Perajin Berkurang, Aktivitas Anyaman Tampah di Desa Rejoslamet Meredup

Spread the love

JOMBANG – Kerajinan tampah di Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno terus meredup. Pasalnya jumlah perajin saat ini sangat berkurang.

Meski sampai sekarang masih dikenal menjadi sentra pembuatan tampah di Jombang, dalam perjalanannya kerajinan berbahan dasar bambu itu kini mulai berangsur pudar. Warga setempat sudah sangat jarang membuat kerajinan itu.

Sahar salah satu perajin yang masih bertahan, mengatakan, kerajinan tampah itu merupakan keterampilan turun-temurun dari orang tuanya dulu. “Mulai kapan sudah lupa, tidak hafal tahun berapa,” kata Sahar.

Sembari jari-jemarinya membuat bagian lingkaran tampah yang dia ingat pertama kali membuat tampah ketika masih berusia belasan tahun. “Waktu itu masih sekolah SR (Sekolah Rakyat, Red) orang tua dulu yang ngajari,” imbuh dia.

Menurut lelaki usia 74 tahun ini, dulunya kerajinan itu cukup berkembang. Hampir setiap rumah warga membuat tampah. “Sekarang tinggal yang tua-tua saja yang buat, mungkin hanya 15 orang,” sebut Sahar.

Memang rata-rata warga setempat saat ini lebih banyak beralih menekuni kerajinan pembuatan dompet dan tas. Sebab masih menurut Sahar, hampir seluruh perajin tampah adalah warga yang berusia lanjut. “Kalau anak muda sudah jarang, lari ke dompet semua,” sambung bapak satu anak ini.

Karena makin berkurang, untuk mengerjakan seluruh tampah juga tak dilakukan di rumah. Milik Sahar misalnya, untuk anyaman diburuhkan ke wilayah Mojowarno. Sedangkan dia hanya mengerjakan bagian lingkaran tampah.

Faktor usia yang membuat dia memilih memburuhkan anyaman untuk tampah itu. Karena tak dikerjakan di satu lokasi, dia kadang-kadang menunda pengiriman. “Ini tadi sudah dibel suruh ngirim ke Pasar Mojoagung, tapi tidak bisa. Belum selesai semua, saya carikan ya tidak ada, sudah jarang yang buat,” papar dia.

Ya, para perajin sudah mempunyai pasar sendiri dan pelanggan. Sahar biasanya mengirim tampah buatannya ke Pasar Mojoagung. “Kalau sudah jadi semua biasanya kirim sampai 120 tampah, terkadang kirim sejadi-jadinya,” sebut Sahar.

Harganya rata-rata dijual ke konsumen antara Rp 12.000- Rp 15.000 per satu tampah. Sedangkan ke pelanggannya atau tengkulak di Pasar Mojoagung Rp 8.000. Bambu yang dipakai juga bambu jawa, didapat dari wilayah Kecamatan Mojoagung dan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.

Satu lonjor bambu biasanya bisa menghasilkan sekitar 16 tampah. “Harus bambu jawa, kalau nggak hasilnya kurang bagus. Satu lonjor terkadang 80 ribu sampai 100 ribu,” pungkas dia menyebutkan. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *