• info@njombangan.com

Yearly Archive2017

Kisah Sri, Wanita asal Jombang Yang Mendaki 5 Gunung di Luar Negeri

KABARJOMBANG.COM -.Banyak terselip keunikan di Kota Santri, Jombang. Seperti yang satu ini. Sebut saja Yuni, perempuan berusia 43 tahun ini sudah mendaki 5 gunung berbahaya di luar negeri.

Meski hanya mengaku sebagai hobi, pendaki yang memiliki nama lengkap Sri Wahyuni itu, berhasil menaklukan gunung-gunung membahayakan di luar negeri.

Dalam ceritanya, Sri mengaku hobi mendaki gunung sejak masih menjadi pelajar SMA. Namun karena keterbatasan ekonomi, Sri harus memendam hobinya untuk menaklukkan gunung. Keadaan tersebut jauh berbeda, saat dirinya bertemu dengan pria asal Canada.

Setelah menjalin kasih dengan pujaan hatinya, hobi pendakian Sri kini mulai tercapai. Sebab, dirinya yang kini mengikuti jejak calon suaminya, membuat hobinya semakin terbuka lebar.

“Calon suami saya pekerjaannya sebagai arsitek, sehingga berpindah-pindah tempat tinggal. Disitulah saya ikut sambil menyalurkan hobi sebagai pendaki gunung,” terang Sri, Sabtu (5/5/2017).

Tak pelak, hingga saat ini, Sri mengaku sudah mendaki 5 gunung di beberapa negara asing. Dalam pendakian yang pertama, ia mengaku melakukan pendakian di gunung yang berada di Hongkong. Kemudian, saat berada di Montreal Canada, dia juga menaklukan 2 gunung di tempat tinggal kekasihnya. Bahkan, saat ini dirinya masih berada di pegunungan Himalaya, yang berada di negara – negara Asia.

Namun, salah satu gunung di Indonesia juga tak luput dari pijakan kaki perempuan asal Desa Jombok Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang ini. Menurutnya, sebelum dirinya melakukan pendakian di luar negeri, dirinya juga pernah menapaki terjalnya Gunung Kelud. “Gunung Kelud juga pernah saya daki,” cerita Sri.

Dirinya mengaku, keindahan alam membuat nyalinya terus terpacu untuk mendaki gunung-gunung yang selama ini menjadi impiannya. Bahkan, saat dihubungi lewat telephone selulernya, kini dirinya masih dalam perjalanan menuju puncak pegunungan Himalaya.
Disini, dirinya mengungkapkan bahwa gunung yang paling sulit ditaklukkan adalah pegunungan Himalaya.

“Karena di pegunungan ini, puncak tertinggi yang akan saya daki. Disini, jurang -jurangnya sangat dalam. Bahkan, dalam trekking dari Lukla ke Namche, saya harus cross 5 jembatan yang bukan terbuat dari betton,” ujarnya saat dihubungi KabarJombang.com. (aan/kj)

 

Penulis: Aan
Article courtesy: Kabarjombang.com
Photo courtesy: Merdeka.com

Perjuangan Guru di Jombang, Lewati Bukit dan 3 Kali Seberangi Sungai untuk Sampai Sekolah

TRIBUNNEWS.COM, JOMBANG – Kabut dari perbukitan belum sepenuhnya hilang.

Satu per satu guru SD Negeri Pojokklitih 3, Kecamatan Plandaan, Jombang, tiba di sebuah rumah warga di pinggir desa, Kamis (23/3/2017).

Tak lama, enam guru bersiap menuju tempat mengajar. Jaraknya memang hanya 3,5 kilometer. Namun, mereka harus melewati bukit, pematang sawah, kebun, dan tiga kali menyeberang sungai selebar 20 meter.

Hal itu dilakukan agar 17 murid mereka bisa mendapat pendidikan. Warga setempat menyebut sungai yang mereka seberangi sebagai Kali Beng. Beng diambil dari bahasa Jawa mubeng yang artinya berputar. Sungai musiman itu hanya dialiri air saat musim hujan.

Di musim kemarau, guru-guru bisa melintasi dengan sepeda motor.

Setelah memastikan semua guru tiba, Purwandi (46), kepala sekolah, mencopot sepatu lalu melipat celana panjang sampai lutut, diikuti rekan guru lain, Agus Subekti (55), Trisno (54), dan Sucipto (36). Sementara dua guru perempuan, Laila Maulida (35) dan Nurmala Sari (26), mengganti rok dengan celana panjang.

Pada musim hujan, sepatu kerja tak banyak membantu untuk melintasi jalanan licin berlumpur.

Demikian pula sandal jepit.

Akhirnya, para guru lebih memilih berjalan telanjang kaki.

“Kami harus berangkat bersama-sama di musim hujan. Saat melewati sungai, harus ada teman yang mengecek pijakan yang akan dilewati. Selain arus deras, kedalaman sungai berbeda-beda,” kata Agus di awal perjalanan.

Purwandi menceritakan pengalamannya tercebur di sungai, “Waktu itu saya mengenakan jas hujan, tidak mengikuti langkah teman di depan. Ada bagian sungai yang terlihat dangkal, namun saat saya injak ternyata dalam. Saya tercebur dan hampir tenggelam karena kesulitan berenang. Setelah jas hujan dibuka baru saya bisa berenang ke bagian dangkal.”

Dalam perjalanan, Agus rajin mengingatkan teman-temannya untuk menghindari rerumputan di pinggir jalan setapak.

“Jangan ke pinggir, lho ya, banyak durinya,” ujar Agus sambil menunjuk rumpun putri malu.

Meski cukup menguras tenaga dan harus waspada, suasana perjalanan riang gembira. Banyak lelucon terlontar di antara mereka.

Setelah melewati beberapa petak sawah dan kebun, perjalanan mereka sampai di tepi sungai pertama.

 

Tampak riak air, tanda sungai berbatu dan berarus deras.

“Untung sudah surut. Dua hari lalu ketinggian mencapai 120 cm,” kata Agus sambil menempelkan sisi tangan ke dada merujuk ketinggian air saat itu.

Dengan cekatan ia memimpin rombongan melewati sungai. Agus paham betul mana bagian sungai yang dangkal. Namun, bukan perkara mudah melewati bebatuan berselimut lumut. Beberapa guru hampir terpeleset akibat salah injak batu.

Sambil mencermati dasar sungai, Agus sampai ke ujung sungai disusul Sucipto, Nurmalasari, Purwandi, Laila Maulida, dan Trisno.

 

Bahagia

Laila lantas mengeluarkan tongkat narsis dan mengajak berswafoto.

“Perjalanan memang susah, tapi jangan lupa bahagia,” ujarnya.

Menurut Laila, foto akan dibagikan di grup Whatsapp guru. Bukan untuk memperlihatkan kesusahan, melainkan kegembiraan mengajar.

“Senyum ya, satu, dua, tiga,” ujar Sucipto yang didaulat mengoperasikan telepon seluler. “Wah gelap. Ayo ulang! Ulang!” kata Sucipto. Mereka pun ambil posisi berswafoto dengan kaki terendam air sungai.

Perjalanan menuju sekolah dilanjutkan melewati pematang sawah. Beberapa saat kemudian bertemu dengan sungai kedua.

Tidak seperti sungai pertama yang didominasi bebatuan, sungai kedua berisi bebatuan dan pasir.

Selain menjaga agar tidak terpeleset, langkah kaki menjadi berat oleh arus air dan pasir.

Saat mereka berlima akan turun ke air, dari kejauhan tampak seorang remaja menyeberang sungai menghampiri mereka dan mencium tangan.

“Tadi itu Roihan, mantan murid. Saat berangkat mengajar tidak jarang kita bertemu dengan mantan murid,” kata Sucipto.

Kali ini mereka menyeberang menyerong, mengikuti bagian sungai yang lebih dangkal.

Kemudian naik ke bukit penuh bebatuan berlumut dan licin.

Setelah melewati hutan jati yang lebat, mereka kembali menyeberang sungai lagi sebelum tiba di sekolah.

Total perjalanan satu setengah jam berjalan kaki.

Waktu menunjukkan pukul 08.00.

Para siswa telah menunggu guru mereka di ujung jalan dusun.

“Gurunya datang, gurunya datang!” siswa berteriak kegirangan.

Mereka pun berhamburan menyambut kedatangan guru yang masih basah akibat perjalanan panjang dan bolak balik menyeberang sungai.

Mereka menyapa dengan tos dan cium tangan.

“Ini yang membuat semua rasa lelah hilang, disambut oleh para siswa di ujung jalan. Kedatangan kami benar-benar diharapkan oleh mereka,” kata Sucipto setiba di sekolah.

Sucipto berstatus guru honorer sejak 2004.

Ia menyatakan, tantangan dalam perjalanan mengajar bukan hal yang berat.

“Kondisi saya sudah berat sejak kecil. Saya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga sehingga terbiasa saat harus mengajar dengan medan yang berat,” kata Sucipto.

Sementara itu, Agus Subekti yang baru pindah mengajar sejak 2012 di sekolah itu menuturkan, perjuangan menuju sekolah adalah salah satu bentuk pengabdiannya.

Letak rumah Agus paling jauh, yakni di Mojowarno, Jombang.

Ia harus berangkat pukul 05.00 setiap hari.

Guru yang menerima surat keputusan pengangkatan pada 1 Januari 1982 itu ingat betul klausul surat pengangkatan, yakni siap ditempatkan di seluruh Indonesia.

“Saya jalankan dengan ikhlas di mana pun saya mengajar,” ujarnya.

Jumlah 17 siswa mungkin dianggap sedikit bagi satu sekolah.

Namun, mereka adalah bagian dari jutaan anak yang perlu diperjuangkan pendidikannya.

Kedatangan guru menandai hari bagi mereka mendapat ilmu. (Kompas/Bahana Patria Gupta)

 

Penulis: Bahana Patria Gupta
Article courtesy: Tribunnews.com
Photo courtesy: Tribunnews.com

Ludruk, Terimpit di Antara Kursi Kosong

Bisnis.com, JAKARTA — Setia mengabdikan diri sebagai seniman teater tradisional bukanlah hal mudah. Di era modern seperti saat ini semakin sulit menemukan audiens yang benar-benar tertarik dan bisa mengapresiasi pertunjukan seni peran tradisional.

Permasalahan regenerasi menjadi momok banyak sekali sanggar seni teater tradisional di berbagai penjuru daerah. Hal itu dirasakan pula oleh Ludruk Irama Budaya, yang bermarkas di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

Seiring pesatnya perkembangan zaman, kesenian ludruk—yang dulu sangat populer di kalangan masyarakat Jawa Timur—mulai ditinggalkan. Bangku-bangku penonton tidak lagi penuh dijejali masyarakat yang antusias melihat pertunjukan ludruk.

Lantas, bagaimana upaya Ludruk Irama Budaya untuk bisa tetap eksis di tengah gelombang modernisasi? Berikut penuturan pimpinan Ludruk Irama Budaya, Deden Irawan:

Sejak kapan berdiri? Bagaimana sejarah atau awal mulanya?

Ludruk Irama Budaya beridiri pada 1987. Pendirinya bernama Sunaryo atau yang di dunia ludruk lebih dikenal dengan nama Sakiyah. Saya adalah generasi kedua yang memimpin Irama Budaya.

Saat ini ada berapa anggotanya? Paling banyak dari usia berapa?

Anggota kami bedakan menjadi dua, yaitu; senior dan junior. Saat ini anggota senior berjumlah 40 orang, dan juniornya 25 orang. Anggota senior adalah para seniman ludruk asli yang sudah lama bergabung dengan Irama Budaya.

Sementara itu, anggota junior adalah rekrutan baru yang tergabung di dalam kelas pelatihan kami. Memang, selama 4 bulan terakhir kami membuka kelas pelatihan secara gratis. Usia pesertanya tidak dibatasi, mulai dari SD, SMP, hingga dewasa.

Materi apa saja yang diajarkan?

Kami mengajarkan materi ludruk secara lengkap. Sebab, kesenian ludruk mengandung bermacam aspek, mulai dari gamelan, tari remo, bedayan,lawakan jula juli, cerita akting, artistik, hingga penataan cahaya.

Tidak ada persyaratan khusus bila hendak bergabung dengan kami. Nantinya, para anak didik akan diarahkan ke bidang-bidang yang spesifik sesuai dengan keinginan, bakat, atau ketertarikan mereka.

Banyak sanggar seni teater tradisional di Indonesia yang mengalami krisis regenerasi. Apa strategi yang dilakukan untuk menjaring minat generasi muda?

Strategi kami mulai dengan melakukan introspeksi dan pembenahan ke dalam. Sekarang ini kami digandeng oleh salah satu donatur yang memang peduli tentang dunia ludruk. Itu [mendapatkan donatur] adalah hal yang sudah lama kami idam-idamkan.

Dengan adanya donatur tersebut, kami akan melakukan pembaruan menyeluruh dari segi manajemen. Dulunya, kebanyakan sanggar ludruk dikelola dengan sistem manajemen ala juragan. Dalam arti, kepemimpinan hanya ditumpukan ke satu orang saja.

Ke depannya, kami akan membuat sistem manajemen menjadi sebuah organisasi. Kami akan mendaftarkan organisasi melalui notaris, dan mengantongi izin resmi dari Dinas Pariwisata [Jawa Timur].

Selain itu, kami akan melakukan renovasi gedung pertunjukan. Sebab, fasilitas yang ada sekarang kurang layak dan propertinya kurang mumpuni. Merenovasi sarana dan prasarana pertunjukan adalah salah satu cara untuk menggaet penonton.

Untuk menarik minat generasi muda, kami membentuk tim promosi khusus. Ke depannya, kami akan membagi skema pementasan ludruk di sanggar kami menjadi dua kelompok, yaitu; ludruk senior dengan lakon-lakon cerita klasik dan ludruk junior yang alur ceritanya lebih kekinian.

Biasanya pentas di mana? Bagaimana mendapatkan job pentas?

Sebagai latar belakang, di Surabaya terdapat 35 kelompok ludruk yang dibagi ke dalam dua golongan, yaitu; ludruk tobongan yang memiliki gedung pertunjukan sendiri dan jadwal pentas rutin, dan ludruk tanggapan yang baru pentas kalau ada panggilan atau permintaan.

Nah, kami termasuk yang ludruk tobongan. Jadi, ada atau tidak ada permintaan tampil, kami tetap melakukan pentas setiap Sabtu; sebulan empat kali. Markas tetap kami ada di kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) di Jalan Kusuma Bangsa Surabaya.

Karena kami ini adalah ludruk tobongan, maka kami lebih fokus melakukan pementasan di THR. Jarang sekali kami menanggapi atau mendapatkan permintaan untuk pentas di luar gedung. Tahun ini saja permintaan pentas dari luar hanya sekitar 5 kali.

Bagaimana dengan animo penoton belakangan ini?

Terus terang jumlah penonton ludruk akhir-akhir ini semakin berkurang. Itulah mengapa kami mau mengadakan perubahan total dari dalam. Kami bertanya pada penonton, apa yang kurang dari pertunjukan ludruk sekarang ini.

Ternyata banyak penonton yang kecewa karena sekarang ini pemain-pemain ludruk sudah tidak seperti dulu. Dulu, misalnya, pemeran laki-lakinya muda dan tampan, sedangkan sekarang sudah tua semua. Itu yang nantinya akan kami coba cari solusinya.

Sekarang ini, rata-rata penonton di setiap pertunjukan tanpa sponsor paling-paling hanya 50 orang. Kalau ada sponsor, penontonnya bisa lebih dari itu. Padahal, sepuluh tahun lalu jumlah penontonnya bisa lebih dari 100 orang. Penontonn 100 orang saja itu sebenarnya sudah sepi.

Berapa tarif sewa ludruk Irama Budaya saat ini?

Sekarang tarifnya Rp15 juta untuk pementasan ludruk standar. Kalau ingin pentasnya lebih besar atau ada bintang tamunya, tarifnya bisa lebih tinggi lagi.

Dengan semakin sempitnya pasar ludruk di Jawa Timur, bagaimana persaingan antarsanggar ludruk yang masih tersisa?

Masing-masing sanggar, baik tobongan maupun tanggapan, memiliki lahannya sendiri-sendiri. Justru, persaingan yang lebih ketat adalah antarsanggar ludurk tanggapan. Semakin banyak komunitas yang mendirikan ludruk tanggapan.

Namun, mereka tidak berani nombong [berubah menjadi ludruk tobongan] karena khawatir akan risiko kerugian yang besar. Bagaimana jika tidak ada penontonnya, padahal harus memenuhi jadwal pentas rutin.

Apa sebenarnya masalah yang harus dituntaskan terlebih dahulu untuk menghidupkan sanggar pentas tradisional seperti ludruk ini?

Regenerasi. Pemain ludruk senior yang tersisa sudah tua-tua. Sangat sulit bagi kami untuk mencari pemain muda. Dengan adanya kelas pelatihan yang baru dibuka ini, mudah-mudahan nantinya akan ada pemain-pemain baru yang bisa dijaring untuk pentas bersama senior.

Karena masalah regenerasi ini pula, jumlah pemain ludruk di Jawa Timur semakin menurun. Padahal, jumlah grup ludruknya banyak. Akibatnya, saat musim permintaan tanggapan [pementasan], banyak teman-teman ludruk yang ‘membajak’ pemain dari grup-grup lain.

Biasanya musim tanggapan ludruk adalah pertengahan tahun. Kalau tahun ini, mulai April sampai dengan sebelum Ramadan. Kalau sudah kebanjiran tawaran manggung begitu, grup-grup ludruk tanggapan sering membajak pemain dari grup lain.

Regenerasi seniman ludruk memang sangat kurang. Makanya, kami gencar membuka kelas dan laboratorium ludruk untuk menarik peminat generasi muda.

Strategi apa yang dipakai untuk menggaet anggota baru?

Dengan melakukan promosi ke sekolah-sekolah. Target kami, setelah pementasan pada 6 Mei nanti, kami akan melakukan promosi ke lebih banyak lagi sekolah-sekolah di Surabaya. Pertunjukan 8 Mei akan menjadi pentas perdana untuk memperkenalkan tim junior kami.

Saat ini kami hanya bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwantika [STKW] Surabaya, Universitas Negeri Surabaya [Unesa], dan SMAN 8 Surabaya.

Seperti apa bentuk dukungan yang diharapkan dari pemerintah?

Selama ini kami sudah difasilitasi dengan gedung secara gratis di THR, yang merupakan aset Dinas Pariwisata. Namun, biaya pemeliharaan dan produksi semua ditanggung oleh kami.

Ke depan, kami para seniman ludruk di Jawa Timur mengharapkan bantuan promosi dari pemerintah. Setidaknya, bisa dipasang banner untuk publikasi, sebab promosi yang ada sekarang sangat kurang sekali.

 

Penulis: Saena

Article courtesy: Bisnis.com

Photo courtesy: Indonesiakaya.com

Peringati Hari Air Bersama Santri Jogo Kali Jombang

ADAKITANEWS, Jombang – Kondisi sungai yang belakangan ini terlihat sangat tidak layak, yang diakibatkan oleh pembuangan sampah rumah tangga dan beberapa limbah dari berbagai perusahaan industri, mendorong Santri Jogo Kali dan beberapa komunitas Non Government Organization (NGO) mengajak elemen masyarakat agar turut peduli lingkungan, Minggu (09/04).

Pada peringatan Hari Air yang jatuh pada tanggal 22 Maret, Santri Jogo Kali Jombang membuat beberapa agenda positif guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam hal pelestarian sungai serta biota yang ada di dalamnya. Acara yang diadakan di bantaran sungai Gude Ploso Dusun Dayu Desa Tunggorono Kecamatan/Kabupaten Jombang ini juga melibatkan sejumlah siswa dari beberapa sekolah di Jombang, mulai dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Perguruan Tinggi yang ada di Jombang.

Fatkhurrohman, Ketua Santri Jogo Kali ketika ditemui Tim Adakitanews.com menerangkan bahwa acara yang dimulai pada pukul 07.00 WIB tersebut diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya di pinggiran sungai.

Berbagai perlombaan pun tak luput dari rangkaian acara guna mendekatkan masyarakat agar lebih dekat dan mencintai sungai serta airnya. Salah satu acara yang terlihat unik, yakni lomba dayung perahu yang terbuat dari pohon pisang.
Sementara untuk hiburan masyarakat, panitia mengajak komunitas pemuda untuk bermain musik di pinggir sungai, salah satunya yang terlihat adalah Ormas Oi yang identik dengan Iwan Fals. “Selain perlombaan juga ada penebaran bibit ikan dan penanaman pohon yang bertujuan untuk membantu dalam pelestarian lingkungan,” jelas Fatkhurrohman.

Fatkhurrohman menambahkan, bahwa acara tersebut juga mendapatkan dukungan penuh dari berbagai lembaga di lingkup Pemerintahan Kabupaten Jombang. Beberapa diantaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pengairan serta banyak lagi.(jb2)

Keterangan gambar: Peringatan hari air sedunia di Sungai Gude Ploso Tunggorono.(foto: adi rosul)

 

Penulis: –
Article courtesy: Adakitanews.com
Photo courtesy: Adakitanews.com

Sulap Cuilan Kayu Dadap, Jadi Pendapatan Jutaan Rupiah

KABARJOMBANG.COM – Tenggelamnya budaya tradisional di era modernisasi, tak menyurutkan pemuda asal Dusun/Desa Banjarsari Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, untuk terus melestarikan budaya tradisional Jawa Timuran. Dia adalah Arif Suyanto, pemuda 29 tahun yang memilik jiwa kesenian jawa cukup tinggi.

Pemuda yang aktif dalam kesenian Barongan ini, berhasil melestarikan kerajinan topeng barongan yang diwariskan orang tuanya. Tak tanggung-tanggung, di tangan kreatifnya, kayu dadap berukuran setengah meter bisa berharga jutaan rupiah. Betapa tidak, dengan mengukir kayu dadap menjadi topeng kesenian barongan, pemuda ini bisa menghasilkan Rp 3 juta per satu topeng barongan.

Cukup mahal bukan. Minimnya pengrajin topeng barongan di Kota Santri, membuat keahlihan Arif begitu mahal. Dalam seminggu, Arif bisa menghasilkan satu topeng barongan. Ini disebabkan dirinya masih menggunakan peralatan tradisional. Bukan tanpa alasan, ini dilakukan dirinya untuk menjaga keaslian topeng dari tangan pengrajin.

“Memang sengaja hanya menggunakan alat tradisional berupa tatah dan pisau kecil. Ini agar ukiran dalam topeng tetap terjaga keasliannya,” katanya Sabtu (1/4/2017).

Termasuk penggunaan kayu jenis dadap, karena dianggap lebih ringan dan tidak mudah retak. Asal pengolahannya tepat, lanjutnya, maka hasil yang diperoleh dari pahatan tersebut sangat memuaskan.

“Sebelum diukir atau dibentuk menjadi topeng, tidak boleh kena panas atau kena hujan. Harus tersimpan di ruangan yang lembab,” terang Arif.

Dalam sepekan, dirinya hanya bisa membuat kerajinan topeng barongan 2 buah topeng. Meski begitu, banyaknya minat pemesan dari luar kota, tetap menyibukan dirinya untuk terus memahat kayu dadap di pangkuannya. “Masih banyak yang meminta untuk dibuatkan, termasuk dari Kota Mojokerto dan Kediri,” ungkapnya.

Dengan dibantu enam temannya yang juga bergabung dalam Komunitas Kesenian Barong miliknya, setiap pagi dirinya mengerjakan pesanan dari luar kota. Jika dilihat dari segi harga, memang menurutnya harga Rp 3 hingga Rp 4 juta per topeng bukanlah hal yang mahal. Sebab mahalnya kayu jenis dadap, yang dipilihnya membuat harga topeng semakin tinggi.

“Harga kayu dadap satu potong sudah Rp 500 ribu. Dan jika dilihat dari segi pekerjaannya yang rumit harga itu tidak masalah bagi pelanggan saya,” cetusnya.

Terbukti, hingga saat ini dirinya masih menerima orderan dari sesama pecinta kesenian barongan. Hasilnya, dalam sebulan dirinya bisa mengantongi pund-pundi rupiah dari Rp 7 hingga Rp 8 juta. “Alhmdllah hingga saat ini ada saja pecinta seni yang order disini,” pungkasnya.

Jika tidak ada pembeli yang memesan, alat-alat tersebut tetap dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Sebab, dirinya juga menyewakan jasa seni tradisional tari topeng barongan. “Kami juga sering pentas seni topeng barongan, dan itu bisa sampai luar kota,” teranganya.

Tarifnya, dalam satu kali pentas yang hanya berdurasi 4 hingga 5 jam, rata-rata sebesar Rp 2 hingga Rp 3 juta. Tetapi, tarif itu masih harus dibagi dengan 30 pemain pentas seni. “Selain itu, tarif kendaraan juga ikut dalam biaya itu. Tetapi Alhamdulillah satu kali pentas, satu orang bisa mendapatkan Rp 50 ribu,” ungkapnya. (aan/kj)

 

Penulis: Aan
Article courtesy: Kabarjombang.com
Photo courtesy: Satujurnal.com

Santri Jombang Antusias Kembangkan Industri Kreatif

Jombang (beritajatim.com) – Ratusan santri dan mahasiswa di Jombang sangat tertarik untuk menjajaki dan mengembangkan gagasan industri kreatif. Antusiasme yang cukup tinggi itu tampak dalam dialog bersama Ketua Pokja Industri Kreatif Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Irfan Wahid, yang berlangsung di Pesantren Tebuireng, Ahad (19/3/2017) sore.

Ahmad Dika Maulana (17), misalnya, menceritakan pengalamannya mengembangkan komunitas fotografer santri di lingkungan Pesantren Tebuireng. “Saya dan teman-teman juga bekerjasama dengan santri dari pesantren lain di Jombang,” ujarnya.

Kepada Irfan Wahid, siswa Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng itu meminta saran dan masukan untuk pengembangan komunitas fotografer yang dipimpinnya. Dia berharap, komunitas tersebut dapat berkembang lebih lanjut menjadi fotografer profesional.

Lain lagi dengan Azmil (21), mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng itu berniat mengembangkan usaha yang dibutuhkan mahasiswa. Tapi, ia bingung harus membuka usaha apa. “Kira-kira usaha apa yang pas untuk mahasiswa?” tanya dia.

Pertanyaan lain dilontarkan oleh Zulfia Ulfa (19). Dia punya ide mengembangkan usaha kuliner pisang cokelat. Tapi, dia bingung produk tersebut harus diberi nama apa.

“Saya ingin produk saya nanti menembus pasar ekspor. Tapi takut nama yang saya pilih nanti sulit diucapkan konsumen di luar negeri,” ungkapnya dengan percaya diri.

Gus Ipang –sapaan akrab Irfan Wahid– kemudian membagikan tips berwirausaha kepada para santri. “Kuncinya, niat bisa dan pilih sesuatu yang berbeda, yang unik dan membuat orang memilih produk kita. Juga, buka wawasan serta harus tekun dan jangan menyerah,” pesan pria yang dikenal luas sebagai konsultan branding ini.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipang juga mengkritik kaum muda yang senang mencari jalan pintas dan cenderung malas belajar. “Banyak orang menyerah sebelum melalukan. Ciri khas anak sekarang, mau enaknya doang. Maunya, sedikit-sedikit minta shortcut (menu pintas),” kritiknya.

Di era teknologi informasi, pemanfaatan aplikasi online untuk memasarkan sebuah produk, tidak bisa dihindarkan. Dengan sentuhan kreativitas, produk yang sama bisa berbeda nilai jualnya. “Dengan bantuan aplikasi, produk kuliner, jasa laundry, hingga jasa mengajar privat pun dapat lebih menarik pelanggan,” saran putra sulung KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) ini.

Irfan juga mengapresiasi komunitas fotografer santri yang sudah menjalin kerjasama dengan komunitas lain. “Semakin besar komunitas, akan membuat Anda lebih dikenal dan tahu potensi diri,” sarannya.

Anggota KEIN ini menuturkan, pihaknya ingin mendorong kalangan santri agar menjadi wirausahawan dan memasuki sektor industri kreatif. Pasalnya, sektor ini semakin banyak menyerap tenaga kerja dan menjadi tren perekonomian global.

“Dari tiga subsektor saja (kuliner, fashion dan kriya), industri kreatif telah mampu menyerap 14,9 juta tenaga kerja pada 2015. Angka ini terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Irfan mengatakan, pertumbuhan industri kreatif masih sangat menjanjikan. Di bidang animasi, misalnya, saat ini baru terpenuhi sekitar seratus animator. Padahal, kebutuhannya lebih dari 1.000 animator per tahun. “Pada 2015, nilai ekspor kuliner, fashion dan kriya mencapai 19,3 juta dolar,” ungkapnya.

“Keinginan Presiden Jokowi agar pesantren dapat menjadi penopang ekonomi nasional begitu tinggi. Sebagai Ketua Pokja Industri Kreatif, saya mencoba mendorong hal itu melalui sektor industri kreatif dan wirausaha santri,” pungkasnya. [suf]

 

Penulis: Syamsul Arifin
Article courtesy: jombang.nu.or.id
Photo courtesy: Jatimtimes.com

Luntas : Ludruk Nom-noman Jembatan Dunia Tradisional dan Modern

Minggu malam (26/02) lahan parkir dan taman di depan gedung Pringgodani, THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya lebih ramai daripada biasanya. Suasana gelap dan suram sedikit terusir dengan hadirnya beberapa orang yang terlihat lalu lalang atau sekedar duduk-duduk menunggu dimulainya pertunjukan berjudul ‘Sampek Engtay’ garapan grup ludruk Luntas. Luntas sendiri merupakan akronim dari Ludruk Nom-noman Tjap Arek Soeroboio. ‘Sampek Engtay’ merupakan produksi ke IX selama usia Luntas yang baru saja menginjak satu tahun. Produktivitas mereka dalam menghasilkan seni pertunjukkan memang tak dapat disangkal.

‘Sampek Engtay’ gaya Suroboyo

Sekitar pukul 20.00 pertunjukkan yang ditunggu-tunggu digelar. Tari Remo menjadi suguhan pembuka. Selanjutnya, lawakan dari Cak Robert dan Cak Ipul mengawali lakon ‘Sampek Engtay’ malam itu. Urut-urutan tampilan yang demikian nampaknya memang lazim untuk sebuah pertunjukan Ludruk. Lakon ‘Sampek Engtay’ dibuka dengan konflik Engtay, seorang perempuan muda yang ingin sekolah. Kala itu di Tiongkok hanya laki-laki yang diperbolehkan bersekolah. Engtay bersikeras mau menyamar menjadi laki-laki agar bisa bersekolah. Orang tuanya tak dapat mengelak, akhirnya mereka memberikan izin pada Engtay untuk pergi asalkan didampingi oleh pembantu perempuannya yang juga harus menyamar menjadi laki-laki.

Jangan membayangkan para pemain akan berbahasa ke-Tiongkok-tiongkok-an dalam melafalkan dialognya. Luntas tak melakukannya sama sekali, kecuali satu dua tokoh yang sesekali memberikan sengau untuk memberi efek bahasa Tiongkok yang hasilnya justru akan membuat penonton geli. Luntas mengadaptasi dialog sepenuhnya dalam bahasa Indonesia dan Jawa gaya Suroboyoan. Tidak hanya dialog yang mereka sesuaikan dengan konteks Suroboyo, tapi juga alur cerita dan musik. Alur cerita ‘Sampek Engtay’ digarap sebagaimana sebuah pertunjukan ludruk yang menyisipkan dagelan-dagelan di tengah alur cerita yang semestinya. Juga musik yang menjadi latar cerita digarap dengan cara memadukan antara karawitan dan rekaman lagu-lagu pop kekinian.

‘Sampek Engtay’ ala Luntas: Dongeng Lawas yang Menarik Perhatian Anak Muda

Lakon ‘Sampek Engtay’ memang bukan lakon baru dalam dunia seni pertunjukkan di Indonesia. Begitu banyak grup yang menggarapnya, sebut saja salah satu kelompok bernama Teater Koma yang di tahun 2015 telah menampilkan lakon ‘Sampek Engtay’ sebanyak 101 kali.[1] Tentu tak mudah memainkan lakon yang sudah banyak dimainkan oleh grup lain. Banyak orang pun sebenarnya sudah mengetahui jalan cerita ‘Sampek Engtay’. Engtay yang menyamar menjadi laki-laki lama kelamaan jatuh cinta pada kawan seperguruannya bernama Sampek. Sampek pun tak sengaja pada suatu saat mengetahui bahwa Engtay adalah perempuan. Mereka berdua jatuh cinta. Namun malangnya, lamaran dari Sampek ditolak mentah-mentah oleh orang tua Engtay. Engtay kemudian dijodohkan dengan putra dari tokoh terkemuka dan Sampek mati dalam kesedihannya. Engtay kemudian berpura-pura mau dinikahkan tapi di tengah arak-arakan pernikahan ia justru sengaja terjun ke makam Sampek. Keduanya bersatu dan menjelma menjadi kupu-kupu.

Sudah seringnya dongeng ‘Sampek Engtay’ ini diperdengarkan atau dipentaskan tidak membuat sejumlah orang enggan datang ke gedung pertunjukkan malam itu. Mereka memenuhi bangku-bangku tua Gedung Pringgodani. Ini merupakan fenomena yang mengherankan sebab dapat dikatakan 90% dari bangku penonton terisi dan sebagian besar dari penonton adalah anak muda. Pertunjukan seni tradisi di era modern tak lagi banyak digemari. Gedung-gedung di THR pun sudah sangat lama tak menjadi idaman masyarakat. Namun, Luntas membawa nafas baru ke dalam seni tradisi dan gedung pertunjukkan di THR. Mereka menjadi jembatan antara dunia anak muda di luar THR dengan dunia seni tradisi. Bentuk-bentuk sajian Luntas ternyata mampu mengundang kembali anak muda untuk menapakkan kakinya ke THR yang mulai ditinggalkan. Orang-orang muda dari berbagai latar belakang dan profesi seperti mahasiswa/siswa, pekerja swasta, pendidik, ibu muda rumah tangga, dll terlibat, baik untuk menonton maupun menjadi aktor/aktris dalam pertunjukkan ini. Lebih hebatnya lagi, semua pemain tidak menarik keuntungan finansial atas aksi-aksinya. Mereka berkarya berdasarkan ke-sukarela-an. Uang tiket yang dihargai Rp 15.000,00/orang hanya digunakan untuk mengganti uang produksi, tak lebih dari itu.

Perlunya Berbagai Pihak Bergandeng-Tangan

Usaha Luntas untuk menghidupkan dan memperbarui seni tradisi sembari mengenalkannya pada kaum muda memang pantas diapresiasi. Memang tidak sedikit juga catatan baik dari segi teknis maupun isi pertunjukkan yang perlu diperbaiki, seperti: mengisi banyolan-banyolan agar tidak sekedar menghibur tetapi juga membawa penonton pada kepekaan terhadap kondisi sosial politik (sebagai catatan: ludruk pada masa kolonial digunakan untuk menumbuhkan kesadaran sosial di kalangan rakyat); ketrampilan keaktoran yang perlu terus ditingkatkan; kesesuaian artistik dengan tema; dan pengaturan suara serta musik agar dialog tetap terdengar.

Luntas tidak sendiri dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan ini. Banyak pihak seperti sekolah kesenian, tokoh-tokoh gaek dalam bidang seni tradisi, Pemkot, orang-orang muda dan masyarakat pada umumnya dapat bergandeng-tangan untuk sama-sama menghidupi budaya khas Suroboyo ini.

 

Penulis: –

Article courtesy: idenera.com

Photo courtesy: idenera.com

Seto Mulyadi Usulkan Ludruk Berbahasa Indonesia

TEMPO.CO, Jakarta – Berkembangnya budaya pop kian menggeser kepopuleran budaya tradisional. Tak heran, kebanyakan generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak yang tinggal di kota besar, tidak mengenal budaya tradisional, seperti ludruk. Meski demikian, psikolog anak, Seto Mulyadi, mengatakan kesenian ludruk bisa diperkenalkan dengan mudah kepada anak-anak jika bahasa pentasnya diganti.

Menurut pria yang akrab disapa Kak Seto ini, saat ini, banyak kegiatan berbau seni drama di sekolah-sekolah. “Anak-anak juga suka main sandiwara atau teater. Kenapa tidak kita perkenalkan ludruk, drama tradisional asli Jawa Timur?” kata Seto saat ditemui di Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kebayoran, Jakarta Selatan, Minggu, 12 Maret 2017.

“Salah satu upaya mengenalkannya bisa dengan menampilkan seni ludruk menggunakan bahasa Indonesia,” kata pria kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951 ini. Sejauh ini, ludruk, yang merupakan kesenian asli Jawa Timur, memang murni menggunakan bahasa Jawa dengan logat Jawa Timuran. Tak heran, orang-orang yang dapat menikmati pentas tersebut adalah yang mengerti bahasa Jawa.

Ditemui di tempat yang sama, Koordinator Paguyuban Konco Dhewe Bram Kushardjanto mengatakan mengganti bahasa Jawa Timuran ke bahasa Indonesia dalam pentas ludruk bisa ditoleransi. “Bagaimanapun juga, banyak orang yang memang tidak mengerti bahasa Jawa. Saya sendiri orang Jawa Timur asli hanya fasih mendengar, kalau urusan ngomong, saya pasif,” ujar Bram.

Namun Bram mengatakan tentu seniman tradisional juga ingin mendekatkan penonton dengan kebudayaan mereka. “Bahasa itu masing-masing punya simfoni. Memiliki irama dan memiliki keindahan sastra. Kalau misalnya saya nonton seni Sunda, ya, saya akan sangat apresiatif karena mereka masih menggunakan tone Sunda. Aku nonton enggak ketawa, enggak apa-apa, itu memang ciri khas mereka,” kata Bram.

Meski masih ditoleransi, Bram mengungkapkan, jika semuanya diganti menjadi bahasa Indonesia murni, tak ada unsur budaya Jawa Timur yang diperkenalkan. “Kalau semua di-bahasa-Indonesia-kan, ya, enggak bagus juga. Jadi harus seimbang, lah. Toh, kita nonton Don Giovanni dan Mozart pakai bahasa Italia, tapi kita tetap suka,” kata Bram.

 

Penulis: Dinii Teja

Article courtesy: Tempo.co

Photo courtesy: Tempo.co

Sudah Pensiun, Tapi Undangan Pentas Cak Kartolo Tetap Ada

TEMPO.CO , Jakarta – Bagi penggemar seni drama tradisional Ludruk, nama Cak Kartolo mungkin tak asing lagi. Namanya kian memuncak ketika ia dan kawan-kawannya mendirikan sebuah grup lawak bernama Grup Ludruk Kartolo CS sejak 1960-an.

Baca: Baca: Cak Kartolo Meriahkan Pentas Ludruk Dalang Gersang

Namun sudah lebih dari 3 dekade, pria kelahiran Pasuruan, 2 Juli 1945 ini berhenti dari panggung yang telah membesarkan namanya tersebut. Lalu apa yang dilakukan Cak Kartolo saat ini?

“Sudah sejak tahun 80-an saya sudah tidak ngeludruk, hanya lawak. Tapi kadang diundang oleh anak-anak untuk gabungan ludruk, wayang kulit, ketoprak dan orkes,” katanya saat ditemui di Auditorium Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan, Ahad, 12/03.

Terakhir, Cak kartolo diajak main ludruk dalam lakon Dalang Gersang bersama Paguyuban Konco Dhewe di Auditorium Pendopo, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jakarta, Ahad, itu.

Ia mengaku dalam sebulan, ia bisa mendatangi 4 kali undangan. “Tapi kadang juga kosong. Memang setelah teman-teman meninggal, undangan yang didapat jauh berkurang,” ujar pria berusia 71 tahun ini. “Paling banyak, kalau mantenan sebulan bisa sampai 7 kali saja,” lanjutnya.

Selain di Jawa Timur, Cak Kartolo juga mengaku pernah beberapa kali diundang ke beberapa daerah. “Sejak berhenti saya juga pernah ke Gorontalo, Balikpapan, Batam dan Lombok. Tapi itu lawak saja, bukan ludruk,” katanya.

Sementara itu, jika tak ada undangan, Cak Kartolo mengaku lebih senang tinggal di rumah dan mengurus cucu. “Kegiatan sehari-hari sekarang paling antar jemput cucu sekolah,” katanya sambil tersenyum.

 

Penulis: Dini Teja

Article courtesy: Tempo.co

Photo courtesy: Tempo.co

Ludruk Irama Budaya Bertahan

TEMPO.CO, Jakarta – Layar panggung berwarna merah dinaikkan. Dari baliknya, berdiri sosok penari waria mementaskan tari remo, tari pembuka lakon ludruk. Kakinya ke lantai hingga membikin gelang kaki bergemerincing, menari luwes di tengah tabuhan musik gamelan pengiring. Sekitar 20 menit tari remo dimainkan, sang penari kembali ke ruang rias bergabung dengan belasan waria lainnya yang sedang bersolek.
“Sing ngremo iki mesti telat, mangkane rodok molor (yang menari remo ini selalu telat, makanya agak terlambat),” kata penjaga tiket masuk pementasan Ludruk Irama Budaya, Deden Irawan, lalu terkekeh sembari meladeni wawancara Tempo, Sabtu malam, 11 Maret 2017.

Waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Sedikit demi sedikit, penonton berdatangan. Jumlahnya tak banyak, namun 75 persen kursi hampir semuanya terisi. Tak menunggu lama, gantian 12 lelaki berbusana kebaya berlenggak-lenggok menampilkan tarian bedayan. Sekitar 30 menit, perempuan-perempuan ludruk yang semuanya laki-laki itu menyisipkan lagu campur sari di akhir tarian.

Usai tarian bedayan, pementasan Ludruk Irama Budaya berlanjut dengan parikan yang disisipi lawakan, baru kemudian masuk ke inti cerita. Malam itu, lakon berjudul Sarip Tambak Oso.

Deden sebenarnya bukan penjaga tiket biasa. Ia memimpin kelompok ludruk tersebut sepeninggal ayah angkatnya pada tahun 2012. Kelompok Ludruk Irama Budaya dibesarkan oleh mendiang seniman waria bernama Sakiyah Sunaryo.

Ludruk Irama Budaya berdiri pertama kali pada 10 November 1987. Awalnya bernama Waria Jaya, namun dua tahun kemudian diganti. “Kami ganti nama lagi menjadi Ikabra Jaya. Tahun 1990-an kami baru menggunakan nama Ludruk Irama Budaya,” kata Deden.

Pemuda berusia 36 tahun ini menjelaskan, Irama Budaya adalah ludruk tobong. Tobong artinya ialah selalu pentas menetap di sebuah gedung. Namun, gedung Taman Hiburan Remaja (THR) yang kini ditempati, bukanlah yang pertama. Sebelum tahun 2010, mereka nobong di Jalan Pulo Wonokromo. “Kami nobong tidak pernah keluar dari Surabaya,” kata Deden.

Berpentas di Pulo Wonokromo itulah masa kejayaan Ludruk Irama Budaya, antara tahun 1990-an sampai awal tahun 2000-an. Penonton membeludak terutama jika pentas digelar Sabtu malam. “Dari kapasitas 250-an kursi, yang datang bisa lebih dari 300. Penontonnya banyak yang berdiri,” kata Deden mengenang.

Mereka pun pentas setiap hari. Namun seiring perkembangan zaman, kesenian ludruk kian ditinggalkan masyarakat. Penonton semakin berkurang, kalah populer seiring beragamnya jenis hiburan seperti program-program televisi maupun internet. Meski pentas digelar pada malam Ahad, kursinya banyak yang kosong. Kelompok Ludruk Irama Budaya tak mampu lagi membayar biaya sewa. “Terakhir sewa gedung di sana (Pulo Wonokromo) harganya Rp 8 juta per tahun, belum termasuk bayar listrik Rp 400 ribu,” kata Deden.

Tahun 2010, Deden memutuskan berpindah ke kawasan THR Surabaya berkat fasilitas dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Mereka diberi tempat di sebuah gedung yang mangkrak di THR tanpa terbebani biaya sewa maupun listrik. “Kami hanya diminta untuk merawat gedungnya saja,” kata Deden.

Mereka pun melanjutkan pentas rutin walau hanya seminggu sekali, bukan setiap hari seperti dulu.  Jumlah penonton juga tak seramai di Pulo Wonokromo yang lokasinya strategis di tengah kota. “Sekarang manggung setiap Sabtu malam, ya penontonnya paling banter 50 orang.”

Dengan penonton yang tak banyak dan tiket masuk yang dibanderol Rp 10 ribu, praktis para anggota kelompok ludruk tak bisa mengandalkan penghidupan pada kesenian ini saja. Sekali pentas, Deden membawa sekitar 40 orang mulai pemain karawitan, pelawak, sinden, sampai penari.  “Ya tentu ini cuma sampingan. Di luar, aku kerja salon dan desain kebaya,” kata salah satu sinden merangkap pemain, Kasiyanto, 47 tahun. Waria asal Kediri itu sudah ikut Ludruk Irama Budaya sejak tahun 1999, saat ia berusia 17 tahun.

Yang lain, kata Deden, bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Ada yang menjadi kuli bangunan, membuka usaha salon, termasuk menerima job sebagai pesinden campursari, jika ada tetangga yang menggelar hajatan.

Namun, Deden dan kawan-kawannya tak patah arang. Bak lakon-lakon legenda Jawa yang tak pernah mati dalam kesenian ludruk, mereka optimistis ludruk bakal tetap eksis di tengah himpitan pesatnya hiburan di era serba instan sekarang.

Sembari berupaya meregenerasi para pemainnya, Ludruk Irama Budaya pelan tapi pasti mengembangkan jalan cerita lakonnya. Ia dan tim berani menyisipkan lawakan yang disesuaikan dengan isu-isu kekinian, misalnya politik dan media sosial. “Yang penting tidak menghilangkan pakem ludruk; tetap ada gamelan, jula-juli, remo, dan bedayan. Pakem itu tidak boleh dihilangkan,” kata Deden tegas.

Malam semakin larut. Sarip ‘Tambak Oso” memekik keras, tak terima ibunya disakiti oleh penagih pajak suruhan Tuan Tanah yang sangat pro Belanda. Lantaran si pesuruh seorang tua yang gagap, penonton tetap tertawa terpingkal-pingkal. “Saya sudah lama nggak ke sini. Kangen nonton ludruk,” kata Sri Rahayu, 45 tahun, warga Krembangan. Ia datang bersama suami dan putrinya yang berusia 2 tahun. Ia bilang, mau menonton ludruk sampai habis. *

 

Penulis: Artika Rachmi Farmita

Article courtesy: Tempo.co

Photo courtesy: Tempo.co