• info@njombangan.com

Ditangan Warga Sumberjo, Kayu Limbah di Hutan Disulap Jadi Handmade

Ditangan Warga Sumberjo, Kayu Limbah di Hutan Disulap Jadi Handmade

Spread the love

JOMBANG – Kebanyakan kayu limbah yang sudah kering di hutan hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Namun di tangan Eko Cahyono, warga Dusun/Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam kayu  hutan mampu disulap jadi handmade atau produk kerajinan tangan yang memiliki nilai jual tinggi.  

Kemarin (28/12), Eko Cahyono bersama beberapa warga tengah sibuk mengelupas bagian kulit yang kering. Beberapa kayu tampak biasa, tak ada bedanya dengan kayu garing yang ada di hutan. Ada kayu Jati, Sono mapun bonggol bambu yang sudah tua. Setelah dikelupas dan dibersihkan kulitnya, akhirnya mulai tampak keunikan masing masing kayu.

Eko biasanya membuat pajangan rumah, replika bunga bungaan dan lampu tidur. Eko menggunakan bahan utama dari kayu kering. ”Makin unik dan tua kayu bonggolnya, maka nilai seninya makin tinggi,’’ ujar Eko kemarin (28/12). 

Awal mula Eko terinspirasi membikin kerajinan tangan dari kayu saat dirinya membeli replika bunga-bungaan di toko bunga. Eko melihat, kebanyakan yang dipakai adalah kayu kering biasa seperti kayu mangga yang tidak memiliki nilai seni.

Dari situ, Eko berpikir untuk membuat kerajinan tangan sendiri. ”Daripada beli, mending saya manfaatkan limbah kayu kering yang ada di hutan. Kebetulan di Desa Sumberjo ini adalah wilayah hutan sehingga mencari kayu seperti ini tidaklah sulit,’’ beber dia. 

Beberapa kayu yang dipilih adalah kayu jati, sono dan bambu. Selain banyak dijumpai di hutan, ketiga jenis kayu  cocok sebagai bahan dasar membuat kerajinan tangan. ”Kami ingin menonjolkan kesan alami hutan. Makanya kami gunakan kayu asli dari hutan Desa Sumberjo,’’ papar dia. 

Lambat laun, akhirnya usaha Eko mulai dilirik warga lain. Bukannya, takut tersaingi justru Eko mengajak warga lain bergabung untuk menggeluti usaha kerajinan tangan dari olahan limbah kayu. Kini, ada beberapa warga yang mengerjakan pesanan seperti usaha Eko. ”Alhamdulillah sekarang mulai berjalan, dan orang-orang juga saling terbantu,’’ beber dia.

Bahkan, Eko sempat mengaku jika kerajinan tangannya diminati warga luar Jombang. Beberapa kali, Eko mengirim ke Mojokerto dan Surabaya. ”Paling banyak ya tingkat lokal saja,sementara untuk harga jual mulai yang paling kecil Rp 70 ribu hingga setinggi dua meter kurang lebih Rp 2,5 juta,’’ pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

admin

Njombangan adalah inisiatif untuk melestarikan dan mempromosikan heritage Jombang berupa seni, budaya, bahasa, adat, sejarah, peninggalan bangunan atau bentuk fisik serta lainnya.

Leave your message