seni budaya di Jombang tersebut.
Rangkaian penjurian ajang Krenova 2023 ini berlangsung dalam beberapa tahap. Pertama adalah penjurian berbasis dokumen proposal yang sebelumnya dikirimkan ke panitia. Setelah penjurian ini, Njombangan masuk 10 besar yang kemudian kami melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Total ada lima juri yang hadir di gedung Bappeda saat itu. Setelah sesi presentasi ini, Njombangan dinyatakan lolos lima besar dan berlanjut ke babak kunjungan lapangan.

“Ini adalah pertama kali Njombangan ikut serta dalam ajang kompetitif. Dan syukurnya Njombangan bisa lolos ke babak kunjungan lapangan.” Ujar Laylatul Desia Rohmawati, Program Manager Njombangan yang menjadi penanggungjawab utama Njombangan dalam ajang ini.
Sajikan Pengalaman Seni Budaya yang Berkesan
Dipan rengat mak jemunuk methu klabang
Ayo teros semangat bareng bangun Jombang
Njombangan bersyukur karena dalam babak kunjungan lapangan ini dibantu oleh banyak pihak. Mulai dari Pemerintah Desa Ngogri, grup jaranan New Kuda Purnama, dan grup gejok lesung Guyub Rukun. Rombongan juri dan panitia sampai di Desa Ngogri tepatnya di Kantor Desa Ngogri pada siang hari. Rombongan disambut oleh tari jaranan anak-anak dimana tiga orang anak menampilkan jaranan, jepaplok, dan ganongan. Mereka menari dengan semangat untuk menyambut para tamu.

Rombongan juri dan panitia kemudian mencuci tangan di bokor yang sudah berisi air dan bunga yang kemudian dilanjutkan dengan pengalungan bunga kamboja. Rombongan disambut oleh Ibu Lurah Desa Ngogri dan melakukan sesi ramah tamah yang dilanjutkan dengan makan siang bersama. Bunga kamboja adalah salah satu ciri khas dari Kerajaan Majapahit dan dengan pengalungan bunga ini, Njombangan ingin memberi makna bahwa kami ingin menghidupkan semangat di tlatah Majapahit lewat seni dan budaya.
“Senang sekali saya bisa diajak ikut menyambut bapak-ibu tamu kegiatan. Saya jadi makin semangat latihan jaranan.” kata Reyhan, anak Desa Ngogri yang selama ini ikut berkegiatan bareng New Kuda Purnama.
Seteleh sesi ramah tamah di desa selesai, rombongan berlanjut ke Kantor Njombangan “ Bertemu untuk Kebaikan Bersama”. Di sana dilakukan tanya jawab antara dewan juri dan tim Njombangan. Dewan juri juga diajak untuk parikan bersama. Parikan dari juri nantinya akan dimasukkan ke dalam Buku Kompilasi Parikan Njombangan Tahun 2023.

Kunjungan berlanjut ke lokasi grup jaranan New Kuda Purnama. Di sana, dewan juri disambut oleh tim New Kuda Purnama dan peralatan gamelan yang sudah ditata sedemikian rupa. Setelah tanya jawab, rombongan mendengarkan alunan gamelan dan mencoba beberapa peralatan jaranan.
Rombongan kemudian berlanjut ke grup seni gejok lesung Guyub Rukun. Di sana, rombongan disambut ibu-ibu yang kemudian menunjukkan kemampuan mereka bermain gejok lesung. Satu lagu kemudian dinyanyikan yaitu lagu lesung jumengglung.
Njombangan mengucapkan terima kasih atas untuk semua warga desa yang telah ikut serta menyukseskan kunjungan lapangan ini. Semoga menjadi pengalaman dan berkah bersama.

Terima kasih juga untuk semua rombongan Bappeda yang telah berkunjung ke Desa Ngogri. Semoga bisa menjadi awal kolaborasi yang baik untuk seni dan budaya Jombang.
Wayah bengi wektune nonton hiburan ndek tivi
Acara dendang dangdut artis e ibukota
Njombangan terbukti sampun berkontribusi
Dari Jombang kanggo Jawa Timur lan Indonesia
Ndelok seni budaya khas Njombangan
Disambi mangan jajan enak rasane
Ayo podho ngrayakno kemerdekaan
Karo karya sing membanggakan sak lawas e
Agustus selalu menjadi bulan yang istimewa untuk rakyat Indonesia. Di bulan ini, Indonesia merdeka dan karena kemerdekaan ini, semua dari kita bisa menjadi manusia bebas tidak lagi terkungkung karena penjajahan. Apresiasi dan penghormatan tentunya diberikan untuk semua yang telah berjuang dalam merebut kemerdekaan ini. Menjadi tanggung jawab bersama untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang baik, membanggakan, dan kontributif.

Njombangan ikut serta dalam mengisi kemerdekaan melalui berbagai inisiatif yang dilakukan. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, Njombangan mengadakan aneka lomba Agustusan. Lomba ini diadakan sehari semalam pada tanggal 17 Agustus 2023. Terbuka untuk umum dan ada banyak hadiah menarik, acara ini rame sekali. Lomba ini diadakan di Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.

Lomba dibagi menjadi lomba untuk anak-anak dan orang dewasa. Lomba anak-anak mulai lomba memindahkan karet dengan sedotan, lomba memasukkan sedotan ke botol, lomba makan kue, lomba joget royok an kursi, lomba estafet kardus, dan masih banyak lagi. Anak-anak terlihat sangat semangat juga kompetitif untuk menjadi juara dan mendapatkan hadiah.
Faiz salah satu peserta mengungkapkan bahwa dirinya senang bisa ikut lomba-lomba ini. Karena lomba ini setahun sekali diadakan.

Tidak kalah meriahnya adalah lomba untuk ibu-ibu yang juga hampir sama dengan lomba untuk anak-anak. Ibu-ibu juga terlihat sangat antusias, rame, dan penuh gelak tawa.
“Senang rasanya bisa ikut lomba dan dapat banyak hadiah. Acara lomba Agustusan dari Njombangan ini memang selalu saya tunggu.” Ujar Mbak Supre salah satu peserta.
Tampilkan Seni Budaya Njombangan
Selain aneka lomba, pada malam hari juga ditampilkan beberapa seni budaya setempat. Anak-anak ditantang untuk njaran menggunakan properti atau peralatan yang sudah ada mulai dari jaranan, jepaplok, ganongan, juga lainnya. Ternyata anak-anak ini benar-benar antusias. Beberapa di antaranya terlihat sangat luwes gerakannya, tentu menjadi harapan untuk pelestarian jaranan lebih lanjut.

Setelah itu tampil 3 orang anak-anak yang pernah mengikuti Lomba Jaranan Njombangan tahun lalu. Mereka memainkan jaranan, jepaplok, dan ganongan diiringi oleh musik khas jaranan.
Seni jaranan memang populer di Megaluh dan Jombang pada umumnya. Njombangan sendiri punya grup jaranan New Kuda Purnama yang juga berlokasi di Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, Jombang.
Acara pentas dilanjutkan dengan penampilan grup gejok lesung Guyub Rukun. Grup ini juga dibuat dan didampingi oleh Njombangan. Beranggotakan 13 orang, grup ini baru berkegiatan di awal Juli tahun ini. Dengan menggunakan kostum kebaya hitam dan sewek mereka menampilkan berbagai nyanyian mulai dari lagu lesung jumengglung, jaranan, hari merdeka, gundul-gundul pacul, dan perahu layar. Apresiasi yang sebesar-besarnya untuk ibu-ibu dan mbak-mbak yang telah aktif dan giat berlatih selama ini. Semoga gejok lesung bisa bangkit lagi dan lestari.

“Sepertinya lama sekali kami tidak memainkan atau mendengar gejok lesung. Adanya grup gejok lesung Guyub Rukun ini membuat desa menjadi lebih berwana.” Jelas Mbak Lena, salah satu anggota grup gejok lesung.
Selain itu juga ada banyak doorprize menarik dari Njombangan yang diberikan kepada para peserta yang bisa menjawab berbagai pertanyaan atau melakukan tantangan tertentu.

Sekali lagi, selamat kemerdekaan Indonesia.
Semoga kita semua selalu bangga akan negeri yang indah ini.
Merdeka!
Halo Rek,
Alhamdulilah grup karawitan dan campursari New Kuda Purnama (NKP) milik Njombangan terpilih sebagai grantee (penerima bantuan) dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI (Jawa Timur). Acara penyerahan bantuan/ grant dilakukan di Hotel Ayola, Sunrise Mall, Kabupaten Mojokerto pada Rabu, 2 Agustus 2023. NKP diwakili oleh dua orang yakni Mas Yoyok Budi Utomo dan Bapak Timbul Wijaya.
Setelah melewati berbagai rangkaian proses yang panjang, akhirnya dari 121 proposal dari berbagai grup seni dan budaya di Jawa Timur, NKP bisa lolos sampai tahap akhir. Proses tersebut mulai dari seleksi administrasi sampai verifikasi lapangan. Verikasi lapangan dilakukan oleh dua orang perwakilan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur yakni Ibu Eva dan Bapak Kartono beberapa minggu lalu.
NKP juga merupakan satu-satunya grantee dari Kabupaten Jombang. Grantee lainnya berasal dari berbagai kabupaten dan kota lainnya di Jawa Timur.

NKP menjadi bentuk pilot project atau proyek percontohan pelestarian seni budaya berbasis masyarakat yang sudah Njombangan dampingi dan danai 3 tahun ke belakang. Perlahan tapi pasti, berkat kerja keras dan komitmen seluruh keluarga besar NKP, grup ini mulai menemukan bentuknya.
“Saya sangat menghargai komitmen dari teman-teman New Kuda Purnama yang selama ini giat melestarikan gamelan tanpa mengeluh. Semua dikerjakan dengan gotong royong bersama-sama. Semoga bantuan ini bisa mendorong kreativitas dari New Kuda Purnama ke level yang lebih tinggi.” ujar Muchdlir Zauhariy atau akrab disapa Johar yang merupakan Inisiator dan Pendiri Njombangan.
Grant yang didapat akan digunakan sesuai peruntukan yang diusulkan yakni penciptaan 10 lagu gending baru. Lagu yang terinspirasi dari kehidupan desa, masyarakat agraris, lingkungan, Sungai Brantas dan dinamikanya. Selain itu kegiatan kedua adalah pendokumentasian 11 tembang macapat.
Kegiatan ini akan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dimulai di Agustus tahun ini.

“Njombangan akan mendampingi pelaksanaan program ini dari awal sampai akhir untuk memastikan bahwa target tercapai dan pengelolaan dana bantuan dilakukan secara transparan dan bertanggungjawab.” tandas Laylatul Desia Rohmawati, atau kerap dipanggil Ayla, Program Manager Njombangan.
Grant ini adalah institutional financial assistance pertama yang diterima oleh NKP. Dan ini juga pertama kalinya Njombangan mendorong grup seni budaya di bawah naungannya untuk mengajukan institutional financial assistance. Njombangan ingin memastikan bahwa grup seni budaya ini sudah siap baik secara SDM, tata kelola, dan kualitas pertunjukan sebelum diajukan ke pihak eksternal untuk kesempatan asistensi dalam bentuk apapun.

“Kami berterima kasih atas kesempatan yang diberikan ini kepada NKP. Juga untuk semua pihak yang telah mendukung kami seperti Njombangan, Pemerintah Desa Ngogri, juga tentunya Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI (Jawa Timur). Bantuan ini menjadi penyemangat bagi semua anggota NKP untuk terus berkreasi.” kata Yoyok Budi Utomo, pimpinan grup karawitan dan campursari New Kuda Purnama.
Semoga dengan adanya grant ini bisa memberikan kebaikan dan keberkahan tidak hanya untuk NKP tapi juga pelestarian seni budaya di Jombang secara umum.
Njombangan akan terus meng-update berita pelaksanaan program di instagram dan website kami.
Numpak sepur nggowo sukun
Kabeh dulur, kulo matur suwun
Halo Rek,
Tari remo sebagai ikon budaya Jawa Timur merupakan kebanggaan seni budaya yang berasal dari Jombang. Tari ini bahkan sudah menyebar ke berbagai daerah lain dan kerap di tampilkan pada acara tertentu. Tari yang memiliki pesan nilai kepahlawanan dan keberanian ini juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Jombang.
Njombangan bersyukur bahwa inisiatif pelestarian tari ini sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Tari ini bahkan diajarkan ke anak-anak melalui sekolah-sekolah atau sanggar-sanggar seni. Bahkan beberapa waktu lalu ada pemecahan rekor MURI untuk tari remo massal yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Jombang.
Tahukah kalian Rek bahwa logo Njombangan juga terinspirasi dari tari remo gaya boletan yang sangat khas Jombang.
Nah Njombangan juga pernah mengadakan program Njombangan Menari yang memberikan latihan remo gratis untuk anak-anak dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.
Kali ini, Njombangan juga ingin menjadi dan mengambil peran yang lebih luas dalam pelestarian tari daerah ini. Kami membuat grup tari remo yang bernama Srikandi Jombang. Kegiatan dipusatkan di Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, Jombang. Nama srikandi digunakan karena sebagai representasi atau simbol perempuan yang berani juga tangguh. Srikandi menjadi inspirasi perempuan terutama anggota dari grup tari ini.
“Grup tari remo Srikandi Jombang ini terbuka untuk siapa saja perempuan yang memiliki ketertarikan untuk belajar tari remo. Pelatih profesional akan mengajarkan tari dari awal sampai akhir dan semua peserta bisa ikut secara gratis.” ujar Muchdlir Zauhariy atau akrab disapa Johar yang merupakan Inisiator dan Pendiri Njombangan.
Latihan dilakukan seminggu sekali dan peralatan pendukung latihan disediakan oleh Njombangan. Bahkan konsumsi juga disediakan oleh panitia lokal.
“Latihan tari remo ini sangat seru bagi semua anggota. Beberapa di antaranya sudah pernah belajar tari saat kecil namun sebagian besar adalah baru pertama kali.” Kata Mbak Ririn yang merupakan ketua grup Srikandi Jombang.
Njombangan mendampingi dan membiayai secara penuh grup seni budaya ini. Kami mengundang siapa saja yang tertarik belajar tari remo untuk ikut serta.
Njombangan ingin mendorong agar grup ini nanti bisa naik kelas dan menjadi kebanggaan tidak hanya warga Ngogri, namun juga Megaluh dan Jombang.
Semoga harapan ini akan terwujud segera.
Suwun Rek!
Wong tani panen akeh bebas hama
Ayo nda padha latihan tari ngremo
Halo Rek,
Pernahkah kamu mendengar lesung, alu, atau gejok lesung? Bagi sebagian dari kalian tentu pernah mendengar kata ini, namun sebagian lainnya akan terdengar asing.
Lesung dan alu adalah dua alat yang kerap ditemui di budaya masyarakat agraris atau pertanian. Lesung adalah alat tradisional, biasanya terbuat dari satu kayu utuh yang kemudian dilubangi. Sedang alu adalah tongkat yang juga terbuat dari kayu. Lesung dan alu digunakan untuk menumbuk padi, jagung, atau hasil panen lainnya dengan tujuan untuk menghaluskannya.
Ketika mesin penghalus otomatis sudah mulai gampang ditemui, fungsi lesung dan alu ini mulai terganti. Sayang sekali memang, karena lesung alu adalah bagian dan kearifan lokal masyarakat.
Selain difungsikan untuk menumbuk hasil panen, lesung dan alu ini juga kerap dibunyikan oleh masyarakat pada momen-momen tertentu misalnya saat mulai tanam atau saat panen atau di acara perayaan desa lainnya. Alunan musik ini kemudian disebut dengan gejok lesung. Selain membunyikan lesung dengan alu, biasanya warga akan menyanyi dan menari. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu daerah Jawa. Gejok lesung menjadi hiburan untuk warga di kala lelah atau saat merayakan sesuatu.
Njombangan memahami pentingnya pelestarian gejok lesung. Bahkan gejok lesung sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
“Lesung dan alu menjadi bagian penting dari cerita budaya agraris masyarakat secara utuh. Walau saat ini sudah tidak banyak digunakan, melestarikan sisi seni dari peralatan ini akan sangat menarik.” ujar Muchdlir Zauhariy atau akrab disapa Johar yang merupakan Inisiator dan Pendiri Njombangan.
Kami akhirnya membentuk grup gejok lesung yang kami namakan Guyub Rukun. Di awal pembentukannya grup ini beranggotakan 13 orang yang merupakan ibu-ibu dan mbak-mbak di Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, Jombang. Anggota bisa ikut latihan secara gratis. Mereka berlatih secara rutin mingguan dan dilatih oleh pelatih profesional.
Njombangan mendampingi dan membiayai secara penuh grup seni budaya ini mulai dari biaya pelatihan, konsumsi, pembuatan kaos, sampai pembuatan kostum. Target Njombangan adalah agar grup ini nantinya bisa siap tampil memainkan gejok lesung dengan nyanyian dan tarian.
“Warga di desa ini sangat antusias. Mereka kangen akan kebiasaan membunyikan gejok lesung yang dulu ada namun sudah lama hilang. Kami ingin mengenang masa itu dan menumbuhkan kreativitas seni kami.” kata Novi, yang didapuk dari ketua grup gejok lesung Guyub Rukun.
Njombangan ingin mendorong agar grup ini nanti bisa naik kelas dan menjadi kebanggaan tidak hanya warga Ngogri, namun juga Megaluh dan Jombang.
Semoga harapan ini akan terwujud segera.
Suwun Rek!
Sore-sore ngrukno gejok lesung
Rame-rame ayo seduluran disambung
JOMBANG – Masjid Al Jamhar yang terletak di Dusun Bulusari, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng termasuk masjid tua di Jombang. Usianya bahkan diperkirakan hampir dua abad lamanya.
Masjid ini didirikan Mbah Jamhari, tokoh agama yang merupakan prajurit Pangeran Diponegoro. Cerita yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, masjid tersebut didirikan sekitar tahun 1830-an.
”Ini cerita dari orang tua saya, yang mendirikan itu Mbah Jamhari. Sebelum ke Kebondalem, Mbah Jamhari adalah prajurit Pangeran Dipenogoro,’’ ujar Zainul Abidin, 58, pengurus Masjid Al Jamhar.
Zainul menambahkan, Mbah Jamhari pernah diasingkan ke Sumatera Barat setelah tertangkap Belanda pada tahun 1827. Sekitar 1830-an, Mbah Jamhar kemudian masuk ke wilayah timur untuk menetap di Jombang.
”Akhirnya memilih menetap di sini (Kebondalem) dan mendirikan masjid serta membina orang-orang ngaji,’’ tambah Zainal yang masih punya garis keturunan dengan Mbah Jamhar.
Masjid Al Jamhar sangat kental dengan gaya arsitektur Jawa kuno. Bagian atap masjid berbentuk tajuk tumpang ala Masjid Demak. Selain itu, di ruang utama masjid juga terdapat empat soko guru yang terbuat dari kayu.
Meski usianya sudah mencapai 1,5 abad lebih, empat pilar kayu penyangga bangunan utama masjid masih utuh dan kokoh berdiri.
”Ya ini pilar utama masih asli dari kayu 1830-an. Ini ada lafal Allah SWT di bagian pilarnya,” tambahnya sembari menunjukkan ukiran lafal-lafal di permukaan kayu.
Kesan bangunan klasik juga terlihat dari bangunan tembok masjid. Tembok masjid berwarna putih ini memiliki ukuran lebih tebal dibandingkan dengan umumnya bangunan masjid di era modern.
Saat ini bangunan tembok masih kokoh, hanya saja di sejumlah titik tembok bagian luar mulai keropos. ”Mungkin karena kena air hujan,” imbuhnya.
Gaya arsiterktur Jawa juga terlihat pada bagian serambi depan masjid yang berbentuk joglo, identik dengan Masjid Demak. Masjid Al Jamhar juga memiliki bedug tua asli dari Kabupaten Ponorogo.
Namun, bedug tersebut tidak lagi digunakan lantaran sudah ada speaker. ”Selain itu, bagian langit-langit dan lantai sudah baru alias diganti pada 2013 lalu,’’ jelas dia.
Masjid yang didominasi dengan cat warna putih ini memang tak begitu luas. Ukurannya hanya sekitar 15 x 10 meter persegi. Untuk itu, Masjid Al Jamhar tidak ditempati salat Jumat. ”Di sini dipakai salat lima waktu, kegiatan keagamaan termasuk pengajian TPQ,’’ ujar.
Mbah Jamhari meninggal sekitar tahun 1840-an. Selain masjid, dulunya di lokasi setempat juga ada kegiatan pondok Salafiyah.
Namun, pondok tersebut dilaporkan terakhir beroperasi tahun 1970-an. ”Saya waktu masih kecil masih ada pondoknya, tapi kemudian dibongkar dan tanahnya ditempati rumah saudara-saudara,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – Bulan Juni adalah Bulan Bung Karno, salah seorang Pahlawan Proklamator Indonesia. Bulan lahirnya, bulan wafatnya dan juga bulan ketika dia menyampaikan pidato tentang lahirnya Pancasila. Bagi masyarakat Jombang, bukti-bukti persinggungan dan jejak masa kecil Bung Karno dengan kota santri masih terus digali dan dikumpulkan.
Pemerintah Republik Indonesia, telah menganugerahkan gelar pahlawan kepada Ir Soekarno pada 23 Oktober 1986. Kemudian pada 2012, kembali dipertegas dengan gelar Pahlawan Nasional.
Sebagian sudah terangkai kisah keterkaitan sejarahnya di Jombang, khususnya Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso. Termasuk upaya yang sudah dilakukan para pemerhati dan penelusur sejarah dalam mengumpulkan bukti berupa foto dan dokumen tertulis.
Selama ini, baik di buku dan dokumen menyebut tempat lahir Bung Karno di Kota Surabaya. Namun banyak yang meyakini jika Putra Sang Fajar ini sebenarnya lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso. Begitu juga waktu kelahirannya tertulis 6 Juni 1901, ternyata ada juga dokumen yang sudah ditemukan menulis 6 Juni 1902.
Salah satu pemerhati sejarah Jombang yang tertarik menelusuri jejak Bung Karno di utara Brantas ini adalah Binhad Nurohmat. Menurutnya, kejelasan tempat (locus) dan lokasi rumah lahir Presiden Pertama Indonesia ini sangat penting. “Saya sejak empat tahun lalu sudah mulai serius menggali dan mengumpulkan bukti-bukti,” katanya.
Kondisi rumah yang pernah ditinggali keluarga Bung Karno di Rejoagung, sekarang memang sudah tidak utuh lagi. Hanya tinggal pondasi. Berbeda sebelum 2010 lalu, kondisi rumah masih berdiri utuh. Sayang, karena kurang perawatan, akhirnya lapuk dan roboh total. Beberapa tahun terakhir, mulai dirintis kembali untuk merawat rumah lahir Bung Karno.
Bahkan jika memungkinkan akan dibangun ulang. Hanya saja, karena kepemilikannya bukan atas nama pemerintah, maka niat itu belum bisa terlaksana. Sementara ini, lanjutnya, hanya bisa mengadakan kegiatan-kegiatan insidentil di bekas rumah tersebut.
Salah satu bukti yang mendukung jika bayi Kusno (nama kecil Bung Karno, Red) dilahirkan oleh Ida Ayu Nyoman Rai Srimben di rumah Rejoagung Ploso adalah kedekatan rumah tinggal dengan lokasi sekolah tempat R Soekeni Sosrodihardjo, ayah Bung Karno mengajar. Saat itu, ayah Bung Karno menjadi Mantri Guru di Tweede Inlandsche School (IS/Sekolah Pribumi) Ploso, sejak 28 Desember 1901. Sekolah itu juga populer dengan sebutan Sekolah Ongko Loro.
Sayangnya, saat Binhad mencoba mencari keberadaan sekolah itu, kondisinya sudah tak terawat. Sebagian besar ambruk dan hancur di berbagai sudut.
Ada pula pengakuan putri Bung Karno, Sukmawati Soekarno Putri kepada Kuswartono, cucu ayah angkat Bung Karno (RM Soemosewojo) 2010 lalu. Sukmawati memberitahu Kuswartono, jika Bung Karno sebenarnya lahir di Jombang.
Namun, Sukma tidak menyebutkan secara spesifik di Jombang bagian mana. Salah satu yang mengetahui pengakuan itu Wiji Mulyo Maradianto alias Dian Sukarno, penelusur sejarah Jombang. “Saya bersama Mas Kuswartono saat itu menemui Mbak Sukma di acara Haul Bung Karno di Blitar,” katanya.
Sementara itu, Kuswartono menjelaskan, selain Sukmawati Soekarno Putri yang menyebutkan jika Bung Karno lahir di Jombang. Putri Bung Karno lainnya, Rahmawati Soekarno Putri pun pernah menyampaikan hal yang sama. Saat itu, Rahmawati sedang berkunjung ke Ponpes Majma’al Bahroin Shiddiqiyyah Losari Ploso 2019. “Bahkan Mbak Rahmawati waktu itu bilang ke saya jika Bung Karno memang lahir di PlosoJombang,” ungkapnya.
Hal itu semakin menguatkan keyakinan jika rumah tempat lahir Bung Karno benar-benar ada di Rejoagung Ploso. Selain itu, beberapa orang yang ditemui Kuswartono di sekitar rumah tempat lahir Bung Karno juga membenarkan. Ada beberapa kisah yang didapatkan dari orangtua atau kakeknya yang mendukung kebenaran tersebut.
Dokumenyang Sudah Ditemukan
SAMPAI saat ini, beberapa dokumen pendukung yang sudah ditemukan di antaranya potongan Buku Induk atau rapor Bung Karno saat mendaftar kuliah di Technische Hogeschool (THS) Bandung.
Di lembaran itu tertulis tanggal lahirnya 6 Juni 1902. Namun, tempat lahirnya di Surabaya. Nama ayah R Sosrodihardjo, pekerjaan ayah pendidik di Blitar (mengajar di Normaal School Blitar). Nama ibu Ida Nyoman Aka. Asal sekolah Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya. Tanggal pendaftaran 10 Juni 1921. Tanggal masuk kuliah 1 Juli 1921. Fakultas yang diambil Jalan dan Pengelolaan Air.
Kemudian dokumen lain adalah tulisan tangan Bung Karno sendiri di formulir pendaftaran untuk pendataan yang dilakukan oleh Gunseikanbu Jepang 1943 silam. Data-data itu nanti dibukukan oleh Gunseikanbu Jepang dengan judul Orang Indonesia yang Terkemuka di Jawa. Penjajah Jepang membagi dalam klasifikasi profesi. Misalnya tokoh politik, ulama, sosial, dan lain-lain.
Nah, yang menarik Bung Karno menuliskan riwayat pendidikannya. Memang benar, saat usia sekolah dasar berada di PlosoJombang. Jadi, Bung Karno menempuh pendidikan dasarnya di Inlandsche School/IS Ploso lulus tahun 1909.
Kutipan sesuai asli tulisan Bung Karno itu berbunyi:
Moela-2 sekolah desa di Ploso/Djombang. Kemoedian sekolah kelas II di Sidhoardjo. Kemoedian sekolah kelas I di Modjokerto. Kemoedian Europeesche Lagere School di Modjokerto. Diploma tahoen 2576. H.B.S Soerabaja. Diploma KE tahoen 2581.
Dari dua dokumen temuan ini bisa disimpukan riwayat jenjang pendidikan yang pernah ditempuh Bung Karno. Mulai Inlandsche School Ploso, Inlandsche School Sidoarjo, dan Hollandsch Inlandsche School I (HIS) Mojokerto 1914. Saat kelas 5 naik kelas 6, pindah ke ELS Mojokerto. Karena dari ELS bisa ke HBS Surabaya.
Kemudian, Europeesche Tweede Lagereschool (ELS) Mojokerto 1915. Klein Ambtenaars Diploma Soerabaja/Diploma lulus 1915. Hoogere Burgerschool V (HBS) Surabaya lulus 1921. Technische Hogeschool (THS) Bandung, masuk 10 Juni 1921 kemudian lulus 1926. (fai/bin/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.