• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Monthly ArchiveJanuary 2020

Kerajinan Wayang Kulit di Jombang Masih Bertahan Di Tengah Modernisasi

Jombang – Dipungkiri atau tidak, wayang kulit semakin ditinggalkan masyarakat. Pertunjukan kesenian tradisional ini hanya muncul di waktu-waktu tertentu. Meski begitu, masih ada tangan trampil yang konsisten melestarikan warisan nenek moyang ini.

Salah satu perajin yang masih bertahan adalah Teguh Basuki. Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung di rumahnya, ia nampak sibuk mewarnai wayang yang hendak diselesaikan. Wayang kulit berbentuk gunung itu berukuran lebih 60 centimeter. Sebagian sudah dalam keadaan berwarna. Teguh, panggilan akrabnya, sesekali turut memelototi wayang buatannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil akhir yang tidak ingin mengecewakan pelanggan.

”Tidak ada yang sulit membuat wayang, dulu memang ada kesulitan saat memahat. Hanya saja memang harus bersabar dan telaten,” ujarnya sembari meneruskan pengecatan. Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan kulit dan menghilangkan bulu-bulunya.

Bahkan itu juga membutuhkan waktu cukup lama agar bahan  kulit yang diproses, siap dijadikan wayang. ”Butuh waktu selama dua hari agar kulit siap dijadikan wayang,” bebernya. Kulit yang dipilih Teguh untuk dijadikan wayang juga tidak kulit sembarangan. Berbeda dengan produk lain, kulit kerbau maupun kambing itu segera dicuci dan disimpan kembali untuk anak-cucunya.

”Paling bagus memang kulit dari kerbau, pahatannya juga sangat mudah,” paparnya. Untuk mengerjakan satu wayang kulit, dia membutuhkan waktu paling sedikit lima hari untuk menyelesaikan. Karena dirinya juga menginginkan hasil yang sempurna. Apalagi membuat wayang juga harus teliti tebal dan tipis.

Setelah wayang selesai dipahat, wayang-wayang tersebut dicat agar seperti hidup. ”Mengecatnya juga seperti itu harus membutuhkan ketelitian agar lebih menarik lagi,” bebernya. Meski begitu, pria berusia 57 tahun ini sempat mengalami  jatuh bangun dan malang melintang di dunia kerajinan selama hampir berpuluh tahun. Bahkan usahanya melanjutkan warisan orang tua.”Belajar saya dulu pakai kertas, setelah SMP saya sudah disuruh mengerjakan pesanan orang,” sahut Asmi, orangtua mahasiswa.

Bahkan, karena cintanya terhadap seni budaya, dia ingin terus membuat wayang kulit, agar tidak tergerus dengan zaman. Kendati demikian, dirinya tetap bersyukur masih banyak orang yang memasang. Bahkan Teguh sendiri memasarkan wayang buatannya melalui media sosial.

Lantaran sudah dikenal banyak orang itulah hasil kreasi positifnya juga pernah dikirim hingga ke Taiwan. ”Dulu ada orang pekerja dari Taiwan membeli banyak untuk dibawa ke Taiwan,” katanya.

Ia menyebut, butuh waktu yang lama dan cukup rumit selama proses pengerjaan wayang. Tak heran satu wayang buatan Teguh dibanderol Rp 1 juta, tergantung ukuran dan kerumitan. Biasanya jenis wayang yang paling mahal yakni Buto dan Gunung karena memang ukurannya lebih besar dibanding wayang-wayang lain. ”Ukurannya memang harus besar jadi paling mahal,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Kerajinan Wayang Kulit di Jombang Masih Bertahan di Tengah Modernisasi

Jombang – Dipungkiri atau tidak, wayang kulit semakin ditinggalkan masyarakat. Pertunjukan kesenian tradisional ini hanya muncul di waktu-waktu tertentu. Meski begitu, masih ada tangan trampil yang konsisten melestarikan warisan nenek moyang ini.

Salah satu perajin yang masih bertahan adalah Teguh Basuki. Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung di rumahnya, ia nampak sibuk mewarnai wayang yang hendak diselesaikan. Wayang kulit berbentuk gunung itu berukuran lebih 60 centimeter. Sebagian sudah dalam keadaan berwarna. Teguh, panggilan akrabnya, sesekali turut memelototi wayang buatannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil akhir yang tidak ingin mengecewakan pelanggan.

”Tidak ada yang sulit membuat wayang, dulu memang ada kesulitan saat memahat. Hanya saja memang harus bersabar dan telaten,” ujarnya sembari meneruskan pengecatan. Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan kulit dan menghilangkan bulu-bulunya.

Bahkan itu juga membutuhkan waktu cukup lama agar bahan  kulit yang diproses, siap dijadikan wayang. ”Butuh waktu selama dua hari agar kulit siap dijadikan wayang,” bebernya. Kulit yang dipilih Teguh untuk dijadikan wayang juga tidak kulit sembarangan. Berbeda dengan produk lain, kulit kerbau maupun kambing itu segera dicuci dan disimpan kembali untuk anak-cucunya.

”Paling bagus memang kulit dari kerbau, pahatannya juga sangat mudah,” paparnya. Untuk mengerjakan satu wayang kulit, dia membutuhkan waktu paling sedikit lima hari untuk menyelesaikan. Karena dirinya juga menginginkan hasil yang sempurna. Apalagi membuat wayang juga harus teliti tebal dan tipis.

Setelah wayang selesai dipahat, wayang-wayang tersebut dicat agar seperti hidup. ”Mengecatnya juga seperti itu harus membutuhkan ketelitian agar lebih menarik lagi,” bebernya. Meski begitu, pria berusia 57 tahun ini sempat mengalami  jatuh bangun dan malang melintang di dunia kerajinan selama hampir berpuluh tahun. Bahkan usahanya melanjutkan warisan orang tua.”Belajar saya dulu pakai kertas, setelah SMP saya sudah disuruh mengerjakan pesanan orang,” sahut Asmi, orangtua mahasiswa.

Bahkan, karena cintanya terhadap seni budaya, dia ingin terus membuat wayang kulit, agar tidak tergerus dengan zaman. Kendati demikian, dirinya tetap bersyukur masih banyak orang yang memasang. Bahkan Teguh sendiri memasarkan wayang buatannya melalui media sosial.

Lantaran sudah dikenal banyak orang itulah hasil kreasi positifnya juga pernah dikirim hingga ke Taiwan. ”Dulu ada orang pekerja dari Taiwan membeli banyak untuk dibawa ke Taiwan,” katanya.

Ia menyebut, butuh waktu yang lama dan cukup rumit selama proses pengerjaan wayang. Tak heran satu wayang buatan Teguh dibanderol Rp 1 juta, tergantung ukuran dan kerumitan. Biasanya jenis wayang yang paling mahal yakni Buto dan Gunung karena memang ukurannya lebih besar dibanding wayang-wayang lain. ”Ukurannya memang harus besar jadi paling mahal,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Menengok Proses Pembuatan Merang Tradisional di Desa Gabusbanaran

Jombang – Menjadi perajin merang masih jadi pilihan bagi beberapa warga Dusun Gabus, Desa Gabusbanaran, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. Sejak puluhan tahun silam, mereka masih setia membuat merang untuk dijual ke beberapa kota sekitar Jombang.

Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung, tumpukan benda berwarna cokelat terlihat menumpuk di beberapa titik di Dusun Gabus. Ditata dengan diikat tali plastik, dari kejauhan benda berbentuk panjang itu nampak seperti sedotan yang diletakkan terbalik. Bagian atas berbentuk tabung kecil memanjang, sementara bagian bawah berbentuk serabut kasar.

Di depan tumpukan itu, seorang pria terlihat sibuk menata. Ia membersihkan bagian atas, juga menata bagian bawah untuk ditali dan dikelompokkan dalam ukuran lebih besar. Tak ada pekerja, ia terlihat mengerjakan sendirian. “Ini namanya merang, yang didepan itu masih dijemur, kalau yang saya pegang ini untuk ditata,” terang Sabar,45, pemilik usaha merang yang ditemui koran ini kemarin.

Ia menyebut produk buatannya memang tak punya nama khusus. Orang-orang biasa menyebutnya dengan merang. Benda ini, sebenarnya adalah batang-batang padi yang telah diambil butiran padi dan dikeringkan. Namun, tak semua batang padi bisa digunakan untuk pembuatan merang. Hanya padi yang dipanen dengan alat tradisional saja yang bisa digunakan untuk merang.

Padi yang bisa digunakan itu harus padi yang dipotong sampai pangkal. “Ya, hanya padi panen model lama. Biasanya perontok pakai pancal, kalau potong setengah dan pakai perontok mesin, sudah tidak bisa dipakai karena terlalu pendek,”  lanjutnya. Karenanya, ia tak lagi bisa mencari batang padi untuk bahan merang ini di sekitar Jombang.

Sabar, harus rela berburu batang padi hingga Mojokerto, Malang, bahkan Bojonegoro. “Biasanya adanya di daerah yang masih agak kuno, atau wilayah pegunungan, mesin kan susah disana, jadi panennya masih pakai alat lama,” ungkap pria yang sudah 20 tahun menggeluti usaha merang ini.

Prosesnya, lanjut dia, biasanya dimulai dari batang padi yang telah didapat, harus terlebih dulu dijemur. Penjemuran ini, bisa berlangsung satu hingga dua hari, sampai batang padi benar-benar kering dan mengeras. Tujuan penjemuran ini agar batang padi lebih kokoh dan mudah ditata.

“Biasanya dari warna yang masih agak hijau sampai cokelat, bisa satu hari, bisa dua hari tergantung panasnya matahari,” tambah Sabar. Setelah benar-benar kering, proses selanjutnya  penghalusan. Bagian bekas bulir padi, akan disortir dan dibersihkan kembali. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel pada batang padi. “Ya cuma pakai tanagn saja, tidak ada alat khusus, semanya manual,” tambahnya.

Seluruh proses ini bisa berlangsung hingga lima hari penuh. Setiap minggu, ia mengaku bisa produksi hingga puluhan bahkan ratusan gelondong besar merang. Seluruh produk merang tersebut dikirim ke berbagai kota di Jawa Timur. “Yang banyak biasanya Kediri, Tulungagung, Blitar sama Malang. Jombang sendiri malah tidak laku,” ucapnya sembari tertawa lepas.

Merang buatannya ini biasa digunakan warga di beberapa kota untuk pelengkap sesajen atau cok bakal. Selain itu beberapa olahan makanan hingga sabun dan shampo. “Tapi biasanya kalau saya mengirim paling banyak ke penjual alat ritual, penjual bunga, sama pembuat makanan,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Pedagang Kewalahan, Permintaan Durian Bakar Khas Wonosalam Meningkat

Jombang – Sensasi makan durian bakar bisa dicoba di Wonosalam. Terletak di salah satu rumah durian di Dusun Sumber, Desa/Kecamatan Wonosalam. Cara makan durian dengan dibakar itu cukup ramai dan diminati banyak kalangan. Bahkan, durian bakar paling diburu pada musim kali ini.

Untuk menikmati durian bakar ini tidak perlu merogoh kantong dalam. Harga mulai Rp 25 ribu bisa merasakan durian yang dibakar dengan arang. Ada dua varian durian bakar ini. Pertama, durian dibakar beserta kulitny, serta kedua durian yang sudah dikupas. Bedanya, durian yang dikupas ada campuran atau toping seperti ketan dan buah naga.

Siswanto, salah satu penikmat durian bakar warga asal Pohjejer, Gondang, Mojokerto mengaku baru kali pertama ia merasakan durian bakar. Menurut dia, ada keunikan sendiri saat memakan duiran bakar, karena daging dirasa lebih pulen dibandingkan tidak dibakar. ”Ada bau bekas bakaran yang menempel,” ungkapnya. 

Tak hanya itu, durian juga menjadi hangat. Sehingga, menurutnya lebih pas dimakan pada waktu musim hujan seperti sekarang. Karena cuaca di Wonosalam dingin sehingga sangat cocok apabila makan yang hangat-hangat. ”Saya rasa paling pas kalau dimakan waktu hujan,” tambah dia.

Sementara itu, Sulami salah satu pedagang durian di Wonosalam mengaku durian bakar sangat diburu saat sekarang ini. Saking banyaknya permintaan, ia sampai kewalahan melayani durian bakar. ”Durian bakar ini yang diburu, jadi kalau Sabtu, Minggu atau hari libur tidak ada menu durian bakar, karena kami kewalahan,” ungkapnya.

Disinggung terkait harga jual, lanjut Ghani, satu buah durian bakar dihargai Rp 25 ribu hingga ratusan rupiah per biji, tergantung jenis dan ukuran durian. ”Sedangkan untuk paketan atau durian kupas harganya Rp 25 ribu per porsi,” pungkas dia. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Manfaatkan Paralon Bekas, Pemuda Wonosalam Ini Ciptakan Lampu Hias

Jombang – Limbah paralon yang bagi sebagian orang adalah sampah, ternyata bisa diubah menjadi kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Seperti yang dilakukan Nur Fauzi, warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang yang membuat lampu hias unik dari paralon bekas.

Paralon satu persatu dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Setelah itu, Fauzi mengambil gambar sketsa yang sudah diprin. Kemudian sketsa ditempelkan ke pipa paralon dengan menggunakan lem. Setelah tertempel rapat, ia langsung mengambil gerenda kecil untuk mengukir paralon berukuran 4 inci tersebut.

Setelah pipa diukur sesuai dengan sketsa, dirinya menggunakan alat pemanas agar menimbulkan efek tiga dimensi. Kemudian, Fauzi menyiapkan bahan baku untuk pengecatan agar lampu terlihat menarik. Bahan cat sendiri ia menggunakan cat pilox.

Setelah cat kering, dia langsung menyiapkan fitingan, kabel serta lampu LED. Untuk menarik pembeli, lampu yang digunakan bisa berubah warna hanya dengan menggunakan remote.

Di ruang berukuran kurang lebih 3 x4 meter yang berada di sebelah rumahnya, pria kelahiran 11 Desember 1982 ini terbiasa mengerjakan lampu dari paralon bekas. ”Dulu terinspirasi setelah melihat banyak pipa bekas bangunan yang dibuang, karena eman, kemudian iseng membuat hiasan dari lampu,” ungkapnya.

Untuk membuat lampu itu, lanjut dia, paling sulit yang dirasakan pada waktu pengukiran. Apabila salah ukir sedikit, pipa tidak bisa digunakan lagi alias cacat. Tak heran, kalau proses ukir membutuhkan waktu cukup lama dibandingkan dengan proses lain. ”Dalam sehari saya bisa membuat 6-10 pipa tergantung kerumitan,” kata dia.

Meski begitu, ia masih mengeluhkan pemasaran yang tidak bisa cepat lantaran jarak rumahnya dengan pusat kota cukup jauh. Sehingga sarana media sosial yang dipilih untuk pemasaran produk buatannya terkadang mengalami hambatan. Tidak hanya melalui media online, dia juga menitipkan barang kreasinya di tempat wisata Pacet Mojokerto. ”Memang untuk pemasaran masih agak sulit, karena memang rumah saya jauh dari perkotaan,” tegasnya.

Saat ini, lanjut dia, pemesan yang banyak justru berasal dari Kalimantan. Khusus permintaan Jombang sendiri hanya bisa dihitung dengan jari. ”Kadang ya saya disuruh buat lampu untuk masjid, ini saya ada pesanan lampu masjid di Jogoroto,” terang Fauzi.

Saat ditanya harga jualnya, dia senditi tidak mematok harga mahal. Berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 250 ribu per lampu. Harga yang berbeda itu menyesuaikan ukuran dan tingkat kerumitan ukir. Dia juga tak menampik bila yang paling laku memang yang dijual dengan harga murah. ”Ukirannya biasa, kalau harga tergantung pemesan ingin seperti apa,” pungkas dia. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Tangan Kreatif Sri Restuasih, dari Tisu Hasilkan Lukisan Tiga Dimensi

Jombang – Berawal dari hobi, kini Sri Restuasih warga Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang bisa mendulang  rupiah. Yakni dengan membuat kerajinan decoupage yang menggunakan bahan dasar kertas tisu.

Pagi kemarin, Sri Restuasih tampak sibuk menggunting lembaran tisu bergambar dirumahnya Desa Ceweng Gang 1. Satu per satu tisu bermotif bunga, kupu-kupu hingga pepohonan itu digunting sesuai kresasi. Lalu ditempelkan di sebuah kain kanvas yang sudah dilukisi latar belakang pemandangan. Ya, Sri Restuasih tengah sibuk membuat lukisan decoupage atau dekupase. 

Tisu yang dipakai Sri bukan tisu sembarangan. Namun tisu khusus  yang dibeli secara online, sebab di Jombang sendiri belum ada yang menyediakan tisu seperti itu. ”Tisu ini ada tiga lapis, yang kita gunakan ada lapisan luar,” ujar dia sembari membuat lukisan, kemarin. Sebelum tisu ditempel menggunakan lem bakar, terlebih dahulu tisu dipanaskan menggunakan korek api. Tujuannya agar tisu bisa melengkung dan bisa menghasilkan bentuk tiga dimensi. ”Sehingga saat ditempel di lukisan bentuknya bisa terlihat nyata,” jelas perempuan kelahiran Sidoarjo ini. 

Dijelaskan, dekupase adalah seni menghias sebuah benda dengan cara menempelkan potongan-potongan kertas berwarna. Sebelum menempelkan potongan tisu tersebut, Sri terlebih dahulu melukis pemandangan di sebuah kain kanvas menggunakan cat air. ”Setelah ketemu konsepnya baru kita padukan dengan tisu dekupase tadi,” jelas dia. 

Dia menguraikan, kerajinan yang digelutinya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Dia belajar secara otodidak dari tayangan video di youtube. Lalu mempraktikannya sendiri. ”Ini untuk menyalurkan bakat saja, karena sejak awal saya memang suka dengan hand craft atau kerajinan tangan,” tambah ibu dua anak ini.  

Tak hanya dalam bentuk lukisan, kerajinannya itu juga bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk benda. Misalnya, hiasan dinding maupun dekorasi rumah tangga lainnya, mulai dari gantungan baju hingga pajangan dinding. ”Pada dasarnya kerajinan ini kan menempelkan, jadi bisa dikreasikan di mana saja asalkan permukaan bendanya datar,” tegas dia. 

Untuk harga satu lukisan, ia jual mulai Rp 375 ribu hingga Rp 500 ribu. Harga tersebut tergantung besar kecil dan tingkat kerumitan. Selain itu, bagi pembeli yang tak ingin merogoh koceng dalam, ada kerajinan decoupage yang dijual mulai harga Rp 25 ribu sampai Rp 100 ribu. ”Ya misalnya seperti gantungan baju dan pajangan dinding ini mulai Rp 25 ribu,” tandasnya. 

Di rumahnya, Sri juga sering melatih ibu-ibu dusun setempat untuk membuat kerajinan. Hal itu dilakukan agar bisa membantu menambah penghasilan ibu-ibu untuk kebutuhan rumah tangga. ”Saya melakukan ini bukan semata-mata bisnis, tapi juga ada misi sosial, yakni ingin menyalurkan hobi saya ke orang lain,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Salak Doyong Pulogedang Tembelang Dua Musim Panen dalam Setahun

Jombang – Untuk bisa menikmati salak doyong Pulogedang, ada dua kali musim  yang bisa ditunggu. Yakni pada akhir dan awal tahun dan dua bulan di pertengahan setiap tahunnya.

Menurutnya, masa panen buah pertama biasanya akan datang pada Desember hingga bulan Januari. Sementara musim panen kedua biasanya akan berlangsung pada bulan Juni atau Juli. “Ya, cuma dua kali musim panen biasanya dalam setahun, itupun jumlahnya tergantung dari cara perawatan sama kondisi tumbuhannya,” ungkap Sofwan.

Yang dimaksud cara perawatan adalah kewajiban petani salak untuk membersihkan kebun salaknya juga mengawinkan buah. Meski perawatan salak terhitung cukup mudah, namun Sofwan menyebut, petani salak harus rajin mengawinkan bunga salak agar buah salak bisa melimpah. 

“Jadi bunga jantan dan betinanya harus dikawinkan dulu, baru buahnya bisa banyak. Kalau dibiarkan ondolan¬ atau tidak dikawinkan, buahnya sedikit, cuma satu, dua butir saja,” lanjutnya.

Selain itu, kondisi cuaca dan hama disebutnya juga sangat berpengaruh. Dengan cuaca yang baik dan serangan hama yang terkendali, panen raya salak di desanya bisa maksimal. “Sayangnya dua musim belakangan ini kita hampir tidak panen gara-gara tikus, ya semoga panen depan ini bisa lebih lumayan lagi,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Mengenal Klenteng Boo Hway Bio, Tempat Ibadah Warga Tionghoa Mojoagung

Jombang – Ada tiga tempat peribatan khusus umat Tri Dharma yang jadi jujugan warga Tionghoa di Jombang merayakan Imlek. Salah satunya Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung. Uniknya, di pintu masuk klenteng ini terdapat dua pohon tebu besar yang dipasang khusus.  

Pagi kemarin, suasana di Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung begitu tenang. Sejumlah umat tri dharma dari berbagai wilayah mampir ke klenteng ini untuk memanjatkan doa khusus. Warga yang datang berkunjung pun lebih banyak dibanding hari biasa. 

Uniknya, di Klenteng Boo Hway Bio ini dipasang dua pohon tebu berukuran besar di depan pintu masuk. Tradisi pemasangan tebu ini turun temurun dengan panjang lebih dari dua meter, berwarna hijau dan lengkap berisi daun. Pemasangan tebu sebelum Tahun Baru Imlek diyakini dapat mendatangkan rezeki, sehingga harapannya kehidupan di tahun baru menjadi lebih baik.  

Selain itu, ada sumur langit tepat di depan altar sebagai simbol pembuka rezeki. Menurut Heri Atmaja, 65, sang penjaga klenteng menjelaskan, jumlah umat tri dharma yang beribadah di Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung silih berganti sejak pagi kemarin. ”Ya ada umat dari warga sini, Mojokerto, Sidoarjo hingga warga dari kabupaten yang melintas mampir,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin. 

Kepada umat yang ingin bersembahyang, pihaknya menyediakan banyak dupa. Namun, rata-rata umat yang ingin bersembahyang membawa dupa sendiri. ”Ada yang bawa sendiri dan ada yang mengambil disini, bahkan ada juga yang memberi dupa,” tambahnya. Untuk Imlek tahun ini, pengurus klenteng sebelumnya melakukan sejumlah ritual sebagaimana di klenteng lain. 

Seperti memandikan patung dewa, membersihkan klenteng hingga memberi hidangan berupa buah-buahan di sekitar patung. Tak hanya itu, ada dua pohon tebu yang didirikan di depan pintu masuk. ”Itu simbol dari tebu kan manis, tujuannya agar klenteng ini banyak yang berkunjung,” jelas dia.

Sementara, sumur langit diletakkan setelah pintu masuk di depan altar. Pada bagian atap klenteng, sengaja dibuka agar cahaya matahari dan hujan bisa masuk ke dalam. Dibawahnya inilah sumur langit berbentuk kolam ukuran 2 x 3 meter yang digunakan untuk menampung air hujan. Kolam tersebut, kata Heri, pada pukul 08.00 air harus dibuang dan akan diisi lagi saat sore hari. ”Ini sebagai simbol pembuka rezeki agar rezeki umat tri dharma lancar selalu,” tandasnya. 

Sementara itu, pantauan di Klenteng Hok Liong Kiong Jombang juga tak berbeda jauh. Menjelang perayaan Imlek pihak klenteng membersihkan patung dewa. ”Pemandian patung dewa ini rutin kita lakukan setiap tahun menjelang tahun baru Imlek,” ujar Indra Wiryanto ketua Klenteng Jombang. 

Saat perayaan tahun baru imlek seperti sekarang, biasanya warga Tionghoa merayakan dengan kumpul sanak famili di rumah. Seperti halnya Idul Fitri, mereka hanya melaksanakan ibadah di masjid saat pagi hari lalu kembali ke rumah masing-masing. ”Kalau kami sembahyang bareng-bareng itu malam hari, jadi jelang tengah malam sembahyang bersama, namun kalau pagi justru sepi,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

Rayakan Imlek, Masyarakat Tionghoa Mojoagung Doa Bersama di Klenteng

Jombang – Tahun Baru Imlek 2571 hari ini dirayakan masyarakat Tionghoa di Kecamatan Mojoagung dengan suka cita. Sejak malam kemarin (24/1), mereka sudah melakukan berbagai persiapan acara perayaan. Termasuk memasang berbagai ornamen khas Imlek di rumah dan tempat peribadatan.

Seperti yang terlihat di Klenteng Boo Hway Bio Mojoagung, yang dipenuhi ornamen khas Imlek bernuansa merah. Paling mencolok, lampion yang bergantungan di langit-langit klenteng. “Untuk persiapannya sudah matang. Kemarin kita sudah bersih-bersih, patung-patung dewa sudah dimandikan semua,” ujar Hery Atmaja, penjaga klenteng Boo Hway Bio Mojoagung.

Berbagai persiapan ini dilakukan masyarakat Tionghoa secara bergotong royong. Ia menyebut, tradisi bersih-bersih klenteng dilakukan setiap tahun jelang perayaan Imlek. “Perayaan pergantian tahun baru di klenteng ini tidak ada, hanya acara sembayang diikuti warga Tionghoa sekitar Mojoagung besok pagi (hari ini),” lanjutnya.

Untuk diketahui, Klenteng Hoo Hway Bio ini berada di sisi utara RTH Mojoagung. Usianya sudah lebih dari 60 tahun dan satu-satunya klenteng di wilayah timur Jombang. Warga Tionghoa sendiri meyakini Imlek tahun ini merupakan tahun Tikus Logam yang memiliki makna tahun yang sibuk dan penuh kreativitas. (*)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang

(jo/fid/mar/JPR)

Buka Rakernas IPPNU, Wapres Dorong Pesantren Cetak Santripreneur

JOMBANG – Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mendorong pesantren dan sekolah madrasah mencetak santripreneur alias usahawan muda dari kalangan pesantren. Hal tersebut diungkapkan saat menghadiri Rapat kerja nasional Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, siang kemarin (23/1).

Di hadapan IPPNU, dia menyampaikan sebagai pelajar putri kebanggaan Nahdlatul Ulama harus tetap konsisten mengajarkan santri yang masih duduk di bangku sekolah dalam penguasaan era digital. ”Santri harus menjadi agen perubahan yang dapat membawa perubahan besar dari segala aspek,” ujarnya kemarin.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin berziarah ke makam KH Wahab Hasbullah

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin berziarah ke makam KH Wahab Hasbullah (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Dia menilai pemberdayaan santri dengan cara berwirausaha sangat perlu dilakukan di era digital saat ini, apalagi dengan berkembangnya market place dan e-commerce, santri harus dituntut dinamis, kreatif dan inovatif. Sehingga bisa memiliki produk unggulan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi syariah. ”Santri tidak hanya pintar ngaji, tapi pintar usaha untuk kemajuan bangsa,” papar dia.

Usai memberi sambutan, Wapres sempat meninjau beberapa stand produk milik santri dari berbagai pelosok Indonesia. ia  sempat terkagum dengan produk cokelat berbahan kelor. ”Ini kan unik, dan kalau tidak dipasarkan kita yang rugi. Saya menilai produk ini akan bisa bersaing dengan produk dari dalam maupun luar negeri,” terangnya.

Kunjungan Wapres Ma’ruf Amin di Kabupaten Jombang juga dihadiri sejumlah menteri kabinet. Diantaranya, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Sekjen Kominfo R Niken Widiastuti, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, Wamenag Zainut Tauhid Sa’ad, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Bupati Jombang Mundjidah Wahab dan bebeberapa tokoh lainnya.

Usai membuka Rakernas yang bertempat di GOR Tambakberas, Wapres juga melakukan ziarah ke makam pahlawan nasional KH Wahab Chasbullah di komplek Ponpes Tambakberas. Wapres didampingi pengurus pondok termasuk pengasuh PPBU KH Moh Hasib Wahab. (ang)

(jo/ang/mar/JPR)

Photo courtesy: Radar Jombang

Article courtesy: Radar Jombang