JOMBANG – Keberadaan Wayang Potehi di Museum Potehi Klenteng Hong San Kiong, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang sudah terkenal hingga pelosok nusantara. Namun belum banyak yang tahu bagaimana pembuatan wayang mungil berbagai karakter tersebut.
Biasanya, Wayang Potehi setengah jadi dijajar di halaman museum. Ada karakter raja, putri, prajurit hingga anak anak dengan wajah lucu. Ratusan Wayang Potehi tersebut dibuat dari kayu warung gunung. Dipilihnya kayu warung gunung karena bahannya empuk, mudah dibentuk dan tidak mudah pecah ketika dipahat.
”Apalagi kayu warung gunung memiliki tekstur warna yang bersih. Sehingga memudahkan pewarnaan,” ujar Alfian, 32 dalang Wayang Potehi. Setelah dipahat, proses selanjutnya adalah pewarnaan. Proses ini sangat krusial karena pemilihan warna menentukan karakter setiap wayang.
Misalnya, karakter raja biasanya diberi paduan warna merah dan hitam. Hal itu tentu berbeda degan pemberian warna untuk karakter ratu maupun anak anak. ”Ada ribuan karakter di Wayang Potehi. Karena setiap cerita beda pula karakter yang dimainkan,” sambung dia.
Pastinya, untuk membuat wayang itu membutuhkan tingkat ketelitian dan kejelian begitu tinggi. Ini setelah setiap karakter wayang memiliki bentuk yang berbeda. “Masing-masing punya karakter tertentu,” tambah Supangat salah seorang pemahat.
Setelah pewarnaan kelar, kemudian wayang potehi dipasangkan baju. Baju tersebut terdiri dari baju dalam, baju utama dan dan topi. Setiap wayang juga diberikan asesoris tambahan seperti senjata dan kipas tergantung dari setiap karakternya. ”Kalau baju dalam itu terbuat dari kain karung, sedangkan baju utama terbuat dari kain santen,” jelas dia memerinci.
Baju baju itu, tidak dibuat di Jombang melainkan didatangkan dari Kabupaten Tulungagung. Karena tidak semua penjahit bisa membuatkan busana untuk Wayang Potehi. ”Kalau di Jombang itu hanya pembuatan wayangnya,” beber dia.
Dalam membuat Wayang Potehi, waktu yang dibutuhkan kadang sampai berminggu-minggu. Karena dalam sekali membuat ada puluhan wayang yang dikerjakan. Sehingga waktu yang dibutuhkan juga lama.
Wayang Potehi terdiri dari tiga kata yakni poo yang berati kain, tee kantong dan hi pertunjukan. Yang berarti, adalah pertunjukan kantong kain. Tujuan utama pertunjukan Wayang Potehi tidak hanya sebagai tontonan, namun juga sebagai tuntunan tentang arti kehidupan, perjalanan hidup maupun kematian.
”Selain itu, tujuan pertunjukan wayang potehi adalah untuk menghibur dewa-dewi yang ada di klenteng,” papar pria asli Sidoarjo ini. Sejarah wayang potehi pertama kali dikenalkan oleh suku hokian, salah satu suku di Cina.
Kemudian meluas hingga ke daratan Cina dan akhirnya sampai ke wilayah Indonesia dan Taiwan ketika dibawa pedagang China. ”Kalau di Jawa Timur itu pusatnya ada di Jombang dan Surabaya. Di daerah lain juga ada tapi tidak membuat,” pungkasnya. (*)
(jo/ang/fid/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
JOMBANG – Saat bepergian ke Wonosalam, tak ada salahnya mampir sejenak di Masjid Al-Hidayah yang terletak di Dusun Mutersari, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Masjid tua berukuran mungil ini berdiri satu pagar dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mutersari selama berpuluh puluh tahun.
Cerita yang dihimpun Jawa Pos Radar Jombang menyebutkan, pendiri masjid itu Miskunadi, salah seorang warga setempat yang dikenal tekun beribadah. Awalnya, ia hanya membangun sebuah langgar alias musala panggung berbahan bambu sekitar 1967 silam. Dia menggunakan tanah pribadinya sebagai tempat berpijak musala tersebut.
Lambat laun berjalan, Miskunadi mengembangkan bangunan untuk dijadikan masjid yang sedikit lebih layak. Diawali dengan bangunan setengah tembok, agar masjid lebih kokoh saat dipakai beribadah umat Islam. ”Sebenarnya kalau masjid dan gereja ini dibangun lebih dulu gereja. Kalau tidak salah, gereja dibangun 1914, dan masjid 1967,” ujar Nuning Wulandai, anak kandung Miskunadi yang ditemui kemarin (7/2).
Kala itu, di dusun tersebut jumlah umat muslim lebih sedikit dibanding umat kristiani. Karena memang umat kristiani lebih lama menetap di Dusun Mutersari. Sedangkan umat muslim merupakan warga pendatang.
Kendati demikian, berpuluh puluh tahun hidup berdampingan baik umat muslim maupun umat kristiani, tidak pernah merasa terusik dengan kegiatan ibadah masing masing. Mereka tetap rukun dan menjaga toleransi umat beragama satu sama lain.
”Sejak puluhan tahun kita tetap menghormati satu sama lain,” jelasnya. Misalnya, saat jemaat GKJW melakukan ibadah kebaktian Sabtu malam minggu. Di waktu bersamaan, umat muslim melakukan bari’an atau pengajian. Mereka tetap menjalankan kegiatan masing masing. ”Ya tetap dijalankan bersama-sama. Kita saling menghargai,” tandas Nuning.
Namun khusus untuk peringatan kegiatan besar, seperti acara unduh-unduh ataupun Hari Raya Idul Fitri tentu ada perbedaan. Salah satu umat harus mengalah dengan menghormati.
”Misalnya disamping ada unduh-unduh ya otomatis kita tidak menggunakan speaker waktu adzan, kita menghormati dengan cara itu. Tapi kita ya tetap menjalankan ibadah salat lima waktu,” tegasnya. (*)
(jo/ang/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
JOMBANG – SMKN Kabuh sebagai satu-satunya sekolah kejuruan dengan bidang keahlian Teknik Kimia Indsutri dan Farmasi Industri di Kabupaten Jombang, kini berusia tujuh tahun.
Rabu (6/2) kemarin, SMKN Kabuh menggelar sejumlah kegiatan untuk memperingati ulang tahunnya yang ketujuh, mulai dari karnaval budaya, panggung kesenian, dan peragaan busana siswa.
Kepala SMKN Kabuh Panca Sutrisno, S.Pd. M.Si mengatakan, perayaan ulang tahun yang digelar tersebut merupakan yang pertama di SMKN Kabuh.
![]()
Tim Paskibra memimpin karnaval budaya memperingati 7 tahun SMKN Kabuh. (Istimewa)
“Selama tujuh tahun berdiri, baru kali ini ada peringatan hari ulang tahun. Kegiatan ini digelar dengan harapan bisa meningkatkan semangat guru, karyawan, dan siswa dalam memajukan sekolah,” katanya.
Di usianya yang tujuh tahun, kata Panca merupakan usia awal bagi suatu lembaga pendidikan untuk mencapai predikat nama baik dan nama besar.
“Kami akan menjaga, mengatur ritme dan strategi, untuk mempertahankan kepercayaan pemerintah dan masyarakat sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mencetak prestasi dan generasi bangsa yang cerdas, inovatif, tanggung jawab, kreatif, dan ulet,” lanjutnya.
Kegiatan perayaan ulang tahun yang digelar, menurut Panca merupakan bentuk rasa syukur terhadap berdirinya SMKN Kabuh sebagai salah satu penunjang pendidikan di Indonesia.
“Untuk merayakannya kami mencoba memeriahkan hari jadi dengan hal-hal yang bermanfaat kepada siswa,” imbuhnya. Pihaknya berharap, SMKN Kabuh berkembang lebih maju sehingga bisa mengisi pembangunan.
Untuk mewujudkannya, SMKN Kabuh terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas sekolah.
Saat ini, di SMKN Kabuh sudah tersedia laboratorium kimia industri, laboratorium farmasi industri, laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biologi, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan armada antar jemput siswa. “Perlu sinergi dari berbagai pihak untuk bisa mencapai peningkatan mutu dan kualitas pendidikan,” pungkasnya. (*)
(jo/mar/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
JOMBANG – Selain kopi Jegidik, ada lagi kopi lanang yang menjadi produk perkebunan khas Wonosalam. Kopi lanang memang terdengar awam bagi pecinta kopi, namun bagi masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Anjasmoro itu, kopi lanang sudah dikenal sejak dulu.
Imam Choiril, 28, adalah salah satu petani kopi lanang asal Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Aktivitasnya hampir setiap hari full dengan pengolahan kopi lanang.
Setelah dijemur di bawah terik matahari kurang lebih selama tiga minggu, bapak satu anak ini menyortir mana biji kopi lanang dan mana biji kopi biasa.
Ya, sebutan kopi lanang adalah istilah penamaan kopi ekselsa (asisah) yang ukurannya lebih kecil dari biji kopi pada umumnya. Selain bijinya lebih mungil, rasa dan khasiat kopi jenis ini dipercaya memiliki efek manjur. Misalnya, untuk kekebalan tubuh dan penambah stamina bagi pria.
”Mungkin istilah kopi lanang kurang begitu populer di masyarakat. Tapi, kopi jenis ini sudah turun temurun bagi masyarakat Wonosalam,” ujar dia. Dijelaskan, kopi lanang tidak hanya bijinya yang kecil. Melainkan jumlah biji pada buah hanya satu saja.
”Sebuah kopi kalau dibuka pasti bijinya ada dua. Tapi kopi lanang ini hanya satu saja,” terangnya. Lebih lanjut dia memerinci, biasanya dalam satu pohon kopi, biji kopi lanang hanya ditemukan sekian dari banyaknya biji kopi. Biji kopi lanang adalah penyebutan pada biji yang tumbuh kurang maksimal.
”Jika biji kopi pada umumnya, itu bentuknya agak lonjong, tapi kalau biji kopi lanang bentuknya cenderung bulat,” papar dia. Lantas bagaimana rasanya? Bagi lidah orang biasa, rasa kopi lanang saat diseduh hampir sama dengan kopi asisah pada umumnya.
Saat Jawa Pos Radar Jombang mencicipi secangkir kopi yang disediakan Iril, sapaan akrabnya, rasanya sama saja, ada campuran asam dan pahit yang menempel di lidah.
”Namun sebenarnya, lebih asam biji kopi lanang, dan ada beberapa keistimewaan diantaranya menambah stamina dan kekebalan tubuh. Tubuh menjadi lebih hangat,” papar dia.
Sayang, saat ini kopi lanang belum bisa dipasarkan secara meluas. Selain kopinya yang sulit dicari, cara pemilahan kopi ini cukup lama. Karena butuh kejelian saat menyortir kopi asisah biasa dengan kopi lanang.
”Saat ini kami masih kembangkan, karena terus terang kalau dijual dalam jumlah banyak stoknya yang kurang,” tandasnya. Namun, bagi pecinta kopi tidak ada salahnya berburu sendiri ke Wonosalam atau pesan jauh-jauh hari kepada salah satu petani kopi di Wonosalam.
”Ya bisa pesan tapi lama, karena mencari biji kopi ini tidaklah mudah,” papar dia. Harga yang ditawarkan untuk satu kilo biji kopi lanang juga lebih mahal. Karena sulit dicari, harga kopi ini dipasarkan dua kali lipat.
Kurang lebih Rp 70 ribu per kilogram. ”Berbeda dengan kopi asisah biasa yang harganya sekitar 30 sampai 40 ribu per kilogram,” pungkasnya. (*)
(jo/ang/mar/JPR)
JOMBANG – Tak hanya di wilayah Kecamatan Kabuh, usaha kerajinan anyaman bambu ternyata juga bisa ditemukan di Dusun Tulungrejo, Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.
Ngaderi, adalah salah satu pengrajin anyaman bambu di dusun tersebut. Jenis anyaman bambu yang diproduksi adalah tomblok, dan sudah berjalan sejak puluhan tahun lalu. “Keranjang bambu, kalau istilah Jawa disebut tomblok,” terang Ngaderi, saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang.
Tangannya terlihat sangat terampil dan cekatan menganyam satu per satu bambu untuk disilangkan, hingga membentuk struktur tomblok. Dia melakoni pekerjaan itu sejak 1970-an.
“Disini ada puluhan yang bikin kerajinan bambu, tapi cuma saya yang bikin tomblok, yang lain biasanya bikin tampah sama kaluh,” imbuh pria 67 tahun ini. Selain karena alasan telah terlalu banyak pengrajin anyaman bambu jenis tampah dan kaluh, ia juga terbiasa sejak muda membuat tomblok.
Terlebih, dirinya mengaku sudah ada langganan tetap yang tiap hari menerima hasik kerajinannya. Setiap harinya, dia mapu memproduksi 5 sampai 6 tomblok. Jumlah itu bisa bertambah banyak jika istri dan anaknya turut membantu.
“Kalau sendiri paling 6, kalau ada yang membantu bisa sampai 10 per hari,” sambungnya. Tomblok yang sudah jadi, biasanya akan langsung dikirim ke penjual baik, di Jombang maupun luar daerah. Dia pun tak mematok harga mahal, cukup Rp 7 ribu rupiah per biji.
“Ya biasanya ke pasar-pasar kalau di Jombang, kebetulan yang sedang dianyam ini pesanan dari Mojokerto,” terang Ngaderi. Tomblok tersebut menurutnya bisa digunakan untuk berbagai macam wadah.
Selain yang paling umum digunakan sebagai tempat sampah. “Tempat sampah bisa, tapi yang paling banyak pesan itu pengepul rosok, ada juga yang buat tempat bunga dan tape,” pungkasnya. (*)
(jo/riz/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
JOMBANG – Kabupaten Jombang ternyata memiliki banyak produk makanan ringan dari industri rumah tangga. Kali ini yang ditemukan adalah kacang goreng sangrai atau yang digoreng menggunakan pasir. Suratman, warga Dusun Mlaten, Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno, adalah salah satu produsen makanan jenis ini.
Ia bahkan sudah menekuni usaha produksi kacang sangrai sejak 47 tahun silam. Dia merupakan salah satu diantara sekian warga yang menggeluti usaha kacang sangrai di wilayah tersebut. Suratman mengungkapkan sudah puluhan tahun menekuni usaha kacang sangrai.
“Sejak 1971 sudah mulai produksi sendiri,” kata dia. Usaha kacang goreng sangrai menurut Suratman sebelumnya juga sudah dilakukan orang tuanya. “Lebih tepatnya usaha turun-temurun, meneruskan mbah-mbah dulu. Sejak jaman Jepang di sini sudah ada ampyang,” imbuh dia.
Singkat cerita, karena meneruskan usaha keluarga, kakek usia 67 tahun ini mengungkapkan hingga sekarang ini alat yang dipakai masih tetap tradisional. Seluruh pekerjaan dilakukan manual. Mulai dari penggorengan, pemilahan kacang hingga pengepakan.
“Dulu itu pernah pakai oven, terus drum tapi nggak jalan. Nggak ada yang laku, terus balik lagi pakai pasir,” papar Suratman. Dengan dibantu enam orang pekerja notabene masih sanak keluarganya, dalam sehari kata dia bisa menggoreng hingga empat kuintal kacang. Mulai dari pukul 07.00 hingga 14.00 WIB.
“Satu orang dua kuintal, itu kacangnya sudah matang. Tinggal dipilah dan dikemas,” sebut Suratman. Tentunya, melihat cuaca. Sebab, ketika sudah musim hujan, biasanya kurang dari empat kuintal. Salah satu penyebabnya, lantaran waktu kacang dijemur bertambah.
“Semua tergantung kacangnya, kalau kacangnya basah waktu jemur sampai satu hari. Kalau kacangnya kering dibasahi air dulu satu hari satu malam lalu langsung digoreng, nggak usah dijemur lagi,” urai dia.
Uniknya, meski produksi berada di Jombang, untuk bahan baku atau kacang jenis hibrida itu justru didapat dari luar Jombang. Biasanya dia membeli dari Nganjuk, Mojokerto, Kabupaten Malang hingga Bojonegoro.
“Bahan baku dari luar semua, kalau kemarau begini dari Dawarblandong (Mojokerto). Nah nanti kalau sudah musim hujan itu mengambil dari Malang dan Blitar,” sebut dia.
Karena dari beragam daerah, maka kacang-kacang tersebut pun kondisinya berbeda. Perlu dilakukan pemilahan terlebih dahulu sebelum dikemas dalam plastik dengan ukuran beragam. “Kalau di Jombang jarang, adanya kacang kecil-kecil. Kalau yang ini jenis hibrida semua, jadi agak besar,” tutur Suratman.
Karena masih bertahan dengan alat tradisional, kata Suratman kacang yang dia jual itu murni tanpa tambahan. “Tidak ada perasa maupun pengawet, murni dari sawah kita olah kemudian kita kemas. Kalau kacang basah yang dijemur dulu itu bisa bertahan sampai tiga bulan. Kalau yang kering hanya satu bulanan saja,” rinci dia.
Meski masih memakai alat tradisional, penjualan kacang sangrai itu hingga luar Jombang. “Satu minggu biasanya jual satu ton, itu keluar kota semua. Mulai Mojokerto, Malang sampai Gresik,” sebut dia.
Justru musim kemarau seperti sekarang ini yang ditunggu-tunggu. Sebab, penyusutan kacang sewaktu produksi tak begitu banyak.
“Kondisi kacang setiap daerah berbeda, kalau kemarau begini penyusutannya nggak banyak, satu kilogram rata-rata hanya setengah kilogram saja. Musim hujan sekitar empat sampai lima ons terkadang malah ada yang nggak jadi,” pungkas dia seraya menyebutkan harga per kilonya dibandrol Rp 20 ribu. (*)
(jo/fid/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Jombang – Anda pernah makan tape ketan berwarna hijau dengan bungkus kertas yang dijual di warung atau pasar? Bisa jadi tape yang anda makan adalah hasil produksi Usman Ali, warga Dusun Bandungsari, Desa Bandung, Kecamatan Diwek.
Bersama Aslikah, 57, istrinya, Usman menjalankan usaha tape ketan sejak 90an silam. Masih belum hilang dalam ingatannya saat krisis moneter 1998 lalu, usaha permennya mengalami kebangkrutan.
”Saya waktu itu menganggur,” terang Usman, kepada Jawa Pos Radar Jombang. Di tengah upaya mendapatkan pekerjaan, Usman berfikir keras mencari jalan agar dirinya tidak menganggur. Hingga akhirnya muncul ide merintis pembuatan tape ketan. ”Mungkin karena saya lama bekerja di industri pembuatan permen tape,” bebernya.
”Kebetulan istri saya bisa membuat makanan, saya minta mencoba membuat tape ketan,” imbuhnya. Pertama kali membuat tape ketan, hasilnya lumayan. Hanya untuk dimakan sendiri dan keluarga. Beberapa kali mencoba membuat tape ketan, hasilnya cukup enak. Famili dan tetangga yang diminta mencicipi, menyebut tape ketannya cukup enak.
”Dari situ akhirnya saya dorong istri saya untuk menseriusi produksi tape ketan,” bebernya. Diawal dirinya hanya memasak dalam jumlah terbatas. ”Awal membuat dalam jumlah sedikit, hanya sekitar satu kilogram ketan,” bebernya. Hasilnya lagi-lagi memuaskan.
Dari situ, dirinya mulai belajar memasarkan produk tape ketan. ”Awal kami pasarkan ke toko-toko di sekitar rumah, termasuk sebagian dijual ke pasar. Ternyata peminatnya banyak,” bebernya.
Melihat prospeknya bagus, dirinya pun secara bertahap menambah jumlah produksi tape ketan. ”Masaknya ditambah, di pasar lagi-lagi laku keras,” bebernya.
Seiring produknya mulai berkembang, dirinya pun mulai melakukan inovasi dan memperluas pasar termasuk membuat label khusus produk. ”Nama produknya, tape ketan Aslikah, sesuai nama istri saya,” imbuhnya.
Seiring produknya kian dikenal luas, dirinya pun mulai kebanjiran order. ”Banyak yang pesan untuk hajatan, khususnya mendekati hari raya permintaan banyak sekali, kadang sampai kuwalahan,” imbuhnya.
Salah satu kunci larisnya produk tape ketan buatan Aslikah, salah satunya dari kualitas rasa. ”Kualias kami jaga betul, mulai dari pemilihan bahan dasar, kita pilih yang terbaik. Termasuk memasak dan kemasannya kami perhatikan betul, jangan sampai konsumen kecewa,” imbuhnya.
Tak ayal produknya pun tembus ke pasaran, tidak hanya di wilayah Jombang, namun juga hingga Kediri, Malang dan Mojokerto. Terhitung sekarang ini usahanya sudah bertahan sekitar 20 tahun, dan jumlah permintaan terus bertambah.
”Sekarang pesanan juga masih lancar, kalau omzet dirata-rata sekitar 25 jutaan per bulan,” bebernya. Tidak hanya melayani penjual eceran, namun Usman juga melayani permintaan sejumlah toko-toko besar di beberapa daerah.
”Jadi produk tape ketan bisa bertahan sekitar enam hari. Per bungkus dijual dengan harga eceran 500 sampai 1.000,” terangnya. Dirinya pun merasa bersyukur sekali dengan pencapaiannya saat ini.
”Sekarang anak-anak saya sudah mentas semua. Saya pun punya penghasilan, jadi tidak bingung lagi cari kerja ke sana kemari,” singkat Usman. Ditanya pengalamannya jatuh bangun menekuni usaha pembuatan tape ketan, dirinya menarangkan dari faktor fluktuasi harga bahan dasar.
”Saya pernah hampir kolaps, 2017 lalu terkena lonjakan harga ketan, biasanya per kilo sekitar 11 ribu, waktu itu naik sampai 23 ribu per kilonya. Alhamdulillah sekarang sudah normal lagi,” terangnya.
Disinggung adakah selama ini dirinya mendapat pembinaan dari Pemkab Jombang, menurutnya tidak pernah. ”Belum pernah ada pembinaan, didata saja ingat saya belum,” pungkasnya. (*)
(jo/naz/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Peace, justice and strong institutions
Oleh Fantia Yusnita Ayu
Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Pernikahan merupakan hal yang sangat sakral. banyak orang yang menginginkan suatu pernikahan sekali dalam seumur hidup dan juga banyak yang melakukan sebuah perceraian. Pada zaman modern ini banyak para remaja yang melakukan pernikahan dalam usia dini. Umur 20 tahun ke bawah dapat dikategorikan pernikahan dalam usia dini (Undang-Undang Nomer 1 Tahun 1974). Dengan adanya pernikahan dalam usia dini dapat memperburu masa yang akan datang.
Jombang dikenal dengan sebutan kota santri. Tetapi banyak para pemuda yang merusak masa depannya dengan melakukan pernikahan muda. Pernikahan muda sangat tidak baik dilakukan karena akan merusak masa depan bangsa dan diri sendiri. Tingkat menikah muda di Jombang sangatlah memprihatinkan. Di Provinsi Jawa Timur saja pernikahan dini dapat mencapai 35 persen dan itu adalah paling tinggi dari pada provinsi yang lain. Apalagi dengan Kota Jombang yang pasti banyak anak putus sekolah untuk melakukan sebuah penikahan dalam usia dini. Tingkat kegagalan dalam pernikahan usia dini sangatlah miris. Banyak para remaja yang melakukan pernikahan dini yang menuju sebuah kegagalan atau sebuah perceraian. Pernikahan dalam usia dini sangatlah memprihatikan bagi masa depan bangsa dan yang terutama dalam diri sendiri. Dalam suatu pernikahan pasti adanya dengan memenuhi sebuah kebutuhan. Apabila seseorang melakukan pernikahan dalam usia dini dan putus sekolah yang pastinya akan berpengaruh di masa yang akan datang yaitu sulit untuk mencari suatu pekerjaan. Dengan sulitnya mencari pekerjaan akan menimbulkan banyaknya pengangguran. Banyaknya pengangguran dapat munculnya sebuah kriminalitas yang merajalela.
Pernikan dini juga tidak baik untuk psikologi anak. Pernikahan dini dampaknya sangatlah mengkhawatirkan bagi masing masing individual. Banyak para remaja yang emosinya masih labil dengan melakukan sebuah pernikahan. Apabila tidak dapat menahan suatu emosi dapat terjerumus sebuah perceraian. Dengan adanya pernikahan dini dapat menyebabkan terhambatnya pendidikan yang menjadikan minimnya pengetahuan. Pernikahan dalam usia dini tidak hanya menghambat perekonomian dan pendidikan, tapi juga bisa memicu kekerasan dalam rumah tangga. Banyak orang yang melakukan pernikahan dan terjerumus dengan kekerasan dalam rumah tangga. Sangat tinggi kekerasan dalam rumah tangga yang dijalani oleh para pemuda yang melakukan pernikahan dini dibandingkan dengan pernikahan pada seseorang yang sudah dewasa. Apabila seorang anak yang melakukan pernikahan di bawah 18 tahun akan meningkatkan resiko terkena gejala ganguan mental pada remaja. Selain itu, wanita yang melakukan pernikahan dini atau melakukan pernikahan di bawah umur 20 tahun akan menimbulkan penyakit kangker leher rahim yang disebabkan sel-sel leher belum matang dan juga apabila seorang ibu melahirkan anak di umur 20 tahun akan menyebabkan tingkat kematian anak. Banyak di Kota Jombang seorang ibu yang melahirkan anak di usianya yang sangat muda dan meninggal di saat melahirkan. Banyak anak yang dibuang atau ditelantarkan oleh orang tuanya karena tidak sanggup untuk membiayai kehidupannya. Kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah para remaja yang melakukan pernikahan dini. Pernikahan dini sangatlah merusak masa depan masing-masing individual dan bangsa.
Pernikahan dini dapat disebabkan karena sebuah perjodohan atau lebih parah yaitu hamil di luar nikah dan ada yang hanya nafsu semata. Adapun pernikahan dini atas keinginannya individu tetapi sangatlah jarang. adapun juga di berbagai tempat pernikahan dini dijadikan suatu tradisi. Suatu pernikahan dijadikan setiap orang sesuatu yang sakral yang pernikahan sebaiknya dilakukan dengan pasangan siap psikologis, finansial, dan fisik. Apabila dalam hal tersebut tidak siap maka akan menghancurkan diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan masa depan bangsa.
Seharusnya para pemuda dan pemudi menjadi penerus bangsa namun sebagai besar terjebak dalam hal yang buruk. Padahal banyak para remaja yang melakukan pernikahan dini hanya nafsu semata. Dengan adanya kebanyakan negatif dari pernikahan dini sebaiknya pemerintah lebih menegakkan hukum dan sanksi-sanksi yang keras dan mensosialisasikan agar tidak adanya lagi pernikahan anak di usia dini. Tidak hanya pemerintah tetapi masyarakat juga sangatlah berperan penting dengan cara membuka suatu lembaga untuk mensosialisasikan dampak-dampak yang akan muncul akibat dari penikahan di usia dini. Para remaja yang belum terjerumus dalam sebuah perbuatan melewati batas atau hamil di luar nikah kita dapat menanamkan nilai-nilai agar menjauhi hal tersebut. Dengan melakukan hal tersebut sedikit demi sedikit mindset mereka akan berubah dan tidak melakukan suatu pernikahan dalam usia dini atau hamil di luar nikah dan tidak ada para remaja yang terjerumus dalam kegelapan atau perbuatan yang merusak masa depan diri sendiri dan masa depan bangsa.
Perlu adanya kesadaran dari banyak pihak serta komitmen mereka untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya pernikahan yang sehat dan resiko akan pernikahan dini. Hal ini dapat disosialisasikan melalui kanal-kanal informasi yang sudah ada baik secara online maupun offline di lapangan dengan pendekatan komunitas, organisasi atau orang per orang. Dengan demikian, diharapkan angka pernikahan dini di Jombang dapat ditekan atau dikurangi.
Jombang – Minggu ini, rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang akan membahas tentang sosok salah satu mursyid Thariqat yang lahir dan besar di Jombang. Kiprahnya dalam dunia tasawuf tak diragukan lagi dengan kini berkembangnya thariqat yang diasuhnya secara nasional bahkan Internasional.
Ia adalah Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi, tokoh agama yang juga mursyid Thariqah Shiddiqiyyah ini adalah sosok yag cukup disegani. Serta sangat berpengruh mengingat pengikutnya yang di klaim kini telah mencapai lebih dari lima juta orang.
Kiai Muctar, atau banyak juga masyarakat awam menyebutnya kiai Tar, adalah putra dari seorang tokoh agama di wilayah Ploso yang bernama H Abdul Mu’thi, yang merupakan putra dari kiai Ahmad Syuhada, pendiri Pesantren Kedungturi.
Lahir Minggu Kliwon 14 Oktober 1928 atau 28 Rabiul Awal 1347 H di Desa Losari kecamatan Ploso Jombang, kiai Muchtar adalah anak ke 6 dari H Achmad Mu’thi dari perkawinan keduanya dengan Nyai Nasichah atau anak ke 12 dari total 17 anak H Mu’thi dari dua perkawinannya.
Karena berasal dari keluarga yang beragama taat, sejak kecil kiai Muchtar telah akrab dengan berbagai pelajaran dan ilmu agama. Termasuk ilmu kepesantrenan yang awalnya memang berasal dari didikan ayahandanya. Bahkan, mengutip dari buku Sepenggal perjalanan hidup Sang Mursyid karya A. Munjin Nasih, dirinya menulis “Bahkan saat bersekolah di MI Ngelo, di usia 8 tahun beliau telah menghafal 6 Juz Alquran,” tulisnya.
Darah Pesantren yang mengalir deras di dalam darahnya, serta dukungan orang tuanya membuatnya meneruskan pendidikannya berlanjut ke dua pesantren besar di Jombang yakni Pesantren Darul Ulum Rejoso, serta Pesantren Bahrul ulum Tambakberas Jombang, saat usianya remaja.
Meskipun dua kali masuk keluar di dua pesatren tersebut juga tak mulus. Yakni hanya selama 6 bulan di Pesantren Rejoso selanjutnya 8 bulan di Tambakberas. Hal ini dikarenakan beberapa insiden mewarnai proses belajarnya. Kembali dikutip dari buku yang sama, selama di Pesantren Rejoso, dirinya dikenal sebagai santri yang nakal, beberapa masalah kerap dilakukannya baik berupa pembangkangan maupun provokasi hingga berujung pada dikeluarkannya dia dari pesantren tersebut.
“Meski sebelum sempat dijatuhkan hukuman kepadanya, kiai Muchtar memutuskan untuk keluar dengan sindirinya dari pesantren tersebut sehari sebelumnya,” kembali Nasih menulis.
Keluar dari Pesantren Rejoso, kiai Muchtar melanjutkan nyantri-nya ke Pesantren Tambakberas, di Pesantren ini dirinya menghabiskan waktu hingga 8 bulan. Meski kebiasannya nakal sempat terulang kembali, namun di Tambakberas dirinya tercatat menempuh pendidikan lebih lama serta sempat menjadi santri kesayangan kiai Hamid.
Sejumlah kitab juga dirinya pelajari, sebut saja Kitab Taqrib, Nahwu dan Sharaf, Tafsir Jalalain dibawah pengasuhan kiai Hamid, kitab Hadits Shahih Bukhari diasuh kiai Fattah, juga Kitab Fathul Mu’in dibawah asuhan kiai Masduqi.
Hingga ahirnya memutuskan untuk keluar dari pesantren Tambakberas karena ketebatasan ekonomi yang melanda keluarganya. Meski demikian, selama belajar di pesantren, kiai Muchtar lebih aktif menghafal Alquran. Tercatat 12 juz Alquran mampu dirinya hafalkan selama nyantri, hingga jika ditotal dengan hafalan yang telah ia lakukan sebelumnya jumlahnya adalah 18 juz. Pasca keluarnya dari Pesantren Tambakberas inilah dirinya memulai kehidupanya sebagai tulang punggung keluarga.
Terlebih tak lama setalah keluarnya ia dari Tambakberas, ayahanda tercintanya H Mu’thi harus menghadap sang khaliq untuk selama-lamanya. Perjuangannya dalam menghidupi keluarga dengan berbagai cara hingga dirinya memutuskan jalan tasawuf dari hasil renungannya. (*)
(jo/riz/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com
JOMBANG – Tradisi clorotan masih tetap dilakukan warga Dusun Kedungwinong, Desa/Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang. Kemarin (1/2) warga berbondong bondong mengikuti tradisi colorotan sebagai bentuk rasa syukur menjelang musim turun sawah.
Sejak pukul 07.00 WIB, warga berjalan menyisir sawah menuju makam Mbah Kudus, yang diyakini sebagai tokoh pertama kali mbabat alas. Warga membawa asahan (berkat) jajanan tradisional, termasuk tiga jajanan khas clorotan yakni kue clorot, brondong dan pasung. Sebelumnya, mereka berziarah ke makam anggota keluarga.
Lewi, 75, tokoh masyarakat setempat menyampaikan tradisi clorotan merupakan peninggalan nenek moyang yang dipercaya bisa menghindarkan petani dari ancaman petir dan guntur, kala musim hujan saat dan petani mulai menanam padi.
Untuk terhindar dari petir, halilintar atau geledak, petani harus berdoa kepada Tuhan sembari membuat tiga jajanan tersebut sebagai bentuk rasa syukur jelang tanam.
”Pertama kue clorot terbuat dari tepung beras dicampur gulapasir bisa juga gula kelapa, kemudian dibungkus janur, atau daun kelapa muda. Bentuknya memanjang hampir menyerupai terompet,” ujarnya.
Selanjutnya, berondong alias jajanan yang terbuat dari jagung. Berondong jagung dalam hal ini diwujudkan sebagai bentuk geluduk alias halilintar yang gemelegar di langit.
”Saat turun hujan, pasti ada petir dan geluduk, selalu membahayakan petani,” jelasnya. Ketiga kue pasung yang hampir sama dengan clorotan, terbuat dari tepung beras yang dikukus. Hanya saja, yang membedakan kue ini kemesannya.
Kue pasung dibungkus dengan daun nangka atau daun pisang. ”Kue pasung ibarat pelindung, sebagai bentuk doa kepada Tuhan agar petani diberi keselamatan saat menanam padi,” tandas dia.
Tiga jajanan tradisional itu harus disediakan petani untuk memohon keselamatan. Selama ini petani selalu nurut apa yang dikatakan sesepuh desa. ”Alhamdulilah selama ini tidak pernah terjadi hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (*)
(jo/ang/mar/JPR)
Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com
Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com