• info@njombangan.com

Yearly Archive2019

Kreativitas Nusa Amin Menggeluti Produksi Batik dengan Pewarna Alam

Jombang – Bahan-bahan alam, misal serat daun, kulit pepohonan ternyata menyimpan bahan pewarnaan yang tinggi. Salah satunya, bahan untuk produksi batik warna alam.

Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung, terlihat tiga perempuan paruh baya tengah duduk melingkar, sambil tangannya sibuk memegangi kain dan kuas. Di tengah-tengah mereka, ada bejana berukuran sedang berisikan cairan yang dipanaskan di atas tungku mini.

Secara bergantian, tangan ketiganya mencelupkan kuas ke dalam cairan di bejana dan menempelkannya ke permukaan kain sesuai motif yang diinginkan. Nampak pula di sudut lain, seorang pria tengah sibuk menjemur potongan-potongan kain basah di belakang rumah.

Mengetahui orang asing datang, bapak tiga anak ini segera melempar senyum sambil tangannya menyambut jabat tangan. Itulah sekelumit, gambaran suasana rumah Nusa Amin, warga Dusun Sanan Selatan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Salah satu perajin yang mulai berdikari berkat keuletan dirinya menekuni kerajinan batik pewarna alam.

Suami Suniah ini dengan senang hati berbagi pengalaman menggeluti usaha kerajinan produksi batik pewarna alam. Tepatnya, sekitar 2005 lalu, Nusa Amin kembali menginjakkan kaki di Jombang dengan kondisi ekonomi keluarga yang carut marut. ”Punya tanggungan hutang cukup besar. Usaha batik saya di Bali bangkrut, sebab kena tipu orang, tapi bergerak di batik sintesis,” bebernya.

Dalam kondisi ekonomi keluarganya yang guncang, Amin, sapaan akrabnya berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan. ”Sampai kerja jadi kuli bangunan, sebab tidak punya pekerjaan tetap. Yang terpenting kebutuhan nafkah keluarga terpenuhi,” imbuhnya.

Ternyata dalam benaknya, Amin masih punya keinginan mengembangkan ketrampilan membatiknya di Jombang. Namun, dirinya kurang yakin dengan segmen pasarnya akan bisa berkembang.

Rupanya, di sela-sela bertahan menjadi kuli batu, Amin, masih terus memendam semangat menekuni kerajinan batik. Dirinya pun terus membaca peluang usaha tersebut. ”Nah, ingat saya Oktober 2009, batik mendapat pengakuan dari Unesco sebagai warisan bangsa Indonesia. Setelah itu, batik seolah menjadi primadona, banyak dicari orang,” bebernya.

Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Amin pun mulai mencari jalan untuk merintis kembali usaha kerajinan batik. ”Kebetulan, saya dapat tawaran mengerjakan pesanan batik tulis dari perajin di Mojokerto,” bebernya.

Karena sudah kenyang pengalaman membatik, Amin pun dengan mudah menyelesaikan pekerjaan. ”Itu saya jalani setahun lebih. Pulang pergi ke Mojokerto setor barang bawa sepeda pancal,” bebernya.

Seiring berjalannya waktu, dirinya pun mulai mengembangkan jaringan di Jombang. ”Terus saya kenal dengan perajin di Jombang, akhirnya ditawari ikut kerjakan pesanan. Saya kerjakan di rumah,” imbuhnya.

Singkatnya, 2012, dirinya mendapat tawaran mengikuti program pelatihan membatik difasilitasi dinas. Tanpa pikir panjang, dirinya pun berangkat. ”Pelatihannya di Jogjakarta, fokus batik warna alam,” bebernya.

Sepulang dari kegiatan pelatihan tersebut, selain mendapat wawasan baru di dunia membatik, Amin juga sedikit mendapat bantuan modal untuk mengembangkan usaha. ”Mulai saat itu, saya mulai merintis kerajinan batik warna alam,” bebernya.

Berbeda dengan batik sistetis, menurutnya batik warna alam memiliki daya tarik sendiri, salah satunya dari bahan pewarnanya  yang berasal dari bahan-bahan alami, bukan pewarna buatan (kimiawi). ”Jadi bahannya, misalnya dari kulit pohon mangga, mahoni, serabut kelapa, dedaunan dan bahan-bahan alam lainnya. Itu kemudian di ekstrak, diambil sarinya untuk bahan pewarna,” bebernya.

Karena menggunakan pendekatan tradisional, otomatis produksinya memerlukan proses relatif lebih lama. Misalkan, untuk membuat batik warna alam miliknya, prosesnya cukup panjang.

Mulai dari mencari bahan kain, setelah kain siap, selanjutnya lanjut Amin diketel. Dicelupkan dengan larutan air bekas bakaran merang. Terus berulang-ulang, celup kering-celup kering sampai tujuh kali. Proses ini memakan waktu cukup lama.

Setelahnya, kain-kain tersebut dicuci bersih baru setelahnya siap dipola. ”Biasanya menggunakan pensil, belum lagi proses canting,” bebernya.

Selanjutnya proses pewarnaan, ini juga membutuhkan waktu cukup panjang. ”Sama prosesnya, celup kering-celup kering sampai tujuh kali, itu kalau produk saya. Terus juga ada proses penguncian, menjaga warna agar tidak pudar. Jadi dicelupkan dalam ari tawar atau juga air batu tunjung,” imbuhnya.

Kebanyakan motif batik warna alam yang banyak dicari pelanggannya motif kuno, namun demikian, Amin juga mengembangkan sejumlah produknya dengan motif kontemporer. ”Motif kuno, misal parang, udan liris, sekar jagad. Selain indah, motif-motif ini juga menyimpan nilai filosofi yang tinggi, ada ceritanya. Misalnya, udan liris, biasanya dipakai perempuan yang sudah menikah, sekar jagad filosofinya junjung derajad dan masih banyak lagi,” bebernya.

Melihat proses pembuatannya yang njlimet, tak pelak produk batik warna alam memiliki nilai jual cukup tinggi. ”Harga per lembar, kisaran Rp 350 ribu hingga Rp 1,5 juta juga ada. Harga menyesuaikan teknik pembuatan dan kualitas bahan,” tegasnya. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Ikwanto, Salah Satu Pembudidaya Tanaman Bonsai yang Masih Bertahan

Jombang – Pembudidaya tanaman bonsai mulai jarang ditemui. Namun tidak dengan Ikwanto, yang hingga kini masih getol merawat tanaman bonsai hasil buruannya di hutan.

Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung, Ikwanto terlihat sibuk menggunting beberapa tanaman mungil yang ditanam dalam pot. Dengan beberapa peralatan seadanya, dengan cepat dia merangkai tanaman bonsai yang cantik dan enak dilihat.

Ya, pria 40 tahun ini mulai tertarik  budidaya bonsai alias pohon yang dikerdilkan dalam pot sejak 2001. Kala itu, saat budidaya tanaman bonsai sempat booming, banyak rekan-rekannya yang ikutan budidaya.

Hanya, jika teman-temannya membudidayakan cara membeli, tidak dengan Ikwanto. Dia sering blusukan keluar masuk hutan untuk mencari koleksi tanaman. ”Saat awal awal ramai, saya sering berburu di hutan,” ujar dia.

Karena hobi, dia tidak mengenal waktu. Mulai pagi hingga sore dia jalani blusukan ke beberapa tempat di Jawa Timur mulai Lamongan, Gresik dan beberapa daerah lainnya. ”Dari dulu memang karena hobi, bahkan saya tidak ingat berapa biaya yang saya keluarkan untuk tanaman-tanaman ini,” jelas dia.

Di rumahnya, hingga kini masih ada berbagai macam tanaman bonsai. Mulai jenis lokal seperti pohon serut, asem kranji, hingga beberapa jenis yang sulit ditemui seperti beringin amplas, sisir, dan mustam, gulo gemantung dan beberapa jenis lainnya.

Pada dasarnya, kata bapak empat anak ini, semua tanaman bisa dibonsaikan. Asalkan, daunnya kecil, memiliki batang keras dan bisa hidup bertahun-tahun. ”Jenis yang paling saya sukai adalah pohon asam belanda,” jelas dia.

Tingkat keunikan dan keindahan suatu bonsai juga tergantung pada tingkat kekreatifan yang dimiliki pembudidaya bonsai. Jika sering bereksperimen dan mencoba hal baru, tentu bisa membuat bonsai yang biasa menjadi lebih unik. Selain itu, dari sekian jenis tanaman ada satu tanaman yang sulit ditanam. Yakni pohon asem kranji.

”Kalau pohon asem ini tidak bisa ditaman langsung. Tapi harus melalui bibit otomatis kan harus menunggu bertahun tahun hingga tumbuh besar,” jelas dia.

Selain itu perawatan bonsai ini juga butuh perhatian khusus, misalnya harus disiram setiap hari dan diberi pupuk seminggu sekali. ”Jika daunnya sudah agak lebat, kita potong dan kita beri kawat agar alur pohonnya tidak tumbuh ke atas, namun tumbuh sesuai konsep kita,” papar dia.

Saat booming, bonsainya sering dilirik bahkan dibeli sesama penggemar bonsai. Harganya juga cukup bervariatif, mulai Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta tergantung dari keunikan pohon tersebut. namun saat ini, jarang ada yang melirik tanaman tersebut karena sudah tidak begitu diminati. ”Kalau sekarang ya jarang, Cuma tanya tanya saja,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Penguasaan Teater Bagi Guru atau Calon Guru di Jombang dalam Menciptakan Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan

Quality Education

Oleh Ifa Aulia Cahyani

 

Pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk anak atau kita karena pendidikan suatu jenjang mendidik karakter kita. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang harus diperhatikan, disiapkan, dan diberikan sarana dan prasarananya dengan baik. Harapan kita masyarakat Jombang dapat mendapatkan generasi penerus yang berkompetensi, yakni pengetahuan, sikap, dan keterampilan atau sering kita dengar afektif, kognitif, dan psikomotorik yang terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan di indonesia khususnya Kota Jombang harus memiliki sauri tauladan yang baik untuk di contoh dan guru memiliki pedagogis yang baik.

 

Apalagi di Jombang juga terdapat Sekolah Tinggi Keguruan yang tentunya dapat membentuk guru-guru yang baik serta dapat meningkatkan kemajuan pendidikan dan membentuk suatu karakter bangsa. Dan juga Kota Jombang sudah banyak dikenal dengan potensi teater yang cukup produktif baik di kalangan pelajar, mahasiswa, maupun di masyarakat umum. Sehingga dapat kita kaitkan kebudayaan bangsa dengan kemanfaatannya di peningkatan kualitas pendidikan yang ada di Kota Jombang.

 

Seorang guru atau instruktur adalah aktor ketika melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar di depan kelas. Sebagai seorang aktor yang sedang memainkan “pertunjukan”, maka tidak salah jika dia harus tampil sebagai aktor yang memukau para peserta didiknya agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.

 

Bagi seorang guru yang tidak menyadari kedudukannya sebagai seorang aktor, maka tidak jarang jika dia sering menghadapi persoalan–persoalan, seperti peserta didik malas mengikuti pembelajaran, mengantuk, atau ngobrol sendiri. Jika yang mengantuk berjumlah 1–2 peserta didik maka ada sebuah persoalan dari guru tersebut tak mampu “memasuki dunia mereka dan mengantar dunia kita ke dunia mereka” lantaran penampilan tidak menarik, tidak menyenangkan, tidak memberikan inspirasi baru, menjenuhkan dan tidak menggairahkan.

 

Ketika seorang guru menjumpai para peserta didiknya mengantuk atau ngobrol sendiri, pernahkah guru tersebut menanyakan alasannya? Jikalau seorang peserta didik tersebut berani menjawab secara jujur, maka mungkin berbunyi

“cara mengajar Bapak, Ibu yang membuat kami mengantuk” atau

“Bapak, Ibu berbicara sendiri maka kami juga ngobrol sendiri”.

Di sinilah akhirnya, seorang guru harus membuka diri bahwa ada masalah dalam penyampaian ketika mengajar.

 

Menyimak peristiwa tersebut di atas, maka secara tegas saya katakan bahwa penampilan seorang guru mau tidak mau harus membuat siswa “tak berhak” mengantuk dan mengobrol saat proses belajar mengajar berlangsung. Andaikan peserta didik mengobrol, maka obrolan itu berkaitan dengan belajar mengajar yang sedang berlangsung.

 

Berbicara perihal teater, tentunya pertama kali yang terbersit di pikaran adalah melakukan suatu sandiwara dengan membawakan suatu karakter tokoh tertentu yang biasanya meliputi antagonis, protagonist, dan tirtagonis. Tetapi bagaimana jika sorang guru merasa bukan seorang yang menyukai teater, ataupun merasakan bahwa dirinya bukanlah suatu pribadi yang baik dalam bermain teater, ataupun seorang seniman teater? Yang jelas, bahwa teater bukanlah suatu yang eksklusif bagi kalangan seniman. Setiap orang boleh dan berhak menyelami teater dan mengambil manfaat dari teater, tanpa harus menjadi orang teater.

 

Tujuannya dari teater tak lain adalah agar kita mampu berkomunikasi dengan baik, mampu menjaga, mampu “menghipnotis” lawan bicara sehingga yang diinginkan dapat tercapai dengan baik. Saya pikir seorang guru mustinya mendapat pelatihan prinsip-prinsip dasar teater untuk meningkatkan performanya dalam berkomunikasi, dan saya pikir para guru tersebut tidak harus 100% menerapkan prinsip–prinsip yang dijalani oleh seorang pemain monolog, karena tantangannya tak sebesar seorang pemain teater yang harus menguasai perhatian penonton sebanyak satu gedung teater, dengan jumlah yang mencapai ratusan orang. Seorang guru hanya perlu menguasai perhatian siswa satu kelas saja, yang umumnya hanya berjumlah puluhan siswa. Jadi, baik cakupan maupun kedalamannya, cukup 50% saja seorang guru mendalami dan menerapkan prinsip-prinsip dasar pertunjukkan drama/ teater.

 

Bahwa belajar teater bukanlah suatu yang sulit atau asing buat orang yang awam karena pada dasarnya insting atau intuisi manusia sudah memahami prinsip-prinsi dasar teater. Semisal soal bloking atau tata letak pemain. Kesadaran mengatur letak dan posisi tubuh sebenarnya sudah dimiliki semua orang setiap kali terlibat dalam situasi komunikasi, namun tak semua orang menyadari untuk memaksimalkan urusan bloking ini.

 

Pengaturan bloking dalam teater diatur untuk melancarkan komunikasi dan membangun dinamika, selain memudahkan penonton menyimak setiap tokoh di panggung. Dalam pertunjukan teater, kekayaan bloking menjadi krusial karena potensi pertunjukan teater lebih besar peran dan fungsinya. Pertujukan monolog bisa dilakukan dan bisa disamakan dengan situasi mengajar di kelas. Seperti halnya pertunjukan monolog, para penonton bisa dijadikan pemain. Di dalam kelas, para siswa musti dijadikan lawan bicara dan diskusi, sehingga perlu diatur juga blokingnya. Oleh karena itu, guru juga bisa menjadi sutradara dalam pengaturan bloking bagi dirinya dan para peserta didiknya karena tata letak yang ideal untuk sebuah bangunan komunikasi adalah bahwa setiap orang dalam kelas diupayakan untuk dapat saling melihat satu sama lain. Maka, tempat duduk siswa diorkestrasi sedemikian rupa, orkestrasi ruang kelas model arena, tapal kuda, ataupun yang alian (seperti pada pola estetik teater tradisi) dapat diterapkan agar terbangun dinamika dan situasi dialogis karena jauh dari kesan formal.

 

Setelah menyusun bloking untuk peserta didik, kini tinggal mengatur bloking untuk dirinya. Pemain monolog yang melulu hanya berdiri di satu titik dan pelit movement akan lebih mudah membuat penonton bosan. Pergerakan guru dari suatu titik ke titik lain diperlukan untuk menjaga intensitas peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung, maka seorang guru tidak boleh pelit untuk memberikan perhatian kepada siswanya.

 

Bertalian dengan oleh vokal, kesadaran mengatur volume suara perlu untuk diperhatikan bagi setiap orang yang terlibat dengan situasi komunikasi, tidak semua orang sadar dan peka dengan urusan olah vokal ini. Prinsipnya sederhana, yang serba terlalu pasti tidak baik untuk dilakukan. Volume terlalu lemah akan membuat siswa sulit mendengar, dan ujung-ujungnya bisa mendatangkan rasa kantuk. Terlalu keras bisa membuat telinga sakit. Volume suara sebaiknya disesuaikan dengan ruangan kelas dan jarak guru dengan siswa. Pengaturan volume sesekali bisa dikeraskan pada saat guru melihat siswa yang bergelagat ngantuk atau sedang ngobrol tidak memperhatikan penjelasan.

 

Demikian pula dengan ekspresi. Jika artikulasi guru tidak bagus, akan terdengar seperti orang yang sedang berkumur-kumur, tidak jelas apa yang disampaikan. Teknik pemberian isi dan ekspresi pendialogan yang diatur datar-datar saja akan tercipta situasi monoton. Monotonitas menimbulkan proses pembelajaran yang membosankan dan berlangsung secara tidak efektif. Yang jelas vokal guru harus melebihi audible, possible, dan intelektebel.

 

Apabila guru di Jombang diajari dan menguasai teknik teater maka akan dapat mendukung mereka dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Diharapkan hal itu menjadi menarik dan meningkatkan minat para murid untuk lebih giat dan kreatif belajar, demi pendidikan Jombang yang lebih berkualitas.

Usaha Kerajinan Kain Perca Ike Norawati Pernah Dipesan Ibu Negara

 

Jombang – Berawal dari coba-coba mengolah limbah kain perca, kini Ike Norawati bisa mulai merasakan kerja kerasnya. Ike yang memulai usaha kerajinan sejak akhir 2014 lalu, hingga kini terus berkembang.

Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung, sejumlah ibu-ibu tampak serius mengerjakan beberapa kerajinan tangan di sebuah teras rumah sederhana Dusun Kemambang, Desa/Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Mulai dari bross, tas berbahan dasar pandan hingga dekorasi rumah.

Ya, di rumah Ike inilah setiap harinya diproduksi kerajinan tangan ciamik dengan model yang kekinian. Ike memulai usahanya sejak 2014. Ia awalnya adalah seorang penjahit baju dengan omzet pas-pasan. Namun kala itu, dia mencoba memutar otaknya dengan memanfaatkan kain perca sisa dari potongan kain.

”Lalu saya coba buat bross dari kain perca,” ujar dia kemarin sembari membuat kerajinan. Lambat laun, ia terus berjuang menekuni apa yang sudah dirintis. Pertama memang rintangan berat, mulai dari pemasaran hingga beberapa bahan  yang harganya saat itu cukup mahal.

Namun dengan ulet dia terus mengembangkan usahanya. ”Saya dari awal fokusnya ke pemanfaatan kain perca. Karena saya kuwalahan mengerjakan sendiri, makanya saya ajak ibu-ibu di RT sini,” sambung perempuan 36 tahun tersebut. 

Dengan memberdayakan ibu-ibu, beban Ike sedikit berkurang. Mulai saat itulah dia perlahan-lahan mengembangkan pemasaran. Mulai membuat beberapa akun di media sosial, hingga mengenalkan ke ibu-ibu yang notabene istri pejabat.

Mulai dari jajaran ibu-ibu PKK Jombang, jajaran ibu-ibu Persid (istri tentara), Forsid (istri anggota DPRD) hingga Bhayangkari (istri polisi). ”Bahkan saya tak percaya jika tas buatan saya pernah diborong sama Ibu Iriana (istri Presiden Jokowi),” tandasnya dengan wajah sumringah. 

Singkat cerita, tas bikinan Ike dibawa oleh Dewi Agung Marliyanto, istri mantan Kapolres Jombang Agung Marlianto untuk mengikuti kegiatan pameran di Cibodas, Bandung pada 2016 silam. Ternyata hiasan unik di sebuah tas pandan buatan Ike memikat hati istri Presiden Jokowi kala itu.

Tak banyak yang diucapkan, ibu Iriana langsung memborong 30 tas bikinannya. ”Awalnya saya ditelepon sama bu kapolres, dipesan 200 dengan waktu seminggu. Saya ngomong saya tidak bisa karena keterbatasan karyawan. Akhirnya yang dibawa itu cuma 30 tas saja,” beber dia.

Meski begitu dia mengaku bangga, sebab, kerajinan berbahan kain perca asal Jombang ternyata mampu bersaing di tingkat nasional. 

Dalam memproduksi tas dan sejumlah kerajinan lainnya, Ike memang tidak membuat sendiri. Untuk tas pandannya dia memesan dari sentra kerajinan tas pandan di Ngusikan sedangkan untuk bross dan dekorasi rumah dia memanfaatkan tetangganya.

Namun tentunya dengan pelatihan yang dilakukannya. ”Dan Alhamdulilah produk saya digemari,” jelas dia. Kini penjualannya terus merambah ke berbagai penjuru di Indonesia, apalagi harga yang ditawarkan cukup terjangkau.

Mulai bross dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu. Per bulan, omset ibu satu anak ini mencapai Rp 20 juta. ”Bross saya juga pernah dipesan hingga ke luar negeri, seperti Australia, Singapura, Brunei Darusslam,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi, Sang Mursyid Thariqat Shiddiqiyyah

Jombang – Minggu ini, rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang akan membahas tentang sosok salah satu mursyid Thariqat yang lahir dan besar di Jombang. Kiprahnya dalam dunia tasawuf tak diragukan lagi dengan kini berkembangnya thariqat yang diasuhnya secara nasional bahkan Internasional.

Ia adalah Kiai Muchammad Muchtar Mu’thi, tokoh agama yang juga mursyid Thariqah Shiddiqiyyah ini adalah sosok yag cukup disegani. Serta sangat berpengruh mengingat pengikutnya yang di klaim kini telah mencapai lebih dari lima juta orang.

Kiai Muctar, atau banyak juga masyarakat awam menyebutnya kiai Tar, adalah putra dari seorang tokoh agama di wilayah Ploso yang bernama H Abdul Mu’thi, yang merupakan putra dari kiai Ahmad Syuhada, pendiri Pesantren Kedungturi.

Lahir Minggu Kliwon 14 Oktober 1928 atau 28 Rabiul Awal 1347 H di Desa Losari kecamatan Ploso Jombang, kiai Muchtar adalah anak ke 6 dari H Achmad Mu’thi dari perkawinan keduanya dengan Nyai Nasichah atau anak ke 12 dari total 17 anak H Mu’thi dari dua perkawinannya.

Karena berasal dari keluarga yang beragama taat, sejak kecil kiai Muchtar telah akrab dengan berbagai pelajaran dan ilmu agama. Termasuk ilmu kepesantrenan yang awalnya memang berasal dari didikan ayahandanya. Bahkan, mengutip dari buku Sepenggal perjalanan hidup Sang Mursyid karya A. Munjin Nasih, dirinya menulis “Bahkan saat bersekolah di MI Ngelo, di usia 8 tahun beliau telah menghafal 6 Juz Alquran,” tulisnya.

Darah Pesantren yang mengalir deras di dalam darahnya, serta dukungan orang tuanya membuatnya meneruskan  pendidikannya berlanjut ke dua pesantren besar di Jombang yakni Pesantren Darul Ulum Rejoso, serta Pesantren Bahrul ulum Tambakberas Jombang, saat usianya remaja.

Meskipun dua kali masuk keluar di dua pesatren tersebut juga tak mulus. Yakni hanya selama 6 bulan di Pesantren Rejoso selanjutnya 8 bulan di Tambakberas. Hal ini dikarenakan beberapa insiden mewarnai proses belajarnya. Kembali dikutip dari buku yang sama, selama di Pesantren Rejoso, dirinya dikenal sebagai santri yang nakal, beberapa masalah kerap dilakukannya baik berupa pembangkangan maupun provokasi hingga berujung pada dikeluarkannya dia dari pesantren tersebut.

“Meski sebelum sempat dijatuhkan hukuman kepadanya, kiai Muchtar memutuskan untuk keluar dengan sindirinya dari pesantren tersebut sehari sebelumnya,” kembali Nasih menulis.

Keluar dari Pesantren Rejoso, kiai Muchtar melanjutkan nyantri-nya ke Pesantren Tambakberas, di Pesantren ini dirinya menghabiskan waktu hingga 8 bulan. Meski kebiasannya nakal sempat terulang kembali, namun di Tambakberas dirinya tercatat menempuh pendidikan lebih lama serta sempat menjadi santri kesayangan kiai Hamid.

Sejumlah kitab juga dirinya pelajari, sebut saja Kitab Taqrib, Nahwu dan Sharaf, Tafsir Jalalain dibawah pengasuhan kiai Hamid, kitab Hadits Shahih Bukhari diasuh kiai Fattah, juga Kitab Fathul Mu’in dibawah asuhan kiai Masduqi.

Hingga ahirnya memutuskan untuk keluar dari pesantren Tambakberas karena ketebatasan ekonomi yang melanda keluarganya. Meski demikian, selama belajar di pesantren, kiai Muchtar lebih aktif menghafal Alquran. Tercatat 12 juz Alquran mampu dirinya hafalkan selama nyantri, hingga jika ditotal dengan hafalan yang telah ia lakukan sebelumnya jumlahnya adalah 18 juz. Pasca keluarnya dari Pesantren Tambakberas inilah dirinya memulai kehidupanya sebagai tulang punggung keluarga.

Terlebih tak lama setalah keluarnya ia dari Tambakberas, ayahanda tercintanya H Mu’thi harus menghadap sang khaliq untuk selama-lamanya. Perjuangannya dalam menghidupi keluarga dengan berbagai cara hingga dirinya memutuskan jalan tasawuf dari hasil renungannya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Monumen Perjuangan Pasukan Wanara, Cerita Gugurnya Lima Anggota TNI

Jombang – Wana wisata Sumberboto di Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno selain dikenal dengan sumber airnya juga terdapat monumen perjuangan perjuangan Pasukan Wanara. Lokasinya di samping kolam renang, tempat gugurnya lima anggota pasukan akibat kena bom.

Suasana wisata alam Sumberboto saat ini juga lebih banyak sepi pengunjung. Yang ada beberapa petugas tengah sibuk membersihkan area kolam renang. Sementara petugas lainnya  duduk-duduk santai di area parkir depan.

Di area kolam juga demikian, yang ada hanya tiga  anak setempat tengah bermain air. “Ramai saat liburan saja. Kalau nggak begitu ya pas ada yang kemah,” Surono salah seorang petugas.

Tepat di samping kolam renang terdapat monumen yang sudah puluhan tahun berdiri. Yakni monumen perjuangan Pasukan Wanara (Komando Pasukan Gerilya Kehutanan). “Dibangun tahun 1970, waktu itu diresmikan Dirjen Kehutanan. Itu di prasastinya ada,” kata dia sembari menunjuk monumen.

Menurutnya, didirikan monumen, lantaran dulunya lokasi ini menjadi tempat gugurnya lima anggota Pasukan Wanara. Mereka gugur ledakan bom  500 kilogram peninggalan jaman Jepang yang berusaha dijinakkan. “Tiga orang dimakamkan di Jombang,” sebut dia.

Di area monumen itu sudah ditulis komplet siapa saja yang gugur saat berusaha menjinakkan bom itu. Meski untuk saat ini sudah tak ada sisa-sisa ledakkan menurut dia, dulu terdapat semacam peluru b di dekat monumen. “Bentuknya seperti peluru kendali, tapi sudah hilang tidak tahu kemana. Sekitar 1999-an, bentuk ujungnya lincip ada di dekat tiang bendera,” tutur salah seorang warga Dusun Sedah ini.

Sementara itu, Arif Bijaksana, Humas Perum Perhutani KPH Jombang mengakui selain wana wisata alam, di lokasi itu terdapat monumen perjuangan. “Jadi di sana (monumen) sekitar April 1948 itu bomnya meledak. Dulu kan di sana tempat merakit dari bom menjadi amunisi seperti peluru dan geranat,” kata Arif dikonfirmasi.

Meski begitu, untuk saat ini yang ada hanya monumen itu. Sementara sisa meledaknya bom itu sebagian ditempel di area monumen.  “Sisanya ditempel, itu saja kalau yang lain sudah tidak ada lagi,” sambung dia.

Di awal pendirian monumen, ada beberapa sisa serpihan bom, peluru dan granat yang ditaruh di monumen. Dalam perjalanannya, sisa-sisa itu pun kini hilang. “Memang benar dulu banyak di situ, nggak tahu disimpan dimana tidak jelas. Kita sendiri kepinginnya menggali lagi dan dihimpun lagi, akan tetapi sudah sulit untuk melacaknya,” pungkas Arif. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Ada Sejak 1960, Ketan Merdeka Jadi Kuliner Legendaris di Jombang

Jombang – Khetan Merdeka. Ya, warung ketan ini sengaja ditulis Khetan yang sudah terkenal itu sudah ada sejak puluhan tahun silam. Warungnya berada di Jombang kota yakni di Jalan KH Abdurrahman Wahid  (Jalan Merdeka).

Sri Utami pemilik warung Ketan Merdeka menceritakan, dia merupakan generasi ketiga penerus dari kuliner itu. “Jadi sebelum ketan ini dulunya  sudah jualan getuk, perintisnya Mbah Warni, kemudian Mbah Wage baru saya,” kata Utami kemarin (24/2).

Dia sendiri tak begitu hafal tahun berapa warung yang berada di  jalan protokol itu mulai berdiri. Seingat dia, generasi kedua (Wage) yang merintis panganan ketan itu. “Kalau jualan ketan full itu Mbah Wage sekitar 1960-an. Sekarang sudah meninggal,” imbuh dia.

Singkat cerita, seiring berjalannya waktu, warung ketan itu pun semakin populer hingga sekarang dengan sebutan Ketan Merdeka. Bukanya pun sampai sekarang masih tetap sama, yakni selepas salat Subuh.

Menurut wanita usia 62 tahun ini, tidak ada batasan pukul berapa warung itu buka. “Pokoknya setelah turun dari salat Subuh sudah buka, nggak ngerti jam berapa. Sampai pukul berapa juga tidak dibatasi. Pokoknya mau habis sudah nggak melayani lagi, kita sudah tahu ancer-ancernya,” imbuh dia.

Saking ramainya, hampir setiap hari dalam hitungan jam Ketan Merdeka itu habis terjual. Bahkan pukul 05.30 WIB saja beberapa pelanggan harus kembali dengan tangan hampa. “Sehari itu biasanya habis 20-30 kilogram ketan. Baik ketan hitam maupun putih, kalau ditambahi saya yang nggak kuat,” sebut dia diiringi dengan tawa.

Ada dua varian ketan, yakni ketan hitam dan putih. Yang menjadikan beda yakni adanya pelengkap berupa sambal atau bumbu yang terasa gurih. Sehingga perpaduan antara ketan dengan bumbu itu bercampur jadi satu, antara gurih dan sedikit manis.

“Khasnya mungkin ada di bumbunya, ada bumbu kedelai dan kelapa. Ditambahi parutan kelapa,” beber istri Sujali ini. Menuru Utami, untuk membuat bumbu itu memang agak sulit. Terutama pada bumbu kelapa.

“Yang susah itu sambal kelapa, miniml lima sampai enam butir untuk sehari, itu buatnya harus telaten. Gorengnya minimal tiga jam, kemudian ditumbuk soalnya kalau digiling nggak bisa,” urai dia.

Ketan yang dipakai juga tidak ada jenis ketan tertentu. Menurut dia, yang terpenting dia bisa menjaga mutu dan kualitas. “Kalau bisa, berusaha meningkat,” tutur dia. Harganya juga terbilang masih ramah di kantong, sebab bila campur jadi satu antara ketan hitam dan putih dibandrol 5000. Bisa dibungkus atau dimakan di warung. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Tangan Kreatif Nuril Fadilah Dian Membuat Bunga Hias Berbahan Stocking

JOMBANG – Bunga hias yang terbuat dari bahan dasar kain stocking masih jarang ditemui di Jombang. Nuril Fadilah Dian, salah satu warga Dusun/Desa Palrejo Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang adalah salah satu perajin bunga unik ini.

Sesuai dengan bahan dasarnya, bunga ini diberi nama bunga stocking. Terbuat dari bahan dasar kain stocking yang tipis dan melar. Yang dibentuk sedemikian rupa sehingga  menjadi hiasan yang laku dijual.

“Iseng-iseng bikin bunga stocking, referensi sepenuhnya dari internet, karena di Jombang masih belum ada yang bikin bunga stocking,” kata Dian, sapaan akrabnya.

Dian memang memiliki hobi berkreasi membentuk bunga. Hobi itu mulai muncul sekitar tahun 2007 dimana saat itu sedang banyak orang yang menggandrungi bunga yang terbuat dari sedotan.

Bunga sedotan disulut menggunakan jarum panas, dan dirangkai untuk hiasan dinding atau bunga hias di meja ruang tamu. Namun itu tidak bertahan lama, karena seiring berjalannya waktu, musim bunga sedotan kemudian berganti pada bunga dengan bahan dasar lain.

Ia juga pernah membuat bunga dari manik-manik, ia susun menggunakan kawat dan tangkai yang juga terbuat dari kawat. Bunga ini memang sudah banyak dibuat perajin bunga hias yang lain sehingga ia kemudian belajar lagi membuat bunga dengan bahan dasar lain.

“Lantas buka-buka mbah google ada bunga stocking, saya penasaran dengan cara pembuatannya, karena membentuk stocking-nya dulu, bukan langsung dirangkai seperti manik-manik,” tambah ibu satu anak ini.

Untuk mengobati rasa penasarannya, ia tidak membuat bunga. Awalnya membuat bros dari bahan dasar kain stocking, bahkan saat itu pertama kali ia coba ia menggunakan kaos kaki stockingnya. Sayangnya, usaha pertamanya gagal, karena kain kaos kaki stocking yang ia punya masih terlalu tebal dan kurang melar.

“Korban satu kaos kaki dulu, meskipun gagal tidak masalah, karena sudah mengobati rasa penasaran saya dulu,” imbuhnya. Kemudian ia mencari kain stocking yang betul-betul pas. Sayangnya, untuk mencari kain stocking ini tidak semudah mencari kain flanel atau jenis kain yang lain. Tidak semua toko kain menjual. Yang menjual jenis kain ini hanya di Kediri dan  Blitar.

“Di Jatim hanya di situ, selain itu tidak ada, sepertinya ini langsung didatangkan dari Cina, bentuknya seperti kain perca, tapi ini stocking, jadi memang sudah potongan sekitar setengah meteran,” jelasnya sembari menunjukkan stok kain stocking yang masih tersisa di rumahnya.

Ya, benar, bentuknya memang seperti kain perca yang tidak terpakai, satu helai kain panjangnya sekitar 50 sentimeter, dan terdiri dari berbagai macam warna. Satu helai harganya sekitar Rp 3.500 saja.

Menggunakan kain itu, ia mulai berhasil membuat bros. Bros yang ia pasarkan laris manis karena masih jarang ada di Jombang, peminat pertamanya adalah guru-guru di tempatnya mengajar, yang kemudian ia pasarkan melalui media online dan bazar-bazar kecil.

Setelah usahanya membuat bros berhasil, ia kemudian membuat bunga hias. Ternyata bunga hias yang baru ia buat beberapa bulan ini juga memiliki banyak peminat. Apalagi adanya momen hari ibu, hari guru dan hari valentine beberapa waktu lalu membuat bunga buatannya laku keras.

“Yang paling banyak dicari di momen-momen seperti itu biasanya bunga yang satu tangkai atau dua tangkai saja, yang pot buat hiasan rumah,” tambahnya.

Pembuatan bunga hias memang lebih njlimet, pembuatannya dimulai dari pembentukan pola bunga atau daun menggunakan kawat tipis yang lentur. Kemudian baru memasukkan kawat ke dalam kain stocking sesuai warna yang akan dibuat. Kain stocking ditumpuk dua sampai tiga kali agar tidak mudah robek.

Kain stocking mudah dibentuk sesuai pola, karena langsung mengikuti pola yang ada, bahkan jika pemilik bosan dengan bentuk bulat misalnya, bisa diganti sendiri menjadi bentuk oval atau yang lain sesuai keinginan. Hanya tinggal membentuk ulang kawatnya, otomatis, bunga akan terbentuk seperti pola yang dibuat.

Untuk tangkainya ia juga menggunakan kawat, tapi yang ukurannya lebih besar. Kawat  dibungkus dengan solatip khusus tangkai bunga berwarna warni sesuai permintaan, baru dirangkai.

Satu hari ia bisa menyelesaikan satu pot bunga, tergantung besar kecil yang diinginkan pemesan. Satu pot bunga biasa dijual dengan harga Rp 25 ribu. Yang paling besar ia pernah membuat setinggi kurang lebih satu meter untuk bunga sakura dan terjual Rp 280 ribu.

Mahal atau murahnya harga bunga hias stocking yang ia buat tergantung dari besar kecilnya, dan kerumitan serta bahan yang digunakan. Pemasaran ia lakukan secara online melalui media sosial yang ia punya. Melalui online menurutnya lebih luas jangkauannya.

Ia bahkan sudah menjual di seluruh kota di Jatim. Surabaya, Malang, Sidoarjo hingga Depok Jawa Barat. “Memang kebanyakan tau dari online, karena jangkauannya luas, kadang saya juga ikut bazar-bazar yang ada di Jombang,” pungkasnya. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Tak Cuma di Kediri, Produksi Getuk Berbahan Pisang Juga Ada di Jombang

JOMBANG – Lebih dikenal sebagai jajanan khas Kediri, getuk pisang ternyata juga banyak diproduksi di Jombang. Salah satunya, di Dusun Dempok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Megaluh. Bahan pisang yang digunakan selalu raja nangka.

“Sebenarnya semua pisang bisa digunakan getuk, tapi hanya pisang raja nangka yang warnanya sangat pas bisa cokelat keunguan. Jika menggunakan pisang lain, harus menggunakan pewarna makanan dan itu kurang efektif,” kata Muhammad Atiq, salah satu pembuat getuk pisang di Sidomulyo.

Setiap pagi, ia selalu sibuk di dapur untuk memproduksi ratusan bungkus getuk pisang. Musim atau tidak musim hajatan, Atiq selalu ramai pesanan karena tidak hanya untuk hajatan, tapi juga dijual di pasar-pasar.

Getuk pisang ini memang menjadi salah satu jajanan primadona ala hajatan. Itu dikarenakan rasanya khas dan bentuknya yang unik. Tak heran, getuk pisang ini laris diburu masyarakat. Apalagi dibuat dari pisang murni tanpa campuran bahan kimia, getuk ini dinilai sehat dan aman dikonsumsi.

Berbeda dengan getuk pisang yang dijual pedagang asongan dengan ukuran besar. Atiq justru membuat getuk pisang dengan ukuran mini. Jenis ukuran kecil ini sesuai dengan ukuran yang paling banyak diminati masyarakat, sebagai hidangan acara hajatan.

Harganya murah, hanya Rp 1.000 perbiji. Dengan bentuk kecil dan harga cukup terjangkau, makanan ini sering  dipesan untuk  bingkisan  atau hanya sekedar oleh-oleh. Harga Rp 1.000 itu hanya varian, tidak semua dijual dengan harga Rp1.000. Bergantung ukuran dari pemesannya.

Jika menginginkan ukuran lebih besar otomatis harganya juga lebih mahal, paling mahal bisa sampai Rp 10.000 per biji. “Dulu saya malah jual 500, tapi menurut saya terlalu kecil. Jadi yang 500 sudah tidak membuat lagi, paling murah 1000 yang paling mahal 10.000. Karena yang 500 bungkusnya lama, isinya sedikit, butuh daun banyak,” katanya.

Ia menyebut, pisang raja nangka menjadi salah satu pisang yang pas untuk bahan utama getuk. Khusus untuk berbagi tips membuat getuk, pisang tidak diperkenankan harus matang sempurna.

Cukup setengah matang saja sudah bisa dipakai dan justru lebih bagus setengah matang. Kalau kurang matang rasanya akan sedikit masam, jika terlalu matang maka tidak bisa padat setelah digulung.

Pisang setengah matang raja nangka, lanjutnya, dikupas kemudian dikukus 4 sampai 5 jam. Setelah matang, baru dihaluskan menggunakan mixer, dan dicampur dengan vanili, gula dan garam. Sebetulnya rasa manis sudah didapatkan dari buah pisang itu sendiri.

Namun, untuk lebih menyempurnakan rasa, maka perlu ditambah sedikit gula dan sedikit garam. Setelah di mixer dalam keadaan panas pisang halus langsung di bungkus. Pembungkusan harus dalam keadaan panas, jika terlalu lama dibiarkan hingga dingin maka tidak akan bisa dibentuk lagi setelah digulung, barulah diberi label dan siap untuk dipasarkan.

“Daunnya ditumpuk dua karena semakin tebal daun maka keawetan getuk akan semakin lama,” tambahnya. Pembuatan getuk pisang bisa juga menggunakan jenis pisang yang lain. Seperti pisang saba, pisang candi, pisang byar dan pisang-pisang yang lain. Hanya saja warna yang dikeluarkan tidak coklat seperti pisang raja nangka. Selain itu harga pisang yang lain juga cukup mahal.

Untuk satu tandan pisang raja nangka, lanjut dia, bisa jadi 250 hingga 300 biji getuk pisang ukuran mini Rp 1.000 per biji, bergantung pada besar kecilnya ukuran pisang. Sementara harga jual antara Rp 30 ribu sampai Rp 110 ribu tergantung musim dan besar kecilnya pisang.

“Selain raja nangka harganya bisa dua kali lipat lebih mahal, maka dari itu kita pakai pisang raja nangka paling bagus dan terjangkau,” tambahnya. Menurutnya, pisang itu ia dapat dari pasar, dan tidak langsung membeli dari petani karena kualitasnya yang belum mumpuni.

Pisang raja nangka di Jombang tidak sebagus pisang raja nangka yang berasal dari Trenggalek dan Malang. Kadar air pisang raja nangka di Jombang lebih banyak, sehingga dikhawatirkan jika dibungkus akan menjadi sangat lembek.

Satu-satunya daerah yang menghasilkan pisang raja nangka bagus di Jombang adalah wilayah Wonosalam. “Tapi saya tidak pernah mencari kesana, langsung beli di pasar. Di pasar langsung beli dari Trenggalek dan Malang karena hasilnya lebih bagus,” jelasnya.

Produksi getuk pisang ini sudah mulai ditekuni Atiq sejak 2006 lalu. Saat ia masih mondok, diajarkan salah satu orang tua temannya yang berasal dari Kediri. Hasil dari pengalamannya belajar kemudian ia aplikasikan sendiri di rumah.

Ia mengaku, awal getuk pisang berhasil cukup bagus, tapi pemasaran tidak semudah yang dibayangkan. Ia masih sulit memasarkan getuk pisang lantaran belum familiar untuk acara hajatan.

Bulan yang paling ramai selain Idul Fitri, Maulid Nabi, Tahun baru Islam, dam Rajab. Tahun ajaran baru ia banjir order karena getuk pisang dijadikan oleh-oleh. Apalagi getuk pisang terbilang awet selama dua hari lebih. Daun yang tebal membuat getuk lebih awet bahkan ada yang pernah bawa ke luar negeri dan ke luar pulau.

“Tapi sebelumnya harus bilang dulu untuk menebalkan daun agar sampai tujuan tidak basi, kalau untuk hajatan biasa cukup dua lapis daun untuk dua hari, biasanya seminggu sebelum lebaran rame pesenan lagi,” pungkas dia. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Sate Kampret, Salah Satu Destinasi Kuliner Malam Legendaris di Jombang

JOMBANG – Di kalangan pecinta kuliner malam di Jombang, nama ‘Kampret’ tak asing di telinga. Ternyata, kampret merupakan suku kata kedua dari Jumain Kampret, pendiri warung yang berada di Jalan Seroja ini. Yang unik, Jumain Kampret adalah nama yang sesuai dengan KTP.

Bersama istrinya yang bernama Yulianah, Jumain Kampret mendirikan sebuah warung di sisi barat stasiun lama Pasar Legi, sekitar 25 tahun silam. Menu yang dijual di warung adalah nasi pecel, dengan lauknya yaitu sate sapi. Warung Jumain Kampret ini juga menjual nasi kare ayam dan nasi lodeh.

Namun yang menjadi unggulan di warung Jumain Kampret adalah menu sate sapi. Rasa pedas pada sate sapi buatan Jumain Kampret, menjadi ciri khas utama. Pedasnya tidak tanggung-tanggung, siapapun yang memakannya dijamin akan mandi keringat.

Namun sayang, pembeli tidak akan bisa lagi bertemu dengan Jumain Kampret. Ia telah meninggal  tiga tahun lalu. Kepergian Jumain Kampret diikuti Yulianah, istrinya, pada dua tahun lalu. Warung yang berada di Pasar Legi kini dikelola Sri Wahyuni, anak dari pasangan Jumain Kampret dan Yulianah.

Kepada Jawa Pos Radar Jombang, Sri bercerita tentang usaha warung makan yang ia kelola. “Warung ini memang buka malam hari, pukul sembilan malam pas baru melayani. Tutupnya ya sampai makanan habis,” katanya.

Sri mengaku tak banyak mengganti resep dan bumbu sate sapi warisan dari orang tuanya. Hanya saja ia menyebut untuk saat ini, satenya lebih pedas dari sebelumnya.

“Dulu waktu yang berjualan bapak, pedasnya biasa saja. Itu karena bumbu yang dicampurkan dengan daging pada saat dibakar, hanya satu kali. Kalau sekarang saya buat dua kali,” imbuhnya.

Selama 25 tahun warung berdiri, Sri mengatakan tak pernah juga mengurangi porsi bahan baku cabai meski harga cabai sedang melonjak. “Setiap hari habis cabai lima kilo,” lanjutnya.

Ia lebih memilih mengurangi keuntungan, daripada membuat kecewa pelanggan. “Kalau cabai dikurangi, pedasnya juga akan berkurang. Lebih baik baik keuntungannya yang turun sedikit,” tambahnya.

Hal ini menurutnya pernah terjadi dua tahun lalu, saat harga cabai tembus di angka Rp 100 ribu per kilo. “Meski harga cabai naik, harga sate juga tidak berubah,” ujarnya.

Per 10 tusuk sate sapi, dijual Sri dengan harga Rp 40 ribu. Harga akan disesuaikan lagi jika pembeli yang datang meminta sate sapi di bawah 10 tusuk. “Kalau dimakan dengan nasi pecel atau lodeh, harganya juga beda lagi,” ucap Sri.

Rata-rata warung sate sapi ini tutup pada pukul 02.00 WIB. “Banyak pelanggan dari luar kota, bahkan sampai Jawa Tengah. Terkenal dengan nama sate kampret karena memang didirikan Pak Kampret,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com