Gunakan Cara Manual, Kerajinan Pande Besi di Jombang Masih Tetap Eksis

Spread the love

JOMBANG – Sejumlah pande besi di Jombang sampai sekarang masih bertahan. Satu di antaranya di Dusun/Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo. Mereka tetap eksis menggunakan alat manual.

Pembuatan sabit, cangkul dan sejenisnya oleh perajin pande besi, masih bisa ditemukan di Jombang. Kerajinan yang sudah ada sejak puluhan tahun silam itu pun kini masih tetap berproduksi.

Di Dusun Pucangsimo misalnya, warga setempat masih menekuni kerajinan yang berbahan dasar dari besi itu. Jumlahnya terbilang masih banyak, hingga 20 perajin. “Total kalau dihitung di sini ada sekitar 20 orang,” kata Jumali salah seorang  pande besi.

Jumali menjadi satu di antara puluhan warga yang masih menggeluti usaha kerajinan itu sejak masih muda. “Punya saya ini sudah ada sekitar 22 tahun yang lalu, awalnya dulu  ikut orang, kemudian buka sendiri,” imbuh dia.

Karena masih banyak, maka jangan heran ketika bertandang ke dusun ini akan mendengar dentuman besi yang dipukul terdengar begitu keras dan saling sahut. Maklum, kerajinan itu semua dikerjakan dengan manual.

Mulai dari proses pemotongan besi, pembakaran, hingga pembuatan gagang. Saking banyaknya, banyak yang bilang di Dusun Pucangsimo menjadi sentra pande besi di Jombang. “Jadi semua masih pakai alat manual, mulai dari nol. Bahan dirajang (dipotong), sampai dibakar lalu dipanaskan lagi dan tengahnya dibelah dikasih baja sampai dibentuk,” sambung dia.

Karena itu, untuk membuat kerajinan itu tak bisa dilakukan sendiri. Butuh sekitar lima sampai delapan orang. Milik Jumali, di dibantu empat orang pekerja. “Semakin banyak yang kerja maka bisa cepat selesai dan buatnya juga bisa banyak,” papar lelaki kelahiran Jombang 1968 ini.

Meski masih banyak dikerjakan secara manual, lanjut bapak satu anak ini, beberapa perajin lainnya sudah mulai bergerak menggunakan mesin. Di wilayah setempat saat ini ada satu yang memakai mesin. “Lebih banyak manual, mesin hanya satu orang. Soalnya kalau pakai mesin butuh biaya besar, alatnya saja sekitar Rp 15 juta-an,” sebut Jumali.

Sembari membentuk motif pada gagang sabit, diakui meski jumlah perajin masih banyak, mereka tak beraktivitas setiap hari. Hanya ketika ada pesanan. “Tergantung pesanan, kalau ada pesanan ya kita buat. Kadang-kadang hanya dua atau tiga hari kemudian libur,” papar dia. Untuk bahan baku besi dan baja para perajin biasanya membeli di Pasar Tunggorono.

Begitu juga dengan alat pertanian yang dibuat, rata-rata para perajin hanya membuat sabit saja. “Memang tidak ada yang khusus  cangkul atau alat tertentu. Yang paling banyak sabit,”’ beber Jumali.

Pasarannya juga sudah beredar keluar Jombang. Menurut dia, rata-rata perajin sudah punya pasaran sendiri. “Kalau saya biasanya kirim ke Ngoro, biasanya nanti dari sana akan dijual lagi. Terkadang ke Jawa Barat kadang keluar pulau seperti Kalimantan,” urai dia.

Harga satu sabit kata dia, juga tergantung bentuk dan ukuran. “Rp 25 ribu harga grosir, kalau ke konsumen langsung sekitar Rp 40 ribu. Sebenarnya semua tergantung ukuran, karena ada yang kecil ada pula yang besar,” pungkas Jumali. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 

 

Article courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Photo courtesy: Radarjombang.jawapos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *