• info@njombangan.com

Monthly ArchiveAugust 2018

Selamat Anik Wikanti sebagai Pemenang Lomba Parikan Online Njombangan Edisi Agustus 2018

Khadija Putri Nur Aini Pemenang Lomba Parikan Online Njombangan Edisi Juli 2018!

Prestasi Konsisten, Jalan PSID Menuju Liga 2 Semakin Terang

Konsistennya prestasi yang ditoreh Persatuan Sepakbola Indonesia Djombang (PSID), terus menunjukkan jalan menuju kasta setingkat persepakbolaan di Indonesia. Ini setelah, Babak 16 besar Liga 3 zona Jawa Timur 2018 yang dilakoni PSID Jombang, berakhir cukup membanggakan.

Seperti laga saat melawan Persema 1953, tim sepakbola asal Kabupaten Jombang, berhasil menahan imbang tuan rumah di Stadion Gajayana Malang dengan score 2-2, Sabtu (19/8/2018).

 

Menurut Pelatih PSID Jombang, Heru Sunarno, hasil tersebut membuat PSID Jombang berada pada peringkat kedua atau runner-up di Grup K dengan nilai 4. Dengan tiga kali menjalani pertandingan dengan prosentase. Satu kali seri, satu kali menang, dan satu kali kalah.

 

“Kemarin kita bermain imbang 2-2 melawan Persema 1953. Dengan begitu, dipastikan lolos ke Zona Jawa. Dua gol PSID dicetak Didit pada menit ke-35 dan Tri Fiaji pada menit 68,” jelas Heru, Minggu (19/8/2018).

 

Seperti diketahui, Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jatim mendapat jatah 11 tim untuk tampil di zona Jawa. Tim yang berhak mewakili Jatim yakni juara dan runner-up grup babak 16 besar, ditambah tiga tim peringkat tiga terbaik babak 16 besar.

Sementara itu, juara grup ditempati PS Kota Pahlawan (KoPa). Tim asal Kota Pahlawan tersebut meraup nilai sempurna, yaitu 9. Setelah mereka menyapu bersih kemenangan di tiga pertandingan.

 

Beberapa rentetan pertandingan yang dilakoni PSID, yakni berhasil menundukan PSSS Situbondo dengan skor tipis 1-0, pada Rabu (15/8/2018). Pada menit 89, eks pemain Timnas Bima Ragil menjadi pencetak gol kemenangan.

Pada laga kedua, PSID mengalami kekalahan saat menghadapi PS KoPa di Stadion Gajayana Malang, dengan score 0-1 pada Kamis (16/8/2018). Gol kakelahan bagi PSID, dicetak Hendra Tristiandy, pemain PS KoPa pada menit 45. (*ari/kj*)

 

Penulis: –
Article courtesy: kabarjombang.com
Photo courtesy: jombangkab.go.id

Hilangnya “Kemerdekaan” Warga Terpencil di Jombang Saat 17 Agustus

Menjelang perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati pada 17 Agustus, tampaknya tak bisa dirasakan sepenuhnya oleh warga di desa terpencil di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

 

Di Dusun Rapahombo, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, misalnya. Di desa yang berada persis di tengah hutan yang membatasi antara Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Jombang ini, warga tak bisa merasakan kemerdekaan akses jalan.

 

Lokasi desa yang tepat berada di tengah hutan, dan berada 33,5 kilometer dari pusat kota Jombang, membuat warga nyaris tak bisa keluar dan masuk desa seenaknya. Jalan yang masih bertabur batu dan tanah, membuat akses jalan sepanjang 15 kilometer dari pusat Kecamatan Ploso, begitu sulit untuk dilalui warga saat keluar masuk desa.

 

Sebab, tanpa menggunakan kendaraan berfasilitas tertentu, warga tak bisa dengan nyaman melawati terjalnya jalanan hutan. Sehingga membuat 76 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Rapah ombo, terisolir dari hiruk-pikuk kehidupan warga kota.

 

Sehari-hari, warga sekitar bekerja sebagai petani yang bercocok tanam dengan cara menyewa lawan milik Perhutani. Untuk aktivitas bertani, warga masuk menggunakan alat pertanian manual. Masih banyaknya hewan liar di area pemukiman warga, membuat petani harus berebut hasil panen dengan hewan liar, seperti babi hutan, dan monyet liar.

 

“Memang di pemukiman kami, masih banyak sekali hewan liar hutan yang sering masuk ke area pertanian dan merusak tanaman warga, seperti jagung dan tanaman lainnya. Memang Rapahombo, merupakan 14 dari dusun terpencil di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan,” ujar Padi, Kepala Dusun Rapahombo.

 

Sulitnya akses jalan, diperberat dengan adanya keadaan bahwa jalan yang dilalui warga merupakan tanah milik Perhutani. Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Kabupaten Jombang, Arif Gunawan menyebut, bahwa tidak adanya pembangunan jalan menuju dusun tersebut, karena terkendala dengan status jalan yang dilewati.

 

Menurutnya, tanah yang digunakan warga sebagai akses jalan merupakan sepenuhnya milik Perhutani. Sehingga, pemerintah daerah tidak bisa melakukan pembangunan atas jalan yang mengisolir warga Dusun Rapahombo.

 

“Memang, status jalan merupakan milik Perhutani. Sebab, pada data jalan yang kami miliki, jalan tersebut tidak masuk dalam aset milik Pemkab Jombang,” terang Arif, kepada KabarJombang.com, Kamis (16/8/2018).

 

Arif mengatakan, pembangunan jalan bisa dilakukan bila status jalan tersebut milik pemerintah. Ia menjelaskan, semisal ada jalan desa yang tidak mampu dibangun oleh Pemerintahan Desa (Pemdes), maka bisa diajukan oleh desa, untuk melakukan perubahan status jalan dari jalan desa menjadi jalan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab).

 

“Nah, status inilah yang akan digunakan dasar dengan cara di SK-kan oleh Bupati untuk menjadi jalan kabupaten. Setelah itu, pemerintah bisa melakukan pembangunan jalan desa yang selama ini dalam kondisi tidak layak digunakan, seperti yang masih berupa tanah maupun makadam,” jelasnya. (*aan/kj*)

 

 

Penulis: –
Article courtesy: kabarjombang.com
Photo courtesy: Jalal JP

Saat Seniman Gunakan Bahasa Jawa di Upacara Kemerdekaan Indonesia

Mengikisnya budaya Jawa dan kearifan lokal, menjadi keprihatinan tersendiri bagi seniman di Jombang, Jawa Timur. Dituangkannya unsur budaya Jawa, dilakukan Sanggar Tari Lung Ayu, saat upacara bendera 17 Agustus, di Dusun Subentoro, Desa Sumbermulyo, Kabupaten Jombang, Jumat (17/8/2018).

Upacara yang diikuti puluhan peserta ini, terdengar mengunakan Bahasa Jawa. Beberapa aba-aba upacara yang biasanya menggunakan Bahasa Indonesia, dirubah menjadi bahasa Jawa. Seperti adanya aba-aba untuk menyiapkan pasukan upacara yang biasanya beraba-aba “Siap Gerak”, dalam upacara ini diganti dengan “Samapta Baris, Obah”.

Tak ayal, meski berkontek unik dan aneh di telinga orang Jawa. Namun, keheningan dalam prosesi upacara nyaris dirasakan peserta, hingga warga yang menyaksikan. Detik-detik bendera dinaikkan, seluruh perserta yang juga unik dengan menggunakan baju adat Jawa, mengangkat tangan ke kening sebagai tanda penghormatan kepada sang merah putih.

Untuk para wanita, yang ikut sebagai peserta upacara terlihat menggunakan jarik dan kebaya khas Jawa. Sementara bagi peserta laki-laki menggunakan Sujan.

“Upacara berbahasa Jawa ini, sudah kita lakukan sebanyak 6 kali kita laksanakan,” ujar Mardianto, seniman yang juga Ketua Panitia pelaksana upacara.

Menurutnya, ide awal pelaksanaan upacara berbahasa Jawa ini dilaksanakan sebagai wujud keprihatinan dimana bahasa Jawa mulai ditinggalkan.

 

“Seolah-olah bukan hal yang penting. Maka itu, dengan cara sederhana ini, kami mencoba membangkitkan kembali kearifan lokal ini,” jelasnya.

Menurutnya, identitas kearifan atau identitas lokal semakin penting di era sekarang maupun seterusnya. “Budaya lokal sebagai ujung tombak pembentukan budaya nasional. Semakin penting di era yang semakin mengglobal,” pungkasnya.

Sementara, untuk pembacaan Teks Proklamasi dan lagu Indonesia Raya saja yang tetap berbahasa Indonesia. Namun, mulai dari pembacaan susunan acara, sampai pada aba-aba tiap tahapan upacara, semua dirubah menjadi Bahasa Jawa. (*aan/kj*)

 

Penulis: –
Article courtesy: kabarjombang.com
Photo courtesy: jombangtimes.com

Manisnya Bisnis Sari Buah Salak dengan Omzet Rp 6 Juta/Bulan

Jombang – Hasil panen buah salak yang melimpah dimanfaatkan oleh ibu-ibu rumah tangga di Desa Jatirejo, Diwek, Jombang sebagai ladang bisnis. Mereka mengolah buah salak yang tak terjual menjadi minuman sari buah.

Inspirasi datang ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Ibu-ibu resah karena ingin membuat minuman yang khas untuk para tamu.

Secara kebetulan, saat panen raya tiba, harga salak di salah satu kampung penghasil salak ini anjlok hingga Rp 5 ribu/kg. Salak-salak yang tak terjual kemudian diolah menjadi minuman sari buah.

“Dengan kami olah menjadi sari buah, harganya jauh lebih tinggi daripada salak dijual berupa buah,” kata Lutfiyah Widyastuti, salah seorang anggota PKK Desa Jatirejo kepada detikcom, Jumat (17/8/2018).
Dengan modal awal dari hasil patungan sebesar Rp 5 juta, ibu-ibu rumah tangga di Jatirejo ini memulai produksi mereka.

Proses pembuatan minuman sari buah dimulai dengan mencuci dan mengupas buah-buah salak segar lalu merebusnya.

Air rebusan buah salak itu lalu dicampur dengan gula pasir sebagai pemanis. Setelah dicampur dengan rempah-rempah sebagai penyedap, sari buah salak ini kembali direbus hingga matang.

Sari buah salak itu lantas disaring supaya bersih. Baru kemudian dikemas menggunakan cup dan botol plastik. Produk minuman ringan ini kemudian diberi merk Salacca.

“Seminggu kami dua kali produksi, sekali produksi kami buat 28 kardus. Tiap kardus berisi 32 cup, harganya Rp 27 ribu per kardusnya,” terang Lutfiyah
Lutfiyah menambahkan, pemasaran Salacca juga masih di seputaran wilayah Jombang. “Kalau ke luar kota hanya melayani pesanan sanak saudara, misalnya ke Palembang, Lumajang, Jakarta,” ujarnya.

Setelah sekitar setahun berjalan, barulah mereka merasakan untungnya. Diperkirakan omzet mereka dalam sebulan mencapai Rp 6 juta.

Kendati demikian, Lutfiyah mengaku masih belum bisa mengembangkan bisnis ini karena kesulitan pasokan modal. Selain itu, jangkauan pemasarannya juga belum terlalu luas.

“Selama ini kami hanya memutar modal awal Rp 5 juta, harapannya bisa dapat tambahan modal,” tutupnya.
(lll/lll)

 

Article courtesy: Detik.com

Photo courtesy: Detik.com

Prasasti Tengaran: Warisan Keteladanan Leluhur

Prasasti Tengaran berada di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Karena terletak di Desa Tengaran, prasasti ini disebut Prasasti Tengaran. Selain itu, prasasti ini disebut juga Prasasti Geweg, karena dulunya, Geweg merupakan nama kuno Desa Tengaran.

Untuk mencapainya, dari Terminal Kepuhsari Jombang menuju ke utara. Lurus saja hingga menemui pertigaan, belok kiri. Setelah belok kiri, kemudian lanjut hingga ada pertigaan lagi belok kanan. Lurus saja sampai bosen hingga dua desa dilalui sampai jalannya hampir habis dan terlihat lintasan jalan tol Jombang-Mojokerto. Masuk gang terakhir di kanan sebelum jembatan lintas tol, lurus hingga ada pertigaan belok kiri. Lurus, hingga jalan mengecil menuju Makam Desa Tengaran.

Keberadaan Prasasti Tengaran masih in situ, artinya tetap di lokasi aslinya yang berada di tengah sawah dan dibatasi tembok pelindung yang dilengkapi pepohonan. Dulunya, lokasi ini adalah hutan belantara. Karena perkembangan zaman, akhirnya berubah menjadi sawah.

Untuk memasuki kompleks Prasasti Tengaran, kita harus menyusuri pematang sawah. Selama menyusuri pematang sawah yang diterpa cahaya mentari senja, tampak dari kejauhan lukisan alam Gunung Penanggungan, dan puncak Anjasmoro yang mempesona.

Karena akses jalan yang kecil, tidak ada lahan parkir di sekitar lokasi. Jombang City Guide memarkir kendaraan sebisanya, diantara lalu lalang pengendara motor yang menuju makam. Bagi yang mengendarai roda empat, mungkin harus waspada saat memarkir kendaraannya karena warga yang berlalu lalang dan resiko sisipan sangat mungkin terjadi.

Kompleks Prasasti Tengaran tak jauh dari makam desa, dan cukup dekat dengan Bangunan Rumah Kecil Makam Mbah Suro Sang Sesepuh Desa. Selain itu, lokasi prasasti ini juga tak jauh dari jembatan penghubung jalan desa yang dilintasi jalan tol di bawahnya. Saat berada di lokasi, kita bisa melihat kendaraan berlalu lalang melintas di jalan tol Mojokerto-Jombang.

Prasasti ini dibuat sebagai bentuk terima kasih Sang Raja pada warga setempat karena masyarakatnya sudah berjasa dalam proses pencarian putrinya yang hilang. Sehingga atas rasa syukur itu, Desa Tengaran yang dulunya bernama Desa Geweg dinobatkan sebagai desa sima yang memiliki keistimewaan bebas dari pajak.

Prasasti Tengaran terbuat dari batu andesit dan sudah berusia lebih dari 1000 tahun. Prasasti yang dijadikan tetenger desa ini, merupakan peninggalan Kerajaan Mdang periode Jawa Timur era Raja Mpu Sindok.

Ceritanya, Sang Raja beserta permaisuri dan anaknya melintas ke desa ini untuk menuju Gunung Pucangan. Beberapa kisah menyatakan Putri Sang Raja menghilang. Ada kisah lain yang menyatakan Sang Putri konon sedang bertapa di Gunung Pucangan, sehingga Mpu Sindok ingin berkunjung menengok anaknya. Kuat dugaan, putri yang dimaksud adalah Sri Isana Tunggawijaya, yang kemudian menggantikan ayahandanya.

Gunung Pucangan sendiri berlokasi jauh di seberang Sungai Brantas. Sungai Brantas ini begitu lebar dan alirannya begitu deras. Karena Sang Prabu kesulitan menyeberang, kemudian Mpu Sindok meminta pertolongan pada masyarakat setempat. Warga desa pun bahu membahu membuat perahu untuk Sang Raja beserta keluarganya sehingga bisa menyeberang sungai dan sampai di utara Kali Brantas.

Raja Mpu Sindok pun sangat berterimakasih kepada warga Desa Geweg atas pertolongan yang mereka berikan. Sebagai wujud terima kasih, Mpu Sindok pun memberi hadiah berupa tetenger tugu batu bertulis yang berisi penetapan Desa Geweg sebagai Desa Sima. Desa Sima adalah desa yang diistimewakan karena dibebaskan dari pajak.

Penetapan Desa Geweg sebagai daerah istimewa sima dilakukan tanggal 6 Paropeteng Bulan Srawana tahun 857 Saka, yang bila dikonversi ke dalam kalender masehi diperkirakan jatuh pada tanggal 14 Agustus 935 M.

 

Sang Raja memberi nama tugu tersebut dengan nama ‘Tengoro’ yang merupakan singkatan dari kata Tengah dan Oro-Oro. Tengoro artinya jauh dari pusat kerajaan atau jauh dari keramaian. Memang penamaan ini benar adanya karena letak Desa Geweg cukup jauh dari pusat ibukota Kerajaan Mdang yang diperkirakan berada di Tembelang dan Watugaluh, Diwek.

Tugu batu bertulis tersebut oleh warga kemudian disebut Gorit yang merupakan kependekan dari tugu digarit-garit. Tugu digarit-garit sendiri, berarti tugu yang terdapat guratan-guratan tertulis di permukaannya.

Tugu batu berukuran tinggi 124 cm dan lebar 78 cm bertuliskan aksara jawa kuno di kedua sisinya. Sisi pertama tertulis dalam 7 baris dan sisi kedua tertulis 16 baris yang dalam Bahasa Jawa Kuno menyatakan bahwa selama Mpu Sindok masih berkuasa, maka Desa Geweg bebas dari upeti. Selain itu juga dituliskan bahwa Mpu Sindok memimpin kerajaan dibantu permaisurinya, Dyah Kbi yang turut serta bersama Sang Raja menyeberangi sungai Brantas.

Karena berupa tugu batu, sehingga sering dijadikan masyarakat sebagai tengeran atau penanda sesuatu. Prasasti Tengaran kadang juga dijadikan acuan penanda lokasi, sekaligus semacam gapura. Menurut cerita penduduk setempat, dulu sebelum bertempur pasukan juga sering berkumpul dahulu di sini. Jadi semacam titik kumpul untuk bersiap-siap.

Ketika itu masyarakat tidak banyak yang bisa membaca tulisan, maka mereka hanya menyebutnya sebagai Tugu Tengeran atau Tugu Penanda. Tugu Tengeran menjadi tetenger kebanggaan warga Desa Geweg kala itu, karena merupakan hadiah dari Raja.

Desa Geweg pun terkenal karena jasanya pada Sang Raja, sehingga akhirnya ikon desa berupa Tugu Tengeran ini lebih terkenal dari nama desanya. Akhirnya untuk lebih mudah dikenali, Desa Geweg pun lebih sering dan dikenal sebagai dengan Desa Tengeran. Karena logat atau pengaruh Bahasa Indonesia, akhirnya nama desa ini kemudian menjadi Desa Tengaran. Desa Tengaran terdiri dari dua dusun yaitu Dusun Tengaran dan Dusun Surobayan. Hingga kini, Desa Geweg merupakan bagian dari Desa Tengaran.

Pak Hadi selaku Juru Pelihara Situs Tengaran sekaligus juru kunci seluruh benda purbakala di Jombang adalah orang yang biasanya menjaga lokasi ini. Pak Hadi mengetahui banyak hal mengenai tempat dan lokasi ini, sehingga Jombang City Guide yang sedang berkunjung merasa senang sekali ketika berjuma dengan beliau.

 

Article courtesy: Jombang City Guide

Photo courtesy: Jombang City Guide

Yuk, Coba Dodol Salak Organik Ini, Tanpa Bahan Pengawet Lho

Jombang – Selain Wonosalam, Desa Jatirejo, Diwek, Kabupaten Jombang juga menjadi penghasil salak terbesar di Jombang. Kebun warga setempat sebagian besar ditanami salak. Penanaman buah ini dilakukan secara organik.

Sayangnya, saat panen raya tiba harga salak di kampung ini anjlok. Seperti saat ini, salak organik hanya dihargai Rp 5 ribu/Kg.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan ibu-ibu PKK untuk membuat aneka makanan berbahan buah salak sehingga bisa menambah nilai ekonomis salak. Salah satunya dengan membuat dodol salak.

“Kami manfaatkan salak yang tidak terjual supaya tak terbuang sia-sia,” kata anggota PKK Desa Jatirejo Lutfiyati (35) kepada detikcom, Rabu (8/8/2018).

Berbekal pelatihan yang didapatkan bersama ibu-ibu PKK lainnya di Desa Jatirejo, dia mengolah salak organik menjadi dodol. Agar cita rasanya semakin legit, mereka menggunakan campuran tepung ketan.

 

Proses pembuatan dodol salak oleh ibu-ibu PKK Desa Jatirejo tak jauh beda dengan pembuatan dodol di tempat lain. Mula-mula salak yang sudah dikupas dan dibuang bijinya, digiling dengan mesin. Gilingan buah salak lalu dicampur dengan bahan lain. Salah satunya tepung ketan.

Untuk membuat adonan dodol salak, mereka menggunakan mesin yang tergolong canggih. Dengan mesin ini, mereka tak perlu repot-repot mengaduk adonan. Terlebih lagi mesin ini dilengkapi tungku pemasak. Sehingga tinggal menunggu sekitar 4 jam, adonan sudah menjadi kenyal.

Setelah dingin, dodol salak di loyang dipotong menjadi ukuran standar dodol pada umumnya. Baru kemudian dikemas dengan logo Jenang Salak Asli Jombang.

“Kelebihan jenang (dodol) salak di sini menggunakan bahan salak organik. Sehingga tanpa ada bahan kimianya,” terang Lutfiyati.

Harga dodol salak buatan ibu-ibu PKK Jatirejo tergolong ramah di kantong. Setiap kilogramnya, dodol salak ini hanya Rp 65 ribu.

“Selama ini kami masih sebatas melayani pesanan,” tandas Lutfiyati.
(iwd/iwd)

Penulis: –
Article courtesy: detik.com
Photo courtesy: detik.com

Begini Cara Santri Jombang, yang Prihatin Gempa Bumi di Lombok

Terjadinya musibah bencana gempa bumi berkekuatan 6,8 skala richter (SR) yang dialami warga di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa waktu lalu, menyisakan kepedihan tersendiri bagi santri dan santriwati di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Dengan mengenakan songkok dan sarung atau celana, para santri dan santriwati di Pondok Al-Aqobah, Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menggelar Sholat Gaib di Ponpesnya. Diikuti guru yang ada di sekolah, para santri menggelar sholat gaib dengan beralaskan tikar plastik.

Tak urung, ratusan santri terlihat khusyuk saat mengikuti sholat. Tak hanya sholat gaib saja, para santri juga menggelar doa bersama yang ditujukan kepada keluarga korban bencana yang terjadi di Lombok. Mereka berharap para keluarga bisa tabah menghadapi musibah yang terjadi.

 

“Hari ini, kita sengaja menggelar sholat gaib bagi seluruh korban bencana gempa yang terjadi di Lombok. Para santri dan satriwati turut berduka,” ujar Munandar, salah satu pengurus Pondok Pesantren, Senin (6/8/2018).

 

Rencananya, para santri juga akan menggalang dana untuk bisa membantu para korban bencana yang saat ini masih dilanda duka mendalam.

 

“Kita akan menggalang dana untuk bisa memberikan bakti sosial kita kepada saudara kita yang terkena bencana. Secepatnya, akan kita bentuk panitia untuk mengkoordinir dana yang akan disumbangkan,” jelasnya. (*ari/kj*)

 

Penulis: Adi Rosul
Article courtesy: kabarjombang.com
Photo courtesy: PPM Aswaja

 

Publikasi dan Pemanfaatan Hasil Karya dan Inovasi Siswa-Siswi Jombang

Quality Education

Oleh Fatimatuz Zuhriyah

 

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU Sistem Pendidikan: 2003). Pendidikan tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia, pendidikan akan mengajarkan manusia untuk hidup lebih baik, baik berhubungan personal, intrapersonal, budaya, agama maupun negara. Pendidikan berkuliatas adalah pendidikan yang memberikan fasilitas penuh sebagai penunjang keberhasilan tujuan pendidikan. Indikator pendidikan berkualitas nilai hasil Ujian Nasional (UN) yang dicapai oleh peserta didik mencapai nilai maksimal dan mendapat porsentase tinggi. Harapan dengan adanya pendidikan berkualitas agar peserta didik mampu menguasai konsep dan mengimplementasikannya. Begitupun, dengan harapan dari masyarakat Jombang dengan pendidikan berkualitas, guna mendukung individu-individu yang berkompeten.

 

Peran dan dukungan pemerintah Kabupaten Jombang agar pendidikan di kabupaten Jombang mampu terlaksana dengan baik, dibuktikan dengan banyaknya lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Lembaga formal yang saat ini ada di Jombang tercatat kurang lebih ada 1.284, lembaga yang dinaungi oleh Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selama proses pendidikan 12 tahun, siswa dituntut untuk menjalankan kewajibannya dengan mengikuti seluruh peraturan yang ditetapkan termasuk lembaga dalam mengikuti aturan pemenuhan kurikulum. Setiap lembaga sekolah mempunyai cara tersendiri agar siswanya memiliki kompetensi yang dibutuhkan masyarakat, baik untuk melatih pengetahuan, soft skill dan hard skill dimulai sesuai dengan jenjangnya.

 

Ada beberapa sekolah yang menerapkan uji praktek agar siswa tersebut mampu memahami apa yang selama ini diserap dalam kelas. Dengan demikian harapan dari uji praktek tersebut membuat siswa terlatih dan mampu memahami secara nyata bukan hanya dengan konsep. Setiap tahunnya siswa menciptakan buah karya yang mereka ciptakan. Selama ini karya-karya yang diciptakan siswa di Jombang tidak pernah dipublikasikan, padahal dengan dipublikasikan akan menambah motivasi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan. Pendidikan berkualitas yang diharapkan akan terealisasi dengan keberhasilan setiap individu memanfaatkan potensi yang dimiliki secara optimal.

 

Banyak sekolah di Kabupaten Jombang seperti SMK yang menciptakan teknologi atau mesin yang mampu dimanfaatkan masyarakat umum, dan dapat dikembangkan di kemudian hari. SMK di Jombang yang menciptakan mesin-mesin seperti SMKN 3 Jombang dan SMK Dwija Bhakti sebagai bahan uji kemampuan mereka.  Hal ini menunjukkan bahwa sekolah sudah melakukan yang terbaik guna mendukung kemampuan siswanya berkembang. Akan tetapi, mesin-mesin atau alat cipta yang selama ini mereka kembangkan tidak pernah dimanfaatkan secara umum. Kebanyakan hanya diikutkan lomba dan kemudian berhenti pada titik itu saja. Kalaupun ada, pengembangan dilakukan oleh siswa tingkatan bawahnya.

 

Jika berkaca pada keadaan masa lalu, seperti halnya B.J. Habibie yang kemampuan ilmu pengetahuannya sudah tidak diragukan lagi, kenyataannya pemerintah tidak begitu pro dengan memberikan sumbangsih maupun modal dan izin. Sehingga, pemerintah negara lain yang sangat menghargai ilmu dan pengetahuan memberikan kepada siapa saja yang mau belajar dan memfasilitisasinya secara penuh. Tidak hanya SMK sederajat sampai tingkat mahasiswa yang diberikan fasilitas tersebut, tapi fasilitas tersebut sudah diberikan sejak sekolah dasar.

 

Sebenarnya pemerintah dan masyarakat yang mampu mendukung pengaplikasian pendidikan secara berkualitas. Pemberian izin bantuan dan modal guna pendidikan itu penting, sehingga apa yang dikonsepkan tidak hanya berupa angan dan menjadi sejarah dalam setiap individu yang memiliki pemikiran. Sekolah sudah baik dengan memberikan tugas uji praktek karya, akan tetapi respon pemerintah yang kurang begitu mendukung membuat siswa yang cerdas dan aktif, mandek dan memilih untuk tidak melanjutkannya setelahnya. Dukungan setiap elemen, baik moril individu, lingkungan sekolah/masyarakat, dan pemerintah yang mampu merevitalisasi perbaikan pendidikan yang berkelanjutan. Dengan adanya publikasi produk yang mereka ciptakan, otomatis akan memotivasi baik siswa maupun orang tua untuk terus berusaha. Sudah menjadi rahasia umum jika produk-produk yang diciptakan siswa-siswi akan berakhir di gudang dan tidak akan berkembang. Kenyataan yang selama ini adalah hasil ciptaan dari siswa-siswi ini tidak pernah dipublikasikan.

 

Kenyataan jika sudah beberapa kali pemerintah pusat mengganti kurikulum pembelajaran, sehingga yang difokuskan adalah perubahan kurikulumnya bukan pada mengembangkan kurikulum. Kurikulum yang sudah ada, dievaluasi, dan dikembangkan bukan dirubah. Hal itu jugalah yang membuat terkadang sistem pendidikan Indonesia tidak terfokus bagaimana peserta didik mampu mengoptimalisasi kemampuan mereka sehingga membuat mereka mandek dan tidak begitu tertarik dalam menciptakan produk hasil penelitian dan berdampak pada pendidikan daerah. Tidak hanya itu, faktor yang dapat menjadi penghambat adalah jangkauan pendidikan. Di Kota Jombang yang menjadi cukup perhatian adalah kecamatan yang jauh dari Jombang.

 

Pendidikan akan berkembang seiring dengan dukungan oleh masyarakat, pemerintah maupun lembaga. Untuk itu, motivasi dari ketiga lembaga tersebut akan mempengaruhi kualitas pendidikan yang berkembang di daerah setempat.