• +62 858-5652-7005 Nuril
  • info@njombangan.com

Daily ArchiveMay 16, 2018

Nyalakan Lilin, Ribuan Lintas Agama Kecam Aksi Terorisme

Ribuan warga Jombang mengikuti doa bersama dan solidaritas kemanusiaan di Bundaran Taman Ringin Contong, Kota Jombang. Aksi yang diikuti warga lintas ethnis dan lintas keyakinan itu juga diisi aksi menyalahkan seribu lilin sebagai bentuk ekspresi mereka menyatakan solidaritas kepada para korban aksi bom bunuh diri yang di lakukan para teroris di sejumlah tempat di Jawa Timur (Jatim) pada Minggu (13/05) dan Senin (14/05).
Sejumlah elemen mulai dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jombang, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang, Banser, Lakpesdam NU Jombang, LDII, Senkom, Info Lantas dan Kriminal Jombang (ILKJ), GKI, PMII, INTI, BKSG, PHDI, GKJW, KNPI, Gereja Katholik, GPDI, Gusdurian Jombang, GMNI, POJ Jombang, SKIN Jombang, IPNU Jombang dan elemen lainnya ‘tumplek blek’ di tempat itu. Mereka juga bergantian melakukan orasi mengecam aksi terorisme.
Budi (49), salah seorang peserta mengatakan, ia dan kawan-kawannya sengaja mengikuti acara tersebut karena merasa prihatin terhadap aksi teror yang terjadi di Surabaya.
“Karena kami warga Jombang seluruhnya sangat prihatin dengan kejadian aksi-aksi teroris di Surabaya kemarin itu” kata Budi saat di wawancarai sejumlah wartawan di sela aksi, Selasa malam (15/05).
Ia berharap, aksi solidaritas seperti yang di lakukan ribuan warga Jombang tersebut bisa makin menyebar ke daerah-daerah lain di negeri ini, sehingga masyarakat bisa lebih waspada terhadap aksi-aksi terorisme.
“(Harapannya) ini bisa menyebar, kita jadi komit lagi sebagai orang Indonesia, lebih waspada terhadap aksi-aksi yang seperti ini,” tambah Budi.
Sementara itu, di salah satu pidatonya, Kapolres Jombang, AKBP Fadli Widiyanto menegaskan, ia yang mewakili jajaran kepolisian Polres Jombang dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jombang merasa terhormat dan bangga atas dukungan ribuan warga Jombang yang hadir pada acara tersebut. Hal itu di katakannya adalah sebagai tambahan kekuatan yang luar biasa bagi institusinya untuk bersama-sama menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Malam hari ini kami mendapatkan kekuatan yang luar biasa dari masyarakat Jombang untuk berada bersama-sama dengan kami, melaksanakan tugas menjaga keamanan dan ketertiban di Jombang pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya melawan terorisme,” tegas Kapolres Jombang.
Tim Khusus
Keseriusan Polres Lamongan untuk mencegah sejak dini tindak terorisme dan radikalisme diwujudkan dengan menggelar silaturrahmi lintas tokoh agama dari MUI, FKUB, NU, Muhammadiyah, Hindu, Budha, dan Kristen.Tak hanya itu tokoh lintas agama juga deklarasi bersama menolak radikalisme dan terorisme.
“Kegiatan ini merupakan satu bentuk keseriusan kita, dari seluruh elemen terutama para tokoh agama yang mendukung polri, tni dan pemerintah untuk mengeliminir ataupun meniadakan segala bentuk terorisme”Kata AKBP Feby Hutagalung kepada wartawan ,Rabu(16/5).
Tentunya,Lanjut dia,ini juga merupakan bentuk upaya kita bersama untuk selalu berperan aktif untuk melakukan upaya pencegahan terhadap segala bentuk aksi terorisme sejak dini.
Feby menjelaskan,Jadi sebelum terjadinya aksi, tidak hanya dari Polres TNI, kami juga berharap para tokoh lintas agama bisa menyampaikan hingga ke tingkat bawah, agar dapat mengurangi dan mengeliminir paham – paham radikal dan jangan sampai menyebar di tengah-tengah masyarakat.
Karena perlu diketahui atas terjadinya bom di surabaya, bahwa sejak dini hingga dewasa sudah memiliki pemahaman yang salah. Jadi ini yang harus kita upayakan agar paham-paham seperti ini dihentikan.
Untuk lamongan ini,Masih Feby, punya ke khususan, karena punya histori. Karena kejadian bom Bali, pelakunya adalah orang Lamongan.
Upaya deradikalisasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian, dengan melakukan penyuluhan, dengan menggandeng stakeholder, baik tokoh agama, BNPT, tenaga pendidik, dan semua instansi terkait, ini dilakukan secara simultan.
Kemudian kita juga memiliki lingkar perdamaian, yang diinisiasi oleh BNPT, yang bertempat di Lamongan, itu merupakan salah satu untuk mengeliminir dan melakukan deradikalisasi.
Selain itu ,Tambah Feby,Kami juga beberapa kali melakukan pendekatan kepada para mantan napi teroris, baik itu dengan pendekatan kemanusiaan maupun melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan, agar mereka merasa terlibat dengan kegiatan masyarakat.
“Upaya – upaya kita juga memberikan alat untuk berwirausaha, agar mereka memiliki kesibukan, dan usaha, sehingga mereka tidak terpapar dengan paham radikal yang sebelumnya” tambahnya.
Disinggung soal adanya warga Lamongan yang merupakan mantan Deportan Suriah,Feby mengatakan,Untuk mantan deportan suriah tentunya ada pengawasan khusus, baik itu dari Densus 88, maupun dari kami dari Polres, dari Polda dan semua instansi terkait. Jadi kita sudah ada tim”Terang Feby.
Densus 88 ini memiliki tugas khusus untuk membuntuti pihak-pihak yang terpapar dan kembali ini.Sedangkan kami ini memiliki keterbatasan, dalam melakukan pengawasan, sehingga pembuntutan itu tidak efektif dan tidak dapat menyeluruh.
“Seperti yang kemarin terjadi di Surabaya, padahal dia itu ketua JAD Surabaya, yang memang sudah dibuntuti selama 4 bulan, tapi karena dianggap selnya tidur, sehingga dialihkan kepada tim yang lain, dan ternyata dalam waktu sesaat mereka sudah merencanakan kejadian ini.Dan pengungkapan-pengungkapan pelaku bom di surabaya ini sangat cepat, karena mereka ini memang di dukung dengan peralatan yang lengkap”Papar AKBP Feby Hutagalung. [rif.mb9]

 

Penulis: –
Article courtesy: harianbhirawa.com
Photo courtesy: korem082.mil.id