• info@njombangan.com

Author Archive

Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi, Sang Mursyid Thariqat Shiddiqiyyah

Jombang – Minggu ini, rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang akan membahas tentang sosok salah satu mursyid Thariqat yang lahir dan besar di Jombang. Kiprahnya dalam dunia tasawuf tak diragukan lagi dengan kini berkembangnya thariqat yang diasuhnya secara nasional bahkan Internasional.

Ia adalah Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi, tokoh agama yang juga mursyid Thariqah Shiddiqiyyah ini adalah sosok yag cukup disegani. Serta sangat berpengruh mengingat pengikutnya yang di klaim kini telah mencapai lebih dari lima juta orang.

Kiai Muctar, atau banyak juga masyarakat awam menyebutnya kiai Tar, adalah putra dari seorang tokoh agama di wilayah Ploso yang bernama H Abdul Mu’thi, yang merupakan putra dari kiai Ahmad Syuhada, pendiri Pesantren Kedungturi.

Lahir Minggu Kliwon 14 Oktober 1928 atau 28 Rabiul Awal 1347 H di Desa Losari kecamatan Ploso Jombang, kiai Muchtar adalah anak ke 6 dari H Achmad Mu’thi dari perkawinan keduanya dengan Nyai Nasichah atau anak ke 12 dari total 17 anak H Mu’thi dari dua perkawinannya.

Karena berasal dari keluarga yang beragama taat, sejak kecil kiai Muchtar telah akrab dengan berbagai pelajaran dan ilmu agama. Termasuk ilmu kepesantrenan yang awalnya memang berasal dari didikan ayahandanya. Bahkan, mengutip dari buku Sepenggal perjalanan hidup Sang Mursyid karya A. Munjin Nasih, dirinya menulis “Bahkan saat bersekolah di MI Ngelo, di usia 8 tahun beliau telah menghafal 6 Juz Alquran,” tulisnya.

Darah Pesantren yang mengalir deras di dalam darahnya, serta dukungan orang tuanya membuatnya meneruskan  pendidikannya berlanjut ke dua pesantren besar di Jombang yakni Pesantren Darul Ulum Rejoso, serta Pesantren Bahrul ulum Tambakberas Jombang, saat usianya remaja.

Meskipun dua kali masuk keluar di dua pesatren tersebut juga tak mulus. Yakni hanya selama 6 bulan di Pesantren Rejoso selanjutnya 8 bulan di Tambakberas. Hal ini dikarenakan beberapa insiden mewarnai proses belajarnya. Kembali dikutip dari buku yang sama, selama di Pesantren Rejoso, dirinya dikenal sebagai santri yang nakal, beberapa masalah kerap dilakukannya baik berupa pembangkangan maupun provokasi hingga berujung pada dikeluarkannya dia dari pesantren tersebut.

“Meski sebelum sempat dijatuhkan hukuman kepadanya, kiai Muchtar memutuskan untuk keluar dengan sindirinya dari pesantren tersebut sehari sebelumnya,” kembali Nasih menulis.

Keluar dari Pesantren Rejoso, kiai Muchtar melanjutkan nyantri-nya ke Pesantren Tambakberas, di Pesantren ini dirinya menghabiskan waktu hingga 8 bulan. Meski kebiasannya nakal sempat terulang kembali, namun di Tambakberas dirinya tercatat menempuh pendidikan lebih lama serta sempat menjadi santri kesayangan kiai Hamid.

Sejumlah kitab juga dirinya pelajari, sebut saja Kitab Taqrib, Nahwu dan Sharaf, Tafsir Jalalain dibawah pengasuhan kiai Hamid, kitab Hadits Shahih Bukhari diasuh kiai Fattah, juga Kitab Fathul Mu’in dibawah asuhan kiai Masduqi.

Hingga ahirnya memutuskan untuk keluar dari pesantren Tambakberas karena ketebatasan ekonomi yang melanda keluarganya. Meski demikian, selama belajar di pesantren, kiai Muchtar lebih aktif menghafal Alquran. Tercatat 12 juz Alquran mampu dirinya hafalkan selama nyantri, hingga jika ditotal dengan hafalan yang telah ia lakukan sebelumnya jumlahnya adalah 18 juz. Pasca keluarnya dari Pesantren Tambakberas inilah dirinya memulai kehidupanya sebagai tulang punggung keluarga.

Terlebih tak lama setalah keluarnya ia dari Tambakberas, ayahanda tercintanya H Mu’thi harus menghadap sang khaliq untuk selama-lamanya. Perjuangannya dalam menghidupi keluarga dengan berbagai cara hingga dirinya memutuskan jalan tasawuf dari hasil renungannya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

admin

Clorotan, Tradisi Petani Bareng Jelang Turun Sawah yang Masih Terjaga

JOMBANG – Tradisi clorotan masih tetap dilakukan warga Dusun Kedungwinong, Desa/Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang. Kemarin (1/2) warga berbondong bondong mengikuti tradisi colorotan sebagai bentuk rasa syukur menjelang musim turun sawah.

Sejak pukul 07.00 WIB, warga berjalan menyisir sawah menuju makam Mbah Kudus, yang diyakini sebagai tokoh pertama kali mbabat alas. Warga membawa asahan (berkat) jajanan tradisional, termasuk tiga jajanan khas clorotan yakni kue clorot, brondong dan pasung. Sebelumnya, mereka berziarah ke makam anggota keluarga.

Lewi, 75, tokoh masyarakat setempat menyampaikan tradisi clorotan merupakan peninggalan nenek moyang yang dipercaya bisa menghindarkan petani dari ancaman petir dan guntur, kala musim hujan saat dan petani mulai menanam padi.

Untuk terhindar dari petir, halilintar atau geledak, petani harus berdoa kepada Tuhan sembari membuat tiga jajanan tersebut sebagai bentuk rasa syukur jelang tanam.

”Pertama kue clorot terbuat dari tepung beras dicampur gulapasir bisa juga gula kelapa, kemudian dibungkus janur, atau daun kelapa muda. Bentuknya memanjang hampir menyerupai terompet,” ujarnya.

Selanjutnya, berondong alias jajanan yang terbuat dari jagung. Berondong jagung dalam hal ini diwujudkan sebagai bentuk geluduk alias halilintar yang gemelegar di langit.

”Saat turun hujan, pasti ada petir dan geluduk, selalu membahayakan petani,” jelasnya. Ketiga kue pasung yang  hampir sama dengan clorotan, terbuat dari tepung beras yang dikukus. Hanya saja, yang membedakan kue ini kemesannya.

Kue pasung dibungkus dengan daun nangka atau daun pisang. ”Kue pasung ibarat pelindung, sebagai bentuk doa kepada Tuhan agar petani diberi keselamatan saat menanam padi,” tandas dia.

Tiga jajanan tradisional itu harus disediakan petani untuk memohon keselamatan. Selama ini petani selalu nurut apa yang dikatakan sesepuh desa. ”Alhamdulilah selama ini tidak pernah terjadi hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

admin

Wastafel Batu Buatan Warga Japanan Mojowarno Diekspor ke Luar Negeri

JOMBANG – Batu sungai yang biasa dipakai bahan bangunan, mampu disulap oleh Yakub, perajin asal Desa Japanan Mojowarno menjadi wastafel atau tempat cuci piring. Harganya lebih terjangkau dari wastfael berbahan keramik.

Pagi itu, suara gergaji mesin begitu nyaring. Terasa terngiang ditelinga. Debu bertebaran dimana-mana hingga membuat lingkungan sekitar berdebu. Ya debu dan suara itu berasal dari proses pemotongan batu untuk pembuatan wastafel.

Siapa sangka di Dusun Sedah, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno ini ada usaha kecil menengah pembuatan beberapa macam kerajinan mulai dari wastafel, lampu taman hingga bak mandi dengan bahan utama batu.

”Kalau untuk lampu taman dan bak mandi hanya membuat jika ada permintaan. Paling banyak kami membuat wastafel,’’ ujar Yakub, 32 perajin wastafel kemarin.

Awal mula Yakub belajar membuat wastafel dan kerajinan berbahan batu lainnya berawal dari coba-coba. Pada 2015 lalu, ia bertekad untuk mendirikan usaha tersebut. ”Ya awalnya saya pernah kerja jadi buruh di Trowulan selama kurang lebih 14 tahun. Lalu saya ingin meneruskan sendiri di rumah,’’ beber dia.

Yakub membutuhkan batu berukuran besar untuk membuat wastafel, sebab ukuran wastafel paling kecil sekitar 100 x 60 sentimeter. ”Ya bahan utama harus batu berukuran besar. Semua jenis batu sama, tapi paling bagus adalah batu ijo dari Pacitan,’’ tambah dia.

Untuk bahan dasar pembuatan wastafel, dia membeli nya dari beberapa pengepul batu. Per truknya, batu tersebut dihargai Rp 3 juta. ”Kita belinya borongan, 3 juta ya dapat besar, kecil, tidak menentu,’’ tandasnya.

Untuk satu wastafel berukuran 100 x 60 sentimeter dia menjual dengan harga bervariatif, mulai dari Rp 150 ribu hingga 180 ribu tergantung dari tingkat kerumitan dan kekerasan batu tersebut. ”Sebab, beberapa batu kali yang memiliki bahan keras membutuhkan beberapa kali proses pemotongan, bahkan harus mendapat perlakuan khusus dari batu-batu lainnya,” jelas dia.

Jika dibandingkan dengan wastafel berbahan keramik, memang wastafel bahan batu lebih murah. Selisihnya bisa Rp 20 ribu sampai 50 ribu. Di beberapa toko, wastafel keramik dijual mulai Rp 200 ribu sampai 250 ribu.

Dalam sebulan, yakub dan 10 pekerjanya bisa membuat 400-an buah wastafel siap kirim. Wastafel yang sudah jadi tersebut dikirim ke beberapa daerah mulai Jateng, Bali hingga Singapura. ”Namun saya lewat perantara di Trowulan sana,’’ pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

admin

Kisah Sukses Zulaikah Produksi Telur Asin Meski Sempat Dilarang Suami

JOMBANG – Bermula dari jualan telur eceran keliling, Zulaikah, perlahan sukses menapaki usaha  telur asin. Kini produknya jadi langganan sejumlah rumah makan.

Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu, usaha produksi telur asin yang digelutinya masih bertahan. Jika di awal merintis, dirinya sempat tertatih-tatih, kini ibu tiga anak ini bisa menyambut hari-hari tuanya tanpa harus berkeliling jualan telur.

Pasalnya, omzet yang didapat dari penjualan telur asin sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Ya, itulah sekelumit cerita perjalanan Zulaikah, warga asal Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan yang sukses menekuni usaha   telur asin.

“Sekarang sudah tidak melayani warung-warung eceran, Sudah tidak perlu keliling untuk jualan, sebab sudah punya banyak pelanggan,” beber Zulaikah saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di rumahnya beberapa waktu lalu.

Ibu tiga anak ini menuturkan, awal dirinya merintis produksi telur asin sekitar 2010 lalu. Saat itu dirinya tergerak membantu Tabar, 58, suaminya mencari tambahan nafkah. Maklum saja, pendapatan yang didapat suaminya dari berjualan kerupuk keliling dinilai minim.

Tak ingin berdiam diri di rumah, dengan modal seadanya, Zulaikah mulai menggeluti jual beli telur. ”Kalau tidak salah, modal waktu itu Rp 40 ribu. Saya beli telur kampung dari tetangga sekitar, terus saya jual keliling, ya sering ke warga perumahan naik sepeda ontel,” bebernya.

Melihat istrinya berjualan keliling seperti itu, Tabar suaminya pun tidak tega, sehingga melarang Zulaikah berjualan telur keliling, terlebih saat itu Zulaikah berkeliling sambil membonceng anaknya yang masih kecil. ”Waktu itu sama suami dilarang, mungkin kasihan. Tapi saya tidak mau menyerah, sambil naik sepeda ontel saya tetap jualan,” bebernya.

Meski hasilnya tidak seberapa, Zulaikah terus bersemangat berjualan telur keliling. Hingga sekitar 2011, salah satu pelanggannya menyarankan dirinya berjualan telur asin.

Meski belum memiliki pengalaman, Zulaikah mulai berani mencoba memproduksi telur asin. ”Saya cari orang jual telur bebek sampai ke beberapa tempat, ke Kesamben,” bebernya.

Sesampainya di rumah, dirinya pun segera membersihkan telur bebek yang akan dijadikan produk telur asin. ”Waktu awal coba-coba, sekitar lima kilo telur,” bebernya.

Usai telur dibersihkan, langkah selanjutnya   menyiapkan tong berukuran sedang, di dalamnya diisi air dan garam grosok secukupnya. Proses selanjutnya, memasukkan telur bebek ke dalam tong, dan setelahnya menutupnya rapat dan dibiarkan selama beberapa hari. ”Waktu itu saya coba rendam tujuh hari,” bebernya.

Memasuki hari ketujuh, Zulaikah mengeluarkan telur dari tong dan mencucinya kembali dengan air bersih. ”Setelah itu di masak seperti membuat pentol begitu, ditunggu sampai matang,” bebernya.

Sesuai harapan, produk telur asin buatannya dirasa enak. ”Saya jual ke pelanggan saya, katanya enak, akhirnya saya kembangkan sampai sekarang,” bebernya.

Seiring produknya semakin dikenal, Zulaikah pun banyak kebanjiran permintaan, sampai-sampai kuwalahan. ”Akhirnya suami putuskan berhenti jualan kerupuk, dan bantu-bantu saya jualan telur asin ke pasar,” bebernya.

Tidak jarang lanjut Zulaikah, dirinya menerima pesanan dalam jumlah besar. ”Khsususnya mendekati hari raya, atau orang pesan buat hajatan, pernah sehari permintaan sampai seribu lebih telur asin,” imbuhnya.

Uniknya, Zulaikah berhasil mengembangkan kreasinya menciptakan ragam produk telur asin. ”Jadi telur asin rasanya beragam. Ada yang minta asin, atau rasa asin minta sedang juga bisa, tergantung permintaan. Tinggal metode waktu merendam telur dan  takaran garamnya kita otak-atik, nanti menghasilkan rasa berbeda,” imbuhnya.

Jika sebelumnya, dirinya banyak melayani warung-warung eceran. Seiring bertambahnya pelanggan, dia memutuskan berhenti berjualan keliling. ”Sekarang beberapa rumah makan di Jombang ambil telur asinnya dari saya. Terus lagi, langganan di pasar juga banyak,” bebernya.

Untungnya, sekarang ini dirinya tidak perlu lagi kesulitan mencari stok bahan baku telur bebek, sebab dirinya sudah memiliki sejumlah langganan peternak bebek. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

admin

Gunakan Cara Manual, Kerajinan Pande Besi di Jombang Masih Tetap Eksis

JOMBANG – Sejumlah pande besi di Jombang sampai sekarang masih bertahan. Satu di antaranya di Dusun/Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo. Mereka tetap eksis menggunakan alat manual.

Pembuatan sabit, cangkul dan sejenisnya oleh perajin pande besi, masih bisa ditemukan di Jombang. Kerajinan yang sudah ada sejak puluhan tahun silam itu pun kini masih tetap berproduksi.

Di Dusun Pucangsimo misalnya, warga setempat masih menekuni kerajinan yang berbahan dasar dari besi itu. Jumlahnya terbilang masih banyak, hingga 20 perajin. “Total kalau dihitung di sini ada sekitar 20 orang,” kata Jumali salah seorang  pande besi.

Jumali menjadi satu di antara puluhan warga yang masih menggeluti usaha kerajinan itu sejak masih muda. “Punya saya ini sudah ada sekitar 22 tahun yang lalu, awalnya dulu  ikut orang, kemudian buka sendiri,” imbuh dia.

Karena masih banyak, maka jangan heran ketika bertandang ke dusun ini akan mendengar dentuman besi yang dipukul terdengar begitu keras dan saling sahut. Maklum, kerajinan itu semua dikerjakan dengan manual.

Mulai dari proses pemotongan besi, pembakaran, hingga pembuatan gagang. Saking banyaknya, banyak yang bilang di Dusun Pucangsimo menjadi sentra pande besi di Jombang. “Jadi semua masih pakai alat manual, mulai dari nol. Bahan dirajang (dipotong), sampai dibakar lalu dipanaskan lagi dan tengahnya dibelah dikasih baja sampai dibentuk,” sambung dia.

Karena itu, untuk membuat kerajinan itu tak bisa dilakukan sendiri. Butuh sekitar lima sampai delapan orang. Milik Jumali, di dibantu empat orang pekerja. “Semakin banyak yang kerja maka bisa cepat selesai dan buatnya juga bisa banyak,” papar lelaki kelahiran Jombang 1968 ini.

Meski masih banyak dikerjakan secara manual, lanjut bapak satu anak ini, beberapa perajin lainnya sudah mulai bergerak menggunakan mesin. Di wilayah setempat saat ini ada satu yang memakai mesin. “Lebih banyak manual, mesin hanya satu orang. Soalnya kalau pakai mesin butuh biaya besar, alatnya saja sekitar Rp 15 juta-an,” sebut Jumali.

Sembari membentuk motif pada gagang sabit, diakui meski jumlah perajin masih banyak, mereka tak beraktivitas setiap hari. Hanya ketika ada pesanan. “Tergantung pesanan, kalau ada pesanan ya kita buat. Kadang-kadang hanya dua atau tiga hari kemudian libur,” papar dia. Untuk bahan baku besi dan baja para perajin biasanya membeli di Pasar Tunggorono.

Begitu juga dengan alat pertanian yang dibuat, rata-rata para perajin hanya membuat sabit saja. “Memang tidak ada yang khusus  cangkul atau alat tertentu. Yang paling banyak sabit,”’ beber Jumali.

Pasarannya juga sudah beredar keluar Jombang. Menurut dia, rata-rata perajin sudah punya pasaran sendiri. “Kalau saya biasanya kirim ke Ngoro, biasanya nanti dari sana akan dijual lagi. Terkadang ke Jawa Barat kadang keluar pulau seperti Kalimantan,” urai dia.

Harga satu sabit kata dia, juga tergantung bentuk dan ukuran. “Rp 25 ribu harga grosir, kalau ke konsumen langsung sekitar Rp 40 ribu. Sebenarnya semua tergantung ukuran, karena ada yang kecil ada pula yang besar,” pungkas Jumali. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

admin

Di Dusun Ngepeh; Masjid, Gereja, dan Pura Hanya Berjarak 100 Meter

JOMBANG – Masjid Quba’ yang berada di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, mencerminkan kerukunan antar umat beragama. Tak jelas sejak kapan masjid ini berdiri. Namun masjid yang pernah direnovasi 1983 ini berdekatan dengan gereja dan pura.

Jaraknya, hanya kurang lebih 100 meter. Meski dekat, umat beragama di tiga tempat ibadah ini tak pernah ribut apalagi terlibat konflik atas nama agama. Mayoritas bisa mengayomi minoritas, sebaliknya yang minoritas mampu menghormati mayoritas. Hal ini menjadi tradisi masyarakat Ngepeh turun temurun.

Kepala Dusun Ngepeh, Sungkono mengatakan, di dusun yang ia mimpin memang terdapat tiga umat beragama yaitu Islam, Kristen, dan Hindu. Menurutnya, sejak lama tiga umat beragama ini mampu tumbuh dan hidup dengan sangat toleran. “Jaman nenek moyang, tiga agama ini sudah ada di Ngepeh. Tidak tahu ceritanya dulu bagaimana kok bisa hidup bersama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, sore kemarin (24/1).

Kerukunan umat beragama di Dusun Ngepeh menurut Sungkono juga sangat kuat, meski ada beberapa peristiwa konflik atas nama agama yang terjadi di Indonesia. “Saat terjadi peristiwa 98 pun, masyarakat Dusun Ngepeh tidak terpengaruh. Begitu juga dengan peristiwa SARA lainnya, disini tetap hidup rukun dan damai,” lanjutnya.

Sementara jumlah penduduk di Dusun Ngepeh kurang lebih 1.500 jiwa. Untuk masyarakat yang beragama Kristen, terdapat kurang lebih 80 jiwa. Sedangkan yang beragama Hindu terdapat kurang lebih 60 jiwa. Sisanya adalah masyarakat Muslim. “Mereka yang Kristen atau Hindu, tak pernah merasa terganggu dengan speaker (pengeras suara, Red) masjid. Warga muslim juga tak pernah risih dengan adanya kebaktian di gereja dan sembahyang di pura,” imbuh Sungkono.

Bahkan dalam urusan makam pun, umat Islam dan Kristen di Dusun Ngepeh ini sepakat menggunakan satu lahan. “Makam satu lokasi, tidak ada perbedaan antara Islam dan Kristen. Ketika ada warga Kristen meninggal, warga Islam juga ikut mengantarkan ke makam. Ini sudah tradisi di dusun kami,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

 

admin

Perajin Berkurang, Aktivitas Anyaman Tampah di Desa Rejoslamet Meredup

JOMBANG – Kerajinan tampah di Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno terus meredup. Pasalnya jumlah perajin saat ini sangat berkurang.

Meski sampai sekarang masih dikenal menjadi sentra pembuatan tampah di Jombang, dalam perjalanannya kerajinan berbahan dasar bambu itu kini mulai berangsur pudar. Warga setempat sudah sangat jarang membuat kerajinan itu.

Sahar salah satu perajin yang masih bertahan, mengatakan, kerajinan tampah itu merupakan keterampilan turun-temurun dari orang tuanya dulu. “Mulai kapan sudah lupa, tidak hafal tahun berapa,” kata Sahar.

Sembari jari-jemarinya membuat bagian lingkaran tampah yang dia ingat pertama kali membuat tampah ketika masih berusia belasan tahun. “Waktu itu masih sekolah SR (Sekolah Rakyat, Red) orang tua dulu yang ngajari,” imbuh dia.

Menurut lelaki usia 74 tahun ini, dulunya kerajinan itu cukup berkembang. Hampir setiap rumah warga membuat tampah. “Sekarang tinggal yang tua-tua saja yang buat, mungkin hanya 15 orang,” sebut Sahar.

Memang rata-rata warga setempat saat ini lebih banyak beralih menekuni kerajinan pembuatan dompet dan tas. Sebab masih menurut Sahar, hampir seluruh perajin tampah adalah warga yang berusia lanjut. “Kalau anak muda sudah jarang, lari ke dompet semua,” sambung bapak satu anak ini.

Karena makin berkurang, untuk mengerjakan seluruh tampah juga tak dilakukan di rumah. Milik Sahar misalnya, untuk anyaman diburuhkan ke wilayah Mojowarno. Sedangkan dia hanya mengerjakan bagian lingkaran tampah.

Faktor usia yang membuat dia memilih memburuhkan anyaman untuk tampah itu. Karena tak dikerjakan di satu lokasi, dia kadang-kadang menunda pengiriman. “Ini tadi sudah dibel suruh ngirim ke Pasar Mojoagung, tapi tidak bisa. Belum selesai semua, saya carikan ya tidak ada, sudah jarang yang buat,” papar dia.

Ya, para perajin sudah mempunyai pasar sendiri dan pelanggan. Sahar biasanya mengirim tampah buatannya ke Pasar Mojoagung. “Kalau sudah jadi semua biasanya kirim sampai 120 tampah, terkadang kirim sejadi-jadinya,” sebut Sahar.

Harganya rata-rata dijual ke konsumen antara Rp 12.000- Rp 15.000 per satu tampah. Sedangkan ke pelanggannya atau tengkulak di Pasar Mojoagung Rp 8.000. Bambu yang dipakai juga bambu jawa, didapat dari wilayah Kecamatan Mojoagung dan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.

Satu lonjor bambu biasanya bisa menghasilkan sekitar 16 tampah. “Harus bambu jawa, kalau nggak hasilnya kurang bagus. Satu lonjor terkadang 80 ribu sampai 100 ribu,” pungkas dia menyebutkan. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

 

admin

Kabupaten Jombang Juara Umum di Kejuaraan Sepatu Roda se Jawa-Bali

JOMBANG – Kabar menggembirakan datang dari tim sepatu roda Kabupaten Jombang, yang mengikuti Kejuaraan Sepatu Roda se Jawa-Bali di Kabupaten Banyuwangi sejak Sabtu (19/1) hingga kemarin (20/1). Dalam kejuaraan ini, tim sepatu roda Kabupaten Jombang menjadi juara umum dengan raihan lima medali emas, dua medali perak, dan empat medali perunggu.

Hasil ini direspons Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Kabupaten Jombang dengan sangat positif. “Prestasi ini setimpal dengan usaha para atlet. Karena saat liburan kemarin, semua melakukan latihan dengan maksimal untuk mempersiapkan diri ikut kejuaraan ini,” ungkap Ketua Porserosi Jombang Sutrisno, kemarin.

Ia menilai, pemusatan latihan yang diikuti para atlet sepatu roda selama sebulan terakhir memang cukup berat. “Anak-anak betul-betul maksimal di kejuaraan ini. Atlet lawan yang lebih diunggulkan meraih medali emas, malah berhasil dikalahkan. Sehingga kita bisa menjadi juara umum,” lanjutnya.

Sutrisno menambahkan, juara umum sebenarnya bukan target utama. Hanya saja ia berharap jika atlet roda bisa bermain maksimal di kejuaraan ini, pengalaman bertanding sebelum mengikuti Porprov 2019 akan banyak didapat. “Selain itu juga untuk mengasah mental di kejuaraan antar provinsi,” imbuhnya.

Kabupaten Jombang sendiri hanya mengirim tujuh atlet sepatu roda dalam kejuaraan se Jawa-Bali tersebut. Sutrisno mengatakan, rencana awal memang delapan atlet sepatu roda. Hanya saja, satu atlet sepatu roda lainnya masih kelas 6 SD.

Sehingga pihak Perserosi sengaja tidak mengikutkan atlet tersebut, agar bisa fokus menghadapi ujian sekolah yang sebentar lagi berlangsung. “Yang satu kelas enam, biar dia aktif sekolah dulu. Nanti lain waktu bisa ikut kejuaraan lagi,” pungkasnya. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

 

admin

Dompet Rejosalamet; Ada Sejak 1984, Dirintis Keluarga Kepala Desa

OMBANG – Industri rumahan yang memproduksi dompet di Kabupaten Jombang cukup banyak. Namun yang paling banyak ditemukan, adalah di Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno.

Kawasan ini sudah lama dikenal sebagai sentra industri dompet dan tas. Maka tak heran ketika bertandang ke sana, banyak menjumpai rumah penduduk menjadi tempat produksi. Mulai dari depan hingga dalam rumah lebih banyak dijumpai aktivitas pembuatan dompet maupun tas.

Salah satunya milik Imam Ghozali. Dia mengaku sudah sejak puluhan tahun lalu menekuni usaha itu. “Saya sendiri ini mulai sekitar 1995-an,” kata dia kemarin (20/1).

Dia kemudian menceritakan, kerajinan dengan bahan dasar kain CCI (bahan menyerupai kulit asli) itu sudah ada sejak kisaran 1984. “Awalnya dulu itu keluarga Pak Kades yang mulai merintis. Waktu itu cuma keluarga mereka saja,” tutur dia.

Singkat cerita, seiring berjalannya waktu, industri itu kemudian berkembang pesat. Hingga pada 1992-1995 hampir seluruh warga dusun setempat menekuni kerajinan itu. “Jadi yang sekarang perajin dulu itu rata-rata pernah bekerja di sana. Kemudian mengembangkan sendiri,” imbuh Rojali sapaan akrabnya.

Rojali sendiri awalnya hanya pekerja. Lantas membuka usaha sendiri. Sekarang ada ratusan perajin yang menyebar. Itu pun mayoritas berada di Dusun Grogolan. “Sekarang itu jumlahnya satu dusun 100 orang lebih dari sekitar 300 KK. Rata-rata yang sekarang memang anak-anak muda,” sambung lelaki usia 39 tahun.

Menurut bapak satu anak ini, tidak ada perajin khusus yang mengerjakan dengan model tertentu. Hampir seluruh perajin mengerjakan dengan model yang hampir sama. 

Begitu pula dengan tas, ukuran dan modelnya juga rata-rata mengikuti tren. “Jadi semua tergantung keinginan yang buat. Pokoknya apa yang lagi tenar sekarang itu yang kita buat,” sambung Ketua KUB (Kelompok Usaha Bersama) Sumber Rejeki ini. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

 

admin

Gentong Antik Mojotrisno Tembus Pasar Dalam Negeri dan Mancanegara

OMBANG – Salah satu produk kerajinan tangan yang sudah menjadi salah satu ikon kebanggan Kabupaten Jombang adalah kerajinan gentong antik atau jambangan di Dusun Sanan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung.

Tak-tanggung-tanggung, produk gentong antik hasil polesan tangan kreatif Tiyamun, 69, sudah tersebar di berbagai belahan negara di dunia, lantaran memiliki nilai seni yang tinggi. ”Mbah sering dapat pesanan dari turis, ada dari Australia, Myanmar, dan beberapa negara lainnya,”  terang Tiyamun.

Tidak hanya peminat dari mancanegara, produk-produk gentong antik buatan Tiyamun juga banyak tersebar di wilayah  kota di Indonesia. ”Ada yang pesan dari Kalimantan, Sumatera, serta sejumlah provinsi lainnya. Kalau untuk wilayah Jawa, hampir merata, mulai pemesan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta. Apalagi Jawa Timur apalagi, saking banyaknya sampai tidak ingat,” imbuhnya.

Dirinya pun tidak ingat berapa jumlah gentong antik yang sudah dihasilkan, termasuk jenis dan modelnya. ”Kadang-kadang kirim satu truk besar, itu beragam modelnya, jenisnya termasuk ukurannya,” terangnya.

Produk-produk gentong hasil buatan Tiyamun bisa dimanfaatkan beragam. ”Umumnya dibuat hiasan di taman-taman, hotel, kawasan wisata, perkantoran serta banyak contoh lainnya,” bebernya.

Tidak jarang dirinya menerima pesanan beragam jenis gentong dari pihak pengelola museum di Mojokerto. ”Sering orang museum ke sini minta dibuatkan gentong, di museum sana, kemarin juga barus pesan beberapa gentong, sudah selesai,” bebernya.

Di usianya yang sekarang ini sudah menginjak hampir 70 tahun, setiap harinya Tiyamun masih terus bersemangat membuat gentong antik. ”Tiap hari Mbah Mun kerjaannya ya membuat gentong, ada atau tidak yang memesan, Mbah Mun tetap buat senang membuat gentong,” singkatnya. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

 

 

admin