Akhirnya lomba yang kalian tunggu-tunggu hadir kembali. Melalui LEPEN 2020, Njombangan ingin menginisiasi sebuah kampanye yang didedikasikan untuk wanita dan anak-anak. Tema yang kami usung adalah “Mewujudkan masyarakat yang memiliki pemahaman, kesadaran, dan komitmen akan pemenuhan hak serta potensi wanita dan anak-anak”. Hal ini dilandasi oleh adanya data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah wanita yang sama besarnya dengan populasi pria, termasuk di wilayah Kabupaten Jombang. Sehingga, hal ini mengindikasikan pentingnya peran wanita, layaknya kaum laki-laki, untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan baik. Kontribusi ini tidak sebatas di ranah domestic atau keluarga, tapi juga domain yang lebih luas seperti lingkungan masyarakat, maupun di kancah internasional.
Selain itu, pemenuhan lingkungan yang layak dan nyaman untuk anak juga penting untuk diperhatikan. Mengingat, peradaban saat ini masih belum mampu menyediakan ruang yang ramah terhadap wanita dan anak-anak. Oleh karena itu, Njombangan berharap banyak anak muda, khususnya yang memiliki keterikatan dengan Jombang, untuk memberikan sumbangsihnya melalui lomba esai ini.
Teman-teman bisa memilih sub-tema berikut sebagai topik tulisan:
Silakan mengirimkan karya orisinil kalian melalui link berikut atau kalian juga bisa mengirimkan e-mail ke njombangan@gmail.com dengan judul LEPEN 2020_Nama. Ditunggu karya terbaiknya!
Salam,
Njombangan
Ananda Gilang Ismoyo
Latar Belakang & Permasalahan
Sebelumnya kita sudah tahu bahwa Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki pulau sebanyak 17.508. Pulau-pulau ini terdiri atas 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil. Dengan adanya bentuk kepulauan tersebut, populasi penduduk di Indonesia diperkirakan sebanyak 250 juta jiwa.
Semboyan dari Bangsa Indonesia sendiri yakni, “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Perbedaan di sini meliputi ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama, dan kepercayaan. Setidaknya Bangsa Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa, 6 agama yang diakui oleh negara, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu (Konfusius). Banyak etnis juga ada di Indonesia, seperti Melayu, China, Arab dan lain sebagainya. Perbedaan inilah yang disebut dengan keragaman, yaitu kekayaan bangsa yang penuh dengan nuansa dan variasi. Perbedaan akan semakin banyak apabila dilihat dari sisi yang lebih luas, misalnya saja dalam hal golongan, partai politik, dan organisasi. Sekarang kita sudah bisa membayangkan bagaimana keberagaman yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu, sesungguhnya keragaman bangsa ini bagaikan mozaik sebuah lukisan yang harus diterima oleh semua orang.
Tujuan Penulisan
Di Jombang sendiri terdapat 21 kecamatan yang mencakup 306 desa-desa di dalamnya. Diperkirakan jumlah penduduk Jombang pada tahun 2015 sebanyak 1.240.985 jiwa dari jumlah itu, sangat mungkin terjadi perubahan jumlah penduduk mengingat selama 4 tahun berlalu pasti banyak kasus kelahiran yang diimbangi dengan kematian. Dengan banyaknya jumlah penduduk di Jombang tersebut, tidak menutup kemungkinan terdapat perbedaan atau keragaman mulai dari keragaman suku, agama, ras, dan masih banyak lagi. Dalam keragaman inilah diperlukan toleransi bagi seluruh penduduk Jombang sendiri. Toleransi adalah sikap atau kesediaan hati untuk menerima perbedaan dalam bentuk tidak menjadikan alasan untuk bersikap bermusuhan terhadap orang atau kelompok orang yang berbeda.
Solusi & Implementasi
Selama ini Jombang dikenal sebagai kota santri atau kota seribu pesantren. Mengapa demikian ? Ya tentu sangat jelas karena di Jombang terdapat banyak pondok pesantren yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Jombang mayoritas penduduk yang tinggal beragama Islam. Dengan adanya latar belakang ini tidak menutup kemungkinan ada pihak pihak yang ingin memecah belah persatuan warga Jombang dengan menyebarkan isu hoax.
Mungkin hal ini saya perhatikan belum terjadi di Jombang tapi kita harus waspada mengingat sudah banyak kasus kasus hoax yang marak dialami di luar sana.
Untuk mengantisipasi ancaman-ancaman seperti itu warga Jombang harus bersatu dengan cara membuat satu komunitas yang di dalamnya terdapat semua kalangan warga Jombang tanpa memandang usia, gender, agama, ras guna mewujudkan kota Jombang sebagai kota toleransi.
Sebenarnya tujuan dari komunitas itu sendiri adalah menampung semua aspirasi atau saran dari semua anggota yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah program. Dengan adanya komunitas seperti ini diharapkan warga Jombang semakin memahami apa itu perbedaan dan menghargai satu sama lain. Harapannya, hal-hal yang berpotensi mengganggu kesatuan warga Jombang akan lenyap dengan sendirinya.
Saya mengusulkan konsep komunitas dengan nama Bhineka Jombang Comunity (Komunitas Bhinneka Jombang). Nama ini diambil dari semboyan Bangsa Indonesia yang merupakan patokan atau kiblat toleransi. Konsep ini melambangkan keberagaman masyarakat Jombang dari agama ras suku dan perbedaan lainnya yang dikumpulkan menjadi satu ikatan kuat ke dalam sebuah komunitas.
Untuk membentuk komunitas ini setidaknya ada 3 komponen utama yang sangat penting yaitu kesadaran, partisipasi, dan dukungan.
Dengan ketiga komponen di atas maka komunitas akan terbentuk dan berjalan dengan baik untuk menanggulangi kemungkinan adanya konflik horizontal di masyarakat Jombang. Setelah komunitas terbentuk, kemudian mulailah penyususunan visi dan misi. Visi komunitas ini sudah sangat jelas yaitu mewujudkan Jombang sebagai kota toleransi. Setelah terbentuk visi, mulailah disusun program program yang dilaksanakan supaya visi tersebut tercapai. Hal ini bisa disebut dengan misi. Misi pertama yaitu mengenalkan komunitas ini kepada masyarakat dan menjelaskan pentingnya komunitas ini untuk mewujudkan visi komunitas.
Pengenalan komunitas bisa memanfaatkan teknologi-teknologi yang sedang berkembang saat ini seperti smartphone. Kita bisa memanfaatkannya untuk membuat website tentang komunitas yang berisi profil komunitas, visi-misi, serta agenda-agenda yang menarik bagi milenial untuk berpartisipasi. Tidak hanya itu, kita juga perlu memanfaatkan media sosial untuk sharing (berbagi) melalui grup whatsapp ataupun yang lainnya.
Tetapi, promosi melalui dunia maya perlu diimbangi dengan promosi secara langsung sebab komunitas juga perlu perkumpulan rutin untuk membahas hal hal yang tidak bisa disampaikan melalui social media.
Misi yang kedua adalah mengumpulkan anggota. Setelah masyarakat, pemerintah Kabupaten Jombang mengenal Bhineka Jombang Community, selanjutnya adalah menjaring seluruh warga Jombang dari berbagai kalangan untuk bergabung menjadi anggota komunitas. Berikut adalah beberapa metode yang dapat dilakukan:
Kesimpulan & Saran
Dengan adanya komunitas diharapkan warga jombang semakin sadar akan adanya perbedaan dan semakin tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati sesama dan memicu terwujudnya Jombang sebagai kota toleransi. Semua ini juga harus diimbangi dengan majunya teknologi di era revolusi industri 4.0 ini, misalnya dengan adanya website dan lain- lain supaya komunitas tidak ketinggalan zaman.
Pada hari Sabtu, 28 Desember 2019 yang lalu, Njombangan berkesempatan untuk mengundang para pemenang Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) edisi tahun 2019 di Rumah Makan Zam-zam, Diwek. Acara diawali dengan makan bersama dan perkenalan diri. Setelah itu kegiatan dibuka langsung oleh ketua sekaligus founder Njombangan. Ia memberikan sambutan singkat dan berbagi informasi seputar program-program Njombangan seperti Lomba parikan, Njombangan Menari, Njombangan Berbagi Sembako pada bulan Ramadhan, Njombangan Giveaway, Njombangan Challenge, dll. Kemudian, acara dilanjutkan dengan ice breaking untuk lebih mengenal satu sama lain.
Selain para sukarelawan Njombangan, acara ini juga dihadiri oleh seluruh pemenang lomba yang terdiri dari juara 1,2,3 dan harapan 1,2, dan 3. Mereka secara bergantian menyampaikan pendangan dan pendapatnya dalam bentuk tulisan singkat tersebut. Pada siang hari itu, Mas Johar sebagai pendiri Njombangan menyerahkan piala dan hadiah uang tunai secara langsung kepada seluruh pemenang. Pada kesempatan itu, kami juga menyerahkan hadiah kepada pemenang parikan edisi bulan November 2019.
Namun, sebelum dilakukan penyerahan hadiah, seluruh pemenang diminta untuk menceritakan isi esai yang telah dibuat dan dikirimkan pada perlombaan ini. Tema yang kami angkat pada LEPEN 2019 adalah yaitu “Mewujudkan Jombang sebagai Kota Toleransi melalui Pemanfaatan Teknologi, Kolaborasi, dan Partisipasi Berbagai Pihak”. Toleransi dipilih mengingat Jombang memiliki banyak tokoh yang memperjuangkan hal ini seperti Gus Dur, Cak Nun, dan Cak Nur.
Selain melalui LEPEN, Njombangan juga memberikan sumbangsih lain terhadap penetapan Jombang sebagai The Most Harmonious City di ASEAN dengan cara membuat lagu. Lagu ini diberi judul ‘Jombang Kota Toleransi’.
Pada akhir acara, Njombangan melakukan sosialisasi LEPEN tahun 2020. Lalu, sebagai penutup, kami melakukan sesi foto secara bersama seluruh crew Njombangan dan pemenang. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh peserta yang telah berpatisipasi dan selamat kepada seluruh pemenang!
Keluarga Besar Njombangan mengucapkan selamat dan apresiasi kepada para pemenang LEPEN 2019 sebagai berikut:
Juara 1
Hasri Maghfirotinns: Mewujudkan Wisata Toleransi di Jombang
Juara 2
Ananda Gilang Ismoyo: Bhinneka Jombang Comunity sebagai Wujud Jombang Kota Toleransi pada Era Revolusi Industri 4.0 Sekaligus Wadah Kolaborasi dan Partisipasi Berbagai Pihak
Juara 3
Putri Maydi: Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Jombang sebagai Kota Pluralisme
Juara Harapan 1
Fariz Ilham Rosyidis: Masyarakat Ijo – Abang dalam Kepungan Toleransi
Juara Harapan 2
Stella Rosita: Membangun Toleransi dalam Kerangka Disabilitas
Juara Harapan 3
Syamsul Maarif: Penerapan Nilai-Nilai Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari sebagai Kunci Keharmonisan Kehidupan Warga Jombang
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah ikut serta dalam lomba ini. Kami senang bisa mendengar aspirasi dari teman-teman semuanya. Semoga ide dan pemikiran ini bisa sampai, didengar dan diimplementasikan oleh pihak-pihak terkait.
Penyerahan Hadiah
Seluruh pemenang berhak atas hadiah berupa uang tunai, piala, sertifikat, dan merchandise menarik.
Acara akan dilakukan pada Sabtu, 28 Desember 2019 di Restoran Zam Zam Jombang mulai pukul 14.00 WIB – selesai.
Acara mencakup makan siang bersama, sharing session, chit-chat, foto bersama, penyerahan hadiah
Semua peserta – non pemenang juga berhak untuk mendapatkan sertifikat peserta – e-certificate yang dikirimkan ke e-mail masing-masing.
Buku Kompilasi Esai Pembangunan Njombangan 2019
Njombangan juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dalam bentuk Buku Kompilasi Esai Pembangunan Njombangan 2019. Buku ini berupa e-book yang berisi kumpulan esai peserta lomba. Perlu diketahui bahwa Njombangan telah melakukan review dan revisi esai tanpa mengurangi inti dari isi esai tersebut.
Buku ini bisa di-download oleh siapa saja secara gratis dan menjadi bacaan atau referensi bagi semua orang.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta mendukung terselenggaranya lomba ini. Sampai jumpa di LEPEN 2020!
Kontak Informasi
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk menghubungi Intan – +62 857-8574-4023
njombangan@gmail.com
Latar Belakang & Tujuan
Latar Belakang
Jombang dikenal sebagai salah satu daerah yang banyak melahirkan tokoh nasional baik itu yang berkiprah di bidang pemerintahan, sosial, budaya, ekonomi bisnis, milter dan banyak bidang lainnya. Keberadaan mereka membarikan banyak kontribusi tidak hanya untuk untuk Jombang namun juga Indonesia bahkan dunia. Salah satu tokoh yang fenonemal adalah Abdurrahman Wahid atau kerab disapa Gus Dur. Presiden ke-4 Indonesia ini terkenal karena pemikirannya yang melintas batas waktu dan dimensi, progresif tentang berbagai hal terutama bidang sosial, budaya, dan kerukunan beragama. Selama menjabat sebagai presiden dan selama hidupnya, Gus Dur secara aktif mendorong adanya masyarakat yang saling memiliki pemahaman yang sama akan kehidupan, bahwa terlepas dari banyaknya perbedaan yang ada namun semuanya adalah setara atau sama. Filosofi yang sama dengan yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda namun tetap satu juga. Pemikiran ini yang kemudian mendorong dan menjadi basis atau dasar masyakarat yang toleran satu sama lain. Tidak salah jika Gus Dur selama ini mendapatkan sebutan atau gelar Bapak Toleransi Indonesia. Indonesia adalah negara besar dan beragam, tanpa adanya toleransi tentu negara ini tidak akan berdiri berdaulat sampai saat ini.
Jombang dikenal sebagai kota santri karena banyaknya pondok pesantren di hampir seluruh penjuru mata angin. Lebih dari itu, Jombang merupakan tempat lahir dan berkembangnya salah satu Organisasi Islam terbesar yakni Nahdlatul Ulama. Jombang selama ini menjadi daerah yang sangat kondusif dan bebas dari konflik-konflik horizontal berbasis suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Hal ini menjadi suatu kebanggaan dan juga modal untuk menjadikan Jombang sebagai salah satu inspirasi dan fondasi untuk memperkenalkan Jombang sebagai kota aatau daerah toleransi. Jombang memiliki posisi yang strategis baik secara letak geografis maupun dalam percaturan sosial budaya dan politik, dengan demikian mengusung semangat toleransi adalah opsi yang layak untuk dilakukan. Kota Toleransi ini akan melengkapi sebutan Jombang selain sebagai Kota Santri.
Dengan mengusung Jombang Kota Toleransi, maka diharapkan selain menyuburkan pemahaman akan toleransi ke seluruh penjuru Indonesia juga diharapkan mampu mendorong kemajuan pariwisata di Jombang. Inisiatif ini digagas oleh Njombangan dan Event Jombang serta diharapkan didukung oleh segenap pihak seperti pemerintah, media massa, masyarakat, duta wisata dan lainnya.
Tujuan
Frekuensi
Walking tour direncanakan akan dilakukan dua kali seminggu yakni pada minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya.
Media Social Campaign
Kampanye dan sosialisasi melalui media sosial atau media komunikasi lainnya baik yang tertulis maupun elektronik terkait dengan latar belakang, inisiatif dan nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh Jombang Kota Toleransi.
Walking Tour
Yakni Walking Tour atau wisata sambil jalan-jalan menyusuri beberapa tempat-tempat di Jombang yang kiranya memiliki sejarah dan nilai yang relevan dengan inisiatif ini, yang meliputi:
Bantuan Anda
1. Membantu menginformasikan adanya program ini kepada masyarakat luas.
2. Ikut menjadi penyandang dana atau donatur. Silahkan untuk secara ikhlas memberikan dukungan dana untuk pengadaan logistik, pengembangan guide dan kebutuhan lainnya. Penggunaan dana akan secara transparan digunakan dan dilaporkan.
Kontak
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk kontak kami di
njombangan@gmail.com atau
Johar di 087878724050.
Latar Belakang & Tujuan
Warga Jombang, tidak bisa dipungkiri, juga hidup dan tersebar di berbagai daerah di luar Jombang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Mereka ini hidup merantau dengan berbagai tujuan misalnya untuk bekerja, berkarya, berkeluarga, menempuh pendidikan atau lainnya. Para perantau, yang kemudian menjadi diaspora ini bisa menjadi kekuatan dan roda penggerak perubahan ke arah yang lebih baik dari Jombang. Pengalaman dan kemampuan mereka baik finansial maupun non finansial serta network yang mereka miliki dapat menjadi modalitas untuk memecahkan berbagai permasalahan di Jombang. Adapun beberapa tantangan yang dihadapi adalah:
1. Tidak semua diaspora memiliki kesadaran untuk berkontribusi untuk Jombang
2. Bagi mereka yang terpanggil untuk berkontribusi, maka masih ada missing links berupa:
– tidak adanya informasi yang jelas dan komprehensif tentang bagaimana mereka bisa berkontribusi
– kurangnya informasi kanal-kanal yang bisa mengakomodasi semangat berkontribusi mereka
Atas hal di atas, maka Njombangan berinisiatif untuk membentuk Jombang Diaspora Center atau JDC. JDC bertujuan sebagai wadah bagi para diaspora untuk bersilaturahmi dan berkolaborasi dalam kebaikan untuk Jombang tercinta. JDC ini terbuka bagi semua warga Jombang baik yang di Indonesia maupun di luar negeri. Njombangan percaya bahwa kontribusi tidak harus selalu datang dengan kehadiran fisik namun bisa dilakukan walaupun kita tidak berada di Jombang. Kontribusi bisa lewat hasil pemikiran, dukungan finansial, dukungan non finansial, dukungan moral dan doa, memfasilitasi jejaring dan lain sebagainya.
Bentuk Kegiatan
Kegiatan JDC adalah sebagai berikut:
1. Pendataan diaspora termasuk keahlian dan komitmen mereka untuk berkontribusi ke Jombang. Pendataan dilakukan secara online.
2. Channeling komitmen kontribusi ke berbagai tantangan di Jombang serta program yang ada.
3. Tulisan diaspora yakni untuk memfasilitasi pemikiran diaspora melalui tulisan yang kemudian dipublikasikan di media sosial Njombangan atau dibukukan (jika memungkinkan).
4. Temu JDC dengan berbagai pihak di Jombang terutama pemerintah daerah, masyarakat dan komunitas.
5. Pembentukan JDC Endowment Fund yakni dana abadi diaspora yang digunakan untuk sebesar-besar kemajuan Jombang. Dana ini akan dikelola secara independen oleh lembaga keuangan resmi atau legal misalnya bank.
Frekuensi
Program ini berjalan terus menerus dan dapat diikuti oleh siapa saja diaspora Jombang.
Bantuan Anda
1. Menginformasikan jika ada diaspora atau keberadaan diaspora termasuk kontak mereka.
2. Ikut mendaftar melalui pengisian database online JDC.
3. Menginformasikan keberadaan JDC kepada diaspora yang lain,
4. Menghubungkan JDC dengan berbagai pemangku kepentingan.
5. Menulis tentang apapun yang kiranya bisa memberikan pemikiran untuk sumbangsih kemajuan Jombang.
Kontak
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan untuk kontak kami di
njombangan@gmail.com atau
Johar di 087878724050.
Pelaksanaan Lomba Esai Pembangunan Njombangan (LEPEN) 2019 telah selesai dan pemenang telah diumumkan. Kami juga akan menyelenggarakan lomba serupa pada 2020 nanti. Tunggu pengumumannya lebih lanjut ya 🙂
Program Njombangan Menari: Upaya Melestarikan Tari Remo Jombang.
Njombangan Menari merupakan salah satu kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas Njombangan. Program ini telah dimulai sejak bulan Juli 2018. Dalam menjalankan program tersebut, Njombangan berkolaborasi dengan sebuah perpustakaan di Desa Kepuhdoko, Tembelang. Les tari ini dilakukan selama tiga bulan secara gratis, tanpa pungutan apapun dan terbuka untuk umum. Di perpus tersebut, anak-anak belajar tari remo dengan seorang guru sanggar profesional dari Jombang Kota. Program ini dilakukan secara rutin satu kali dalam seminggu.
Di akhir kegiatan, peserta diminta menampilkan tarian remo di akhir bulan Oktober 2018. Pada acara yang disebut dengan Try Out Tari Remo Njombangan ini, seluruh peserta berhasil menampilkan performa terbaiknya. Kegiatan ini dinilai oleh tim dewan juri yang terdiri dari pelatih tari remo dan perwakilan Njombangan. Dari penilaian tersebut, diambil 3 orang terbaik yang berhak mendapatkan hadiah dan piala dari Njombangan. Namun, kami juga memberikan apresiasi yang luar biasa kepada adik-adik yang telah berpartisipasi dalam upaya pelestarian tari remo Jombang melalui kegiatan ini. Sehingga, Njombangan juga memberikan piagam penghargaan dan bingkisan berupa alat tulis dan merchandise kepada seluruh peserta.
Selain itu, acara juga sangat meriah karena dihadiri oleh anak-anak lain di desa tersebut. Mereka memberikan dukungan dan semangat kepada teman-temannya yang tampil. Oleh karena itu, acara Try Out juga diisi dengan berbagai games yang dipandu oleh Mas Ade dari Njombangan. Semua orang terlihat sangat bahagia dan terhibur dengan penampilan tarian remo dan games tersebut. Terlebih, kami juga menyediakan hadiah bagi adik-adik yang bisa menjawab pertanyaan. Di akhir acara, kami juga membagikan merchandise kepada seluruh anak yang hadir pada acara tersebut.
Pada kesempatan tersebut, kami juga menyampaikan piagam penghargaan dan pemberian merchandise Njombangan sebagai bentuk terima kasih kepada pihak penyelenggara kegiatan dan pelatih yang telah menyediakan tempat dan meluangkan waktu untuk memberikan pelatihan tari remo kepada adik-adik di Kepuhdoko. Program ini tidak akan berjalan tanpa adanya bantuan dari Mbak Lay sebagai pelatih tari remo dan Mbak Heni yang terus memberikan semangat kepada peserta les tari. Dengan berakhirnya program tersebut, kami berharap untuk memulai program baru di desa-desa lainnya. Semoga upaya ini akan memantik semangat yang lebih besar dari semua pihak demi kelestarian budaya Jombang.
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi permasalahan besar di abad ke 21. Pada era digital saat ini, sebenarnya kita memiliki banyak kemudahan untuk mendapatkan informasi, salah satunya melalui internet. Sayangnya, masyarakat cenderung menggunakannya sebatas untuk bercengkrama di media social. Padahal, riset dari Central Connecticut University pada tahun 2016 menunjukkan bahwa Indonesia tergolong ke dalam kategori minat baca yang sangat rendah. Dari 61 negara yang diteliti, Indonesia menduduki posisi ke 60. Oleh karena itu, Njombangan mengawali program Njombangan Berbagi Buku di akhir tahun 2018 sebagai langkah kecil mengatasi permasalahan tersebut.
Sejak pengumuman dilakukan pada bulan Oktober, kami sudah dihubungi oleh berbagai pihak yang tertarik dan membutuhkan tambahan buku bacaan. Sejauh ini, sudah ada 18 pihak yang terpilih dan berhak menerima satu kardus buku donasi dari Njombangan. Pihak itu berasal dari sekolah, rumah baca, pesantren, maupun TPQ aktif yang berada di berbagai wilayah di Kabupaten Jombang.
Berdasarkan penyeleksian kegiatan tersebut, kami mengetahui bahwa kebutuhan warga Jombang terhadap buku bacaan fisik terbilang masih tinggi. Padahal, lembaga-lembaga tersebut memiliki banyak anggota yang membutuhkan buku bacaan yang berkualitas. Oleh karena itu, Njombangan berharap minat baca tersebut akan semakin meningkat dengan adanya sedikit bantuan yang kami berikan. Semoga kegiatan ini juga memberikan inspirasi kepada berbagai pihak terutama lembaga yang berkepentingan untuk memberikan terobosan terhadap permasalahan tersebut.