• info@njombangan.com

Monthly ArchiveJune 2017

Industri Cor Kuningan Jombang Masih Terkendala Modal

Jombang, HarianForum.com – Setahun belakangan, pamor industri kerajinan cor kuningan mulai tampak bersinar. Produk andalan Kabupaten Jombang ini, sempat lesu di tingkat produksi dan penjualan. Kondisi tersebut seperti diungkapkan Salim (51), salah satu pemilik industri kerajinan cor kuningan yang tinggal di Dusun Sanan Selatan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

Menurutnya, merosotnya pamor industri kerajinan turun-temurun ini terjadi, lantaran melonjaknya harga bahan baku. Selain itu, harga jual hasil kerajinan cor tersebut kurang bagus. Sehingga, beberapa pengrajin terpaksa gulung tikar. Mereka pun memilih beralih profesi.

“Kebanyakan para pemilik usaha kerajinan cor kuningan menghentikan produksi, karena tak mampu membeli bahan baku yang harganya terus naik. Padahal, hasil kerajinan cor kuningan ini, sudah merambah ke manca negara,” kata pemilik galeri cor kuningan bernama Shiwa ini.

Meski mulai ada geliat bangkit dari kelesuan, lanjut Salim, bukan berarti industri tersebut tak ada hambatan yang dihadapinya. “Kendala terbesar yang kita hadapi, tetap pada permodalan. Sebab, dengan perputaran modal yang kecil, tentu berakibat tidak cepatnya pemenuhan order. Saat ini, kita hanya bisa menunggu pemesan lebih dulu membayar, baru kita menyelesaikannya,” papar pria yang menekuni usaha ini sejak tahun 1993 silam.

Salim berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang bisa memfasilitasi permodalan demi peningkatan usaha yang diproduksi pengrajin. “Ini demi industri andalan Jombang kembali bangkit dan moncer di pasar lokal dan dunia,” paparnya.

Dia juga mengungkapkan, selain melayani pasal lokal Indonesia, diantaranya Jakarta dan Bali, hasil produknya juga sudah mampu menembus pasar manca negara seperti Korea dan Belanda. “Pesanannya berupa macam-macam. Diantaranya patung orang, hewan, dan kerajinan lain sebagai pajangan ruangan. Mulai ukuran kecil seberat 1 kwintal, hingga yang besar seberat 2 kwintal lebih,” jelasnya.

Soal pasar, masih kata Salim, industri kerajinan cor kuningannya tidak stagnan. Dibantu seorang tenaga ahli dan 7 pekerja, dirinya selalu membuat inovasi dalam produknya, agar mampu meningkatkan minat pasar. “Tentu, soal kualitas tak perlu diragukan lagi. Karena, industri kerajinan ini juga menyangkut nama Jombang,” ungkap Salim yang juga mengaku omset dari usahanya ini mencapai Rp 250 juta per tahun. (snk)

 

Penulis:
Article courtesy: Harianforum.com
Photo courtesy: Kompasiana.com

Taman ASEAN Pertama, Jombang Catat Sejarah

Segenap unsur masyarakat dan pemerintah Kabupaten Jombang yang hadir pada upacara peresmian Taman ASEAN di Jombang, Jawa Timur menjadi saksi sejarah. “Jombang didapuk sebagai daerah pertama di Indonesia yang memiliki Taman ASEAN”, ungkap Isman Pasha, Kasubdit Kerja Sama Pembangunan Sosial, Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN, Kementerian Luar Negeri di sambutannya pada acara peresmian Taman ASEAN dan pengibaran bendera ASEAN di Jombang, Jawa Timur (2/6).
“Kita tahu tokoh bangsa dan pendiri Nahdlatul Ulama juga lahir dan ada di Jombang. Untuk itu, tepat kiranya jika kami memperkenalkan kekuatan toleransi yang digagas para tokoh dari Jombang itu kepada para pemuda ASEAN,” jelas Bupati Jombang, Drs. Nyono Suharli Wihandoko yang hadir dan menandatangani prasasti peresmian Taman ASEAN tersebut.
“Jombang punya sejarah panjang yang menjunjung tinggi dan menghormati keberagaman. Jombang menjadi laboratorium sekaligus contoh yang layak untuk diperlihatkan kepada masyarakat internasional sebagai pengejewantahan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” sambung Isman.
Peresmian Taman ASEAN tersebut diharapkan tidak berhenti hanya pada tataran seremoni. Kerja sama lebih nyata dari kerja sama dalam ruang lingkup ASEAN kiranya dapat lebih diarusutamakan oleh daerah-daerah di Indonesia, termasuk Jombang.
Dengan potensi jumlah tenaga kerja industri lebih dari 63 ribu jiwa, Jombang diharapkan mampu bersuara lebih di kancah ASEAN yang kini sudah tidak lagi bersekat. Calon bidan dan perawat yang digembleng di 6 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan setempat kiranya dapat menjadi salah satu kunci masuk Jombang menuju pasar ASEAN. Untuk itu, dibutuhkan pembekalan lebih, seperti kemampuan Bahasa Asing guna meningkatkan daya saing tenaga kerja setempat
Acara pengibaran bendera dan peresmian Taman ASEAN tersebut dihadiri oleh, diantaranya, jajaran pemerintah daerah, perwakilan DPRD Jombang, pihak kepolisian, TNI, pemuka agama, forum kerukunan umat beragama dan mahasiswa Jombang juga dari lintas agama. Kegiatan ini merupakan rangkaian pembuka menuju (road to) ASEAN Youth Interfaith Camp 2017 (AYIC 2017) atau Kemah Lintas Kepercayaan Pemuda ASEAN yang akan diselenggarakan bulan Oktober 2017 di Jombang, Jawa Timur.
Dengan mengambil tema “Tolerance in Diversity for a World Harmony”, AYIC 2017 akan mengundang perwakilan pemuda dari negara anggota ASEAN dan mitra. Inisiatif ini merupakan kerja sama Kementerian Luar Negeri dengan Pemerintah Kabupaten Jombang dan Pusat Studi ASEAN Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (PSA UNIPDU) Jombang Jawa Timur. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 ASEAN yang jatuh pada tanggal 8 Agustus 2017
 
(Sumber: Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN).
Penulis: –
Article courtesy: Kumparan.com
Photo courtesy: Adakita.com

Ludruk, Kesenian Tradisional yang Dicintai Bupati Malang Rendra Kresna

MALANGTIMES – “Seni tidak abadi. Ia bisa hancur kapan saja. Tapi ia akan tetap ada karena kita menjaganya. Dan kita menjaganya karena ia memang pantas untuk dijaga”. Begitulah ungkapan seorang Bupati Malang Dr Rendra Kresna atas kecintaannya terhadap kesenian tradisional yang terus hidup di Kabupaten Malang.

Kecintaannya berbasis sejarah atas jejak-jejak kesenian tradisional, baik di zaman para wali, masa perjuangan kemerdekaan, sampai pada masa kini. Ludruk adalah salah satu kesenian tradisional yang dia jaga keberadaannya di dalam himpitan budaya luar yang begitu masif membombardir kecintaan generasi muda dalam berkesenian.

“Saat panggung-panggung kesenian tradisional seperti ludruk ditinggalkan penontonnya dan pemerintah hanya berpangku tangan, maka jangan salahkan negara lain yang akan mengambil dan memiliki khazanah kekayaan Nusantara ini,” kata Rendra Kresna yang mencontohkan berbagai bentuk kesenian dan budaya Indonesia sudah diklaim milik beberapa negara lain, Senin (06/06) kepada MALANGTIMES.

Bagi Rendra yang tidak antipati terhadap bentuk kebudayaan dan kesenian luar (barat), kondisi ini sangatlah memprihatinkan. Saat generasi muda sudah tidak mengenal ludruk, misalnya, maka lambat laun kesenian yang memiliki sejarah panjang dan khas Jawa Timuran ini akan hilang. “Saya memahami setiap generasi tumbuh dengan selera yang berbeda-beda. Tapi seni tradisional ini saya yakin akan selalu berada dalam jiwa seluruh generasi yang berbeda selera itu,” ujarnya.

Untuk merestorasi kecintaan terhadap kesenian tradisional seperti ludruk inilah, Pemerintah Kabupaten Malang melalui Rendra Kresna hadir. Berbagai acara pemerintahan diisi hiburannya dengan kesenian ludruk untuk masyarakat. Berbagai komunitas ludruk diajak kembali dan dirangkul untuk menghidupi kembali habitatnya.

Hasilnya, beberapa komunitas ludruk kembali tampil dan hidup kembali. Misalnya Ludruk Semarak yang dipimpin oleh komedian tradisional Muhamad Topan. Ada juga Ludruk Karangpandan, Ludruk Madep Mantep Bangelan, Ludruk Adi Laras dan lainnya.

Kecintaan Rendra terhadap ludruk bukan sekadar karena dalam kesenian tradisional tersebut ditemukan nilai-nilai kemanusian semata, tetapi juga dalam upaya merawat sejarah dari ludruk tersebut. Dari penuturannya, sejarah ludruk di Malang terlahir dari embrio perlawanan di masa perjuangan. Ini bertalian erat dengan masa penjajahan Jepang, ketika ludruk dijadikan medium kritik. “Saat itu muncul parikan terkenal Cak Durasim, yaitu ‘Bekupon omahe doro, melok Nippon soyo sengsoro,’” ujarnya.

Ludruk sebagai medium kritik dan perlawanan terlihat sampai kini dari tokoh lakon, cerita dan perlengkapan yang dimainkan selalu mengacu pada kehidupan sehari-hari era perjuangan. Walaupun di sana-sini sudah mulai adanya modifikasi dalam upaya menyesuaikannya dengan kondisi jaman.

Rendra melanjutkan, sekitar tahun 1930 di Malang berdiri Ludruk Ojo Dumeh didirikan oleh Abdul Madjid. Pada tahun-tahun selanjutnya bermunculan berbagai kelompok ludruk. Antara lain Ludruk Djoko Muljo pimpinan Nadjiran di Embong Brantas (1936), Margo Utomo pimpinan Asnan atau Parto Gembos (sekitar 1936-1940), Sido Dadi Slamet pimpinan Temas tahun 1940-an, kemudian ludruk gerakan gerilya misalnya Ludruk SAGRI (Sandiwara Angkatan Gerilya Republik Indonesia, 1947-1948) pimpinan Said Djajadi.

“Itu di masa perjuangan kemerdekaan. Saat memasuki tahun 1950-an, lahir ludruk Bladjaran atau ludruk-ludruk baru,” ungkap Rendra. Dia menyebutkan pada tahun itu ada perkumpulan Ludruk Bond Malang Selatan pimpinan Kaprawi tahun 1952.

Tahun 1950-1960 berdiri beberapa kelompok ludruk yang berada di bawah organisasi massa dan organisasi sosial politik. Antara lain Ludruk Juli Warna pimpinan Markasan, Ludruk Taruna pimpinan dr. Safril dan Gatot, Ludruk Bintang Massa (LKN) pimpinan Samsuri, dan Ludruk Melati (Lekra) pimpinan Darmo tahun 1960.

Ludruk sebagai medium ekspresi juga pernah mengalami pasang surut dengan imbas politik pada masa itu. “Tahun 1965 dengan adanya peristiwa G 30 S PKI, beberapa ludruk yang berafiliasi kepada Lekra porak- poranda,” terang Rendra yang melanjutkan pasca-tahun tersebut ada kebijakan penggabungan ludruk di Malang. Tahun 1970-an kelompok ludruk berada di bawah binaan ABRI sampai kini. Di antaranya Ludruk Putra Bhakti menjadi Ludruk Anoraga yang dibina oleh Yonif 513 Brigif 2 Dam VIII Brawijaya. Ludruk Anoraga kembali dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit II Inmindam VIII Brawijaya; Ludruk Sinar Budaya dibina oleh Brimob Kompi A Yon 412, Ludruk Karya Sakti dibina oleh Kodim 0818 Malang dan Ludruk Perkasa Alam dibina AURI Malang.

“Lepas dari berbagai peristiwa politik, ludruk tetap adalah khazanah kesenian kita yang patut dilestarikan dan dihidupkan kembali,” ucap Rendra yang juga mencontohkan kelompok Ludruk Armada yang berada di Desa Rembun, Kecamatan Dampit yang pernah menjadi ludruk percontohan di Kabupaten Malang.

 

Penulis: Nana

Article courtesy: Malangtimes.com

Photo courtesy: Malangtimes.com

Mencari Tempat untuk Kursus Tari Remo Gratis

Tim Njombangan saat ini sedang mencari tempat yang tepat untuk melaksanakan program pertamanya, ya program yang pertama kali akan dilakukan sejak inisiatif ini dibuat yakni program les tari ngremo gratis. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang les tari ini, silahkan klik di sini.

 

Tempat yang kami cari adalah sebagai berikut:

  1. Letaknya strategis
  2. Berada di fasilitas desa atau kelurahan misalnya balai desa/ kelurahan, gedung serba guna atau semacamnya
  3. Pemerintah desa/ kelurahan setempat terbuka untuk kerjasama dengan Njombangan. Sebagai informasi bahwa kami akan menanggung seluruh biaya les kursus tari ini termasuk biaya pelatih. Kostum tari juga akan kami pinjamkan. Namun kami tidak menanggung biaya misalnya listrik karena adanya pemakaian selama les berlangsung. Kerjasama diharapkan nanti dalam bentuk tertulis dan berlangsung untuk jangka waktu satu tahun
  4. Penduduk sekitar, terutama orang tua dan anak-anak, mendukung dan tertarik akan program ini. Karena memang sasaran peserta adalah diutamakan penduduk sekitar

 

 

Pihak Njombangan tidak menarik uang atau biaya non uang dalam bentuk apapun karena program ini memang murni untuk kewajiban sosial dalam melestarikan seni dan budaya.

 

Jika teman-teman memiliki usulan tempat, mohon untuk:

  1. Menginformasikan kepada pengurus desa/ kelurahan setempat
  2. Mengontak tim kami melalui e-mail di njombangan@gmail.com dan info@njombangan.com serta sambungan whatsapp di +62-878787 24050
  3. Tim kami akan menghubungi kami lebih lanjut untuk bertemu dengan pihak desa/ kelurahan setempat

 

Sebagai permulaan, kami akan mencari satu tempat les saja. Jika nantinya program ini ke depannya dirasa sukses dan mendapatkan dukungan oleh lebih banyak pihak, maka kemungkinan kami akan menambah tempat les tari gratis ini.

Oedjoeng Galoeh, Hadiah Ulang Tahun Surabaya dari Grup Ludruk Luntas

Generasi anyar ludruk Surabaya ini tak henti-hentinya tampil dengan naskah-naskah yang segar. Termasuk mementaskan sejarah Ujung Galuh yang dalam salah satu versi menjadi cikal bakal Surabaya. Nama kelompok itu adalah Ludrukan Nom-noman Tjap Suroboio (Luntas).

 

Kesibukan terasa di belakang panggung Gedung Pringgodani, Taman Hiburan Rakyat, Sabtu (27/5). Belasan orang tampak berlalu-lalang kian kemari. Mereka memoleskan riasan wajah, mengepaskan kostum di badan, hingga mengecek kesiapan sebelum naik ke pentas.

Persiapan itu rampung sekitar pukul 21.00. Telat setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Tapi, penonton no problem. Tetap setia menunggu hingga pertunjukan dimulai.

Sebagaimana pakem ludruk, adegan bedhayan membuka pementasan lakon Oedjoeng Galoeh. Itu adalah semacam adegan selamat datang. Yang membawakan tujuh lelaki. Tapi, banci. Memakai baju putri. Sesuai tradisi.

Nah, malam itu, ada tujuh lelaki yang melakonkan bedhayan tersebut. Mereka berkebaya. Melihat bentuk para banci itu, tawa penonton kembali terpingkal-pingkal. Perut semakin terkocok saat para lelaki tersebut menari. Entah tarian, entah gerakan orang ’’kumat’’. Sebab, mereka bergoyang sesuka hati. Tidak ada aturan gerakan yang pasti. Makin kocak.

Ledakan tawa itu seolah menjadi bom saat jarit (kain) yang mereka kenakan tiba-tiba melorot begitu saja di atas panggung. Lagu gamelan yang awalnya mengiringi tiba-tiba bersalin rupa menjadi lagu upbeat. Para penari berjingkrak-jingkrak kian heboh. Bak cheerleader lengkap dengan pompomnya.

Itu memang keriangan khas Ludrukan Nom-noman Tjap Soeroboio (Luntas).
 Ada pakem yang dijaga. Tapi, dimodifikasi sesuai segmentasi zaman dan penonton.

Nah, malam itu, mereka memainkan Oedjoeng Galoeh. Dalam salah satu versi, kisah tersebut menggambarkan asal-usul Surabaya yang tumbuh sekitar tujuh abad silam. Inti cerita malam itu adalah kedatangan pasukan Tartar dari Mongolia yang ingin menguasai tanah Jawa. Kisah sejarah yang cukup serius, sejatinya. Tapi, Luntas tetap membawakannya dengan gaya kocak.

”Yang penting, inti ceritanya bisa tersampaikan. Tapi, kan yang namanya ludruk itu ya tetap harus menghibur,” tutur Robert Bayoned, sutradara. Robert mengaku tidak mengalami kesulitan saat membikin naskah. Sebab, lelaki yang bermain ludruk sejak 1993 tersebut memang suka sejarah sejak dahulu. Berbagai buku sejarah dilahapnya untuk menentukan versi cerita yang akan diadaptasi menjadi bahasa panggung.

Lakon Oedjoeng Galoeh digarap selama tiga pekan. Mereka memilih versi sejarah Ujung Galuh berdasar penelitian Pemkot Surabaya. ’’Karena kita di Surabaya,’’ ucap Robert.

Nah, naskah ludruk itu tidak berwujud buku tebal bak naskah film. Wujudnya adalah lembaran-lembaran kertas untuk menata alur. Untuk mengawal cerita.

’’Inti ludruk adalah improvisasi. Jadi, pemain hanya mendapat penjelasan dari sutradara, lalu dikembangkan masing-masing,’’ kata lelaki yang pernah membikin grup lawak Bayoned tersebut. Nah, naskah malam itu adalah penjaga benang merah yang harus disampaikan kepada penonton.

Sebagai seniman ludruk generasi anyar, Luntas memang rutin pentas. Tapi, penampilan malam itu didedikasikan sebagai kado ulang tahun Surabaya yang jatuh pada 31 Mei.

Meski membawakan kisah zaman kerajaan, tidak semua setting panggung dan kostum jadul. Sejumlah kesan modern tetap ditampilkan di atas panggung. Sebagai penanda bahwa Luntas memang berbeda. Mulai backdrop, kostum yang semi-cosplay, hingga sejumlah karakter yang diberi sentuhan modernisasi.

Tengok saja kemunculan tukang parkir kapal yang setia menunggu di pelabuhan. Atau tukang asongan yang tiba-tiba muncul saat para pemain beradegan serius. Kemunculan mereka tentu langsung bikin gerrr…

Saat kedatangan pasukan Tartar yang bengis di pelabuhan, si tukang parkir tetap menagih ongkos parkir kapal yang berlabuh. ’’Mbok pikir gratis? Gak ngrasakno rasane ditagih dishub, dikongkon mbayar karcis (Kamu pikir gratis? Kamu nggak merasakan ditagih dishub untuk bayar karcis, Red). Malah plonga-plongo,’’ sembur sang tukang parkir sambil mendorong kepala panglima pasukan Tartar.

Tentu, perut penonton terus dikocok. Apalagi, omelan sang tukang parkir dibalas omelan sang panglima yang memakai bahasa dari antah berantah.

Boleh dibilang, pertunjukan malam itu sukses. Baik dari sisi apresiasi penonton, penampilan, maupun eksistensi Luntas. Tapi, para pemain tidak mau langsung puas. Terlebih, mereka merasa adegan di atas panggung kurang maksimal. ’’Baru benar-benar latihan empat hari,’’ kata Saiful Irwanto, pembina Luntas. Sebelumnya, Luntas berfokus pada pertunjukan lain. Bahkan, setelah latihan intensif pun, para pemain tidak sepenuhnya komplet.

Saiful Irwanto alias Ipoel berperan sebagai penerjemah panglima Tartar. Dia juga menjadi leader di atas panggung. Jika ada pemain yang akan keluar jalur, dia meluruskan. Dengan kode dan dialog tertentu. ’’Kayak tadi si panglima. Improvisasi lawakannya kan banyak banget. Jadi, seharusnya ceritanya bisa sampai, tapi ketutup oleh tawa penonton duluan,’’ kata Ipoel.

Meski begitu, tetap ada rasa lega dalam batin para pemain. Inti kisah tetap tersampaikan dengan baik. ”Meski waktu latihan sempit, karena mereka sudah punya jam terbang tinggi, hasilnya tidak terlalu mengecewakan,” tutur Ipoel.

Hal serupa diakui pemain lainnya, Yudha Purnawan. ”Kesulitan dialog,’’ kata Yudha soal perannya sebagai raja Majapahit. Tak heran, dia hanya punya sedikit waktu untuk berlatih. Adi Sutakrib yang berperan sebagai panglima Tartar juga merasakan itu. ’’Gampang-gampang susah. Apalagi ini ngomongnya pakai bahasa tumbuhan,” katanya, lantas tertawa.


Malam itu, tingkah kocak Adi kerap membikin penonton terpingkal-pingkal. Dia memang sering mendapat peran untuk adegan-adegan konyol. Itu jugalah yang berhasil menutupi beberapa kesalahan kecil yang dibuatnya di atas panggung. ”Itu ekspresi dari hati. Kalau disuruh mengulang, pasti nggak bisa,” ucap ayah dua anak tersebut.


Kisah itu dipungkasi persekutuan pasukan Tartar dengan Majapahit untuk menghancurkan Kerajaan Daha. Dalam sejarah, itu adalah momen perseteruan Raden Wijaya dari Majapahit melawan Jayakatwang dari Daha (Kediri). Perang pun akhirnya pecah dengan kemenangan berada di tangan Majapahit dan Tartar. Pertunjukan berakhir dengan pesta kemenangan besar-besaran di pelabuhan. Saat pasukan Tartar terlena, Majapahit menyerang hingga banyak yang tewas, termasuk sang panglima yang tetap bertingkah kocak meski sudah terbaring mati.


Rupanya, meski mau bersekutu, raja Majapahit hanya ingin memanfaatkan Tartar untuk membalaskan dendamnya ke Kerajaan Daha. Dengan kemenangan itu, Arya Lembu Sora pun mengumumkan bahwa nama pelabuhan tersebut adalah Churabhaya. Chura berarti berani dan bhaya bermakna bahaya. Surabaya. (*/c6/dos)

 

Penulis: Suryo Eko Prasetyo

Article courtesy: Jawapos.com

Photo courtesy: Jawapos.com