JOMBANG – Tradisi memakan ketupat, lontong dan lepet di hari Lebaran Ketupat membawa berkah bagi perajin lontong di Dusun Ngembeh, Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto. Tak tanggung-tanggung, pesanan mereka naik tiga kali lipat.
Seperti yang dirasakan Tita Agi Suryani, 26. Sejak pagi buta, ia sudah sibuk membuat menyelesaikan pesanan lontong. Gulungan daun pisang terlihat menumpuk di ruang tengah rumahnya. Satu per satu gulungan daun pisang itu.
Dibantu suami dan beberapa orang lainnya, ia terlihat sibuk mengisi gulungan daun itu dengan beras sesuai takaran. Setelah terisi, gulungan-gulungan daun pisang tersebut selanjutnya dirapikan dan siap dimasak. ”Di sini cuma produksi lontong saja, ketupat tidak,” ungkap Tita.
Ia menjelaskan, semenjak awal Lebaran, ia mengaku banyak mendapat pesanan lontong. Bahkan, saat mendekati Lebaran Ketupat seperti sekarang, jumlah pesanan meningkat hingga tiga kali lipat. ”Kalau hari biasa itu paling banyak sampai 1.500 lontong per hari, kalau sekarang bisa 5.000 lebih, naiknya sampai tiga kali lipat,” lontarya.
Hal itu juga seiring dengan kebutuhan masyarakat akan lontong saat Lebaran Ketupat. Jika di hari biasa, ia hanya melayani sejumlah pedagang rujak ataupun bakso, berbeda saat mendekati Lebaran Ketupat, permintaan di pasar juga akan naik karena banyak warga biasa yang mencari. ”Kalau hari biasa hanya pedagang yang beli biasanya, tapi kalau sudah Lebaran begini kan memang jadi kebutuhan rumah tangga juga,” lontarnya.
Tak heran, dengan produksi yang sangat besar itu, ia mengaku bisa menghabiskan hingga dua kuintal beras saat puncak Lebaran Ketupat. ”Padahal di hari-hari biasanya sekitar 50-80 kilogram saja,” lontarnya.
Lontong ini, juga diproduksinya sejak pagi hingga sore. Keesokan harinya, barulah lontong ini diedarkan di sejumlah pasar di Kabupaten Jombang. Meski permintaannya sedang tinggi, Tita mengaku tak menaikkan harganya. ”Untuk harganya tetap, yang kecil itu Rp 500 per biji, yang besar Rp 1.000 di pasar,” pungkasnya. (riz/naz/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – Kerajinan mahkota kubah di Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, tergolong eksis hingga sekarang. Hanya saja, jumlah pesanan yang masuk kali ini relatif menurun dibandingkan tahun lalu.
Teng…teng…teng…bunyi sebuah besi dipukul cukup lantang terdengar dari sebuah rumah di Dusun/ Desa Janti, Kecamatan Jogoroto. Sosok pria paro baya kemudian memotong plat stainless untuk ditempatkan pada sebuah kerangka yang sudah didesain sedemikian rupa. Itulah aktivitas Imam Mutaqin, salah seorang perajin mahkota kubah.
”Saya memulai usaha ini sejak 2016 dan bisa bertahan sampai sekarang,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin. Pria perantauan asal Ciamis Jawa Barat ini lantas bercerita sebelum memulai usaha mahkota kubah, sebelumnya ia melayani pembuatan kaligrafi. Seiring berjalannya waktu, ada permintaan mahkota kubah dari salah seorang pelanggan. ”Akhirnya membuat mahkota kubah musala dari bahan logam stainless,’’ terangnya.
Setiap menjelang Ramadan hingga lebaran, ia banyak menerima pesanan dari berbagai daerah. Namun, permintaan mahkota kubah tahun ini relatif menurun jika dibandingkan tahun lalu. Selama Ramadan tahun ini ia hanya mendapat empat pesanan kubah masjid. Berbeda dengan tahun lalu yang mendapatkan 15 pesanan kubah. “Kalau tahun ini menurun, faktornya apa kurang begitu paham,’’ tambah dia.
Satu unit mahkota kubah, bisa diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga hari. Harga untuk satuan kubah masjid buatannya juga bersaing, mulai harga paling murah dengan ukuran paling kecil Rp 300 ribu hingga Rp 3,5 juta. ”Kalau ramai sekali dalam sebulan bisa menyelesaikan 20 hinga 25 unit mahkota kubah. Tapi kalau sepi 4-5 buah,’’ jelasnya.
Ia menyebut, pesanan kubah masjid rata-rata berasal dari luar kota. Selain lokal Jombang, juga ada dari Sidoarjo, Surabaya, Malang, Banyuwangi dan Lamongan. Untuk menjaga kualitas kubah, Imam sengaja menyelesaikan pekerjaannya seorang diri. Dengan bahan plat stainless, mahkota kubah bikinannya bisa bertahan hingga puluhan tahun. ”Bisa bertahan puluhan tahun,’’ pungkas Imam. (ang/bin/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – Ramadan menjadi berkah bagi perajin jenang salak di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh. Pasalnya, tahun ini pemintaan jenang salak meningkat sampai tiga kali lipat. Terlebih jelang Lebaran, permintaan kian tinggi.
”Lebaran tahun pesanan juga ramai tapi tidak sebanyak Lebaran tahun ini,” terang Kuswartono.
Peningkatan order camilan olahan salak ini terjadi pada pemesanan sistem online. Sedangkan untuk pembelian sistem offline masih stagnan. Selama Ramadan ini, dirinya mampu menjual rata-rata 30 Kg jenang salak per hari. Yang sebelumnya, hanya mampu menjual Rp 10 Kg saja per hari. ”Jadi yang mulai laku itu, mereka-mereka yang di pasar online, walaupun belum semuanya,” katanya.
Di tempat ini, berbagai macam makanan olahan dan minuman berbahan baku salak diproduksi. Mulai dari jenang salak, bakery, keripik salak, pleret, nastar, stik, sirup, es krim, sari buah salak, hingga kopi dari biji salak. ”Kalau yang dari daging salak banyak turunannya. Kemudian yang dari air daging (salak, Red) itu, saya jadikan sirup, saya jadikan sari buah,” beber Kuswartono.
Selain itu, Kuswartono mampu juga mampu memproduksi sabun dari biji salak serta teh dari kulit buah salak. Dari sekian produk, jenang salak paling banyak diburu. ”Kenapa jenang, karena jenang produk yang saya anggap banyak menolong orang. Mulai dari kemasannya itu saya memberdayakan masyarakat,” terangnya.
Kuswartono menambahkan,dari usaha produksi olahan salak ini, mampu menyerap tenaga kerja sebanyak delapan orang. ”Kalau omzet dari penjualan dari olahan salak bisa puluhan juta per bulannya,” pungkasnya. (yan/naz/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – H+3 Lebaran sejumlah wisata di Jombang terlihat dipadati pengunjung. Wisata Sumber Biru di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, bahkan ramai pengunjung sejak H+2 Lebaran.
Bambang Mutaqin, 35, pengunjung asal Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto mengaku, setiap tahun setelah Lebaran selalu berkunjung ke salah satu wisata di Kecamatan Wonosalam. ’’Kebetulan saya punya saudara di Wonosalam. Jadi setelah silahturahmi saya bersama keluarga menyempatkan wisata,’’ katanya.
Dia sudah dua kali berkunjung ke wisata Sumberbiru. Menurutnya, suasananya sangat menyenangkan. ’’Bisa kuliner diatas sungai,’’ bebernya.
Sementara Ketua Unit Wisata Sumber Biru, Tekad Selamet, mengatakan, wisata Sumber Biru dibuka sejak dua hari setelah Lebaran. ’’Minggu (23/4) itu sudah buka,’’ ungkapnya.
Setiap libur Lebaran, pengunjung jauh meningkat dibandingkan hari-hari biasa. ’’Hampir ratusan pengunjung setiap hari. Biasanya hanya puluhan,’’ jelasnya. (yan/jif/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – Di wilayah utara Brantas memiliki tempe khas. Berbentuk tipis dengan ketebalan 2 sentimeter. Lokasinya di Dusun Jatirowo, Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso. Ada lebih dari 10 warga yang setia menekuni usaha turun temurun ini.
Tak sedikit warga Dusun Jatirowo yang memproduksi tempe. Mereka rata-rata memproduksi tempe dengan ukuran tipis. Salah satunya Suliyanto yang membuat tempe sejak 1994 silam. ”Ini meneruskan usaha orang tua, jadi saya generasi kedua,” katanya.
Di samping rumahnya ada ruangan khusus yang dijadikan tempat produksi. Mulai dari memproses seluruh bahan hingga penjemuran kedelai. Ada empat lembaran potongan bambu berukuran 5×3 meter. Masing-masing ditutup plastik panjang dan di atasnya ditumpuki karung goni. ”Ini tempe yang sudah siap dipotong,” imbuh Suliyanto.
Dikatakan, proses produksi tempe miliknya sama persis yang dilakukan warga lain. Bahan utamanya kedelai impor, beras, dan ragi. ”Kedelai direbus sampai matang sekitar 2 jam, setelah itu direndam satu hari baru digiling dan dibersihkan,” ujar lelaki yang kini berusia 56 tahun ini.
Sementara untuk beras, setelah dicuci dimasak setengah matang, kemudian dibersihkan dan dicampur ragi. ”Baru kemudian dijadikan satu dengan kedelai,” tutur dia.
Kedelai itu kemudian diratakan di atas lembaran bambu yang sudah dirangkai sedemikian rupa menyerupai gedek guling. Setelah rata, kedelai ditutup plastik dan di atasnya ditutup lagi dengan karung goni. ”Lalu dibiarkan atau istilahnya dijemur selama dua hari dua malam, baru bisa dipotongi,” lanjut Suliyanto.
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – Kerajinan ayaman daun pandan asli Jombang semakin eksis. Momentum lebaran Idul Fitri ini tas anyaman daun pandan banjir pesanan. Bahkan para pengrajin di Dusun Karanggebang, Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh sampai kuwalahan memenuhi permintaan pasar.
Salah satunya diakui Nur Hadi, 40, warga setempat. Sejak awal Ramadan hingga lebaran, permintaan yang datang semakin meningkat. “Alhamdulillah tas anyaman pandan kita semakin diminati. Terbukti sejak Ramadan sudah 1.000 pieces pesanan, bahkan ini bisa menambah lagi,’’ terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, beberapa waktu kemarin (14/4).
Saking banyaknya permintaan pasar, ia sampai menambah pengrajin yang notabene ibu-ibu sekitar. ”Ya kita tambah jumlah pengrajin,’’ terangnya. Soal bahan baku, lanjut dia, tak ada kendala. Sebab, ketersediaan pandan di lingkungan sekitar cukup melimpah ruah. Tak heran, Dusun Karanggebang, Desa Munungkerep ini dikenal sebagai sentra pengrajin anyaman pandan. ”Kalau bahan baku disini melimpah,’’ tambahnya.
Untuk tas parcel anyaman pandan, Nur Hadi mengemas dalam dua kemasan yakni untuk kemasan kecil dijual Rp 8 ribu sedangkan kemasan besar dijual Rp 18 ribu. ”Jadi tas itu untuk souvernir dan parcel,’’ jelas dia.
Dirumahnya, Nur Hadi tak hanya membuat tas parcel anyaman pandan, ada juga produk lain yang cukup banyak diminati saat momentum Ramadan ini. Seperti halnya songkok pandan yang diminati hingga luar Jawa. ”Alhamdulillah untuk kopiah atau songkok pandan juga digemari. Beberapa hari ini pesanan naik,’’ jelasnya lagi.
Saat ini, ia mengerjakan 10 pesanan songkok pandan. Ia juga menambahkan beberapa motif untuk mempercantik tampilan songkok. ”Untuk produksi songkok terus kita kebut, karena untuk melayani permintaan yang terus bertambah,’’ tambahnya senang.
Dalam sehari, untuk membuat pesanan songkok dan tas anyaman pandan, ia membutuhkan 80-100 lembar daun pandan. ”Memang bahan cukup banyak yang dibutuhkan,’’ terangnya.
Mengenai harga songkok, Hadi menjual dengan harga terjangkau. Per kopiah dijual mulai Rp 60-80 ribu tergantung motif dan tingkat kesulitan. ”Untuk sekarang pesanan kita ada yang dari luar Jawa seperti Sulawesi,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – Lebaran kali ini membawa berkah tersendiri bagi keluarga Neneng, 40, warga Desa Plosogeneng, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Sejak turun temurun, ia produksi lampion dengan model bentuk bintang yang dihiasi aneka macam karakter.
Ditemui di rumahnya, Neneng dan keluarganya terlihat antusias mengerjakan pesanan lampion. Ia mengaku, menjelang lebaran, pesanan lampion terus meningkat. Sehingga harus membuat stok lampion untuk mencukupi permintaan pelanggan.
”Alhamdulillah, permintaan jelang lebaran ini naik cukup banyak, kira-kira 50 persen dari hari-hari biasanya,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Sebelum lebaran, pesanan yang datang per hari rata-rata lima hingga 10 buah. Namun menjelang lebaran bisa tembus 20 buah. Dalam sehari, Neneng mampu menyelesaikan pembuatan lampion sebanyak 20 biji. Namun karena banyak proses yang dilalui, ia dibantu tiga orang. “Ya kalau sendiri tentu kewalahan,’’ jelas dia.
Khusus lebaran tahun ini, pesanan tak hanya datang dari panitia TPQ di sejumlah masjid tempat tinggalnya. Beberapa pelanggan dari Jombang, Tulungagung, Kediri dan Blitar juga pesan padanya. ”Alhamdulillah bahan baku pembuatan lampion tidak ada kesulitan. Untuk harga lampion Rp 10 ribu per buah,’’ tegasnya.
Dijelaskan, keunggulan lampion buatan Neneng adalah awet dan tidak mudah rusak. Selain terbuat dari bahan mika yang berbentuk bulan dan bintang, ia sengaja menambahkan gambar karakter baik kartun, superhero dan tokoh idola anak-anak. ”Sehingga anak anak lebih suka,’’ jelas dia.
Dia menceritakan, usaha turun temurun keluarganya itu sudah ditekuni selama 15 tahun terakhir. Dulunya, ayahnya tidak membuat dengan bahan mika, melainkan berbahan kertas manila. Namun, kertas manila dinilai kurang efektif sebab ketika terkena hujan mudah kertas sobek dan rusak.
”Saya dapat keluhan kalau pakai lilin berbahaya bagi anak-anak. Akhirnya sekarang berinovasi dengan bahan mika warna warni dan memakai lampu LED pakai baterai,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
JOMBANG – Jelang hari raya Idul Fitri, pemandangan berbeda terlihat di Alun-Alun Jombang, Jumat (14/4) siang. Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang mempersolek rumput alun-alun dengan pola kotak-kotak ala sarung. Selain elok dipandang, alun-alun menjadi kental akan suasana bulan Ramadan.
”Itu sengaja kita persolek dengan berpola kotak-kotak terinspirasi sarung,” terang Kepala DLH Jombang Miftahul Ulum kepada Jawa Pos Radar Jombang (14/4).
Ia menambahkan, sarung sebagai salah satu kelengkapan alat beribadah umat Islam di nusantara lambat laun menjadikannya, sarung sebagai identitas umat muslim. ”Selain itu konon pada masa kolonial, sarung menjadi identitas bangsa kita sebagai simbol penolakan atas budaya barat yang dibawa penjajah,” imbuhnya.
Sarung di Indonesia, lanjut Ulum, identik dengan motif kotak-kota yang konon memiliki filosofi kehidupan yang dalam. ”Bahwa dalam menjalankan hidup manusia dan ke mana pun arah langkah hidupnya, entah ke kiri ataupun ke kanan, ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang selalu harus lurus sesuai ajaran agama dan nilai-nilai luhur,” singkat Ulum. (fid/naz/riz)
Sarung di Indonesia, lanjut Ulum, identik dengan motif kotak-kota yang konon memiliki filosofi kehidupan yang dalam. ”Bahwa dalam menjalankan hidup manusia dan ke mana pun arah langkah hidupnya, entah ke kiri ataupun ke kanan, ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang selalu harus lurus sesuai ajaran agama dan nilai-nilai luhur,” singkat Ulum. (fid/naz/riz)
JOMBANG – Wonosalam memiliki kekayaan hasil bumi melimpah. Di antaranya tanaman rempah-rempah seperti jahe merah, jahe emprit, kunyit, temulawak, kencur, temu ireng dan banyak lagi lainnya. Tak hanya dijual mentah, beberapa warga Wonosalam kini menangkap peluang dan menjadikannya sebagai salah satu olahan sebuk minuman.
Salah satu yang berhasil mengembangkan produk serbuk rempah-rempah, yakni Suyanto, 43, warga Dusun Segunung, Desa Carangwulung. Berkat usahanya ini, kini mampu meraup untung yang lumayan menjanjikan.
Suyanto merintis usaha serbuk rempah sekitar 2016. Saat itu petani rempah di Wonosalam banyak yang resah lantaran harga jual rempah-rempah di pasaran anjlok. ”Saat itu, harga rempah-rempah sangat murah,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang (17/8).
Berangkat dari kondisi itu, dia pun memutar otak bagaimana mendapatkan penghasilan maksimal dari hasil panen rempah di Wonosalam yang melimpah. Hingga muncul ide memproduksi serbuk rempah. ”Akhirnya saya coba olah menjadi serbuk rempah instan dengan teknologi sederhana dan pengemasan yang menarik,” tambahnya.
Hingga sekarang, Suyanto berhasil mengembangkan beraneka macam serbuk rempah. Di ataranya, serbuk jahe merah, jahe emprit, kunyit, temulawak, kencur, temuireng, daun katu dan lain-lain. ”Kita jadikan serbuk, selain lebih awet juga bisa diterima semua kalangan karena tinggal seduh saja,” terangnya.
Dijelaskan, cara mengolah tanaman rempah menjadi serbuk cukup mudah. Misalnya membuat serbuk kunyit. Langkah pertama rempah-rempah terlebih dulu dibersihkan, selanjutnya digiling sampai halus. penggilingan bisa menggunakan cara manual atau menggunakan mesin.
Setelah itu, hasil gilingan diperas dan diendapkan. Hasil endapan kemudian dibuang. Air perasan kunyit dicampur dengan gula dengan perbandingan 1:1. ”Setelah itu kita aduk selama 45 menit sampai mengkristal,” jelas dia.
Setelah jadi serbuk kunyit, selanjutnya proses pengemasan. Diusahakan kemasan semenarik mungkin sehingga menjadi daya tarik pembeli. Untuk produk-produknya, dia kemas dalam dua jenis ukuran, yakni 100 gram dan 150 gram. ”Saya menyediakan kemasan kecil dan sedang,” tandasnya.
Sejak dulu, rempah-rempah dipercaya memiliki khasiat yang bagus untuk tubuh. Dalam proses pembuatan itu, Suyanto sengaja membuang endapan rempah karena dianggap berbahaya untuk kesehatan. ”Kan ada yang bilang tidak baik untuk hati dan ginjal, jadi saya buang,” jelas dia.
Ia menguraikan, banyak manfaat dari mengonsumsi rempah-rempah. Misalnya, kunyit baik untuk pencernaan, temulawak baik untuk kesehatan hati dan kekebalan tubuh, jahe baik untuk daya tahan tubuh dan daun kelor untuk antioksidan.
Harga untuk serbuk rempah instan buatan Suyanto cukup terjangkau. Misalnya, jahe emprit kemasan 100 gram dijual dengan harga Rp 9 ribu, temulawak kemasan 100 gram dijual Rp 7 ribu, kencur kemasan 100 gram dijual Rp 12 ribu. ”Kalau untuk kemasan 150 gram, saya jual mulai Rp 29 ribu,” pungkasnya.
Catatan: konten berita dan foto dalam artikel ini adalah courtesy dari Radar Jombang – Jawa Pos Group. Njombangan memberitakan kembali agar berita ini bisa dapat diketaui dan diakses oleh lebih banyak masyarakat. Terima kasih kepada Radar Jombang yang selalu memberitakan hal-hal menarik di Jombang.
Fariz Ilham Rosyidi
Latar Belakang & Permasalahan
Elemen warna sering kali dijadikan instrumen untuk memaknai sesuatu. Proses pemaknaan juga terjadi di Kabupaten Jombang, yang simbol kedaerahannya diwakili secara dominan oleh warna ijo (hijau) dan abang (merah). Dari kedua warna itu muncul akronim Jombang yang dipercaya sebagai asal muasal nama Kabupaten Jombang.
Sosiolog Universitas Darul Ulum Jombang, Dr. Tadjoer Ridjal, mengatakan bahwa dalam kultur masyarakat Jawa dikenal metode pemaknaan yang diistilahkan dengan Kirata (kira-kira ning nyata). Menurutnya, ijo mewakili kultur santri, kaum agamawan, atau lebih spesifik beragama Islam yang berasal dari masyarakat pesisir. Sedangkan abang mewakili kultur masyarakat yang berpaham nasionalis yang berasal dari pedalaman dan berlatar sejarah Kejawen (Penerbit Kompas, 2004:386).
Tujuan Penulisan
Tulisan ini berusaha memberikan gambaran mengenai sejarah dan dinamika sosial yang membentuk masyarakat Jombang dewasa ini. Melalui cerita ini diharapkan masyarakat Indonesia di daerah lainnya dapat mengambil pelajaran yang baik dari Kabupaten Jombang. Sehingga, konflik sosial yang berbasis suku, agama, maupun ras tidak akan muncul kembali.
Pembahasan
Simbol warna Kabupaten Jombang, Ijo dan abang, seringkali dianggap sebagai kultur yang berseberangan, namun kedua warna ini ternyata memiiki makna yang khusus bagi masyarakat Jombang. Hal ini dapat dilihat dari kehadiran dua kerajaan besar di pulau Jawa. Kerajaan Majapahit menjadi simbol keselarasan kosmis Hindu di Nusantara, sementara Kerajaan Mataram kemunculannya menciptakan budaya dominan Islam di Tanah Jawa. Kedua aliran tersebut berkelindan di Jombang karena dianggap sebagai miniatur dari perpaduan keseimbangan yang memunculkan nilai-nilai toleransi, kemoderatan, dan sikap terbuka.
Pagar Pesantren di Kota Santri
Keadaan itu juga ditengarai oleh banyaknya pondok pesantren (ponpes) di Jombang yang membuat masyarakat Jombang lebih terbuka. Para santrinya tidak hanya berasal dari wilayah Jawa saja, akan tetapi juga berasal dari luar Pulau Jawa dengan kultur yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tidak dilihat sebagai ancaman bagi penduduk lokal sehingga pesantren di Jombang juga tetap diminati hingga saat ini.
Setidaknya, terdapat empat pondok pesantren besar yang didirikan sejak akhir abad ke-19. Keempat pondok pesantren itu seolah memagari pusat Kota Jombang, dengan sebelah utara Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, sebelah selatan Pondok Pesantren Salafiyah Safiyah Tebuireng, Sebelah timur Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, dan sebelah barat terdapat Pondok Pesantren Denanyar yakni Mambaul Ma’arif.
Pada tahun 1885 Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso dirintis oleh K.H. Cholil Al-Djuraemi dan K.H. Thamim Romly. Diberikannya nama Darul Ulum sendiri juga memiliki arti yang berarti darul adalah gudang dan ulum adalah ilmu-ilmu (secara jamak). Sehingga, pondok pesantren Darul Ulum diharapkan dapat menjadi “gudangnya ilmu-ilmu”. Pondok Pesantren ini dipercayai untuk mengayomi para santri dengan mencetak kader-kader muslim yang mampu menjalankan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan balutan pendidikan modern.
Sementara itu, pada tahun 1899, Pesantren Salafiyah Safiyah Tebuireng didirikan oleh Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari. Pondok Pesantren ini mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan dengan disumbang oleh masyarakat sekelilingnya. Pondok Pesantren Tebuireng juga menjadi saksi perjuangan melawan penjajah Jepang dengan menolak seikerei, dan tentunya seruan Resolusi Jihad untuk melawan agresi militer setelah Indonesia merdeka.
Lalu Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar didirikan oleh K.H. Bisri Syamsuri (Mbah Bisri) salah satu Tokoh pendiri Nahdatul Ulama (NU). Berdirinya Pondok Pesantren ini sekitar tahun 1917. Dibandingkan dari ketiga pesantren di atas, Pondok Mambaul Ma’arif Denanyar masih sangat muda. Pesantren ini adalah tanah kelahiran K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Presiden Republik ke-4) tokoh plurarisme Indonesia yang dikagumi di dunia.
Terakhir, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras didirikan oleh KH Abdus Salam pada tahun 1825. K.H. Abdus Salam merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit, beliau menikahi seorang putri dari Demak dan memiliki empat anak. Salah satu anaknya menikah dengan K.H. Hasyim Asy’ari cikal bakal Pondok Pesantren Tebuireng. Pondok ini hampir setara dengan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso. Hanya saja, kekentalan budaya di pondok itu masih sangat melekat. Secara bertahap Pondok Pesantren Bahrul Ulum semakin berkembang dengan pendidikan keislamannya yang kental, sehingga dapat mencetak khalifah-khalifah muslim yang aktif dan tetap patuh terhadap ajaran islam di Indonesia. (https://m.bernas.id, 2018).
Gereja dan Kelenteng Sebagai Warna Toleransi
Selain peran dari pondok pesantren, masyarakat Jombang yang religius juga telah lama mengenal model toleransi antar pemeluk agama. Hal ini bahkan sudah berjalan sejak masa pemerintahan Kolonial Belanda, seperti adanya beberapa bangunan Gereja yang ada di sekitar Pondok Pesantren Tebuireng: Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Bongsorejo dan Mojowarno. Disinyalir, gereja itu berperan penting pada penyebaran agama kristen di Indonesia.
GKJW Mojowarno merupakan gereja Jawa tertua di Jawa Timur. Bangunan ini menjadi saksi penyebaran agama Kristen melalui Nederlandsch Zendeling Genotsch (NZG) untuk memerangi perilaku buruk seperti madat, mabuk, dan main judi. Selain itu, GKJW Mojowarno juga berfungsi sebagai pelopor perdamaian pada peristiwa G30/S. Peran misionaris dan pendeta GKJW Mojowarno pada waktu itu tak henti-hentinya memberikan semangat untuk menjaga persatuan dan kebhinekaan di Kabupaten Jombang.
Lalu, sekitar dua puluh kilometer ke arah selatan dari pusat kota Jombang ada kelenteng yang sudah lama didirikan sejak tahun 1700-an. Kelenteng itu bernama Hong San Kiong yang terletak di Kecamatan Gudo. Diketahui, kelenteng ini menjadi tempat peribadatan bagi penganut Tri Dharma, yakni agama Budha, Konghucu, dan Taois. Selain menjadi tempat peribadatan, kelenteng ini juga berfungsi sebagai balai pengobatan bagi warga sekitar, baik Tionghoa maupun pribumi (situsbudaya.id, 2017).
Hal menarik lainnya dapat kita temui di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro. Disana terdapat tiga penganut agama besar di Indonesia yakni Islam, Kristen, dan Hindu . Warga di sana membangun rumah ibadat secara berdampingan dengan jarak sekitar 100 meter. Rumah ibadah tersebut didirikan sejak tahun 1983. Meskipun demikian, tak pernah terdengar ada konflik apalagi yang berkaitan dengan agama. Bahkan, ketika peristiwa rasis yang muncul akibat krisis tahun 1998 yang melanda Indonesia, masyarakat Ngepeh tidak terpengaruh karena selalu menjaga toleransi antar umat beragama. (Triraharjo, 2019)
Kesimpulan & Saran
Bisa disimpulkan bahwa masyarakat Jombang sudah lama hidup dalam harmoni, toleransi, dan pantas mendapat gelar sebagai The Most Harmonious City in ASEAN atau kota paling toleran di kawasan Asia Tenggara. Pada tahun 2017, Jombang mendapatkan penghargaan tersebut atas pencapaiannya menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia, baik lewat pemikiran tokoh-tokohnya seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid, Emha Ainun Najib (Cak Nun) maupun lewat masyarakatnya sendiri yang berkultur moderat ijo dan abang.
Sekarang, untuk melihat monumen pencapaian atas prestasi itu, kita dapat melihatnya di simpang tiga Ringin Contong Jombang, tepatnya di Taman ASEAN yang bercokol sepuluh bendera negara ASEAN di atasnya. Dan monumen itu akan menjadi saksi bagi generasi selanjutnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya bahwa kita harus terus merajut persaudaraan di tengah masyarakat Indonesia yang multikultur. Dengan hidup berdampingan, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat dan maju bersama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.
Daftar Pustaka
Penerbit Kompas, 2004. Profil Daerah Kabupaten dan Kota Jilid 4, Jakarta: Kompas Media Nusantara.
https://www.bernas.id/60901-mau-nyantri-inilah-referensi-4-pondok-pesantren-yang-ada-di-jombang-yuk-simak.html diakses tanggal 20 Mei 2019 pukul 11.25 WIB
http://jejakkolonial.blogspot.com/2018/09/mengenal-mojowarno-pusat-siar-kristen.html diakses tanggal 20 Mei pukul 11.49 WIB
https://situsbudaya.id/sejarah-klenteng-hong-san-kiong-gudo/ diakses tanggal 20 Mei 2019 pukul 11.58 WIB
https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/25/115791/di-dusun-ngepeh-masjid-gereja-dan-pura-hanya-berjarak-100-meter diakses tanggal 20 Mei