Jombang – Feri Khoirul Arif, 28, warga Dusun/Desa/Kecamatan Jombang mampu menyulap triplek bekas menjadi barang bernilai jual. Seperti menjadi miniatur kendaraan. Saat Jawa Pos Radar Jombang mengunjungi rumahnya di gang kecil di belakang bekas stasiun Jombang Kota, Feri tengah sibuk dengan kayu-kayu di tangannya.
Berbentuk balok memanjang, kayu-kayu ini terlihat telah berbentuk menyerupai kereta api, lengkap dengan sinyal dan rel di bagian bawah keretanya. “Ini memang sedang menyelesaikan miniatur, untuk jenis kereta api modern,” terangnya.
Ya, selama tiga tahun terakhir, ia memang sibuk dengan kegiatan pembuatan miniatur kendaraan. Mulai dari truk trailer, truk kontainer, mobil dinas kepolisian, kereta hingga kendaraan tempur diproduksinya setiap hari. “Prinsipnya semua kendaraan bisa, cuma setahun terakhir ini yang lebih banyak pemesannya memang yang kereta api ini,” lanjutnya.
Berbagai bentuk kereta api pernah dibuatnya, mulai bentuk kereta kuno yang masih berbahan bakar kayu bakar, kereta uap hingga kereta modern dengan jalur listrik pernah dibuatnya. “Yang paling rumit itu kereta kuno, karena detailnya banyak, kalau modern biasanya lebih cepat, simpel bentuknya,” tambahnya.
Bahan utama dari miniaturnya ini adalah triplek. Feri menyebut triplek yang digunakan adalah triplek bekas. Ia biasa mendapatkan triplek ini dari beberapa proyek pembangunan rumah hingga proyek lain. “Ya kebanyakan triplek tidak terpakai, kecuali kalau sudah benar-benar tidak ada, saya mencari ke toko,” imbuh bapak satu anak ini.
Dipasarkan ke beberapa kota di Jawa Timur hingga Jawa Barat, produk buatannya ini dipatok dengan harga yang sepadan. Sebuah miniatur biasanya dihargai mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta tergantung bentuk dan ukuran miniatur. “Penjualan selama ini paling banyak di Bandung, Madiun, Jawa tengah beberapa, kalau di Jombang malah belum pernah ada yang pesan ini,” pungkas Feri.
Kendati dibuat dengan material sederhana, minatur buatan Feri bisa memiliki nilai jual tinggi. Hal ini tak lepas dari detail replika dan asesoris yang ia buat. “Ya, sampai detail terkecil harus lengkap, misal untuk kereta, jendela terkecil harus muncul di situ, asesoris sinyal juga harus dibuat semirip mungkin dengan aslinya,” ucapnya.
Detail ini disebutnya dimulai dari pembacaan gambar, pemesan miniatur, biasanya akan mengirimkan gambar kendaraan yang ingin dibuat. Feri, lantas mencari detail tiap sudut kendaraan itu untuk memastikan seluruh bodi kendaraan bisa terlihat.
“Setelah itu baru diukur skalanya, jadi biar berimbang dengan aslinya, karena miniatur dan mainan kan jadi beda karena presisi skalanya. Setelah itu ketemu baru digambar pola di triplek dan dipotong sampai disusun,” imbuh Feri.
Proses pewarnaan juga jadi hal yang menentukan kualitas miniatur ini. Pemilihan cat yang sesuai dan sama, dan pengerjaan yang halus membuat miniatur buatannya nyaris tampak tak terbuat dari kayu. “Jadi seperti barakuda kemarin itu kelihatannya besi kalau dilihat, padahal dari kayu, begitu juga miniatur kereta ini,” imbuhnya.
Karena pekerjaan yang detil ini pula, pembuatan miniatur kendaraan ini tak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Untuk satu kendaraan, Feri menyebut butuh waktu hingga sepekan sampai benar-benar jadi dan bisa dikirim. “Karena tidak ada pekerja, saya kerjakan sendiri, sama seluruh pekerjaannya juga manual,” pungkasnya. (*)
(jo/riz/mar/JPR)
Photo courtesy: Radar Jombang
Article courtesy: Radar Jombang
Jombang – Meski lebaran masih jauh, tapi pernak perniknya disiapkan sejak sekarang. Salah satunya angpao dari kain flanel. “Pengalaman tahun lalu sangat kuwalahan, permintaan sangat banyak, sedangkan tenaganya kurang, karena angpao flanel banyak disukai anak-anak jadi banyak yang cari,” ungkap Ike, warga Plandi Jombang kemarin.
Ia menyiapkan angpao sejak sekarang, pasalnya tahun lalu ia sempat kewalahan dengan pesanan pelanggan. Apalagi pelanggan yang meminta bentuk sesuai keinginannya. Itu tidak bisa dikerjakan dalam waktu mendadak. “Ini antisipasi kalau ada yang custom, karena biasanya kalau dari saya bentuk dan jumlah yang didapat perlusin ya sudah paten. Tapi bisa pesan, kalau tidak mendadak,” tambahnya.
Membuat angpao dari kain flanel memang terlihat mudah, namun butuh keuletan untuk mengerjakannya. Pasalnya, masing-masing angpao harus dikerjakan manual satu per satu, tidak bisa langsung dalam jumlah banyak.
Angpao flanel sekarang menjadi barang yang banyak diburu saat musim lebaran. Awal angpao flanel mulai ramai, bentuknya masih sederhana, dengan bentuk gulungan flanel yang kemudian dihiasi dengan warna lain, sehingga membentuk sebuah jajanan astor kecil.
Tapi kini bentuk angpao flanel sudah semakin beragam. Mulai dari dompet kecil, hingga gelang tangan dengan berbagai karakter. “Justru sekarang yang tidak laku itu yang bentuk lama, sekarang yang banyak dicari bentuk gelang dan dompet, tahun lalu saya masih bikin bentuk astor, malah susah lakunya,” kata ibu satu anak ini.
Banyak karakter yang dijadikan motif angpao, mulai boneka hingga bunga-bunga. Dimulai dari memotong warna dasar angpao. Kemudian dua sisi dijahit menjadi satu. Jahit juga manual menggunakan jarum dan benang, tidak dengan jahit mesin. Ike menjahitnya dengan pola jahit tusuk feston. Untuk membentuk jahitan yang rapi dan kuat.
Setelah itu, ike juga harus memotong karakter yang diinginkan. Sebelumnya ia sudah membuat contoh dari kertas, yang kemudian digambar di atas kain flanel kemudian baru dipotong manual.
Setelah semua dipotong, bagian dari karakter tersebut ditempel satu per satu pada bentuk dasar dengan menggunakan lem tembak. “Kadang menambahkan sedikit motif dengan jahitan, misalnya membuat kumis kucing, atau garis-garis wortel,” tambahnya.
Untuk bentuk gelang, ia harus menambahkan perekat dan mengisi karakter dengan dakron. “Kalau ini lama, karakternya tidak ditempel tapi dijahit, kemudian ditambah dakron lalu dijahit lagi, ini sedikit lama karena prosesnya panjang,” imbuhnya.
Selain membuat angpao, ia juga membuat kreasi bentuk lain, yaitu gantungan kunci, bando, hingga tempat pensil dari kaleng bekas rokok dan alat peraga edukasi. Semua menggunakan kain flanel.
Ia menjual kreasinya dengan berbagai harga. Harga jualnya relatif murah, mulai belasan ribu untuk angpao flanel, hingga puluhan ribu untuk alat peraga edukasinya. “Peraga edukasi Rp 55 ribu sampai Rp 65 ribu, tergantung bentuknya,” jelasnya.
Ike lebih banyak menjual produknya secara online. Melalui marketplace juga media sosial. Selain Jawa Timur saja, pelanggan setia angpao flanel buatannya juga ada yang dari wilayah Aceh dan juga Kalimantan. “Jawa Barat juga banyak,” pungkasnya. (*)
(jo/wen/mar/JPR)
Photo courtesy: Radar Jombang
Article courtesy: Radar Jombang
Jombang –
– Beragam miniatur dari bahan bekas dihasilkan dari tangan kreatif Fatkhurrohan, 23, warga Dusun/Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto. Dari pria ini puluhan miniatur vespa hingga truk dibuat dengan bahan kaleng minuman yang tak terpakai.
Miniatur yang sudah jadi diletakkan berjajar di atas sebuah rak yang terpasang di tembok ruangan depan rumahnya. Ada puluhan miniatur di sini, dan seluruhnya berbahan kaleng. “Kalau bentuknya sementara masih dua saja, vespa sama truk kontainer,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (29/12).
Membuat miniatur kendaraan, disebutnya bukan hal yang sulit bagi dirinya. Diawali dari mencari kaleng bekas dari pengepu, rongsokan, Fatkhur, biasa mencari kaleng ini pada tetangganya yang punya bisnis pengepul rosok.

Proses pembuatan miniatur kendaraan yang memanfaatkan kaleng bekas minuman. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)
“Ya beli, biasanya satu kilogram itu Rp. 12 ribu, itu sudah dapat banyak, tapi mencarinya ini harus yang satu jenis, juga harus masih utuh, tidak boleh yang penyok, apalagi kalau buat truk, kan warnanya harus sama,” lanjutnya.
Setelah itu, kaleng-kaleng ini akan dipotong bagian atas dan bawahnya hingga membentuk lembaran. Kaleng yang sudah lembaran ini kemudian dibentuk sesuai pola yang sudah disiapkan, setelah itu disatukan dengan lem. “Kalau vespa itu biasanya butuh tujuh kaleng, kalau truk lebih sedikit bahannya,” rincinya.
Setelah selesai dan membentuk kerangka mobil, bagian-bagian yang sudah dibuat baru dirakit dan dipoles, untuk miniatur truk, Fatkhur menyebut prosesnya akan lebih cepat daripada miniatur vespa. “Kalau truk kan tinggal mencocokkan polanya saja, sehari jadi, kalau vespa ini kan harus dicat dulu, biasanya dua hari jadinya, kalau tidak ada matahari bisa lebih lama jadinya,” tambahnya.
Ia biasa menjual miniaturnya ini seharga Rp 70 ribu untuk miniatur truk, dan Rp 100 ribu untuk miniatur vespa. “Kalau sampai sekarang penjualannya selain di Jombang juga sudah sampai Medan, Jakarta dan beberapa wilayah lain,” imbuhnya.
Bagi Fatkhurrohman, membuat miniatur memang bisa disebut iseng-iseng berhadiah. Produksinya inipun hingga kini masih tergantung dengan pesanan yang masuk. Dan pemasaran hanya dilakukan secara online.
Usaha ini, disebutnya sudah ditekuninya sejak setahun terakhir, berawal dari niatnya yang ingin membuatkan mainan untuk anaknya dengan bahan baku murah. Berbekal melihat beberapa tutorial di laman online, ia kemudian mencoba membuat miniatur truk kontainer.
“Waktu itu coba bikin truk awalnya, saya kreasikan pakai lampu juga, ada juga yang bisa di-remote control, terus bikin vespa juga, setelah itu saya posting di facebook,” imbuhnya.
Tak disangka, postingan itu banyak dilirik orang, bahkan beberapa diantaranya ikut memesan miniatur ini. Ia pun mulai kebanjiran pesanan, puluhan miniatur kemudian harus ia buat setelah makin banyak pemesan. “Ya buat memang kalau ada pesanan saja buatnya, mau bentuknya bagaimana atau diberi ornamen apa bisa saya buatkan,” lanjutnya.
Sementara untuk pemesanan, ia mengaku hingga kini masih mengandalkan sistem online, lantaran ia belum punya lapak atau tempat berdagang selain di rumahnya. “Ya kalau mau lihat bisa datang, tapi paling banyak masih di online mas,” pungkasnya. (*)
(jo/riz/mar/JPR)
Photo courtesy: Radar Jombang
Article courtesy: Radar Jombang
Pada hari Sabtu, 28 Desember 2019 yang lalu, Njombangan berkesempatan untuk mengundang para pemenang Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) edisi tahun 2019 di Rumah Makan Zam-zam, Diwek. Acara diawali dengan makan bersama dan perkenalan diri. Setelah itu kegiatan dibuka langsung oleh ketua sekaligus founder Njombangan. Ia memberikan sambutan singkat dan berbagi informasi seputar program-program Njombangan seperti Lomba parikan, Njombangan Menari, Njombangan Berbagi Sembako pada bulan Ramadhan, Njombangan Giveaway, Njombangan Challenge, dll. Kemudian, acara dilanjutkan dengan ice breaking untuk lebih mengenal satu sama lain.
Selain para sukarelawan Njombangan, acara ini juga dihadiri oleh seluruh pemenang lomba yang terdiri dari juara 1,2,3 dan harapan 1,2, dan 3. Mereka secara bergantian menyampaikan pendangan dan pendapatnya dalam bentuk tulisan singkat tersebut. Pada siang hari itu, Mas Johar sebagai pendiri Njombangan menyerahkan piala dan hadiah uang tunai secara langsung kepada seluruh pemenang. Pada kesempatan itu, kami juga menyerahkan hadiah kepada pemenang parikan edisi bulan November 2019.
Namun, sebelum dilakukan penyerahan hadiah, seluruh pemenang diminta untuk menceritakan isi esai yang telah dibuat dan dikirimkan pada perlombaan ini. Tema yang kami angkat pada LEPEN 2019 adalah yaitu “Mewujudkan Jombang sebagai Kota Toleransi melalui Pemanfaatan Teknologi, Kolaborasi, dan Partisipasi Berbagai Pihak”. Toleransi dipilih mengingat Jombang memiliki banyak tokoh yang memperjuangkan hal ini seperti Gus Dur, Cak Nun, dan Cak Nur.
Selain melalui LEPEN, Njombangan juga memberikan sumbangsih lain terhadap penetapan Jombang sebagai The Most Harmonious City di ASEAN dengan cara membuat lagu. Lagu ini diberi judul ‘Jombang Kota Toleransi’.
Pada akhir acara, Njombangan melakukan sosialisasi LEPEN tahun 2020. Lalu, sebagai penutup, kami melakukan sesi foto secara bersama seluruh crew Njombangan dan pemenang. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh peserta yang telah berpatisipasi dan selamat kepada seluruh pemenang!
Jombang – Perayaan natal 2019 di GKJW Mojowarno kemarin pagi terlihat beda. Ribuan jemaat tumplek blek mengikuti rangkaian kebaktian sejak pagi, memakai kebaya dan diiringi musik gamelan sebagai bentuk melestarikan uri-uri budaya. Bahkan, bahasa pengantar yang disampaikan pendeta Muryo Jayadi gunakan Bahasa Jawa.
”Gereja kita ini Gereja Kriten Jawi Wetan dimana kita tetap melakukan kegiatan ibadah namun tidak meninggalkan tradisi,” ujar Rudy Prasetyoati, ketua panitia kemarin. Sehingga, semua prosesi kebaktian dikemas dengan tradisi Jawa. Mulai dari musik, pakaian, iringan lagu hingga bahasa yang digunakan.
”Seperti saat kita membawakan lagu pujian kidung pasamuan, kita juga menggunakan Bahasa Jawa, meskipun bisa gunakan Bahasa Indonesia,” tambahnya. Meski begitu, ia tak menampik jika kesulitan melatih generasi muda yang mau melestarikan budaya Jawa.
Terutama dalam memainkan musim gamelan yang butuh lebih dari satu jemaat. ”Sehingga dalam momen ini kita juga ingin mengenalkan ke generasi muda,” jelas dia. Total jemaat yang mengikuti kegiatan kebaktian kemarin 2.400 orang dari berbagai desa sekitar Kecamatan Mojowarno dan Kecamatan Bareng.
Diantaranya ada 40 remaja yang mengikuti kegiatan sidhi atau pengakuan iman seorang dari masa remaja ke dewasa. ”Harapannya bisa membangun rasa persauadaraan, persahabatan, kepada semua orang karena hidup itu tidak boleh memilih teman,” pungkasnya. (*)
(jo/ang/mar/JPR)
Photo courtesy: Radar Jombang
Article courtesy: Radar Jombang
Keluarga Besar Njombangan mengucapkan selamat dan apresiasi kepada para pemenang LEPEN 2019 sebagai berikut:
Juara 1
Hasri Maghfirotinns: Mewujudkan Wisata Toleransi di Jombang
Juara 2
Ananda Gilang Ismoyo: Bhinneka Jombang Comunity sebagai Wujud Jombang Kota Toleransi pada Era Revolusi Industri 4.0 Sekaligus Wadah Kolaborasi dan Partisipasi Berbagai Pihak
Juara 3
Putri Maydi: Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Jombang sebagai Kota Pluralisme
Juara Harapan 1
Fariz Ilham Rosyidis: Masyarakat Ijo – Abang dalam Kepungan Toleransi
Juara Harapan 2
Stella Rosita: Membangun Toleransi dalam Kerangka Disabilitas
Juara Harapan 3
Syamsul Maarif: Penerapan Nilai-Nilai Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari sebagai Kunci Keharmonisan Kehidupan Warga Jombang
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah ikut serta dalam lomba ini. Kami senang bisa mendengar aspirasi dari teman-teman semuanya. Semoga ide dan pemikiran ini bisa sampai, didengar dan diimplementasikan oleh pihak-pihak terkait.
Penyerahan Hadiah
Seluruh pemenang berhak atas hadiah berupa uang tunai, piala, sertifikat, dan merchandise menarik.
Acara akan dilakukan pada Sabtu, 28 Desember 2019 di Restoran Zam Zam Jombang mulai pukul 14.00 WIB – selesai.
Acara mencakup makan siang bersama, sharing session, chit-chat, foto bersama, penyerahan hadiah
Semua peserta – non pemenang juga berhak untuk mendapatkan sertifikat peserta – e-certificate yang dikirimkan ke e-mail masing-masing.
Buku Kompilasi Esai Pembangunan Njombangan 2019
Njombangan juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dalam bentuk Buku Kompilasi Esai Pembangunan Njombangan 2019. Buku ini berupa e-book yang berisi kumpulan esai peserta lomba. Perlu diketahui bahwa Njombangan telah melakukan review dan revisi esai tanpa mengurangi inti dari isi esai tersebut.
Buku ini bisa di-download oleh siapa saja secara gratis dan menjadi bacaan atau referensi bagi semua orang.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta mendukung terselenggaranya lomba ini. Sampai jumpa di LEPEN 2020!
Kontak Informasi
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi Intan – +62 857-8574-4023
njombangan@gmail.com
Jombang, Radar Jombang – Keterbatasan fisik tak membuat Slamet Hari Budiyono, difabel asal Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang, putus asa dalam menjalani hidup. Belajar secara otodidak, Slamet kini sukses menjadi pengusaha sarung keris. Bahkan dalam bulan Suro tahun ini, pesanan sarung keris buatan Slamet meningkat.
”Saya membuat warangka sejak 1982,” ujar dia ditemui Jawa Pos Radar Jombang kemarin (1/9). Pria kelahiran Jombang 12 Januari 1960 ini mengalami lumpuh kaki karena terserang polio sewaktu masih kecil. Akhirnya, seumur hidupnya dia menggunakan bantuan kruk dan gledhekan untuk berjalan.
Kendati demikian, tak pernah membuatnya patah semangat. ”Ya memang begini keadaannya. Harus tetap bersyukur,” sambungnya. Membuat warangka keris merupakan satu-satunya keahlian untuk meneruskan hidup. Sebab, di zaman sekarang ijasah SD tak akan laku untuk melamar pekerjaan. Apalagi kondisinya yang tak memungkinkan untuk bekerja ekstra.
”Saya dulu suka koleksi barang-barang antik. Termasuk keris dan pusaka,” tutur dia. Namun, setelah mengetahui harga warangka cukup mahal diapun belajar secara otodidak dari kayu sonokeling. Untuk belajar membuat warangka, dia menghabiskan waktu sekitar empat bulan. ”Setelah saya tekuni ternyata ada yang pesan. Bahkan, lumayan ada yang mencari saya untuk membuat warangka,” sambung dia.
Hampir 37 tahun menggeluti kerajinan warangka, nama Slamet kini terus dikenal. Pelanggannya tidak hanya dari Jombang, juga dari Tuban, Kediri, Gresik, Surabaya dan daerah lain juga sering mendatanginya. Harga yang ditawarkan juga bersaing, mulai Rp 100 ribu dengan ukuran yang paling kecil hingga Rp 500 ribu dengan balutan kuningan.
”Harganya tergantung model. Kalau yang standar begini Rp 300 ribu,” jelas dia. Untuk membuat warangka keris, tidak sembarang kayu bisa dipakai. Hanya beberapa kayu yang memiliki kualitas bagus untuk membuat warangka misalnya sonokeling, timongo dan kemuning. ”Sebab kayu ini ringan tapi kuat,” jelas dia.
Memasuki bulan Suro seperti ini, diakui untuk pesanan warangka mulai banyak. Sebagian masih menawar nawar harga dan sebagian lainnya sudah memesan. ”Ini saya dapat pesanan dua warangka,” tandasnya. Tidak hanya memesan warangka, khusus pelanggan tetap biasanya hanya datang untuk mereparasi warangka tersebut. ”Kalau reparasi murah, tinggal melihat apa yang diperbaiki,” pungkasnya. (ang)
(jo/ang/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
No Poverty
Oleh Ade Julandha Wiranata
Berkembangnya aplikasi transportasi di bidang dalam jaringan (daring) mulai memasuki Kabupaten Jombang. Kabar datangnya salah satu nama ojek daring sudah tersiar dan cepat menyebar di masyarakat melalui beberapa sosial media seperti Instagram, WhatsApp dan Facebook. Penulis melihat bahwa Grab adalah transportasi daring pertama yang memasuki Jombang pada awal bulan Januari 2018 lalu. Perubahan kecil mulai terjadi pada tataran konsumsi transportasi publik khususnya para pemegang gadget yang mayoritas adalah generasi milenial. Beberapa minggu kemudian mulai banyak bersliweran pengemudi sepeda motor yang menggunakan jaket Grab sebagai penanda mereka di jalanan Kabupaten Jombang. Transportasi konvensional berupa becak dan angkot lin di area Stasiun Jombang dalam observasi penulis pada setiap hari Jum’at dan Minggu di Bulan Januari 2018, menunjukkan mulai kehilangan penumpang. Sepinya penumpang transportasi konvensional pada saat itu terjadi karena masih belum terjadi gesekan dan belum adanya larangan yang mengatur pembagian tempat penjemputan. Diberitakan dari faktualnews.co pada 1 Maret 2018 bahwa konflik horizontal di Jombang pun terjadi berupa penyanderaan dua driver Grab oleh tukang becak.
Upaya peredaman konflik ini telah diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten Jombang dengan menggelar pertemuan antara pihak dari transportasi konvensional dan ojek daring Grab pada 8 Maret 2018. Hasilnya memutuskan bahwa disepakati pembagian zona penjemputan untuk daerah pusat keramaian seperti Stasiun Jombang, GOR Merdeka dan beberapa lembaga pendidikan pesantren. Selain sistem zonasi yang dipakai, diterapkan pula denda bagi ojek daring yang mengambil penumpang pada tempat yang telah menjadi konsensus. Hasil dari konsensus tersebut tidak begitu berdampak bagi pemilihan penumpang milenial atau pengguna gadget terhadap konsumsi transportasi konvensional. Observasi penulis dari Bulan Maret sampai Mei 2018 pada hari Sabtu dan Minggu, menunjukkan bahwa deretan tukang becak di Stasiun Jombang jarang mendapatkan penumpang. Hal ini juga memengaruhi tingkat konsumsi keluarga dari tukang becak yang menyebabkan penurunan konsumsi kebutuhan subsisten mereka. Sosiologi bidang pedesaan menjelaskan bahwa masyarakat kurang sejahtera selalu berupaya memenuhi kebutuhan dasar mereka seperti makan dan minum. Wawancara yang dilakukan penulis terhadap Bapak Karim salah satu tukang becak di Stasiun Jombang pada 10 Maret 2018, mengatakan bahwa mereka sering tidak mendapatkan penumpang sama sekali.
Berdasarkan permasalahan akibat kemajuan teknologi ini, penulis menawarkan sebuah konsep pendampingan dari pihak Grab kepada tukang becak berupa program CSR yang bertajuk ‘Nyayur’. ‘Nyayur’ sebagai program tanggung jawab sosial atas hadirnya sarana transportasi baru Grab terhadap transportasi konvensional untuk memberikan pelatihan dan pendampingan terhadap tukang becak di sekitar Stasiun Jombang. Modal awal berupa peralatan dan benih akan ditanggung oleh pihak Grab dan selanjutnya diteruskan oleh para tukang becak secara berkelanjutan. Program ini bertujuan untuk membantu para tukang becak dalam memenuhi salah satu kebutuhan dasar mereka yaitu konsumsi sayur. Sayur yang nantinya akan mereka tanam, konsumsi dan dijual sendiri dengan cara hidroponik atau tanpa tanah seperti kangkung, sawi hijau, buncis, tomat dan cabai. Penanaman ini memanfaatkan halaman rumah mereka sendiri yang nantinya sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga sebagai dampak dari menurunnya pendapatan mereka. Ojek daring Grab Jombang secara personal melakukan getting in atau pendekatan terhadap beberapa tukang becak untuk memberikan pancingan tawaran program ‘Nyayur’. Pihak dari Grab sebagai fasilitator akan mendampingi secara partisipatif dari proses awal pembuatan media penanaman, penanaman, hingga proses pemanenan yang dilakukan di salah satu rumah tukang becak sebagai percontohan.

Program ‘Nyayur’ diberikan bukan untuk menghapus transportasi becak di sekitar Kota Jombang, tetapi program ini sebagai upaya membantu memperbaiki pola konsumsi dan pendapatan tukang becak pasca kehadiran transportasi daring Grab. ‘Nyayur’ sebagai usaha kedua mereka di rumah dengan pembagian tugas bersama istri atau keluarga untuk perawatan seperti menyiram pasca penanaman. ‘Nyayur’ pada target pertama adalah untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi keluarga dan target terakhir adalah untuk penjualan secara bertahap. Penjualan dilakukan dengan sistem menjual ‘titip’ kepada bakul sayur rumahan. Program ‘Nyayur’ mencoba membentuk kebiasaan baru dalam mencari pendapatan lain bagi tukang becak akibat dari sepinya penumpang. Setiap tukang becak memiliki kesempatan yang sama dalam usaha penanaman hidroponik ‘Nyayur’ ini. Pihak Grab pada nantinya hanya akan melakukan monitoring setiap bulan dan melakukan evaluasi program ‘Nyayur’, serta kemudian dilakukan secara berkelanjutan oleh para tukang becak secara mandiri. Selain mencoba membangun kemandirian tukang becak untuk mengurangi kemiskinan, program ini juga bertujuan untuk mencoba mendamaikan konflik horizontal tukang becak dengan ojek daring Grab di Kota Jombang.
Jombang, Radar Jombang – Wilayah utara Brantas sejak dulu memang dikenal sebagai tempatnya kuliner ekstrim. Selain belalang, bekicot, dan katak hijau yang banyak dijual di berbagai warung. Ada pula menu kuliner ekstrim lain yaitu rica-rica biawak.
Menu ini bisa didapatkan di warung milik Sesta Linggara, 25, di Jalan Raya Kabuh-Tapen, Dusun Panemon, Desa Bakalanrayung, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Rasa utamanya adalah pedas gurih, dan tak hanya digandrungi warga utara Brantas namun juga dari luar daerah.
Biawak yang diolah menjadi rica-rica adalah dagingnya, sedangkan kulit diolah menjadi keripik. Harga makanan ini cukup terjangkau. Satu porsi rica-rica biawak ditambah nasi dan es teh, hanya Rp 20 ribu. “Daging biawak dikirim dari Ngimbang Lamongan, disana ada pengepul daging biawak yang sudah siap olah,” kata Sesta kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Setiap dua hari sekali, ia mendapat kiriman sebanyak 10 kilo daging biawak siap olah. “Jadi yang datang bukan biawak hidup, tapi sudah potongan dan siap masak. 10 kilogram itu rata-rata habis dalam dua hari,” imbuhnya. Dalam proses memasak, daging biawah diracik dengan bumbu tradisional yang kaya rempah.
“Bumbunya mulai dari bawang merah, bawang putih, serai, kunyit, daun jeruk, dan rempah lainnya,” lanjutnya. Lama memasak kurang lebih 30 menit, lumayan lama karena daging biawak harus benar-benar matang agar lunak saat dimakan. Karena dimasak rica-rica, kuahnya tak begitu banyak. Jika dilihat dari fisiknya, biawak memang terlihat menjijikkan.
Bentuk reptil penunggu sungai ini memiliki nama latin ‘Varanus Albigularis’. Sepintas agak mirip kadal, hanya saja warnanya hitam kelam dengan bintik putih. Namun meksi begitu, ternyata pelanggan rica-rica biawak cukup banyak dan beragam profesi. Mulai dari aparatur pemerintah, sopir truk, petani, hingga kalangan muda mudi.
Rica-rica biawak buatan Sesta bahkan pernah dibawa beberapa pelanggan ke Sulawesi untuk merantau. Ia sendiri menekuni usahanya kurang lebih 5 tahun lalu, bersama kedua orang tuanya. ”Dulu memang niatnya buka usaha warung, dengan menu makanan ekstrim,” imbuhnya.
Tak hanya olahan biawak, warungnya juga menjual berbagai macam olahan bekicot, katak hijau, mentok, belut, dan ikan gabus. Namun yang bertahan hingga saat ini, adalah menu olahan biawak, bekicot, dan mentok. (*)
(jo/mar/bin/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Zero Hunger
Oleh Efi Nur Tiatin
Pernahkah anda membayangkan bagaimana rasanya mendapatkan keuntungan dalam waktu yang bersamaan? Dalam peribahasa Indonesia, “sekali dayung dua pulau terlampaui”. Pembahasan kali ini akan dikhususkan untuk masyarakat yang memiliki passion dalam bidang bercocok tanam, dan untuk pemula yang masih bingung untuk mencari dan membuka peluang bisnis.
Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia mempunyai iklim tropis yang memberikan dampak luar biasa untuk para petani. Keuntungan itu berupa curah hujan yang tinggi dan penyinaran matahari sepanjang tahun. Lahan pertanian sangat memerlukan dan bergantung pada kondisi curah hujan dan penyinaran matahari. Jika kedua unsur tersebut berjalan dengan seimbang maka akan memberikan kesuburan pada lahan pertanian.
Akan tetapi dengan kondisi yang strategis, tidak menjamin akan pertanian yang ada. Banyak beras yang beredar di pasaran merupakan beras impor yang didatangkan langsung dari negara lain untuk memenuhi permintaan konsumen. Hal ini menjadi tanda tanya besar dan sebagai cambukan yang cukup keras bagi masyarakat mengenai keadaan pertanian pada saat ini. Negara yang seharusnya menjadi swasembada beras dan bisa mengekspor hasil pertaniannya, kini kondisinya harus berbalik arah.
Salah satu faktor pemicunya adalah generasi muda yang hampir tidak mau menoleh ke dunia pertanian. Mereka lebih senang bekerja di perindustrian dan di kantoran. Banyak alasan yang dikemukakan oleh mereka seperti, karena panasnya terik matahari, hasil yang didapatkan tidak begitu menjamin apalagi kalau sedang gagal panen. Mindset yang seperti itu sebenarnya harus diubah. Karena kegagalan dalam suatu usaha disebabkan oleh kekurangpekaan tehadap apa yang sedang dikerjakan. Upaya untuk mengenali objek masih sangat minim, bahkan sebagian dari mereka tidak melakukan pengenalan terlebih dahulu. Asal mereka mengerti dan mendapat iming-iming yang cukup menggiurkan, dengan gampang mereka meniru dan mengasumsikan bahwa apapun yang mereka tiru, hasilnya juga akan sama. Padahal hasil itu bergantung pada proses yang baik dan usaha yang maksimal.
Proses penanaman padi yang dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus memperhatikan cara serta prosedur yang benar. Mulai dari pemilihan bibit, persiapan lahan, penaburan benih, penggarapan lahan, penanaman, perawatan, dan memanen hasilnya. Proses pemilihan benih tidak boleh dilakukan dengan cara asal-asalan, karena dipengaruhi oleh penggunaan sumber tanam dan penggunaan lahan. Jika tidak sesuai padi kesulitan tumbuh dan hasil bibit padi tidak akan sesui harapan. Demikian pula dengan persiapan lahan. Tanah yang subur dan mengandung banyak unsur hara menjadi prioritas utama karena pertumbuhan padi dari setelah penanaman bibit hingga panen terjadi di atas lahan tersebut.
Harapan petani dari hasil tanam padi sangatlah besar. Ditambah lagi jika mata pencahariannya hanya disentralkan sebagai petani saja. Maka dari itu dalam menyiapkan penanaman padi haruslah maksimal agar hasilnya bisa sesuai target. Namun, tidak menutup kemungkinan juga jika hasil tanam tidak sesuai harapan. Perlu adanya alternaltif lain untuk menutupi kegagalan tersebut. Tujuannya supaya ketika musim panen padi berkualitas rendah, petani bisa menikmati dari hasil panen yang lainnya.
Sistem kolam lingkar bisa menjadi pilihan alternatif untuk mengoptimalkan fungsi lahan pertanian. Dalam pelaksanaan teknis, sistem ini cocok untuk musim tanam padi, karena sama-sama bergantung pada jumlah air yang tersedia. Sistem kolam lingkar merupakan pembuatan kolam di sekeliling tepi tanggul sawah yang memiliki lebar kurang lebih 1 – 1,25 m dengan kedalaman 75 – 100 cm. Adanya sistem ini, fungsi sawah untuk bercocok tanam pun masih dapat terlaksana seperti pada umumnya.
Proses pembuatan dan perawatan kolam lingkar juga tidak terlalu sulit. Bisa dikatakan mudah, karena cukup dengan menggali tanah di sekeliling tanggul sesuai ukuran yang diinginkan. Kemudian dialiri air untuk mengisi kolam sekaligus persiapan penggarapan lahan. Kolam ini akan kita jadikan untuk budidaya jenis ikan yang dapat hidup di air tawar. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah waktu ikan untuk siap panen. Sistem kolam lingkar ini berperan secara sekunder, jadi masa berlakunya harus disesuaikan dengan waktu penanaman padi hingga padi siap panen. Kegiatan penanaman padi dari penyemaian benih hingga musim panen berkisar 3,5 – 4 bulan. Otomatis jenis ikan yang akan dibudidayakan juga harus siap panen dengan waktu yang sama.
Jenis ikan yang dapat menjadi pilihan adalah ikan lele, ikan mas, ikan nila dll. Selain bibit spesies ini mudah untuk ditemukan, perawatan untuk ikan juga tergolong mudah. Cukup memberi makan tiga kali sehari. Jumlahnya menyesuaikan dengan umur ikan pada saat itu. Didukung tempat budidaya yang menyerupai dengan habitat asli, hal ini akan mempercepat dan menyempurnakan perkembangannya karena terdapat zooplankton sebagai makanan suplemen bagi ikan. Sesekali dapat diberikan vitamin agar menjaga dan menunjang pertumbuhan.
Kendala dalam menjalankan sistem kolam lingkar terletak pada ketepatan dalam penanaman bibit ikan. Jika tidak diperhitungkan dengan benar, akan menyebabkan keterlambatan dan ketidaksesuaian dalam panen padi dan ikan. Akibatnya hasil panen tidak sempurna bahkan mengalami kegagalan. Jumlah air yang tersedia juga menjadi faktor pemicu. Selain itu, yang menjadi faktor pendukung yaitu kesibukan dan aktivias lainnya. Misal pada saat musim tanam padi, seharusnya kita sudah menyiapkan untuk bibit ikan namun karena kesibukan lain yang menuntut untuk dikerjakan juga sehingga harus menunda atau mengundur penanam bibit ikan. Tapi hal itu bisa disiasati dengan pemilihan umur bibit ikan yang akan dibudidaya. Penjual bibit ikan menyediakan berbagai macam umur, tergantung minat pembeli.
Prospek ke depan dari sistem kolam lingkar ini cukup menjamin. Dalam satu kali masa panen, kita bisa mendapatkan hasil dari dua objek panen. Harapannya para petani bisa menjalankan sistem tanam lingkar sebagaimana yang sudah dipaparkan sebelumnya. Namun, tak lepas juga peran pemerintah, harus mendukung adanya program tersebut untuk memajukan kualitas pertanian di Indonesia. Upaya itu dapat diwujudkan dalam bentuk melakukan bimbingan dan penyuluhan kepada petani. Khususya petani yang masih belum bisa mengikuti kemajuan IPTEK.
Dilaksanakannya sistem kolam lingkar ini dapat memberikan dan mengembangkan pengalaman baru untuk petani. Petani bisa menyalurkan ide kreatifnya, dan memiliki daya saing yang lebih tinggi untuk persiapan menghadapi pasaran global yang kian memanas. Jika dilakukan kerja sama antara pihak masyarakat dan pemerintah, akan semakin sukses target yang ditujukan. Pemerintah akan kaya dengan potensi lokal yang terdapat di wilayahnya. Sekaligus ini dapat menopang kesejahteraan masyarakat untuk membebaskan dari kelaparan. Dengan terbukanya lapangan pekerjaan yang berpotensial, mereka dapat mencukupi kebutuhan hidup.
Kondisi Indonesia yang beriklim tropis sangat menguntungkan bagi petani. Lebih lagi Indonesia dijuluki sebagai negara agraris. Sehingga perlu ada pengembangan dan peningkatan kualitas pertanian dan potensi lokal pada wilayah tertentu. Sistem kolam lingkar merupakan alternatif untuk masyarakat dalam mengembangkan pertanian dan meningkatkan potensi lokal. Dampak lain dari sistim kolam lingkar dapat menciptakan lapangan kerja, menjalin hubungan antara masyarakat dan pemerintah, dan membuka peluang usaha baru. Secara transparan penerapan sistem ini dapat menunjang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan kekurangan yang selama ini menjadi permasalahan yang berkelanjutan.