• info@njombangan.com

Daily ArchiveJanuary 25, 2019

Di Dusun Ngepeh; Masjid, Gereja, dan Pura Hanya Berjarak 100 Meter

JOMBANG – Masjid Quba’ yang berada di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, mencerminkan kerukunan antar umat beragama. Tak jelas sejak kapan masjid ini berdiri. Namun masjid yang pernah direnovasi 1983 ini berdekatan dengan gereja dan pura.

Jaraknya, hanya kurang lebih 100 meter. Meski dekat, umat beragama di tiga tempat ibadah ini tak pernah ribut apalagi terlibat konflik atas nama agama. Mayoritas bisa mengayomi minoritas, sebaliknya yang minoritas mampu menghormati mayoritas. Hal ini menjadi tradisi masyarakat Ngepeh turun temurun.

Kepala Dusun Ngepeh, Sungkono mengatakan, di dusun yang ia mimpin memang terdapat tiga umat beragama yaitu Islam, Kristen, dan Hindu. Menurutnya, sejak lama tiga umat beragama ini mampu tumbuh dan hidup dengan sangat toleran. “Jaman nenek moyang, tiga agama ini sudah ada di Ngepeh. Tidak tahu ceritanya dulu bagaimana kok bisa hidup bersama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, sore kemarin (24/1).

Kerukunan umat beragama di Dusun Ngepeh menurut Sungkono juga sangat kuat, meski ada beberapa peristiwa konflik atas nama agama yang terjadi di Indonesia. “Saat terjadi peristiwa 98 pun, masyarakat Dusun Ngepeh tidak terpengaruh. Begitu juga dengan peristiwa SARA lainnya, disini tetap hidup rukun dan damai,” lanjutnya.

Sementara jumlah penduduk di Dusun Ngepeh kurang lebih 1.500 jiwa. Untuk masyarakat yang beragama Kristen, terdapat kurang lebih 80 jiwa. Sedangkan yang beragama Hindu terdapat kurang lebih 60 jiwa. Sisanya adalah masyarakat Muslim. “Mereka yang Kristen atau Hindu, tak pernah merasa terganggu dengan speaker (pengeras suara, Red) masjid. Warga muslim juga tak pernah risih dengan adanya kebaktian di gereja dan sembahyang di pura,” imbuh Sungkono.

Bahkan dalam urusan makam pun, umat Islam dan Kristen di Dusun Ngepeh ini sepakat menggunakan satu lahan. “Makam satu lokasi, tidak ada perbedaan antara Islam dan Kristen. Ketika ada warga Kristen meninggal, warga Islam juga ikut mengantarkan ke makam. Ini sudah tradisi di dusun kami,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

 

Perajin Berkurang, Aktivitas Anyaman Tampah di Desa Rejoslamet Meredup

JOMBANG – Kerajinan tampah di Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno terus meredup. Pasalnya jumlah perajin saat ini sangat berkurang.

Meski sampai sekarang masih dikenal menjadi sentra pembuatan tampah di Jombang, dalam perjalanannya kerajinan berbahan dasar bambu itu kini mulai berangsur pudar. Warga setempat sudah sangat jarang membuat kerajinan itu.

Sahar salah satu perajin yang masih bertahan, mengatakan, kerajinan tampah itu merupakan keterampilan turun-temurun dari orang tuanya dulu. “Mulai kapan sudah lupa, tidak hafal tahun berapa,” kata Sahar.

Sembari jari-jemarinya membuat bagian lingkaran tampah yang dia ingat pertama kali membuat tampah ketika masih berusia belasan tahun. “Waktu itu masih sekolah SR (Sekolah Rakyat, Red) orang tua dulu yang ngajari,” imbuh dia.

Menurut lelaki usia 74 tahun ini, dulunya kerajinan itu cukup berkembang. Hampir setiap rumah warga membuat tampah. “Sekarang tinggal yang tua-tua saja yang buat, mungkin hanya 15 orang,” sebut Sahar.

Memang rata-rata warga setempat saat ini lebih banyak beralih menekuni kerajinan pembuatan dompet dan tas. Sebab masih menurut Sahar, hampir seluruh perajin tampah adalah warga yang berusia lanjut. “Kalau anak muda sudah jarang, lari ke dompet semua,” sambung bapak satu anak ini.

Karena makin berkurang, untuk mengerjakan seluruh tampah juga tak dilakukan di rumah. Milik Sahar misalnya, untuk anyaman diburuhkan ke wilayah Mojowarno. Sedangkan dia hanya mengerjakan bagian lingkaran tampah.

Faktor usia yang membuat dia memilih memburuhkan anyaman untuk tampah itu. Karena tak dikerjakan di satu lokasi, dia kadang-kadang menunda pengiriman. “Ini tadi sudah dibel suruh ngirim ke Pasar Mojoagung, tapi tidak bisa. Belum selesai semua, saya carikan ya tidak ada, sudah jarang yang buat,” papar dia.

Ya, para perajin sudah mempunyai pasar sendiri dan pelanggan. Sahar biasanya mengirim tampah buatannya ke Pasar Mojoagung. “Kalau sudah jadi semua biasanya kirim sampai 120 tampah, terkadang kirim sejadi-jadinya,” sebut Sahar.

Harganya rata-rata dijual ke konsumen antara Rp 12.000- Rp 15.000 per satu tampah. Sedangkan ke pelanggannya atau tengkulak di Pasar Mojoagung Rp 8.000. Bambu yang dipakai juga bambu jawa, didapat dari wilayah Kecamatan Mojoagung dan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.

Satu lonjor bambu biasanya bisa menghasilkan sekitar 16 tampah. “Harus bambu jawa, kalau nggak hasilnya kurang bagus. Satu lonjor terkadang 80 ribu sampai 100 ribu,” pungkas dia menyebutkan. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com