• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Budidaya Cacing ala Sulaiman; Tak Butuh Tempat, Hasilnya Menggiurkan

Budidaya Cacing ala Sulaiman; Tak Butuh Tempat, Hasilnya Menggiurkan

Spread the love

Jombang – Sebagian orang menganggap cacing sangat menjijikkan. Namun bagi Sulaiman, warga Dusun Surak, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, hewan ini sangat berharga karena bisa mendatangkan rupiah.

Di halaman rumah sederhana milik Sulaiman, diletakkan puluhan kotak berukuran sekitar 1×2 meter yang sudah diisi tanah. Di dalam kotak itu berisi ratusan bahkan ribuan cacing. Bapak satu anak ini harus berani membuang jauh-jauh rasa jijik terhadap cacing.

”Yang saya ternak ini cacing jenis fosfor, karena sangat mudah hidup,” ungkapnya sembari memilah cacing yang akan dijual. Pertama, dia mulai beternak cacing 2011 silam. Saat itu  dirinya mencari cacing untuk dijual ke tempat-tempat pemancingan dan penjualan burung.

”Dulu itu saya hanya mencari di sawah atau serapan limbah rumah tangga,” bebernya. Dalam satu hari, dia hanya bisa memperoleh 5-10 kilogram cacing. Lambat laun, permintaan cacingnya meningkat sehingga dia kewalahan kalau harus  mencari di sawah atau sampah rumah tangga.

”Kemudian saya berpikir ternak cacing sendiri,” ceritanya. Sebagaimana pelaku usaha yang lain, kali pertama beternak cacing juga tidak langsung berjalan mulus. Media tanah yang digunakan sering tidak cocok dengan cacing yang diternaknya. Sehingga cacingnya tidak bertambah banyak, justru bibit cacing semakin menyusut.

”Akhirnya saya cari tanah dengan campuran kotoran hewan ternak, biasanya di Papar Kediri. Tanah tersebut cocok dengan cacing,” terang dia. Saking cocoknya, bibit cacing sebanyak satu kilogram yang disebar di dalam kotak-kotak tersebut, bisa berkembang hingga 10 kilogram. Yang menguntungkan, perkembangan cacing yang cepat itu hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan.

Dia menyebut, ternak cacing sangat mudah dan tidak ada perawatan khusus. Bahkan, makanan cacing sangat mudah  dicari dengan harga yang murah. Yaitu ampas tahu. ”Kalau musim hujan ini malah gampang sekali, tidak perlu perawatan khusus,” katanya.

Akan tetapi, pada musim kemarau, cacing peliharaannya setiap pagi dan sore harus disiram dengan air. Selain itu, Sulaiman harus bolak-balik cacing agar tidak kepanasan. ”Kalau kepanasan cacing jadi menyusut, tapi kalau musim penghujan seperti ini harga cacing biasanya turun,” ungkapnya.

Harga jual cacing sendiri, diakuinya memang cukup mengiurkan. Pria yang kerap disapa Cak Leman ini menjual dengan harga Rp 100 ribu per kilogram cacing. ”Kalau musim hujan harganya turun Rp 10 ribu, karena memang cacing sangat mudah berkembang,” imbuh dia.

Penjualan cacing pun tidak perlu dirisaukan karena dirinya sudah memiliki pelanggan yang siap mengambil. Selain dijual di tempat penjualan burung dan tempat pemancingan, Sulaiman juga mempunyai pelanggan khusus dari luar kota. ”Biasanya yang banyak dari Gresik dan Surabaya,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

admin

Leave your message