• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Monthly ArchiveMay 2020

Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat Membangun Jombang Bertoleransi

Mamluatun Ni’mah

 

Jombang dan Perbedaan

Jombang adalah kota Santri, disebut kota Santri bukan berarti penduduknya hanya beragama Islam tetapi didalamnya terdapat agama lain yakni Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu. Perbedaan agama tidak menyurutkan arti semangat menghormati agama satu dengan agama lainnya yang sangat membutuhkan interaksi demi terwujudnya kota toleransi. Kota yang maju adalah kota yang menjadikan penduduknya tentram, harmonis, guyub dalam perbedaan dengan mewujudkan saling toleransi secara intensif. UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan kepercayaannya”[1]. Setelah kita ketahui, meskipun banyaknya perbedaan agama menyelimuti Jombang, sudah sewajarnya dalam kehidupan ini kita bisa menjaga persatuan Kota Jombang dengan cara menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama.

 

Meskipun dihuni masyarakat yang heterogen, Jombang adalah barometer kota di Indonesia yang bisa menjaga kerukunan antar umat beragama yang mayoritas masyarakatnya didominasi kaum Muslim. Tepatnya di kawasan simpang tiga Ringin Contong, Jumat (2/6/17) pagi. Tampak berkibar beberapa bendera negara-negara ASEAN yang juga pada kesempatan itu sebagai pembukaan acara ASEAN Youth Interfaith Camp yang dilaksanakan di kabupaten Jombang pada 28-30 Oktober 2017. Bupati Jombang pada waktu itu, Nyono Suharli Wihandoko sangat mengapresiasi dipilihnya kota Jombang sebagai wujud persatuan antar umat beragama yang ada di Indonesia. Ia mengungkapkan, dipilihnya kota Santri sebagai tempat penyelenggara kegiatan ASEAN Youth Interfaith Camp ini bukan tanpa alasan. Selain pembangunan toleransi antar umat beragama yang terus terjaga, juga didorong banyaknya pondok pesantren di Jombang yang mengajarkan toleransi kepada para santri dan warganya. Menurutnya, negara-negara lain nantinya dapat belajar dengan baik bagaimana membangun toleransi di Jombang. Sehingga kemudian bisa diterapkan di negara lain.[2]

 

Gambaran Umum Toleransi Jombang          

Perbedaan adalah sebuah karunia Tuhan luar biasa yang diberikan kepada Jombang. Hal ini dapat menjadikan Jombang menjadi pernak pernik dimata dunia, secara umum agama yang telah ditetapkan oleh UUD 1945 ada enam yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Jombang merupakan kota yang terletak di bagian tengah provinsi Jawa Timur. Kota ini berbatasan dengan Mojokerto disebelah timur, Nganjuk  disebelah barat, Kediri disebelah selatan. Agama yang dianut oleh penduduk kota Jombang dalah Islam 98%, penduduk Jombang juga diikuti dengan agama Kristen Protestan 1,2%, Katolik 0,3%, Budha 0,09%, Hindu 0,07% dan lainnya 0,02%.[3] Kota yang terkenal dengan kota Santri yang memiliki pondok pesantren besar misalnya Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, Darul Ulum (Rejoso), namun di kota ini juga ada gereja besar dan tertua juga yang terletak di Mojowarno bernama Gereja Kristen Jawi Wetan atau sering disebut GKJW, gereja kuno di Bongsorejo. Tidak dapat dipungkiri Jombang juga memiliki klenteng yang terkenal misalnya Boo Hway Bio di Mojoagung, Hok Liong Kiong di kecamatan Jombang dan Hong San Kiong di Gudo. Bahkan di Wonosalam, ada pemukiman yang menganut agama Hindu selalu rutin melaksanakan pawai ogoh-ogohnya yang sangat menarik. Adanya sebuah perbedaan agama tidak menyurutkan untuk toleransi. Banyak yang mengatakan bahwa Jombang adalah kota beriman dan santri yang lebih menonjol dalam agama Islam tetapi, dengan ini bukan berarti Jombang harus pecah belah menjadi kota agama Islam, menurut keyakinan sendiri-sendiri, melainkan harus bersatu dengan cara toleransi. Toleransi adalah suatu sikap yang saling menghormati antara perbedaan yang ada.

Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat Membangun Jombang Bertoleransi

Salah satu contoh bentuk toleransi di Jombang adalah di Desa Mojowarno antara agama Islam dan Kristen, di sini terdapat rumah penduduk Islam dan Kristen yang berdampingan sangat dekat, hal ini tidak menjadikan sebuah konflik yang dapat memunculkan disintegrasi. Meskipun adanya perbedaan agama, tetapi menjunjung nilai bhineka tunggal ika sungguh luar biasa, dilihat dari aktivitas kesehariannya. Setiap hari minggu selalu melaksanakan kerja bakti dengan membawa peralatan dari rumah masing-masing untuk gotong rotong membersihkan kampungnya, ada yang menyapu, membersihkan rumput, membuang sampah. Sehingga menjadi kampung yang terbersih dan semangat tenggang rasa yang bisa menjadikan Kota Jombang lebih terkenal dari pada kota lain.

 

Pada saat di kampung ada orang Kristen membangun rumah, tidak lupa juga orang Islam menyumbangkan tenaganya secara suka rela tanpa disuruh, hal ini semakin erat ikatan kekeluargaannya antara agama Islam dan Kristen. Ketika ada tetangga di kampung sedang mengalami kesusahan, reaksi warga yang ada di kampung menggalang dana dengan mengadakan bakti sosial seperti berkunjung ke setiap rumah untuk meminta sedekah setelah terkumpul semua dana tersebut di berikan kepada tetangga yang sedang mengalami kesusahan. Dalam peristiwa tersebut rasa peduli sesama umat Tuhan dan solidaritas yang tinggi pun menancap pada dada seorang penduduk di kampung tersebut.

 

Di sisi lain ketika ada orang Islam meninggal, orang Kristen juga ikut serta dalam menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan jenazah, begitu sebaliknya apabila orang Kristen meninggal, orang Islam ikut serta dalam menyiapkan kebutuhan yang diperlukan. Sehingga dalam situasi yang sulit ini menjadi lancar dan terkendali.[4] Tradisi yang tidak ketinggalan dalam orang Muslim adalah ketika bulan suci tiba, satu hari sebelum puasa mengadakan megengan [5]di setiap masjid untuk kenduri, tidak lupa juga umat Kristen ikut serta merayakan, sehingga setiap umat bisa merasakan perbedaan dalam keserasian. Dalam umat Kristen ketika merayakan malam Natal, selalu membagikan parsel kepada tetangganya termasuk umat Islam, sehingga semua bisa merasakan walaupun perbedaan itu ada tetapi keharmonisanlah yang menyatukan. Pada saat hari raya muslim umat Kristen juga ikut serta datang ke rumah penduduk Islam dengan bersilaturahmi begitu pun sebaliknya.

 

[1] UUD 1945

[2]www.muslimmoderat.net/2017/06/jombang-didapuk-kota-paling-toleran

[3]Afifah.com/KAB.JOMBANG+JAWA+TIMUR/SEJARAH+KOTA+JOMBANG

[4]Menurut Bapak Budi selaku pengurus kebutuhan dan kekurangan GKJW Mojowarno

[5]Megengan adalah sebuah tradisi kenduri dalam islam di Masjid dalam menyambut bulan ramadan